NovelToon NovelToon
Terbangun Menjadi Istri Sang Raja

Terbangun Menjadi Istri Sang Raja

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Fantasi / Time Travel / Reinkarnasi / Harem / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Indah

"Duduk di sini." ujarnya sembari menepuk paha kanannya.

Gadis itu tak salah dengar. Pria itu menepuk suatu tempat yakni pahanya sendiri. Dengan ekspresi datar seolah itu tak mengagetkan dan sudah menjadi kebiasaan di sana. Orang-orang di sekelilingnya pun tampak sama. Tak bereaksi, seolah itu hanya salah satu hal biasa dari serangkaian acara. Namun, tidak bagi gadis itu. Bisa-bisanya pria itu bertindak tidak tahu malu seperti ini di hadapan semua orang? Ia benar-benar tak habis pikir!

"Tidak mau."

Reaksi semua orang yang ada di sana sangat terkejut. Semua berbisik, tetapi tidak ada yang berbicara langsung seolah segan dengan sosok yang duduk di kursi paling mewah seperti seorang raja itu.

Pedang mulai mengarah ke leher gadis itu. Bukan dari pria itu, tetapi dari orang-orang yang seperti prajurit ini.

"Beraninya kau." ujar pria itu penuh amarah seolah ini adalah penghinaan terbesar terhadapnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terbangun Penuh Kebingungan

Hah!

Kesadaran itu datang seperti ditarik paksa dari dasar air. Napas gadis itu tersengal, dadanya naik turun seolah baru saja lolos dari mimpi buruk yang terlalu nyata. Kelopak matanya terbuka lebar, dan yang pertama kali ia tangkap bukanlah langit-langit kamar kosnya, bukan suara kipas angin tua, bukan pula bau buku kuliah yang biasa menemaninya.

Yang ia lihat adalah kemegahan.

Pilar-pilar tinggi menjulang, diukir dengan naga dan awan berlapis emas. Lampu-lampu minyak menggantung rapi, memantulkan cahaya kekuningan yang hangat namun terasa berat di mata. Lantai di bawah kakinya berkilau, batu giok disusun simetris, begitu dingin hingga hawa itu menembus telapak kaki, naik perlahan ke tulang-tulangnya.

Ia terdiam.

Matanya bergerak ke kanan dan kiri. Orang-orang berdiri berbaris, mengenakan pakaian tradisional yang asing namun indah. Jubah-jubah panjang dengan warna gelap dan bordir rumit, rambut disanggul rapi, wajah mereka datar dan serius—terlalu serius untuk sebuah pertunjukan.

Ini… bukan mimpi biasa.

Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.

Ada apa ini?

Suara itu hanya bergaung di kepalanya. Bibirnya kering, tenggorokannya terasa tercekat. Ia berusaha menelan ludah, namun kegugupan membuat gerakan sekecil itu terasa sulit.

Apa sedang syuting?

Pikirannya berusaha mencari logika. Panggung megah, kostum yang terlalu detail, ekspresi orang-orang yang terlalu tenggelam dalam peran mereka—mungkin ini hanya set drama kolosal. Ia pernah menonton banyak drama sejarah. Ia tahu betul bagaimana adegan-adegan seperti ini terlihat.

Namun ada sesuatu yang salah.

Tidak ada kamera. Tidak ada kru. Tidak ada suara sutradara yang berteriak memotong adegan.

Dan yang paling membuat bulu kuduknya meremang—udara di sini terlalu nyata. Bau kayu tua, logam, dan dupa bercampur menjadi satu. Bahkan suara langkah kaki terasa berat dan bergema, bukan seperti efek suara buatan.

Kenapa aku tiba-tiba di sini?

Ingatan terakhirnya muncul perlahan. Ia pulang kuliah, tubuhnya lelah. Ia menyalakan drama kolosal favoritnya hanya untuk menemani makan malam. Lalu… rasa kantuk menyerang. Ia ingat memejamkan mata sebentar.

Sebentar.

Namun ketika ia membuka mata lagi, dunia sudah berubah sepenuhnya.

Semua orang di ruangan itu tampak menahan napas. Tatapan mereka tidak tertuju satu sama lain, melainkan ke satu titik di depan—ke arah kursi tertinggi yang terletak di ujung aula.

Gadis itu mengikuti arah pandang mereka.

Di sana, seorang pria duduk dengan sikap sempurna dan berwibawa. Kursinya jauh lebih besar, dilapisi ukiran emas dan permata yang berkilau redup. Jubah hitamnya menjuntai, dihiasi benang perak yang membentuk simbol-simbol kuno. Rambutnya panjang, hitam legam, diikat setengah dengan hiasan giok.

Wajahnya tampan, namun ketampanan yang dingin dan tajam—seperti bilah pedang yang baru diasah.

Tatapan pria itu jatuh padanya.

Sekejap saja, tapi cukup untuk membuat udara di sekitar gadis itu terasa menekan.

Ia ingin mundur selangkah, namun kakinya seperti tertancap ke lantai.

Pria itu berbicara. Suaranya rendah, datar, seolah tidak perlu ditinggikan untuk didengar.

“Duduk di sini.”

Tangan pria itu bergerak pelan. Jarinya yang panjang dan pucat menepuk pahanya sendiri.

Seketika, darah gadis itu seperti berhenti mengalir.

Apa…?

Otaknya kosong selama beberapa detik. Ia menatap tangan itu, lalu wajah pria tersebut, lalu kembali ke tangan itu. Tubuhnya kaku, jantungnya berdentum begitu keras hingga ia yakin semua orang bisa mendengarnya.

Ia… disuruh duduk di pangkuannya?

Di hadapan semua orang ini?

Panas menjalar ke wajahnya, bukan karena malu, melainkan karena amarah dan penghinaan. Napasnya menjadi pendek. Dadanya terasa sesak.

Dasar tidak tahu malu.

Ia tidak tahu di mana ini, siapa orang-orang ini, atau apa yang sedang terjadi. Tapi satu hal ia yakini—ia bukan perempuan murahan yang bisa diperlakukan seperti benda hiburan.

Bahkan jika ini hanya mimpi. Bahkan jika ini hanya film. Harga dirinya tetap miliknya.

Tangannya mengepal tanpa sadar.

“Tidak mau.”

Suaranya mungkin tidak keras, tapi cukup jelas.

Dan dunia seakan berhenti berputar.

Desahan terkejut terdengar di seluruh ruangan. Mata-mata yang sebelumnya tertunduk kini terangkat, wajah-wajah penuh keterkejutan dan ketakutan. Bisik-bisik pelan menyebar, namun tak satu pun berani berbicara lantang.

Seolah-olah gadis itu baru saja melakukan dosa besar. Kesalahan besar. Perbuatan yang seharusnya tak ia lakukan, bahkan tak boleh dibayangkan!

Ia merasakan tekanan itu—tatapan yang menusuk dari segala arah. Kebingungan bercampur kesal. Apa yang salah? Mengapa reaksi mereka seperti ini?

Hei… apa kalian tidak tahu malu?

Kalian diam saja melihat sikapnya itu?

Namun kata-kata itu hanya berteriak di kepalanya.

Pria di kursi megah itu perlahan bangkit. Gerakannya tidak tergesa, namun setiap langkah kecilnya membuat suasana semakin mencekam.

“Beraninya kau.”

Nada suaranya tidak tinggi. Justru itu yang membuatnya mengerikan. Amarah yang terkendali, dingin, dan mematikan.

Gadis itu menelan napas.

Sebelum ia sempat berkata apa pun, suara logam beradu menggema. Para prajurit yang berdiri di sisi aula bergerak serempak. Pedang-pedang mereka terhunus, ujungnya diarahkan tepat ke tubuh gadis itu.

Kilau tajam itu membuat jantungnya serasa jatuh ke perut.

Pedang…?

Bukan properti plastik. Ia bisa melihat pantulan wajahnya sendiri di bilahnya. Bisa merasakan hawa dingin yang terpancar darinya.

Ini asli.

Panik akhirnya menyergap. Lututnya melemas, tubuhnya sedikit gemetar.

Apa ini? Kalian sedang main film kan? Kenapa seserius ini?

Ini hanya profesionalisme kalian kan?

Namun tak ada yang menjawab.

Pria itu mendekat. Aura di sekelilingnya terasa berat, menekan, membuat siapa pun enggan menatap matanya terlalu lama. Ia berhenti tepat di hadapan gadis itu, menunduk sedikit, cukup dekat hingga gadis itu bisa mencium aroma kayu dan logam dari pakaiannya.

“Bawa dia ke Istana Dingin.”

Perintah itu diucapkan hampir seperti bisikan, namun seluruh aula mendengarnya. Suasana langsung membeku. Tak ada yang berani bernapas terlalu keras.

Istana Dingin.

Gadis itu tidak tahu apa artinya, tapi nada suara pria itu cukup untuk membuat darahnya membeku.

Dua pengawal maju, tangan mereka mencengkeram lengannya dengan kuat. Sentuhan itu nyata, menyakitkan. Ia tersentak, nalurinya memberontak.

“Lepaskan!”

Namun suaranya tenggelam dalam ketakutan dan kebingungan.

Saat ia diseret pergi, pria itu menatapnya sekali lagi. Tatapan yang tidak mengandung sedikit pun emosi selain dingin dan murka.

“Kau sudah menguji kesabaranku, Bai Ruoxue.”

Nama itu jatuh seperti vonis.

Bai Ruoxue.

Bukan namanya.

Namun entah mengapa, jantungnya berdenyut nyeri saat nama itu diucapkan—seolah nasib yang tidak ia kenal baru saja mengikat dirinya, erat, tanpa jalan kembali.

Dan untuk pertama kalinya sejak tersadar, ia benar-benar takut.

1
aleena
apa kau yakin ingin menyingkirkan bay rouxue,,
sedangkan sang raja menaruh hati,yg tak bisa dia ungkapkan karna rasa gengsi
Enah Siti
Gak bisa bladrikah klau lmah bisa bisa selir jhat akan mnang thor ksih bldri yg kuat 💪💪💪💪🙏🙏🙏🙏🙏
Azia_da: Iya juga nih, ya🥹
Nantikan terus kelanjutannya, ya! 🥰
Terima kasih sudah membaca✨
total 1 replies
Putri Amalia
kak author apakah cerita ini bakalan smpe end? truama bgt dpt crta bgs entar hiatusss
Azia_da: Pasti end dan Author jamin, Kak✨
Terima kasih dukungannya dan nantikan terus, ya! 🥰
total 1 replies
Anonymous
Iya dia itu suamimu jadi kamu harus patuh ya🤭
aleena: patuh yg seperti apa😔
total 2 replies
Anonymous
Karya baru nih thor😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!