Greta Hildegard adalah bayangan yang memudar di sudut kelas. Gadis pendiam dengan nama puitis yang menjadi sasaran empuk perundungan tanpa ampun. Baginya, SMA bukan masa muda yang indah, melainkan medan tempur di mana ia selalu kalah. Luka-luka itu tidak pernah sembuh, mereka hanya bersembunyi di balik waktu.
namun mereka tidak siap dengan apa yang sebenarnya terjadi oleh Greta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon spill.gils, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gadis Aneh
Bel istirahat berdentang nyaring, memecah keheningan kelas psikologi Ms. Jennie. Luca yang sejak tadi hanya menyandarkan kepala di lipatan tangan,mencoba menahan kantuk akibat pesta kemenangan semalam,langsung tersentak bangun. Matanya yang merah masih tampak kuyu, namun instingnya langsung mencari keberadaan Greta.
Di barisan depan, Norah dan Revelyn bangkit dengan gerakan yang tidak biasa. Bukannya merapikan buku, mereka justru saling melempar lirikan penuh arti sebelum terburu-buru keluar kelas. Gelagat mereka yang tampak mencurigakan dan langkah kaki yang cepat itu tidak luput dari perhatian Luca, meski ia masih setengah sadar.
"Greta, ayo kita ke kantin! Perutku sudah demo lagi nih!" ucap Clara sambil menarik-narik ujung baju Greta. Ia kemudian menoleh ke arah Luca yang sedang mengucek matanya. "Luca, mau ikut tidak?"
Luca menguap pendek, lalu menggeleng pelan. "Ah... aku harus ke ruang ganti dulu, mempersiapkan barang-barang dan bola untuk kelas olahraga nanti. Kalian duluan saja."
Greta, yang melihat Luca tampak sangat kelelahan, mendekat. Dengan lembut, ia menepuk pundak Luca, memberikan dukungan kecil yang membuat jantung sang kapten basket itu berdegup sedikit lebih cepat.
"Semangat, Luca... Jangan tidur lagi di ruang ganti, ya?" ucap Greta dengan senyum tipis yang jarang ia perlihatkan.
Luca terpaku sejenak, lalu mengangguk kecil dengan wajah yang mendadak lebih segar. "Iya, tenang saja".
Greta dan Clara pun melangkah meninggalkan kelas, berjalan menyusuri lorong menuju kantin. Tanpa mereka sadari, di balik pilar lorong tak jauh dari sana, Norah dan Revelyn sedang mengawasi mereka dengan senyum licik, sementara Leon Weiss keluar kelas paling terakhir, berjalan tenang di belakang mereka dengan tangan di saku, seolah sedang mengikuti skenario yang hanya ia sendiri yang tahu.
Suasana kantin sangat ramai. Greta dan Clara sedang mengantre makanan ketika tiba-tiba Norah muncul dari arah belakang dan menyenggol nampan Greta hingga makanan yang baru saja ia ambil hampir tumpah.
"Ups, maaf ya, Greta. Lantainya agak kotor dan licin, sama seperti rupamu di sekolah ini," ejek Norah dengan nada keras yang mengundang perhatian murid lain.
Suasana kantin yang tadinya bising oleh obrolan murid-murid, mendadak berubah menjadi panggung drama yang kejam. Greta, dengan napas tertahan, segera berjongkok untuk memunguti makanan yang tumpah ke lantai. Ia tidak ingin mencari keributan; ia hanya ingin makan dan segera pergi.
Namun, belum sempat jemarinya menyentuh potongan roti yang jatuh, sebuah sepatu sneakers mahal milik Revelyn mendarat tepat di atas makanan itu. Krak. Revelyn sengaja menginjak dan menggesekkan sepatunya hingga makanan itu hancur berantakan di lantai beton.
"Aduh... Maaf Greta, aku kepeleset! Duh, sepatuku jadi kotor kan terkena makanan sampah ini," ucap Revelyn dengan nada dibuat-buat, diikuti tawa cekikikan dari murid-murid di meja sekitar.
Greta terdiam dalam posisi berjongkok. Tangannya menggantung di udara, matanya menatap nanar ke arah makanannya yang kini sudah tak berbentuk. Ia bisa merasakan dadanya mulai sesak, namun ia mencoba sekuat tenaga untuk tidak memperlihatkan air matanya di depan Norah.
"Ini... ambil untuk mengganti makanan yang lebih layak agar aku tidak jijik melihatmu makan sampah," ucap Norah dengan suara lantang yang membelah keheningan.
Norah mengeluarkan dompet kulit mahalnya, menarik segepok uang kertas, lalu dengan gerakan meremehkan, ia menaburkan uang-uang itu tepat di atas kepala Greta. Lembaran uang 20 dan 50 Dollar Kanada berjatuhan, beberapa tersangkut di rambut Greta dan sisanya berserakan di lantai, bercampur dengan makanan yang sudah hancur.
"Cukup kan untuk beli seluruh menu di kantin ini? Supaya kamu tidak perlu memunguti sampah lagi," tambah Norah sambil tersenyum puas.
Tawa murid-murid meledak. Suasana kantin menjadi sangat riuh oleh ejekan. Clara yang sudah tidak tahan melihat sahabatnya diperlakukan seperti itu, langsung menerjang maju. Ia merangkul bahu Greta dan membantunya berdiri dengan paksa, mengabaikan uang-uang yang masih menempel di baju Greta.
"Greta, biarkan! Jangan disentuh uang haram itu!" bentak Clara sambil menatap tajam ke arah Norah. Ia kemudian beralih ke Greta dengan tatapan lembut namun tegas. "Ayo kita pesan lagi ke stan lain, Greta. Biar aku yang traktir sekarang. Kita tidak butuh uang dari orang yang tidak punya hati."
Setelah melewati kerumunan yang masih berbisik-bisik, Clara menarik tangan Greta menuju stan makanan di ujung paling jauh. Mereka akhirnya duduk di sebuah meja pojok yang agak tersembunyi, berusaha menjauh dari jangkauan mata Norah. Meskipun begitu, suara tawa kecil dan ledekan "Gadis Pungutan" atau "Si Pemungut Uang" masih terdengar sayup-sayup dari meja-meja di tengah kantin.
Clara menusuk saladnya dengan kasar, wajahnya masih merah padam karena menahan amarah.
"Dasar... Norah... Revelyn! Benar-benar keterlaluan!" gerutu Clara kesal. "Sampai kapan mereka akan berhenti memperlakukanmu seperti itu, Greta? Apa mereka tidak punya pekerjaan lain selain jadi penjahat di sekolah ini?"
Greta menunduk, mengaduk sup hangatnya perlahan. Cahaya lampu kantin yang mengenai dahinya memperlihatkan sedikit bekas luka yang kemarin ditangani perawat. Ia merasa sangat kecil di tengah ruangan yang besar itu.
"Maaf ya, Clara... aku jadi terus-terusan merepotkanmu. Kamu harus keluar uang lagi, kena masalah lagi..." jawab Greta dengan suara rendah, merasa bersalah karena sahabatnya selalu terseret dalam badai yang diciptakan Norah.
Clara berhenti mengunyah. Ia menatap Greta dengan tatapan tidak percaya, lalu perlahan senyum tulus muncul di wajahnya. Ia menggelengkan kepala seolah tidak habis pikir.
"Kenapa di saat seperti ini kamu masih bisa-bisanya bersikap baik sekali, Greta? Kamu baru saja dipermalukan, tapi malah mengkhawatirkan dompetku?" Clara meraih tangan Greta dan meremasnya pelan. "Dengar, kamu itu sahabatku. Aku tidak merasa direpotkan sama sekali. Justru aku bangga bisa berdiri di sampingmu."
Greta hanya membalas dengan senyuman tipis, senyum yang terlihat lelah namun penuh rasa syukur. Di saat dunia terasa begitu kejam, setidaknya ia tahu ada satu kursi di kantin ini yang selalu aman untuknya selama Clara ada di sana.
Leon Weiss tetap berada di posisinya, duduk tenang dengan sebuah buku komik di tangannya. Dari balik lembaran komik yang ia baca, matanya yang tajam telah menangkap setiap detik penghinaan yang dilakukan Norah dan Revelyn terhadap Greta.
Ia tidak bergerak untuk menolong, tidak juga tertawa bersama murid-murid lainnya. Leon tampak seperti seorang pengamat yang sedang mempelajari sebuah kejadian.
Wajahnya tetap datar, namun tatapannya tidak pernah lepas dari sosok Greta di pojok ruangan.
"Greta..! Kita harus membalasnya, tidak bisa begini terus!" ucap Clara dengan nada berapi-api, tangannya mengepal kuat di atas meja kantin. Ia benar-benar tidak terima melihat sahabatnya diperlakukan seperti pengemis oleh Norah.
Greta tidak langsung menjawab. Ia justru menyandarkan punggungnya ke sandaran bangku yang keras, menarik napas panjang, lalu sebuah senyuman misterius—senyum yang belum pernah Clara lihat sebelumnya—terukir di wajahnya.
"Kamu telat, Clara..." Greta menatap Clara dengan binar mata yang cerdik. "Aku sudah memikirkan balas dendamku."
Clara tersentak, matanya membulat sempurna. "Benarkah? Apa? Apa?! Katakan padaku!" desaknya sambil mencondongkan tubuh ke depan, hampir terjatuh dari kursinya karena rasa penasaran yang memuncak.
Greta kemudian memberi isyarat agar Clara mendekat. Ia membisikkan serangkaian rencana ke telinga sahabatnya itu. Selama beberapa detik, wajah Clara tampak membeku, matanya berkedip-kedip mencerna setiap kata yang keluar dari bibir Greta.
Satu detik... dua detik...
Tiba-tiba, tawa Clara pecah. "HA! Itu jenius! Greta, aku tidak menyangka otakmu bekerja secepat itu!" Clara tertawa terbahak-bahak sampai harus memegangi perutnya yang tadi mulas. Greta pun ikut tertawa, sebuah tawa lepas yang seolah menghapus sisa-sisa penghinaan Norah tadi.
Dari kejauhan, Leon Weiss yang sejak tadi asyik dengan komiknya, perlahan menurunkan bukunya. Ia menaikkan satu alisnya, menatap bingung ke arah pojok kantin. Baru beberapa menit yang lalu ia melihat kedua gadis itu tampak tertekan dan marah, namun sekarang mereka malah tertawa terbahak-bahak seolah baru saja memenangkan lotre.
"Gadis-gadis itu memang tidak bisa diprediksi..." gumam Leon pelan, suaranya hampir tak terdengar di tengah kebisingan kantin.
Ia menggelengkan kepalanya pelan, sebuah senyum tipis yang sulit diartikan muncul di sudut bibirnya. Leon menutup buku komiknya, lalu berdiri dan melangkah meninggalkan kantin dengan gaya tenangnya yang khas.
oke lanjut thor.. seru ceita nya