Di khianati tunangan sampah, eh malah dapat pamannya yang tampan perkasa!
Cerita berawal dari Mayra andini kusumo yang mengetahui jika calon suaminya Arman, berselingkuh dengan kakak tirinya sendiri.
Di hari pernikahannya mayra mengajak Dev-- paman dari Arman untuk menikah dengan nya, yang kebetulan menjadi tamu di pernikahan keponakannya. Dan mayra juga membongkar perselingkuhan arman dan Zakia yang di lakukan di belakangnya selama ini.
Cerita tidak sampai di situ, setelah menikah dengan Dev, Mayra jadi tahu sisi lain dari pria dingin itu.
Dapatkan mayra meluluhkan hati Dev yang sekeras batu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Resepsi yang penuh ketegangan
Perjalanan dari gereja ke hotel tempat resepsi berlangsung dalam keheningan yang aneh tapi tidak sepenuhnya tidak nyaman.
Mayra duduk di kursi belakang Bentley hitam milik Dev, masih mengenakan gaun pengantinnya yang besar dan veil yang panjang. Di sebelahnya, Dev duduk dengan postur yang tenang, sesekali melihat ponselnya yang terus berdering, pasti puluhan pesan dan telepon dari keluarga Prasetyo.
Tapi Dev mengabaikan semuanya.
Sang supir--seorang pria paruh baya bernama Pak Herman yang terlihat sangat profesional--mengemudi dengan tenang, tidak berkomentar apapun tentang drama yang baru saja terjadi meski dia pasti mendengar semuanya.
Mayra menatap keluar jendela, melihat Jakarta yang terus bergerak seperti biasa. Orang-orang berlalu lalang, mobil-mobil melintas, kehidupan terus berjalan--sementara hidupnya baru saja mengalami gempa bumi.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Dev tiba-tiba, suaranya dalam dan tenang.
Mayra menoleh. "Aku... tidak tahu. Rasanya seperti semua ini tidak nyata."
Dev mengangguk paham. "Adrenalin masih tinggi. Nanti setelah semuanya selesai baru kamu akan benar-benar merasakan dampaknya."
"Kamu terdengar seperti sudah sering melakukan hal gila seperti ini," kata Mayra dengan senyum tipis.
Sudut bibir Dev terangkat sedikit. "Tidak seperti ini tepatnya. Tapi saya sudah cukup sering membuat keputusan besar yang mengubah hidup dalam waktu singkat. Bisnis mengajarkan saya itu."
Mayra menatap pria di sampingnya ini--suaminya, secara legal sekarang. Dev Armando. CEO sukses. Pria yang bahkan tidak dia kenal dengan baik seminggu yang lalu, sekarang adalah suaminya.
"Dev," panggil Mayra pelan.
"Hmm?"
"Terima kasih. Serius. Tanpa kamu... aku tidak akan punya keberanian untuk melakukan semua itu."
Dev menatap Mayra dengan tatapan yang sulit dibaca. "Kamu punya keberanian itu sejak awal, Mayra. Saya hanya... memberikan jalan."
Keheningan sejenak, lalu Dev melanjutkan. "Dan sekarang kita harus menghadapi resepsi. Saya sudah menelepon Marco--asisten saya--untuk memberi tahu pihak hotel tentang perubahan pengantin pria. Mereka akan mengubah name card, seating arrangement, dan semua detail lainnya."
Mayra tertegun. "Kamu sudah memikirkan semua itu?"
"Tentu. Saya tidak masuk ke situasi tanpa persiapan," jawab Dev dengan nada yang sangat profesional. "Tapi saya harus warning kamu, resepsi akan jauh lebih sulit dari upacara tadi."
"Kenapa?"
"Karena di gereja, semua orang masih shock dan bingung. Tapi di resepsi, mereka akan punya waktu untuk memproses, untuk bereaksi, untuk... menyerang," jelas Dev sambil menatap Mayra dengan serius. "Kamu siap?"
Mayra menarik napas dalam. "Sejujurnya? Tidak. Tapi aku sudah sampai sejauh ini. Tidak ada jalan mundur."
Dev mengangguk. "Bagus. Yang penting, kamu tidak sendirian. Apapun yang terjadi di resepsi, kita hadapi bersama. Kamu adalah istri saya sekarang, setidaknya di mata hukum dan di mata semua orang. Saya akan melindungi kamu."
Kata-kata itu membuat sesuatu yang hangat menyebar di dada Mayra. "Kenapa kamu mau melakukan semua ini untukku, Dev? Maksudku... kita bahkan baru kenal beberapa hari."
Dev terdiam sejenak, menatap keluar jendela. "Karena saya tahu bagaimana rasanya dikhianati oleh orang yang kita percaya. Dan saya tahu bagaimana rasanya tidak punya pilihan. Kamu datang padaku dengan proposal yang gila, tapi juga berani. Itu menarik perhatian saya."
Dia berbalik menatap Mayra. "Dan karena keluarga Prasetyo sudah lama membuat saya muak dengan arogansi mereka. Melihat mereka jatuh dari tahta tinggi mereka... ada kepuasan tersendiri di sana."
Mayra tersenyum tipis. "Jadi ini juga soal balas dendam untukmu?"
"Sebagian," akui Dev dengan jujur. "Tapi juga karena saya respect dengan keberanianmu. Tidak banyak wanita yang berani melakukan apa yang kamu lakukan tadi."
Sebelum Mayra bisa menjawab, mobil mulai melambat. Mereka sudah sampai di hotel--The Ritz-Carlton, ballroom di lantai 3 yang sudah didekorasi dengan sangat mewah untuk resepsi pernikahan.
Mayra bisa melihat beberapa tamu sudah mulai berdatangan, mobil-mobil mewah memenuhi drop-off area, orang-orang berpakaian formal turun dengan ekspresi bingung dan penasaran.
Pasti gossip tentang apa yang terjadi di gereja sudah menyebar seperti api.
"Ready?" tanya Dev sambil mengulurkan tangannya.
Mayra menatap tangan itu--tangan yang kuat, hangat, dan aman.
Dia meraihnya. "Ready."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Begitu Bentley berhenti di red carpet yang sudah disiapkan, pintu langsung dibukakan oleh valet. Dev turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangan untuk membantu Mayra keluar dengan hati-hati--gaun ball gown yang besar membuatnya agak sulit bergerak.
Flash kamera langsung menyilaukan mereka.
Fotografer yang sudah standby meski terlihat sangat bingung tapi mereka tetap melakukan tugasnya mengambil foto pengantin baru.
"Tuan Armando! Nona Kusumo! Bisa lihat ke sini!"
"Senyum please!"
Tapi yang lebih menarik perhatian adalah bisikan keras dari tamu-tamu yang sudah mulai berkumpul di lobby hotel.
"Oh my God, itu benar Dev Armando?"
"Dia benar-benar menikah dengan Mayra?"
"Apa yang sebenarnya terjadi di gereja tadi?"
"Saya dengar Arman selingkuh dengan kakak tirinya!"
"Scandal besar ini!"
Mayra merasakan semua tatapan itu--tatapan yang penasaran, judgmental, shocked, bahkan ada yang terlihat... kagum?
Dev seperti merasakan ketegangan Mayra. Dia menarik pinggang Mayra lebih dekat dan berbisik, "Angkat kepala. Tersenyum. Jangan biarkan mereka melihat kamu lemah."
Mayra menarik napas dalam, lalu mengangkat kepalanya dan tersenyum--senyum yang anggun dan percaya diri, seolah semua ini memang sudah direncanakan sejak awal.
Mereka berjalan di red carpet menuju pintu ballroom dengan tangan bergandengan. Dev memancarkan aura kekuasaan yang membuat orang-orang memberi jalan secara otomatis.
Di pintu ballroom, wedding organizer--seorang wanita bernama Tessa yang terlihat sangat stress--menghampiri mereka dengan clipboard di tangan.
"Tuan Armando, Nyonya Armando," sapanya dengan gugup, masih terdengar aneh menyebut Mayra dengan nama itu. "Semua perubahan sudah dilakukan. Name card sudah diganti, seating arrangement sudah diubah, MC sudah diberi briefing tentang... situasinya."
"Bagus. Terima kasih, Tessa," kata Dev dengan profesional.
"Tapi..." Tessa melirik ke dalam ballroom dengan wajah khawatir. "Ada situasi yang perlu Anda ketahui."
"Situasi apa?" tanya Mayra.
"Keluarga Prasetyo sudah ada di dalam. Mereka... tidak terlihat senang. Dan Nona Zakia serta Tuan Arman juga ada,mereka dipaksa datang oleh keluarga meski sempat menolak," jelas Tessa dengan hati-hati.
Mayra merasakan perutnya menegang. "Mereka ada di dalam?"
"Keluarga Prasetyo bersikeras bahwa mereka tidak akan membiarkan keluarga mereka terlihat seperti kabur dari aib. Mereka akan menghadiri resepsi untuk... damage control katanya," lanjut Tessa.
Dev mengerutkan alis. "Hendra selalu seperti itu. Lebih peduli reputasi daripada perasaan."
Tessa menatap Mayra dengan tatapan simpati. "Nyonya, saya harus memberi tahu bahwa... suasana di dalam sangat tegang. Beberapa tamu dari pihak keluarga Kusumo dan Prasetyo terlihat sangat tidak nyaman. Ada yang bahkan sudah pulang."
"Berapa banyak yang pulang?" tanya Mayra.
"Sekitar... 30 dari 300 tamu undangan," jawab Tessa.
Mayra menarik napas lega. "Berarti 270 masih ada. Lumayan."
Dev melirik Mayra dengan sedikit terkejut, sepertinya dia tidak expect Mayra bisa tetap tenang seperti ini.
"Oke," kata Mayra sambil merapikan gaunnya. "Mari kita masuk."
Tessa mengangguk dan memberi isyarat pada MC.
Musik latar di dalam ballroom berubah, instrumental wedding march yang lebih modern. Pintu ballroom besar terbuka lebar.
"Ladies and gentlemen," suara MC bergema dari speaker. "Please welcome... Mr. and Mrs. Dev Armando!"
Semua tamu yang sudah duduk di meja makan mereka langsung berdiri--sebagian bertepuk tangan dengan ragu, sebagian hanya berdiri tanpa tepuk tangan, tatapan mereka campur aduk antara shock, penasaran, dan judgmental.
Dev dan Mayra berjalan masuk dengan tangan bergandengan.
Ballroom itu stunning--dekorasi putih dan gold yang sangat mewah, chandelier kristal besar yang berkilau, meja-meja bundar dengan centerpiece bunga mawar putih dan gold candlesticks, stage besar di depan untuk pengantin dengan backdrop bertuliskan nama... yang sudah diganti menjadi "Dev & Mayra".
Tapi yang paling menarik perhatian Mayra adalah meja keluarga.
Di sebelah kiri stage--meja keluarga pengantin wanita--duduk Bambang dengan wajah yang masih terlihat shock tapi mencoba tersenyum, Siska dengan wajah yang sangat kesal, dan Zakia...
Zakiia duduk dengan kepala tertunduk, makeup sudah rusak karena menangis, dress bridesmaid pink-nya terlihat kusut. Wanita itu tidak berani mengangkat kepala.
Di sebelah kanan stage--meja keluarga pengantin pria--duduk Pak Hendra dengan wajah merah padam yang berusaha terlihat tenang, Nyonya Puspita dengan mata sembab, dan Arman...
Arman duduk dengan tatapan kosong, tuxedo-nya masih rapi tapi wajahnya berantakan. Saat Mayra dan Dev berjalan melewati mejanya, Arman mengangkat kepala dan menatap Mayra dengan tatapan yang penuh penyesalan dan sakit hati.
Tapi Mayra tidak menatap balik. Dia terus berjalan dengan kepala tegak.
Dev membimbing Mayra naik ke stage dan duduk di sofa pengantin yang mewah, sofa beludru putih dengan backdrop bunga yang indah.
MC-seorang pria muda yang profesional tapi terlihat sangat nervous-- mulai mengambil mic.
"Ehm... selamat sore semuanya," katanya dengan suara yang sedikit bergetar. "Terima kasih sudah datang untuk merayakan... pernikahan yang sangat... special ini."
Beberapa tamu tertawa kecil--tawa yang awkward.
"Kita semua tahu bahwa hari ini ada... perubahan rencana yang tidak terduga," lanjut MC dengan hati-hati. "Tapi yang terpenting adalah... cinta sejati selalu menemukan jalannya."
Mayra hampir tertawa mendengar itu. Cinta sejati. Ini bukan tentang cinta sejati. Ini tentang survival dan balas dendam.
Tapi dia tetap tersenyum dengan anggun.
MC melanjutkan dengan program acara-&pembukaan, doa, lalu saatnya untuk... first dance.
"Dan sekarang, mari kita saksikan first dance dari pasangan pengantin baru kita, Mr. and Mrs. Dev Armando!"
Musik slow,"The Way You Look Tonight" versi jazz mulai mengalun.
Dev berdiri dan mengulurkan tangannya pada Mayra. "Boleh saya?"
Mayra menatap tangan itu dengan nervous. "Aku... tidak tahu kita harus first dance."
"Ini bagian dari resepsi tradisional. Kita harus," bisik Dev. "Ikuti saja gerakanku."
Mayra meraih tangan Dev dan berdiri. Dev membimbingnya turun dari stage ke dance floor yang sudah disiapkan di tengah ballroom.
Semua mata tertuju pada mereka.
Dev melingkarkan satu tangannya di pinggang Mayra dengan gentle, tangan lainnya memegang tangan Mayra. Mayra meletakkan tangan bebasnya di bahu Dev.
Dan mereka mulai menari.
Mayra tidak terlalu pandai menari waltz, tapi Dev sangat mahir. Dia membimbing Mayra dengan lembut, langkah-langkahnya smooth dan easy to follow.
"Rileks," bisik Dev. "Kamu terlalu tegang. Semua orang bisa lihat."
"Aku tidak biasa menjadi pusat perhatian seperti ini," bisik Mayra balik.
"Kamu baru saja menghancurkan pernikahan di altar dan menikah dengan pria lain. Saya rasa kamu sudah sangat biasa jadi pusat perhatian hari ini," kata Dev dengan nada yang sedikit humor.
Mayra tidak bisa menahan senyum kecil. "Poin bagus."
Mereka terus menari, berputar perlahan di bawah cahaya chandelier yang indah. Gaun Mayra mengembang cantik setiap kali mereka berputar. Dev menatap Mayra dengan tatapan yang... lembut? Mayra tidak yakin.
"Kamu cantik sekali hari ini," kata Dev tiba-tiba.
Mayra terkejut. "Terima kasih..."
"Saya serius. Arman sangat bodoh melepaskan wanita seperti kamu," lanjut Dev.
Mayra merasakan sesuatu yang aneh di dadanya mendengar kata-kata itu. "Kamu tidak perlu bilang itu. Tidak ada yang dengar."
"Saya tidak bilang untuk orang lain. Saya bilang untuk kamu," jawab Dev sambil memutar Mayra dengan gentle.
Saat musik mencapai puncak, Dev menarik Mayra lebih dekat--sangat dekat sampai Mayra bisa merasakan detak jantung Dev di dadanya.
"Setelah ini akan semakin sulit," bisik Dev di telinga Mayra. "Siap?"
"Tidak. Tapi aku tidak punya pilihan kan?" bisik Mayra balik.
"Kamu selalu punya pilihan. Tapi kamu memilih untuk kuat. Itu yang saya kagumi darimu," kata Dev.
Musik berakhir. Dev dan Mayra berhenti menari tapi tidak langsung melepaskan posisi mereka.
Tepuk tangan--kali ini lebih keras dari sebelumnya--bergema di ballroom. Beberapa tamu bahkan berdiri memberikan standing ovation.
Tapi Mayra tahu itu bukan karena mereka senang. Itu karena mereka... kagum dengan drama yang baru saja mereka saksikan.
Dev akhirnya melepaskan Mayra dan membimbingnya kembali ke stage.
MC mengambil mic lagi. "Beautiful! Dan sekarang... saatnya untuk toast dari keluarga."
Mayra menegang. Ini bagian yang dia takutkan.
MC menatap notes-nya dengan bingung. "Biasanya toast dari ayah pengantin pria, tapi... mengingat situasinya... Pak Bambang Kusumo, ayah dari pengantin wanita, silakan."
Bambang berdiri dengan perlahan, wajahnya terlihat sangat lelah. Dia berjalan ke stage dengan langkah yang agak gontai, mengambil mic dari MC.
Semua mata tertuju padanya.
Bambang menatap putrinya yang duduk di sofa pengantin dengan pria yang bahkan tidak dia kenal pagi ini. Mata pria itu berkaca-kaca.
"Saya..." suara Bambang bergetar. "Saya tidak tahu harus bilang apa. Hari ini... bukan seperti yang saya bayangkan."
Hening menyelimuti.
"Tapi," Bambang melanjutkan sambil menatap Mayra. "Mayra adalah putri saya. Harta paling berharga dalam hidup saya. Dan sebagai ayah... saya hanya ingin dia bahagia."
Air mata mulai mengalir di pipi Bambang. "Jika Mayra memilih Dev Armando sebagai suaminya... berarti dia melihat sesuatu di pria itu yang dia tidak lihat di... orang lain."
Bambang menatap Dev dengan tatapan serius. "Tuan Armando, saya tidak kenal Anda dengan baik. Tapi putri saya mempercayai Anda. Jadi saya mohon... jaga dia. Buat dia bahagia. Jangan sakiti dia seperti..."
Suaranya terputus.
"...seperti yang dilakukan orang lain," Bambang menyelesaikan dengan susah payah.
Dia mengangkat gelas wine-nya. "Untuk Mayra dan Dev. Semoga kalian berdua menemukan kebahagiaan yang sejati."
Beberapa tamu mengangkat gelas mereka dengan ragu. Yang lain masih duduk terdiam.
Mayra merasakan air mata menggenang di matanya. Dia berdiri dan menghampiri ayahnya, memeluknya dengan erat.
"Maafkan aku, Pa," bisik Mayra sambil menangis. "Maafkan aku untuk semua ini."
Bambang memeluk putrinya dengan erat. "Papa mencintaimu, Mayra. Apapun yang terjadi, Papa akan selalu mencintaimu."
Moment itu membuat beberapa tamu ikut menangis--bahkan yang tadi terlihat judgmental.
Tapi di meja keluarga Prasetyo, Arman menundukkan kepalanya semakin dalam, bahunya bergetar--dia menangis.
Dan di meja sebelah, Zakia masih tidak berani mengangkat kepala.
Resepsi baru saja dimulai.
Dan ini akan jadi malam yang sangat panjang.
****
Bersambung,..
menunggu mu update lagi