NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Gerobak Soto

Cinta Di Balik Gerobak Soto

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romantis / Cinta Seiring Waktu / Kaya Raya / Berondong
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Setelah diselamatkan dari penculikan maut oleh Pratama, seorang penjual soto sederhana, Luna justru terjebak fitnah warga yang memaksa mereka menikah. Situasi kian pelik karena Pratama masih terikat pernikahan dengan Juwita, istri materialistis yang tanpa ragu "menjual" suaminya seharga Rp50 juta sebagai syarat cerai.
​Demi menolong pria yang telah menyelamatkan nyawanya, Luna membayar mahar tersebut dan memilih menyembunyikan identitas aslinya sebagai putri tunggal seorang CEO kaya raya. Ia rela hidup dalam kesederhanaan dan mengaku hanya sebagai guru TK biasa. Di tengah rasa bersalah Pratama yang berjanji akan bekerja keras membalas kebaikannya, ia tidak menyadari bahwa istri barunya memiliki kuasa untuk membalikkan nasib mereka dalam sekejap mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Luna dan Pratama segera berangkat menuju pasar tradisional terdekat menggunakan motor matic milik Arini.

Bagi Luna, pasar adalah dunia yang sangat asing. Bau khas rempah yang bercampur dengan aroma amis ikan, suara riuh tawar-menawar, serta lantai pasar yang becek membuatnya harus ekstra hati-hati melangkah agar daster dan sandalnya tidak kotor.

Mata Luna yang tajam sebagai pebisnis langsung tertuju pada sebuah lapak unggas yang terlihat bersih dan segar.

"Mas, lihat itu! Ada ayam kampung bagus-bagus sekali," tunjuk Luna dengan antusias.

Pratama melirik ke arah yang ditunjuk Luna, lalu beralih menatap dompetnya yang terasa tipis.

Ia menghela napas pendek, ada rasa tidak enak hati karena belum bisa memberikan yang terbaik.

"Dek, pakai ayam potong biasa saja ya? Harga ayam kampung jauh lebih mahal. Mas takut uang modal satu juta tadi tidak cukup kalau kita beli banyak pelengkap lain," bisik Pratama pelan, berusaha agar suaranya tidak terdengar penjual lain.

Luna tersenyum tipis, ia mendekat dan menyentuh lengan suaminya untuk memberi keyakinan.

"Mas, percaya sama aku. Pakai ayam kampung itu kaldu dan lemaknya jauh lebih sedap. Baunya tidak akan amis seperti ayam potong biasa. Kalau rasanya enak dan spesial, pelanggan pasti tidak akan keberatan bayar sedikit lebih mahal. Ini namanya investasi rasa, Mas," ucap Luna.

Ia merasa saran istrinya masuk akal, tapi ia masih ragu dengan sisa modalnya.

"Tapi nanti kalau modalnya habis cuma buat ayam bagaimana, Dek?" tanya Pratama ragu.

"Tenang saja, Mas. Kita beli secukupnya dulu untuk percobaan. Nanti kalau habis, baru kita putar lagi untungnya," jawab Luna santai sambil merogoh tasnya, memastikan dompet 'cadangan' miliknya masih aman jika sewaktu-waktu ia harus menambah modal tanpa sepengetahuan Pratama.

Akhirnya, dengan bimbingan Luna, Pratama memberanikan diri memesan ayam kampung, ceker, ampela hati dan sayap.

Di bawah hiruk-pikuk pasar, Pratama mulai merasa bahwa istrinya ini bukan sekadar guru TK biasa, tapi memiliki insting yang sangat tajam dalam urusan dagang.

Setelah urusan ayam selesai, mereka berlanjut menyusuri lorong pasar yang semakin ramai.

Luna tampak sangat cekatan memilih bahan-bahan berkualitas.

Mereka membeli beras, telur, soun, cabai, bawang merah, bawang putih, hingga kubis segar yang besar-besar.

"Mas tunggu di sini sebentar ya, aku ke sana dulu ada yang mau aku llihat," ucap Luna sambil menunjuk ke arah barisan toko perlengkapan rumah tangga.

Pratama yang tangannya sudah penuh dengan kantong belanjaan dan masih menunggu antrean telur hanya bisa mengangguk.

"Iya, Dik. Hati-hati, jangan jauh-jauh."

Luna melangkah cepat menuju toko pecah belah. Jiwa kepemimpinannya muncul.

Ia tahu jika ingin sukses, presentasi makanan itu penting.

Ia memilih panci stainless besar khusus soto, satu set mangkok porselen putih yang elegan, gelas-gelas bening terbaru, serta sendok dan garpu yang mengkilap.

"Pak, nanti tolong antar semua barang ini ke alamat ini ya. Ini uangnya, sudah termasuk ongkos antar," ucap Luna sambil menyerahkan beberapa lembar uang kepada pemilik toko.

Tak lama kemudian, Pratama datang menyusul dengan napas sedikit terengah karena membawa belanjaan yang banyak.

Ia membelalakkan matanya melihat tumpukan barang baru yang sudah dibeli istrinya.

"Ya Allah, Dik. Kamu beli semua ini? Uangmu bisa habis nanti," bisik Pratama khawatir melihat kemewahan barang-barang itu.

Luna tersenyum menenangkan sambil mengusap lengan suaminya.

"Aku pakai uang mahar yang tadi, Mas. Anggap saja ini modal awal kita. Tidak apa-apa, supaya pelanggan nanti makin selera makannya kalau alatnya bersih dan bagus."

Pratama terdiam, hatinya terasa sesak oleh rasa haru sekaligus tidak enak hati. Namun, ia melihat binar semangat di mata Luna yang tidak bisa ia tolak.

"Ayo Mas, sebelum pulang kita makan bakso dulu sama minum es di pojok sana. Aku lapar sekali," ajak Luna sambil menarik tangan Pratama, mengalihkan pembicaraan agar suaminya tidak terus-terusan merasa bersalah.

"Iya, ayo. Mas juga mau traktir kamu es campur sebagai tanda terima kasih."

Pratama duduk di kursi plastik yang sedikit goyang, meletakkan kantong belanjaan di bawah meja, lalu memesan dua mangkuk bakso dan dua gelas es campur.

Sambil menunggu pesanan datang, ia menatap wajah Luna yang tampak sedikit berkeringat namun tetap cantik bersahaja.

Pratama menggenggam tangan Luna dengan lembut di atas meja.

Sorot matanya sangat tulus, mencerminkan kejujuran seorang pria yang ingin bertanggung jawab sepenuhnya.

"Dik, Mas minta maaf. Kalau sekarang keadaan kita masih serba kekurangan. Tapi Mas janji, kalau jualan soto kita besok laris, Mas akan tabung keuntungannya untuk membelikan kamu pakaian baru, perlengkapan mengajar, dan apa pun yang kamu butuhkan," ucap Pratama.

Mendengar perkataan dari suaminya, pertahanan Luna runtuh.

Air mata bening tiba-tiba menetes membasahi pipinya.

Ia segera menunduk, mencoba menyembunyikan isak tangisnya di balik aroma kuah bakso yang mulai mengepul di meja mereka.

"Loh, Dik? Kenapa menangis? Apa Mas salah bicara?" tanya Pratama dengan wajah panik.

Ia segera mengambil tisu murah di atas meja untuk mengusap air mata istrinya.

Luna menggeleng pelan sambil terisak. Hatinya terasa perih sekaligus hangat.

Ingatannya kembali ke masa lalu, saat ia masih bersama Noah.

Pria itu selalu menjanjikan dunia, memberikan kemewahan dari uang hasil menipu perusahaan Luna, dan selalu menutupinya dengan kata-kata manis yang ternyata hanyalah racun kepalsuan.

Kini, di hadapannya ada Pratama. Pria yang hanya menjanjikan 'pakaian dan perlengkapan' dari hasil keringat berjualan soto, namun Luna tahu janji itu lebih berharga daripada semua berlian yang pernah diberikan Noah.

"Enggak, Mas. Mas tidak salah. Aku hanya merasa beruntung bisa memiliki suami seperti Mas." jawab Luna sambil menghapus air matanya.

Pratama tersenyum lega, meski hatinya masih bertanya-tanya mengapa istrinya se-emosional itu.

Ia menyodorkan gelas es campur ke hadapan Luna.

"Sudah, jangan menangis lagi. Nanti orang-orang kira Mas sedang marahi kamu. Ayo dimakan baksonya, setelah ini kita pulang dan mulai meracik bumbu rahasia ayam kampungmu itu," ujar Pratama mencoba mencairkan suasana.

Luna menghapus sisa air matanya dan mulai menyuap bakso itu.

Di tengah pasar yang bising dan pengap, ia merasakan kebahagiaan yang jauh lebih mewah daripada jamuan makan malam di restoran berbintang mana pun.

Baru saja Luna menyuap baksonya, suasana hangat itu mendadak buyar.

Seorang wanita dengan pakaian mencolok dan riasan tebal berdiri di samping meja mereka.

Ia adalah Juwita, mantan istri Pratama yang baru saja diceraikan malam itu.

Juwita sengaja mengangkat tangannya, memamerkan deretan gelang emas, kalung, dan cincin yang berkilau di bawah lampu pasar perhiasan yang ia beli dari uang lima puluh juta yang diberikan Luna semalam sebagai kompensasi perceraian.

"Wah, lihat ini! Mantan suamiku sedang makan bakso di pinggir jalan dengan istri barunya," sindir Juwita dengan nada meremehkan.

"Kasihan sekali ya, Pratama. Dari dulu hidupmu memang cuma selevel gerobak soto. Lihat aku sekarang, bergelimang emas berkat uang lima puluh juta itu."

Pratama terdiam, wajahnya menegang dan matanya menyiratkan luka lama yang kembali terbuka.

Ia hanya menunduk, mencoba mengabaikan ocehan wanita yang pernah mengkhianatinya itu.

Luna yang melihat suaminya dihina, merasakan kemarahan yang membara di dadanya.

Sebagai seorang CEO, ia tidak pernah membiarkan asetnya diinjak-injak, apalagi sekarang pria di sampingnya ini adalah suaminya.

Luna perlahan bangkit dari duduknya. Ia berdiri tegak dengan aura kepercayaan diri yang membuat Juwita sempat mundur selangkah.

"Mbak Juwita, kan?" tanya Luna dengan senyum tipis yang mematikan.

"Saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepadamu."

"Terima kasih untuk apa?"

"Terima kasih karena kamu sudah cukup bodoh untuk menjual pria sehebat Mas Pratama hanya demi beberapa gram emas yang bisa habis kapan saja," ucap Luna tenang namun tajam.

"Karena bagiku, Mas Pratama jauh lebih berharga dari uang mana pun. Dia pria yang tulus dan sangat sayang padaku."

Untuk menegaskan ucapannya dan membuat Juwita semakin panas, Luna sedikit membungkuk dan mengecup pipi Pratama dengan lembut di depan mata semua pengunjung kedai bakso.

"Ayo Mas, kita lanjut makan. Tidak usah meladeni orang yang hanya bisa memamerkan harta hasil menjual harga diri," lanjut Luna sambil kembali duduk dengan tenang.

Wajah Juwita merah padam dan merasa terhina di tengah keramaian pasar.

Niatnya ingin pamer justru berakhir memalukan karena ia terlihat seperti wanita yang mata duitan di depan banyak orang.

Tanpa kata, Juwita menghentakkan kakinya dan pergi dengan perasaan dongkol yang luar biasa.

Pratama terpaku, tangannya memegang pipi yang baru saja dicium Luna.

Jantungnya berdegup kencang, tidak menyangka istri "guru TK"-nya ini memiliki keberanian dan kasih sayang yang begitu besar untuk membela harga dirinya.

1
tiara
itu pingsan kaget apa karena hamil ya🤭🤭🤭
awesome moment
pratama tu org dgn banyak potensi tp tersembunyi dalam kekisminan
Nabila Nabil
itu pingsan karna papa jati mau dipanggil opa dan arini dipanggil oma.... 🤣🤣
awesome moment
kpm tertangkap tu mokondo 2 ekor
awesome moment
lambe turah g punya obyek julid lg n
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
tiara
semoga Dirga dan Noah lekas tertangkap ya,agar papa Jati cepat menikah
my name is pho: iya kak
total 1 replies
tiara
pa Wandi ga bisa lagi gangguin Pratama tuh, hilang juga pemasukan ya kasian deh tukang nyinyir
my name is pho: 🤭🤭 hehe
total 1 replies
awesome moment
smg luna g kaget klo arini dan papa jati jujur.
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Anto D Cotto: sama2 👌👍
total 2 replies
Setiawan
kog aneh yah ?? bukannya td pratama lg di jln pulang br bs nolongin luna ?? itu kesian amat mtr bebek tua nya di tggl di jln 🤭🤭🤭
awesome moment
whoah...sama2 virgin ternyata
awesome moment
smg pratam slain kejujuran punya kecerdasan bisnis yg keyen. biar g njomplang bgts sm luna
awesome moment
udh terhura dluan
awesome moment
dih...juwita tu perempuan model p c
awesome moment
👍👍👍luna panggil arini, mama dunk😄😄😄
tiara
wah ternyata Arini menjalin hubungan dengan papa Jati toh, seru nih nantinya
Nabila Nabil
ini nanti ceritanya Luna yg gantian manggil bu ke arini🤣🤣🤣🤣🤣 kocak sih... 🤣🤣🤣
deepey
saling support ya kk. 💪💪
deepey
paginya gulingnya sdh pindah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!