NovelToon NovelToon
Putri Palsu Sang Antagonis

Putri Palsu Sang Antagonis

Status: tamat
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Putri asli/palsu / Time Travel / Fantasi Wanita / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:3.2M
Nilai: 5
Nama Author: Yulianti Azis

Zoe Aldenia, seorang siswi berprestasi dan populer dengan sikap dingin dan acuh tak acuh, tiba-tiba terjebak ke dalam sebuah novel romantis yang sedang populer. Dalam novel ini, Zoe menemukan dirinya menjadi peran antagonis dengan nama yang sama, yaitu Zoe Aldenia, seorang putri palsu yang tidak tahu diri dan sering mencelakai protagonis wanita yang lemah lembut, sang putri asli.

Dalam cerita asli, Zoe adalah seorang gadis yang dibesarkan dalam kemewahan oleh keluarga kaya, tetapi ternyata bukan anak kandung mereka. Zoe asli sering melakukan tindakan jahat dan kejam terhadap putri asli, membuat hidupnya menjadi menderita.

Karena tak ingin berakhir tragis, Zoe memilih mengubah alur ceritanya dan mencari orang tua kandungnya.

Yuk simak kisahnya!
Yang gak suka silahkan skip! Dosa ditanggung masing-masing, yang kasih rate buruk 👊👊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengejutkan

Zoe terdiam.

Benar juga, Zoe asli memang selalu mengejar Levi Gautama, protagonis pria. Dan Ryder hanya latar belakang yang dia hina dan permalukan sesukanya.

Ryder melanjutkan dengan tenang.

“Tapi selama ini gue diem aja. Gak masalahin. Karena gue juga gak tertarik.” Ia lalu menatap Zoe dalam-dalam. “Tapi sekarang, lo berubah.”

Zoe menegang. “Berubah?”

Ryder mengangguk pelan. “Lo bukan Zoe yang gue kenal.”

Zoe menahan napas. “Itu masalah?”

Ryder menyipitkan mata, ekspresi wajahnya tetap tenang tapi penuh pengamatan.

“Belum tahu.”

Lalu Ryder balik badan, berjalan perlahan ke arah kelas. Tapi sebelum terlalu jauh, Ryder menoleh lagi dan berkata, “Gue gak suka kejutan, Zoe. Tapi, perubahan lo ini bikin gue penasaran. Atau jangan-jangan ini masih bagian dari drama lo.”

Zoe berdiri mematung, matanya menatap punggung Ryder yang menjauh.

“Penasaran? No. Jangan penasaran. Gue gak mau lo jadi terobsesi. Gue gak mau lo jatuh cinta,” gumam Zoe menggelengkan kepalanya.

“Karena gue tahu akhir ceritanya. Lo akan bunuh gue,” lanjut Zoe dengan wajah dingin.

Dan hari ini, Zoe sadar jika dia tak hanya harus mengubah takdir cerita ini. Tapi juga, menjaga agar Ryder tidak jatuh cinta padanya. Atau mungkin semuanya akan berakhir lebih tragis dari yang tertulis di novel. Itu yang ada dipikiran Zoe sekarang.

***

Suasana kelas 3-A di Sekolah Internasional St. Clairmont pagi itu lebih gaduh dari biasanya.

Zoe Aldenia dan Ryder Nathanael.

Sejak tadi, para siswa masih belum bisa move on dari pemandangan pagi itu Zoe dan Ryder datang bersama, menaiki motor besar, dan tampak sangat dekat. Terlalu dekat untuk ukuran dua orang yang selama ini hanya punya status “tunangan kontrak yang salimg membenci.”

Levi Gautama, sang ketua OSIS dengan aura tenang, sedang duduk santai di bangkunya bersama geng-nya, Jayden, Dwiki Dirgantama, Arya, dan Arvan. Di seberang mereka, duduk Alicia, dengan wajah manis penuh senyum polos, dikelilingi para pengagumnya.

Begitu Zoe dan Ryder memasuki kelas, semua mata sontak tertuju ke arah mereka. Bisik-bisik, lirikan tajam, dan tawa yang ditahan semuanya tertuju pada dua orang yang baru saja melangkah masuk ke kelas.

Zoe seperti biasa saat di kehidupannya yang dulu, wajahnya datar. Tidak ada senyum, tidak ada lambaian tangan, apalagi celotehan sok akrab seperti yang dulu sering dia lakukan.

Ryder pun sama. Dingin, tak tertarik pada perhatian, langsung menuju kursinya di deretan tengah.

Zoe hanya melangkah tenang ke kursi paling belakang, pojok kanan, tepat di dekat jendela. Tempat yang dulu pun memang Zoe duduki tapi dengan sikap sangat berbeda.

Dulu, Zoe akan masuk kelas dengan langkah percaya diri, menyapa Levi dengan suara manja dan tatapan berbinar. Dulu, dia akan membawa bekal lucu, lalu menyerahkannya pada Levi dengan dalih “gak sengaja bikin lebih."

Tapi hari ini...

Zoe duduk diam sambil menelungkupkan kepala di atas meja. Tidak ada bekal. Tidak ada suara. Tidak ada gerakan.

Semua orang terdiam.

Hingga akhirnya Dwiki yang pertama bicara.

“Dalam hitungan ketiga,” gumamnya pelan tapi terdengar jelas oleh gengnya, “Zoe pasti bakal jalan ke arah Levi sambil bawa kotak kue.”

Jayden tertawa kecil. “Gue taruhan dia bawa sandwich keju lagi kayak minggu lalu.”

“Atau puding cinta,” sahut Arya setengah mengejek. “Klise banget, tapi dia emang kayak gitu.”

“Tiga .…”

Semua pandangan masih menatap Zoe.

“Dua .…”

Zoe masih belum bergerak. Tetap menelungkup. Tak peduli.

“Satu. …”

Hening.

Zoe tetap tak bergerak sama sekali.

Semua geng Levi saling melirik satu sama lain. Bingung. Heran. Canggung.

“Hah?” gumam Jayden. “Dia gak nyamperin?”

Dwiki menyipitkan mata. “Ini bukan bagian dari script biasanya.”

Alicia, dari tempat duduknya, menatap Zoe dengan kerutan halus di dahinya. Bibirnya menggigit pelan, tak terbiasa dengan perubahan ritme ini. Biasanya, Zoe akan menghampiri Levi dan akan mengganggu Alicia bahkan mencari masalah dengannya.

Tapi Zoe hari ini, gadis itu hanya diam, tenang dan sunyi.

Jayden mengerutkan keningnya. "Si Ratu antagonis kenapa?

Arvan akhirnya angkat bicara. “Dari semalam juga dia kayak gitu. Diam aja. Cuma tatap kosong.”

Arya mengangguk setuju. “Mungkin ini bagian dari dramanya. Tarik ulur. Biar kita semua penasaran.”

Jayden menyeringai. “Kalau iya, ini trik paling halus yang pernah dia pakai.”

Levi, yang dari tadi diam, akhirnya melirik ke belakang.

Pandangan matanya bertemu dengan punggung Zoe yang tenang. Tidak ada usaha mencuri perhatian. Tidak ada tatapan penuh hasrat. Tidak ada Zoe yang biasanya.

“Aneh.” bisik Levi dalam hati.

Sementara itu, Zoe masih menatap diam keluar jendela. Di balik wajah tenangnya, pikirannya sibuk menganalisis.

“Jadi ini sekolahnya si Zoe.”

“Levi si protagonis pria. Alicia si putri asli. Kembar menyebalkan. Drama yang semuanya udah Reva ceritain.”

Zoe menarik napas pelan. “Gue gak punya waktu buat main-main kayak Zoe yang dulu.”

“Yang penting sekarang adalah, bertahan hidup. Mengubah alur. Dan menjauh dari Ryder. Eh, bukan hanya Ryder tapi menjauhi mereka semua.”

Tapi sayangnya, satu pasang mata yang dulu tak pernah benar-benar peduli kini mulai menatapnya lebih lama. Dan itu itu adalah Ryder.

Jam pelajaran pertama dimulai. Mata pelajaran Kimia, salah satu yang paling dibenci oleh sebagian besar siswa. Tapi tidak seperti biasanya, bukan karena pelajarannya yang rumit melainkan karena Ibu Arti, guru Kimia mereka, terkenal galak dan suka mempermalukan siswa di depan kelas.

Hari itu, suasana kelas 3-A cukup tenang hingga pandangan Ibu Arti mendarat pada satu siswa yang terlihat ogah-ogahan dan sama sekali tidak fokus.

“Zoe Aldenia.”

Suara sang guru menggelegar, memotong suasana sunyi.

Semua siswa langsung menoleh ke arah belakang kelas. Di sudut kanan, Zoe duduk santai, dagunya bertumpu pada tangan, mata sayunya mengarah ke papan tulis tanpa minat.

Zoe mengangkat alis pelan, lalu menoleh malas. “Iya, Bu?”

Ibu Arti melipat tangan di dada, suaranya makin tinggi. “Kau ini sudah bodoh, malas belajar lagi! Pikir sekolah ini tempat tidur siang?!”

Beberapa siswa mulai cekikikan. Bahkan Arya dan Arvan yang duduk di barisan depan ikut tersenyum menyebalkan.

“Kalo bukan karena keluarga Wiratmaja, tuh anak udah ditendang dari sekolah sejak lama,” bisik seseorang pelan-pelan.

Zoe masih tenang. Dia mendongak, matanya dingin tanpa ekspresi, lalu berkata:

“Pelajaran yang ibu jelaskan tadi, saya sudah tahu.”

Suasana kelas mendadak hening. Lalu tak lama....

“Ha! Ha! Ha! Ha!”

Tawa pecah dari hampir seluruh kelas. Bahkan Dwiki yang biasanya cuek, ikut tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala.

“Zoe bilang dia udah tahu?”

“Tahu dari mana? Film kartun?”

"Kayaknya dia kek gitu karena habis jatuh dari tangga," kata Arvan ikut terkekeh.

Ibu Arti tersenyum sinis. “Kalau begitu, Zoe,” katanya sambil berjalan ke meja guru dan mengambil kertas. “Kerjakan soal ini di papan tulis.”

Ia meletakkan kertas soal di tangan Zoe, lalu menunjuk papan.

“Kalau kau tidak bisa menjawabnya dengan benar, keluar dari kelas saya. Dan jangan harap masuk di jam pelajaran saya lagi.”

Semua siswa menahan napas, sebagian malah berharap Zoe akan dipermalukan seperti biasa. Wajah-wajah menunggu pertunjukan “si bodoh sekolah” gagal lagi.

Tapi Zoe hanya berdiri pelan. Dia melangkah ke depan kelas tanpa gugup, lalu mengambil spidol.

“Kalau aku bisa jawab,” katanya tenang,

“aku boleh tidur di kelas?”

Ibu Arti tertawa meremehkan.b“Silakan. Kalau kamu bisa jawab semua benar, kamu boleh tidur, berdiri, salto, keluar ke kantin, terserah. Aku yakin kamu gak akan bisa.”

Zoe mengangguk. “Siap.”

Dia mulai menulis jawabannya satu per satu. Tidak tergesa. Tapi dengan percaya diri. Tulisan rumus reaksi, notasi sel volta, perhitungan potensial elektroda, dan persamaan reaksi setengah-sel semua ia tulis tanpa ragu.

Hening.

Murid-murid saling menatap.

Ryder yang duduk tak jauh dari papan, mengerutkan kening. Levi Gautama pun melirik dari kursinya. Alicia menggigit bibirnya.

Begitu Zoe selesai, dia menutup spidolnya dan berbalik, wajahnya tenang.

“Silakan dicek, Bu.”

Ibu Arti menghampiri papan. Raut wajahnya berubah seiring ia membaca jawaban Zoe.

Satu … dua … tiga soal …

Semuanya benar.

Perlahan, ekspresinya berubah dari yakin… menjadi canggung dan akhirnya, kaget.

“I—ini … benar semua,” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar.

“Apa, Bu?” tanya Zoe datar.

Ibu Arti mengangkat wajahnya. “Semua jawabanmu benar,” ucapnya tanpa sadar.

Kelas terdiam.

Lalu terdengar suara Zoe. “Kalau begitu, sesuai kesepakatan, saya akan tidur.”

Zoe berjalan santai kembali ke kursinya di belakang, lalu menelungkupkan kepala di meja, menutup matanya.

Semua siswa masih mematung.

1
itin
zoe is real next mafia ga perlu libatkan police cukup bergerak sendiri...
ekspektasiku terhadap ryder mengendor kirain yg punya klan dan assains tuh punya ruang hukuman sendiri ehh malah bawa ke kantor polisi 😓
itin
penikmat tubuh alicia hanya preman jalanan? hah 😓
wkwkwkwk 🤣🤣
itin
semurah itu tubuhmu alicia 😒
itin
patutlah karina ga dihitung. anak bawaan 🤭🤣😆. yang bukan bagian dari donatur mohon tau diri ya
itin
alocia itu cucumu loh opa darma dan oma layla kalau kalian lupa 😆😆 walaupun mungkin perangainya secara sadar kalian tidak sukai setidaknya kasih sedikit pembelaan dan perhatian.

bener² diluar nulur opa omanya dari pihak tina dan nayla ini
itin
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 begitulah kalau iri dan kebencian menguasai hati jatuhnya malah mempermalukan diri sendiri. alicia yang malang bodohnya tololnya
itin
nah kan makin diperjelas perbedaannya.
keberadaan opa darma dan oma layla dikeluarga zoe yang seharusnya malam ini mereka berdiri ditengah keluarga alicia karena cucunya ultah. xoxo 🤭🤔😒
kenapa begitu ya?
itin
didepan keluarga besar orangtuanya tina istrinya joe kasih saham perusahaan 10% utk zoe, tapi tidak ke alicia. tidak adakah pembelaan utk saham itu? dgn saham itu setidaknya alicia punya uang utk beli keinginannya kan. setidaknya kado ultah gtu. seperti kata ke 4 anak lelaki tina berharap opa oma dr pihak mamanya berlaku adil ke alicia 🤣😒🤔
apa ada yg terlewat ya?
itin
iri hati dan dengki adalah penyakit paling mematikan ga ada obatnya
itin
sangat kontras perbedaannya.
bahkan oma opanya zoe dari pihak mama nayla pun seolah tak mengenal keluarga dari tina padahal sama sama anaknya keturunannya juga cucu cucunya. semua perhatian hanya tercurah ke zoe seorang. xoxo. seperti kata opa azgar dan opa darma mereka memprediksi bahwa zoe adalah keturunan asli mereka. cucu kandung. ntahlah alicia anak siapa 🤭😂
itin
mau langsung cari pelakunya tapi tiap bab penasaran.
pelakunya antara tina tp kok bilg putrinya meninggal?
atau ada musuh dr pihak keluarga zero. 🤔
Achaa Ar
cerita nya bagus sekali Thor aku tunggu par 2 ny
Hilmiya Kasinji
ijin baca kak
Rey
👍👍👍👍👍
adriani kd
bagusss...
guntur 1609
keren ceritamu Thor aku sangat suka. aku tgu karyamu yg lain
guntur 1609
rasain kau kan tina. ini adalah balasan dari Tuhan kepada loe. karna pernah berbuat tdk adil sm zoe
guntur 1609
dasar tina goblok. anak sprti tu biarkan saja
guntur 1609
mngkn will tdk mandul. hanya saja Stella yg buat nya sprti tu. dan karina tu pasti anak kandung stella
guntur 1609
hati2 kau Zoe. jangan sampai kau di polisikan. karna kau telah menghilangkan 1 nyawa. tetap juga kau bersalah🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!