Rajendra Baskara, putra sulung keluarga konglomerat, dikhianati oleh adik angkatnya dan istrinya sendiri demi warisan keluarga. Setelah dibunuh, ia terbangun kembali di usia 20 tahun—sebelum pernikahan dan sebelum kehancuran hidupnya. Dengan ingatan masa depan, kecerdasan, dan pengalaman pahit, Rajendra memilih memutus hubungan keluarga dan membangun kerajaan bisnisnya sendiri, sambil menyiapkan balas dendam yang perlahan, menyakitkan, dan tak terhindarkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon asep sigma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAKSI PALSU
Jumat pagi, pengadilan terasa lebih ramai dari sidang pertama.
Rajendra sampai jam sembilan lewat lima belas menit—sedikit terlambat karena bus yang dia naik mogok di tengah jalan. Hartono sudah menunggu di koridor, wajahnya terlihat sedikit khawatir tapi langsung lega begitu melihat Rajendra.
"Hampir telat," tegur Hartono sambil menatap jam tangannya.
"Bus mogok. Maaf."
"Sudah, masuk. Sidang mulai sepuluh menit lagi."
Mereka masuk ke ruang sidang yang sama—ruangan kecil dengan meja hakim di depan, dua meja untuk penggugat dan tergugat di kiri kanan.
Julian sudah duduk di meja sebelah kiri—jas abu-abu gelap, dasi hitam, wajah tenang tapi mata lelah. Di sampingnya Daniel Kusuma dengan jas biru dongker, rambut disisir rapi, senyum tipis di wajah seperti orang yang yakin akan menang.
Dan ada orang ketiga—pria tua berambut putih dengan kacamata tebal, memakai kemeja putih dan celana kain hitam, duduk di kursi saksi dekat meja hakim.
Prof. Dr. Soewandi.
Saksi ahli yang akan bilang kakeknya gila.
Rajendra duduk di sebelah Hartono—menatap profesor itu dengan tatapan tajam.
Profesor itu tidak melirik ke arah Rajendra sama sekali—hanya duduk tenang, tangan dilipat di pangkuan, wajah datar.
Hakim masuk—semua berdiri—lalu duduk lagi.
Hakim Marianne membuka berkas—membaca sebentar—lalu menatap ke arah Daniel.
"Sidang kedua untuk perkara nomor 145/Pdt.G/2010/PN.Jkt.Sel dibuka. Kuasa hukum penggugat, silakan hadirkan saksi ahli Anda."
Daniel berdiri—menunjuk ke arah profesor.
"Yang Mulia, kami hadirkan Prof. Dr. Soewandi, psikiater senior dari RSCM, sebagai saksi ahli untuk menilai kondisi mental almarhum Dimas Baskara pada saat pembuatan surat wasiat."
Hakim mengangguk—menatap profesor.
"Prof. Soewandi, silakan berikan keterangan."
Profesor berdiri—berjalan ke podium kecil di depan hakim—lalu bicara dengan suara tenang tapi tegas.
"Yang Mulia, berdasarkan dokumen medis yang saya terima dari kuasa hukum penggugat, almarhum Dimas Baskara menunjukkan beberapa gejala penurunan fungsi kognitif pada bulan-bulan terakhir sebelum kematiannya."
Hartono langsung berdiri—mengangkat tangan.
"Objection, Yang Mulia. Saksi belum menjelaskan dokumen medis mana yang dia maksud. Dan kami belum pernah melihat dokumen tersebut."
Hakim menatap Daniel.
"Kuasa hukum penggugat, dokumen apa yang Anda berikan ke saksi ahli?"
Daniel membuka map—mengeluarkan beberapa lembar kertas—lalu memberikan copy-nya ke hakim dan ke Hartono.
"Ini catatan medis dari Klinik Keluarga Sehat—klinik tempat almarhum rutin check up. Ada tercatat beberapa keluhan seperti sering lupa, sulit konsentrasi, perubahan mood yang drastis."
Hartono membaca dokumen itu dengan cepat—alisnya berkerut.
Rajendra membaca dari balik bahu Hartono—matanya menyapu setiap baris.
Tanggal check up: 15 Mei 2009.
Keluhan:
pasien mengeluh sering lupa meletakkan barang, sulit fokus saat membaca, mudah**tersinggung.**
Diagnosis:
kemungkinan awal demensia, perlu follow-up lebih lanjut.
Rajendra mengerutkan dahi.
Ini tidak masuk akal.
Kakeknya tidak pernah ke Klinik Keluarga Sehat—kakeknya selalu ke RSCM, ke dokter pribadi bernama Dr. Sutanto yang sudah menangani keluarga Baskara puluhan tahun.
Hartono berbisik pelan ke Rajendra.
"Dokumen ini palsu. Atau setidaknya dimanipulasi."
"Bisa dibuktikan?"
"Bisa. Tapi butuh waktu. Kita harus panggil klinik itu sebagai saksi."
Hakim menatap Hartono.
"Kuasa hukum tergugat, ada tanggapan?"
Hartono berdiri—nadanya tenang tapi tegas.
"Yang Mulia, kami keberatan dengan dokumen ini. Almarhum Dimas Baskara tidak pernah berobat di Klinik Keluarga Sehat. Beliau selalu berobat di RSCM dengan dokter pribadi Dr. Sutanto. Kami curiga dokumen ini palsu atau setidaknya tidak akurat."
Daniel berdiri—memotong.
"Yang Mulia, kami punya tanda tangan dokter dan stempel klinik di dokumen ini. Ini sah secara administratif. Kalau pihak tergugat mau mempertanyakan keabsahan dokumen, mereka harus bawa bukti bahwa dokumen ini palsu—bukan hanya spekulasi."
Hakim mengangguk—menulis sesuatu.
"Kuasa hukum tergugat, apakah Anda punya bukti bahwa dokumen ini palsu?"
"Belum, Yang Mulia. Tapi kami akan investigasi dan bawa bukti di sidang berikutnya."
"Baik. Untuk sementara, keterangan saksi ahli tetap diterima sebagai bukti. Tapi sidang berikutnya, pihak tergugat bisa ajukan counter evidence."
Hartono duduk lagi—wajahnya sedikit kesal tapi tetap terkontrol.
Profesor Soewandi melanjutkan.
"Berdasarkan catatan medis ini, saya sebagai psikiater bisa simpulkan bahwa almarhum kemungkinan besar mengalami early stage dementia pada saat pembuatan surat wasiat. Kondisi ini bisa mempengaruhi judgment dan decision-making ability beliau. Oleh karena itu, keputusan untuk memberikan 60 persen saham hanya kepada satu cucu—tanpa pembagian yang adil ke anak kandung—bisa jadi bukan keputusan yang rasional."
Rajendra mengepalkan tangan di bawah meja—rahangnya mengeras.
Bohong.
Semua bohong.
Kakeknya tidak gila. Kakeknya sangat jernih waktu buat surat wasiat itu. Kakeknya bahkan jelaskan alasannya dengan detail—kenapa dia tidak percaya Julian, kenapa dia percaya Rajendra.
Tapi sekarang orang ini—profesor dengan titel panjang dan kredibilitas tinggi—berdiri di depan hakim dan bilang kakeknya gila.
Dan hakim mendengarkan.
Daniel bicara lagi.
"Yang Mulia, kami juga punya saksi tambahan—pembantu rumah tangga almarhum, Ibu Siti Aminah, yang bisa berikan keterangan langsung tentang kondisi almarhum di bulan-bulan terakhir."
Hakim mengangguk.
"Silakan panggil saksi."
Pintu ruang sidang terbuka—seorang wanita paruh baya masuk dengan langkah ragu—memakai jilbab putih dan baju batik sederhana, wajah tegang.
Bu Siti.
Rajendra kenal dia—pembantu yang bekerja di rumah kakek sejak tahun 2005. Wanita baik yang sering bikinin dia teh manis waktu dia main ke rumah kakek.
Bu Siti duduk di kursi saksi—tangannya gemetar sedikit.
Daniel berdiri—menatap Bu Siti dengan tatapan lembut tapi mengarahkan.
"Bu Siti, bisa Ibu ceritakan kondisi almarhum Pak Dimas di bulan-bulan terakhir sebelum meninggal?"
Bu Siti menatap ke bawah—suaranya pelan, gemetar.
"Pak Dimas... sering lupa. Kadang lupa sudah makan atau belum. Kadang lupa nama saya meski saya sudah kerja bertahun-tahun di sana."
"Apa lagi yang Ibu lihat?"
"Beliau sering... bicara sendiri. Kadang marah-marah tanpa alasan. Kadang nangis tiba-tiba."
Rajendra menatap Bu Siti—mencoba membaca wajahnya.
Ada sesuatu yang salah.
Bu Siti tidak menatap siapa pun—matanya hanya menatap lantai, seperti orang yang dipaksa bicara.
Daniel melanjutkan.
"Apakah Ibu pernah lihat Rajendra Baskara—cucu almarhum—datang berkunjung dan bicara empat mata dengan almarhum?"
Bu Siti mengangguk pelan.
"Pernah. Beberapa kali."
"Apa yang terjadi setelah pertemuan itu?"
Bu Siti diam sebentar—lalu bicara dengan suara lebih pelan lagi.
"Pak Dimas terlihat... bingung. Kadang bilang dia harus ubah surat wasiat. Kadang bilang dia tidak yakin lagi dengan keputusannya."
Rajendra berdiri—tidak tahan lagi.
"Itu bohong!"
Hakim mengetuk palu—keras.
"Tergugat, duduk! Jangan interupsi sidang!"
Hartono menarik lengan Rajendra—memaksanya duduk.
"Tenang," bisik Hartono. "Jangan emosi. Nanti giliran kita cross-examine."
Rajendra duduk—napasnya cepat, dadanya sesak.
Daniel tersenyum tipis—seperti sudah dapat apa yang dia mau.
"Cukup, Yang Mulia. Itu keterangan dari saksi kami."
Hakim menatap Hartono.
"Kuasa hukum tergugat, Anda mau cross-examine saksi?"
Hartono berdiri—menatap Bu Siti dengan tatapan tajam tapi tidak mengintimidasi.
"Bu Siti, berapa lama Ibu bekerja di rumah almarhum?"
"Lima tahun, Pak."
"Selama lima tahun itu, apakah almarhum pernah kasar ke Ibu? Pernah tidak bayar gaji? Pernah perlakukan Ibu dengan tidak baik?"
Bu Siti menggeleng.
"Tidak, Pak. Pak Dimas baik. Selalu bayar tepat waktu. Selalu hormati saya."
"Berarti almarhum orang yang baik dan adil, ya?"
"Iya, Pak."
"Kalau begitu, kenapa almarhum yang baik dan adil itu tiba-tiba buat keputusan yang tidak adil—kasih semua warisan ke satu cucu saja?"
Bu Siti terdiam—mulutnya terbuka tapi tidak ada suara keluar.
Daniel berdiri—memotong.
"Objection, Yang Mulia. Itu leading question. Kuasa hukum tergugat sedang mempengaruhi saksi."
Hakim mengangguk.
"Sustained. Kuasa hukum tergugat, reformulasi pertanyaan Anda."
Hartono mengubah strategi.
"Bu Siti, siapa yang minta Ibu jadi saksi hari ini?"
Bu Siti melirik ke arah Julian—lalu cepat menunduk lagi.
"Pak Julian. Anak almarhum."
"Apakah Pak Julian kasih Ibu uang untuk jadi saksi?"
Bu Siti terdiam—wajahnya pucat.
Daniel berdiri lagi—keras.
"Objection! Itu pertanyaan yang menuduh tanpa bukti!"
Hakim menatap Hartono dengan tatapan tajam.
"Kuasa hukum tergugat, Anda punya bukti bahwa saksi dibayar?"
"Belum, Yang Mulia. Tapi—"
"Kalau belum ada bukti, jangan ajukan pertanyaan seperti itu. Objection diterima."
Hartono mengangguk—lalu bicara lagi ke Bu Siti.
"Bu Siti, apakah Ibu pernah lihat langsung almarhum buat surat wasiat?"
"Tidak, Pak."
"Berarti Ibu tidak tahu kondisi mental almarhum pada saat beliau buat surat wasiat?"
"Saya tidak tahu pasti, Pak. Tapi saya lihat beliau sering lupa dan—"
"Tapi lupa sesekali itu normal untuk orang tua, bukan? Bukan berarti gila?"
Bu Siti terdiam lagi.
Hartono menatap hakim.
"Yang Mulia, saksi ini tidak punya kualifikasi medis untuk menilai kondisi mental almarhum. Keterangan beliau hanya berdasarkan observasi awam yang subjektif. Kami minta keterangan ini tidak dijadikan bukti kuat."
Hakim menulis sesuatu—lalu menatap kedua kuasa hukum.
"Baik. Saya catat keberatan pihak tergugat. Tapi keterangan saksi tetap masuk sebagai salah satu pertimbangan."
Hartono duduk—wajahnya sedikit frustrasi.
Hakim menatap jam dinding—sudah hampir pukul dua belas.
"Sidang hari ini cukup sampai di sini. Sidang berikutnya dijadwalkan dua minggu lagi—29 Juli 2010. Pihak tergugat diminta hadirkan saksi ahli dan bukti tambahan untuk counter klaim pihak penggugat. Sidang ditutup."
Palu diketuk—bunyi kayu bergema di ruangan.
Semua berdiri—hakim keluar—lalu orang-orang mulai bergerak keluar ruangan.
Rajendra berdiri—menatap Bu Siti yang masih duduk di kursi saksi, wajahnya pucat, tangan gemetar.
Ia berjalan mendekat—Bu Siti mendongak, matanya berkaca-kaca.
"Bu Siti," panggil Rajendra pelan.
Bu Siti berdiri cepat—seperti mau kabur—tapi Rajendra menghalangi.
"Kenapa Bu Siti bohong tadi?"
Bu Siti menggeleng cepat—air mata mulai turun di pipinya.
"Maaf, Mas Rajendra. Maaf. Saya tidak punya pilihan. Pak Julian bilang kalau saya tidak jadi saksi, saya akan dipecat dan tidak akan dapat pesangon."
Rajendra menatapnya—dadanya sesak.
"Kakek saya tidak gila, Bu. Ibu tahu itu. Ibu kerja bertahun-tahun di sana. Ibu tahu kakek saya sehat sampai akhir."
Bu Siti menangis—tangannya menutupi wajah.
"Maaf, Mas. Maaf. Tapi saya butuh uang itu. Anak saya sakit. Saya butuh biaya rumah sakit. Saya tidak punya pilihan."
Rajendra diam—tidak tahu harus bilang apa.
Hartono muncul di belakangnya—meletakkan tangan di bahu Rajendra.
"Sudah. Biarkan dia pergi."
Bu Siti cepat-cepat keluar ruangan—masih menangis.
Rajendra menatap pintu yang tertutup—lalu menatap Hartono.
"Mereka bayar dia."
"Saya tahu."
"Kita bisa buktikan?"
"Sulit. Kalau bayarnya cash, tidak ada jejak. Dan Bu Siti tidak akan mau ngaku—dia takut."
Rajendra mengepalkan tangan—rahangnya mengeras.
"Terus kita mau gimana?"
Hartono menatapnya dengan tatapan serius.
"Kita bawa saksi yang lebih kuat. Dr. Sutanto—dokter pribadi kakekmu. Dia punya rekam medis lengkap. Dia bisa buktikan kakekmu sehat. Dan kita panggil notaris yang buat surat wasiat—dia bisa buktikan prosedurnya benar dan kakekmu dalam kondisi sadar waktu tandatangan."
"Itu cukup?"
"Harusnya cukup. Tapi kita juga harus investigasi Klinik Keluarga Sehat itu—apakah dokumen mereka asli atau palsu. Kalau kita bisa buktikan dokumen itu palsu, kasus mereka runtuh."
Rajendra mengangguk—otaknya sudah mulai bekerja cepat.
"Saya yang handle investigasi klinik itu. Bapak fokus ke saksi ahli."
Hartono menatapnya—ragu.
"Kamu yakin? Investigasi itu butuh waktu. Dan kamu kan lagi sibuk dengan startup-mu."
"Saya yakin. Saya gak akan biarkan mereka menang dengan cara kotor."
Hartono tersenyum tipis—menepuk bahu Rajendra lagi.
"Kamu mirip kakekmu. Keras kepala tapi punya prinsip."
Mereka keluar dari ruang sidang—berjalan menyusuri koridor.
Di ujung koridor, Julian berdiri bersama Daniel—bicara sesuatu dengan nada serius.
Julian melirik ke arah Rajendra—tatapan mereka bertemu sebentar.
Tidak ada yang tersenyum.
Tidak ada yang mengangguk.
Hanya tatapan dingin dari dua orang yang dulu satu keluarga.
Lalu Julian berbalik—berjalan menuruni tangga—menghilang.
Rajendra menatap tangga kosong itu—dadanya sesak lagi.
Tapi kali ini bukan karena sedih.
Karena marah.
Marah pada ayahnya yang rela bayar orang untuk bohong.
Marah pada sistem yang memaksa orang seperti Bu Siti memilih antara kebenaran dan kebutuhan.
Marah pada dirinya sendiri yang di kehidupan pertama terlalu bodoh untuk lihat semua ini.
Hartono bicara—memecah lamunan Rajendra.
"Kamu pulang sekarang?"
"Belum. Saya mau ke klinik itu. Sekarang."
"Sekarang? Tapi—"
"Saya gak punya banyak waktu, Pak. Sidang berikutnya dua minggu lagi. Demo investor Senin depan. Gue harus selesaikan ini cepat."
Hartono menatapnya—lalu mengangguk pelan.
"Hati-hati. Kalau mereka tahu kamu investigasi, mereka bisa tutup jejak."
"Gue akan hati-hati."
Rajendra berjalan menuruni tangga—keluar dari gedung pengadilan—lalu naik bus menuju Klinik Keluarga Sehat yang alamatnya tercantum di dokumen tadi.
Dokumen yang mungkin palsu.
Dokumen yang dia harus buktikan palsu.
Sebelum terlambat.
[ END OF BAB 12 ]