NovelToon NovelToon
The Librarian'S Midnight Guest

The Librarian'S Midnight Guest

Status: sedang berlangsung
Genre:Vampir / Fantasi Wanita / Harem
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: treezz

Di balik rak-rak kayu ek yang menjulang tinggi, Genevieve Isolde Clara adalah cahaya yang tak pernah padam. Sebagai pustakawan, ia dikenal karena senyumnya yang merekah bagi siapa saja dan keramahannya yang membuat siapa pun merasa diterima. Namun, keceriaan itu hanyalah tirai tipis yang menutupi luka batin yang sangat dalam. Genevieve adalah ahli dalam berpura-pura—ia membalut rasa sakitnya dengan tawa, memastikan dunia melihatnya sebagai gadis yang paling bahagia, meski hatinya perlahan hancur dalam kesunyian.
Kehidupan Genevieve yang penuh kepura-puraan terusik ketika Valerius Theodore Lucien muncul. Valerius adalah seorang pria dengan aura bangsawan kuno, pucat, dan memiliki tatapan yang seolah bisa menembus waktu—ia adalah seorang vampir yang telah hidup berabad-abad. Sejak pertama kali melihat Genevieve, Valerius merasakan sesuatu yang janggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Pencuri di Balik Selimut

Genevieve tidak pernah tahu bahwa keputusannya untuk bermalas-malasan adalah undangan terbuka bagi sang bayangan. Efek teh hangat dan sisa kelelahan setelah badai semalam membuatnya jatuh kembali ke alam bawah sadar dengan sangat cepat.

Ia tertidur dengan posisi sedikit meringkuk, napasnya teratur, dan wajahnya tampak begitu damai—jauh dari ekspresi sinis atau tajam yang biasa ia tunjukkan saat terjaga.

Di sudut kamar yang gelap, udara mendadak berdesir. Valerius tidak pernah benar-benar pergi. Ia berdiri di sana, tersembunyi di balik tirai yang tertiup angin, memperhatikan setiap detail wajah gadis itu.

"Kau terlihat jauh lebih ramah saat tidak bicara, Genevieve," bisik Valerius dengan suara yang hanya bisa didengar oleh keheningan.

Ia menatap pipi Genevieve yang sedikit memerah karena suhu hangat di bawah selimut, dan bibir mungil yang sedikit terbuka. Bagi seorang makhluk yang sudah melihat kehancuran kerajaan dan kekejaman waktu, pemandangan seorang gadis yang tertidur pulas adalah sesuatu yang luar biasa... imut.

Sebuah perasaan asing, semacam dorongan posesif yang lembut, membuncah di dada dinginnya.

Valerius tahu ia melanggar batasan. Ia tahu jika Genevieve bangun, tamparan yang ia terima mungkin akan lebih keras dari sebelumnya. Namun, gravitasi keberadaan Genevieve terlalu kuat untuk dilawan.

Dengan gerakan yang sangat halus—bahkan tidak membuat tempat tidur itu berderit—Valerius menyelinap masuk ke bawah selimut wol yang tebal.

Kehangatan dari tubuh Genevieve langsung menyergap kulit dinginnya. Valerius merebahkan diri di samping gadis itu, memposisikan dirinya dengan sangat hati-hati agar tidak mengusik mimpi Genevieve.

Ia berbaring miring, menyangga kepalanya dengan satu tangan sambil terus menatap wajah tidur yang menggemaskan itu dari jarak yang sangat dekat.

Genevieve, dalam tidurnya, merasakan sebuah kehadiran yang familiar.

Alih-alih merasa terancam, ia justru mencari sumber suhu yang terasa "berbeda" itu. Ia bergerak mendekat, tanpa sadar menyandarkan kepalanya di dada bidang Valerius yang keras namun terbalut kain kemeja halus.

Valerius menahan napasnya (yang sebenarnya tidak ia butuhkan).

Ia merasakan jemari mungil Genevieve secara refleks mencengkeram bagian depan kemejanya. Senyum tipis, kali ini benar-benar tulus, muncul di wajah sang vampir.

Ia melingkarkan lengannya yang kuat namun lembut di bahu Genevieve, menariknya sedikit lebih rapat ke dalam dekapannya.

Di bawah selimut itu, di tengah hari libur yang sepi, Valerius mencuri momen yang paling manusiawi: sebuah pelukan tenang tanpa perdebatan, tanpa kebencian.

Di bawah perlindungan selimut yang tebal dan suasana kamar yang remang, ia tidak lagi peduli pada janjinya untuk menjauh. Melihat Genevieve yang begitu pasrah dan bersandar pada dadanya membuat benteng pertahanan Valerius runtuh sepenuhnya.

Ia menundukkan kepalanya, membiarkan helaian rambut hitamnya jatuh menyentuh pipi Genevieve. Dengan sangat pelan, seolah takut akan memecahkan mimpi indah gadis itu, ia kembali membenamkan wajahnya di ceruk leher yang kini telah menjadi tempat favoritnya.

"Kau adalah candu yang paling menyakitkan, Genevieve," bisiknya serak di permukaan kulit hangat itu.

Ciuman itu kali ini terasa berbeda—lebih dalam, lebih penuh kerinduan, dan jauh lebih intens. Valerius menghirup aroma tubuh Genevieve yang tercampur dengan wangi teh melati, seolah-olah ia sedang berusaha merekam aroma itu ke dalam jiwanya yang abadi. Lidahnya sesekali menyentuh tanda kemerahan yang ia buat semalam, memberikan sensasi hangat-dingin yang membuat Genevieve melenguh pelan dalam tidurnya.

Gadis itu tidak terbangun, namun tubuhnya memberikan reaksi yang jujur. Ia semakin menenggelamkan wajahnya ke leher Valerius, mencari perlindungan dari rasa nyaman yang memabukkan ini. Valerius memejamkan matanya, menikmati detak jantung Genevieve yang terasa kuat di bawah telapak tangannya—sebuah irama kehidupan yang sangat ia puja.

Valerius benar-benar telah tenggelam dalam obsesinya. Baginya, kulit leher Genevieve bukan sekadar bagian tubuh manusia, melainkan sumber kehidupan yang jauh lebih memabukkan daripada darah mana pun yang pernah ia sesap selama ratusan tahun.

Sentuhan lidahnya yang lembut namun menuntut di atas kulit manis itu memberikan sensasi yang meledak-ledak di dalam benak sang vampir.

Setiap kali ia menyesap dan menghirup wangi gadis itu, ia merasa seolah-olah jiwanya yang telah lama mati mendadak dialiri arus listrik yang kuat. Ini adalah dopamin murni; sebuah euforia gelap yang membuatnya ingin terus dan terus berada di sana.

"Sedikit lagi..." bisiknya parau di sela-sela cumbunya.

Genevieve, yang masih terlelap, mulai merasakan sensasi yang luar biasa nyata.

Di dalam mimpinya, ia merasa seperti sedang berada di tengah padang mawar yang tertutup salju—dingin namun terbakar oleh kehangatan yang asing. Ia melenguh pelan, jemarinya yang mungil tanpa sadar merayap naik dan membelai rambut halus Valerius, menarik kepala pria itu agar semakin dalam membenamkan wajah di lehernya.

Respon bawah sadar Genevieve itu hampir membuat Valerius kehilangan akal sehatnya. Taringnya yang tajam berdenyut, nyaris mencuat keluar karena dorongan insting predatornya yang bercampur dengan gairah posesif.

Namun, ia menahannya. Ia tidak ingin merusak momen ini dengan rasa sakit. Ia hanya ingin mencicipi, menghirup, dan memuja.

Ia bergerak sedikit lebih ke atas, menciumi garis rahang Genevieve hingga ke belakang telinganya, memberikan embusan napas dingin yang membuat tubuh gadis itu gemetar kecil dalam tidurnya.

Valerius benar-benar tidak bisa berhenti; setiap inci kulit Genevieve terasa seperti madu yang sangat candu, membuatnya lupa bahwa ia seharusnya sudah tidak ada di sana.

1
May Maya
lanjut Thor
May Maya
baru kali ini aku baca novel ada kata2 kiasan sekuat batu nisan biasanya kan sekeras n sekuat baja atau beton 🤭
May Maya
kacian velerius 😄
Afri
alur cerita nya bagus. . tidak buru buru .. mengalir dgn perlahan
keren
Afri
aku suka karya mu thor ..
cerita nya manis
May Maya
suka dgn genre ini
May Maya
vieve di dekati vampir tampan tp namanya makhluk gaib pasti takut jg ya vie🤭
May Maya
mulai baca Thor
treezz: semoga suka kakak🤭
total 1 replies
Afri
bagus
Afri
cerita nya bagus thor
fe
mantapp
anggita
👍👆 sip.,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!