Hellowwww
Ini adalah novel pertama sayaa.
Semoga sukaa ya 😍🙏
Sinopsis:
Bercerita tentang dua pasangan yang bucin banget di sekolah. Namun, karena suatu hal menyebabkan hubungan mereka menjadi renggang hingga ada di pinggir jurang, bahkan setelah jatuh pun mereka masih dihadapkan pada ribuan masalah.
Masalah apa ya kira-kira?
Yuk dibaca langsung ajaa!
Donasi ke aku:
Saweria: parleti
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jaaparr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Perbedaan
Sudah dua minggu sejak aku kembali bersekolah. Dua minggu yang terasa begitu panjang dan melelahkan.
Setiap hari aku harus berjuang keras untuk memahami pelajaran, mengerjakan tugas, dan berusaha mengingat teman-temanku.
Tapi yang paling membuatku canggung adalah... Asha.
Gadis itu selalu ada di sekitarku. Selalu menawarkan bantuan. Selalu tersenyum meskipun aku tau dia sedang sedih.
Dan aku... Aku gak tau harus bersikap bagaimana.
🌷🌷🌷🌷
Pagi ini, seperti biasa, aku datang ke sekolah dengan langkah yang berat. Kepalaku masih terasa pusing karena semalam begadang mengerjakan tugas.
Saat aku berjalan di koridor, aku melihat Asha berdiri di depan kelas dengan senyuman lebar.
"Pagi Arsa!" sapanya dengan suara yang riang.
"Pagi, Asha" balasku sembari tersenyum tipis.
Aku berjalan melewati Asha dan masuk ke kelas. Tapi langkahku terhenti ketika Asha tiba-tiba memegang lenganku.
"Arsa, tunggu" katanya dengan suara yang pelan.
Aku berbalik menatap Asha. Gadis itu terlihat begitu gugup.
"Ada apa?" tanyaku dengan nada yang hati-hati.
Asha mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tasnya.
"Ini... Ini aku buatin bekal buat kamu. Aku tau kamu suka telat bangun, jadi pasti sering gak sempet sarapan."
Aku menatap kotak bekal itu dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, aku merasa tersentuh dengan perhatian Asha. Tapi di sisi lain, aku merasa tidak enak.
"Makasih Asha, tapi... Tapi kamu gak usah repot-repot gini" tolakku dengan halus.
Wajah Asha yang awalnya tersenyum langsung berubah menjadi kecewa. Tapi ia cepat-cepat menutupinya.
"Gapapa kok, ini gak repot. Lagian aku juga bikin buat aku sendiri, jadi sekalian aja bikin buat kamu."
Aku terdiam. Tidak tau harus menjawab apa.
"Arsa, please... Terima aja. Anggap aja ini dari... Dari teman" pinta Asha dengan suara yang nyaris memohon.
Akhirnya aku menerima kotak bekal itu.
"Makasih ya, Asha."
Asha tersenyum lebar. Tapi aku bisa melihat ada kesedihan di balik senyuman itu.
🌷🌷🌷🌷
Saat istirahat pertama, Asha kembali menghampiriku dengan semangat.
"Arsa, yuk makan bareng" ajaknya sembari mengeluarkan kotak bekalnya sendiri.
Aku menatap Asha sejenak. Canggung. Itu yang kurasakan setiap kali berhadapan dengan gadis ini.
"Asha... Aku... Aku mau ke perpustakaan. Ada tugas yang harus kukerjain" bohongku.
Senyuman di wajah Asha langsung memudar. "Oh... Oke deh. Nanti kalau udah selesai, kita ngobrol ya."
Aku mengangguk lalu segera pergi dari kelas, meninggalkan Asha yang duduk sendirian dengan kotak bekalnya.
Sebenarnya aku tidak ke perpustakaan. Aku hanya pergi ke kantin dan membeli roti, lalu memakannya sendirian di tangga belakang sekolah.
Aku merasa bersalah. Sangat bersalah. Tapi aku tidak tau harus bagaimana.
Setiap kali bersama Asha, aku selalu merasa canggung. Aku tidak tau harus bicara apa, harus bersikap bagaimana.
Karena bagi Asha, aku adalah pacarnya yang ia cintai. Tapi bagiku... Asha hanyalah teman sekelas yang kebetulan baik kepadaku.
'Maaf Asha... Aku benar-benar gak tau harus gimana...' batinku dengan perasaan bersalah.
🌷🌷🌷🌷
Hari-hari berikutnya, aku mulai semakin sering menghindari Asha.
Setiap kali Asha mencoba mendekat, aku selalu punya alasan untuk menjauh. Entah harus belajar, harus ke perpustakaan, atau harus mengerjakan tugas.
Aku tau ini salah. Aku tau ini menyakiti Asha. Tapi aku tidak bisa menghentikan diriku sendiri.
Karena setiap kali aku bersama Asha, kepalaku selalu terasa sakit. Seperti ada sesuatu yang ingin keluar, tapi tertahan.
Suatu hari, saat pulang sekolah, aku berjalan sendirian di koridor yang sudah sepi.
Tiba-tiba aku mendengar suara tangisan dari dalam kelas. Aku menghentikan langkahku dan mencoba mendengar lebih jelas.
"Cin... Gw bingung banget... Arsa kenapa jadi kek gini sih? Dia ngindarin gw mulu..." Itu suara Asha.
Aku berhenti tepat di depan pintu kelas dan bersembunyi di balik dinding, menguping pembicaraan mereka.
"Mungkin dia lagi banyak pikiran, Sha. Dia kan juga lagi berusaha keras buat belajar" jawab Cinta mencoba menenangkan.
"Tapi... Tapi gw cuma pengen bantu dia. Kenapa dia malah ngindarin gw? Apa... Apa gw pengganggu ya bagi dia?"
Suara Asha terdengar begitu sedih dan putus asa.
"Enggak kok. Lu gak ganggu dia. Arsa itu mungkin cuma... Cuma gak tau aja harus gimana sama Lu."
"Cin... Gw capek... Capek banget..." isak Asha.
"Gw dah berusaha keras buat bikin dia nyaman, tapi dia malah ngindarin gw terus. Gw ceritain kenangan kita, tapi dia cuma ngeliatin gw dengan tatapan bingung."
"Gw... Gw kayak jadi orang asing buat dia, Cin..."
Dadaku terasa begitu sesak mendengar tangisan Asha. Tanganku yang memegang tas bergetar.
'Asha... Maafkan aku...'
Aku ingin masuk ke kelas dan memeluk Asha. Memberitahunya bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Tapi kakiku seolah terpaku di tempat. Aku tidak bisa bergerak.
"Sha, dengerin gw. Arsa itu mungkin emang lagi bingung. Tapi bukan berarti dia gak peduli sama lu."
"Terus apa dong? Kalau dia peduli, kenapa dia malah ngindarin gw?" tanya Asha dengan nada frustrasi.
Cinta terdiam sejenak. "Mungkin... Mungkin karena dia merasa bersalah. Dia gak bisa inget lu, jadi dia gak tau harus bersikap gimana."
Aku menundukkan kepalaku. Ucapan Cinta benar. Aku memang merasa bersalah. Sangat bersalah.
"Cin... Gw takut... Gw takut kalau Arsa gak akan pernah ingat lagi..." lirih Asha.
"Jangan gitu dong, Sha. Dokter kan bilang ingatannya mungkin bisa balik."
"Mungkin... Cuma mungkin..." gumam Asha dengan suara yang penuh keputusasaan.
Aku tidak sanggup lagi mendengar. Dengan langkah cepat, aku pergi meninggalkan tempat itu.
🌷🌷🌷🌷
Malam harinya, aku tidak bisa tidur. Pikiran terus saja dipenuhi oleh wajah Asha yang menangis.
Aku duduk di tepi kasur sembari menatap foto yang ada di meja belajarku. Foto kami berdua yang terlihat begitu bahagia.
'Kenapa... Kenapa aku gak bisa ingat moment ini?'
Aku mencoba mengingat lagi. Lebih keras dari sebelumnya.
Dan tiba-tiba...
Kepalaku terasa begitu sakit. Lebih sakit dari biasanya.
"Argh!" erangku sembari memegang kepalaku.
Dalam bayang-bayang penglihatanku, aku melihat sekilas wajah Asha yang tersenyum. Tapi bukan Asha yang sekarang.
Asha yang... Lebih bahagia. Lebih ceria.
"Kamu cantik banget hari ini, Asha" Aku mendengar suaraku sendiri mengucapkan kalimat itu.
"Ihh, gombal!" balas Asha dengan pipi yang merona.
Lalu... Semuanya hilang begitu saja.
Aku terengah-engah dengan keringat dingin yang membasahi wajahku.
'Apa... Apa itu tadi? Apa itu ingatan?'
Jantungku berdegup kencang. Untuk pertama kalinya sejak aku siuman, aku merasakan sesuatu.
Sesuatu yang hangat. Sesuatu yang familiar.
Tapi sebelum aku bisa memikirkannya lebih jauh, rasa sakit di kepalaku kembali menyerang.
"Argh! Sakit... Sakit banget..." erangku sembari memegang kepalaku dengan kedua tangan.
Aku berbaring di kasur dengan tubuh yang bergetar. Kepalaku terasa seperti akan pecah.
'Kenapa... Kenapa setiap kali aku mencoba mengingat, kepalaku selalu sakit?'
Aku menatap langit-langit kamarku dengan nafas yang tidak karuan.
'Asha... Maafkan aku...'
'Aku benar-benar pengen ingat kamu. Tapi... Tapi setiap kali aku coba, rasanya seperti kepala ku mau meledak...'
🌷🌷🌷🌷
Keesokan harinya, aku datang ke sekolah dengan mata yang sembab karena semalam hampir tidak tidur.
Aku berjalan dengan langkah yang sempoyongan. Kepalaku masih terasa pusing dan badanku lemas.
"Arsa, kamu gapapa? Wajah kamu pucat banget" tanya salah satu teman sekelasku dengan nada khawatir.
"Gapapa kok, cuma kurang tidur aja" jawabku sembari memaksakan senyum.
Aku duduk di kursiku dan mengeluarkan buku pelajaran. Tapi mataku sama sekali tidak bisa fokus membaca.
Aku melirik ke arah Asha yang duduk tidak jauh dariku. Gadis itu terlihat begitu murung.
Mata kami bertemu untuk sesaat. Asha tersenyum tipis, tapi aku bisa melihat kesedihan yang begitu dalam di matanya.
Aku cepat-cepat mengalihkan pandangan. Rasa bersalah kembali menggerogoti hatiku.
Saat istirahat pertama, aku berencana untuk ke kantin sendirian seperti biasa. Tapi langkahku terhenti ketika Asha tiba-tiba berdiri di depanku.
"Arsa, bisa kita ngobrol sebentar?" tanyanya dengan suara yang pelan.
Aku meneguk ludah. "Ngobrol apa?"
"Aku... Aku cuma pengen tau, apa aku salah ngomong sesuatu ke kamu? Atau... Atau aku terlalu memaksa?"
Aku menggeleng cepat. "Enggak kok. Kamu gak salah apa-apa."
"Terus kenapa kamu jadi ngindarin aku?" tanya Asha dengan nada yang sedikit tinggi.
Beberapa teman sekelas mulai melirik ke arah kami. Aku merasa tidak nyaman dengan perhatian itu.
"Asha... Aku lagi banyak pikiran. Aku harus fokus belajar karena aku udah ketinggalan banyak pelajaran" jelasku dengan nada yang tenang.
"Aku tau, tapi... Tapi kamu gak perlu sampe ngindarin aku kan?" bantah Asha dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Aku tidak menjawab. Karena aku tidak tau harus menjawab apa.
"Arsa... Kumohon jangan gini. Aku... Aku udah berusaha keras buat—"
"Asha, dengerin aku" potongku dengan nada yang lebih tegas dari biasanya.
Asha terdiam dan menatapku dengan tatapan terkejut.
"Aku... Aku appreciate usaha kamu. Tapi aku juga punya tanggung jawab. Aku harus belajar, aku harus mengejar ketertinggalan aku."
Aku menarik nafas panjang.
"Aku gak bisa terus-terusan fokus ke hubungan kita kalau nilai aku jeblok."
Wajah Asha langsung berubah menjadi sangat terkejut. Matanya membulat dan bibirnya terbuka.
"Jadi... Jadi aku ini ganggu kamu gitu?" tanyanya dengan suara yang bergetar.
Aku menggeleng cepat. "Bukan begitu maksud aku—"
"Terus apa dong maksud kamu?" potong Asha dengan air mata yang sudah mulai jatuh.
"Kamu bilang kamu mau mulai dari awal lagi sama aku. Tapi sekarang kamu malah ngindarin aku. Apa... Apa kamu sebenarnya gak mau sama aku?"
Aku menutup mataku sejenak. Aku merasa begitu tertekan dengan pertanyaan Asha.
"Asha, ini bukan soal aku mau atau gak mau. Ini soal prioritas."
"Prioritas?" ulang Asha dengan nada tidak percaya.
"Iya. Cita-cita aku untuk jadi dokter itu lebih penting dari hubungan. Lagian... Lagian aku bahkan gak ingat perasaan aku yang dulu ke kamu."
Deg.
Aku melihat wajah Asha langsung berubah menjadi sangat pucat. Seperti orang yang baru saja ditikam.
'Bodoh! Bodoh! Kenapa aku ngomong kayak gitu?!' batinku dengan perasaan menyesal.
"Arsa... Kamu... Kamu serius ngomong gitu?" tanya Asha dengan suara yang nyaris berbisik.
Aku tidak menjawab. Aku hanya menundukkan kepalaku, tidak berani menatap mata Asha.
Asha tertawa pahit. "Jadi... Jadi selama ini aku cuma buang-buang waktu doang ya?"
"Bukan begitu Asha—"
"Terus apa?" potong Asha dengan suara yang mulai nyaring.
"Kamu bilang mau mulai dari awal, tapi kamu malah gak pernah kasih kesempatan sama aku! Kamu sibuk, kamu banyak pikiran, kamu harus fokus belajar... Itu semua cuma alasan kan?"
"Sebenernya kamu cuma gak mau repot sama aku kan? Kamu gak mau pusing mikirin perasaan aku kan?"
Aku mengangkat kepalaku dan menatap mata Asha yang sudah penuh air mata.
"Asha... Dengerin aku dulu—"
"Enggak!" tolak Asha sembari mundur beberapa langkah.
"Aku udah cukup denger ocehan kamu. Aku cape Arsa... Cape banget..."
Asha menghapus air matanya dengan kasar.
"Aku cape nunggu kamu inget. Aku cape berusaha bikin kamu jatuh cinta lagi sama aku. Aku cape diperlakukan kayak gini..."
Aku terdiam tidak tau harus berkata apa. Di dalam hatiku, aku merasa bersalah. Sangat bersalah.
Tapi di sisi lain, aku juga merasa bahwa pilihanku tidak salah. Aku memang harus fokus belajar. Aku tidak bisa terus-terusan dibebani dengan perasaan bersalah kepada Asha.
"Arsa... Aku cuma mau tau satu hal" kata Asha dengan suara yang pelan.
"Apa?"
"Kamu... Kamu masih mau lanjutin hubungan kita atau enggak? Jujur aja."
Aku terdiam sangat lama. Menatap mata Asha dengan tatapan yang penuh dilema.
Di dalam hatiku, aku bingung. Aku tidak tau apa yang aku rasakan terhadap Asha.
Hangat? Iya. Nyaman? Iya. Tapi cinta? Aku tidak tau.
Dan yang paling membuatku ragu adalah... Setiap kali aku mencoba mengingat Asha, kepalaku selalu sakit. Sangat sakit.
Seolah-olah ada sesuatu yang menghalangi aku untuk mengingat gadis ini.
"Asha... Aku... Aku butuh waktu untuk mikir" jawabku akhirnya dengan suara yang pelan.
Asha tertawa pahit. "Waktu... Waktu lagi..."
"Oke deh. Aku kasih kamu waktu."
Asha lalu berbalik dan berjalan menuju pintu kelas. Sebelum keluar, ia berhenti sejenak tanpa menoleh.
"Tapi Arsa... Aku gak bisa terus-terusan nunggu. Aku juga punya batas."
Setelah itu, Asha pergi meninggalkan aku yang terdiam di tengah kelas.
Aku duduk kembali di kursiku dengan kepala yang terasa begitu pusing. Tanganku memegang kepalaku yang tiba-tiba terasa sakit lagi.
Dan kali ini, rasa sakitnya lebih hebat dari sebelumnya.
Dalam bayangan penglihatanku, aku melihat sekilas wajah Asha yang menangis. Tapi bukan Asha yang sekarang.
Asha yang... Lebih muda. Dengan rambut yang lebih pendek.
"Arsa... Jangan tinggalin aku..." Aku mendengar suara Asha yang memohon.
"Aku gak akan ninggalin kamu, Asha. Aku janji" jawab suaraku sendiri dengan begitu lembut.
Lalu... Semuanya hilang lagi.
Aku terengah-engah dengan keringat dingin yang membasahi wajahku.
'Apa... Apa itu lagi? Kenapa aku terus melihat bayangan-bayangan ini?'
Aku memegang dadaku yang terasa sesak.
'Asha... Sebenarnya... Sebenarnya siapa kamu bagiku?'
TO BE CONTINUED
🌷🌷🌷🌷🌷
Waduh, pertengkaran Asha dan Arsa makin parah nih 😭 Arsa yang bingung sama perasaannya, Asha yang udah cape nunggu...
Tapi kayaknya ada sesuatu yang menghalangi Arsa buat inget Asha deh! Setiap kali dia coba inget, kepalanya langsung sakit parah 😱
Kira-kira kenapa ya? Dan gimana nih kelanjutan hubungan mereka?
Penasaran kan? Stay tune terus dan jangan lupa follow ig author!
Follow ig author ya!
@Jaaparr.
tapi bikin Asha sungguh movie on Thor kalau bersama arsa itu menyakitkan jangan sia siakan airmataku ,..bahagiakan asha bersama orang lain juga supaya arsa merasakan kesakitan dan air mataku