Bagi Arkanza Malik, sentuhan wanita adalah racun yang mematikan. CEO dingin ini mengidap penyakit aneh yang membuatnya sesak napas dan kulitnya terbakar setiap kali kulitnya bersentuhan dengan lawan jenis. Namun, sebuah insiden di lorong hotel mengubah segalanya.
Aira, gadis miskin yang kabur dari kejaran rentenir setelah menghantam kepala pria yang ingin melecehkannya, tanpa sengaja jatuh ke pelukan Arkanza. Bibir mereka bertemu dalam kegelapan. Arkanza yang seharusnya mati karena alergi, justru merasakan napasnya kembali. Gadis kumal ini adalah satu-satunya penawar racunnya!
"Aku sudah melunasi hutang ayahmu. Sebagai gantinya, kau harus menjadi istriku dan biarkan aku menyentuhmu kapan pun aku membutuhkannya."
Aira terjebak. Menjadi "obat hidup" bagi CEO kejam yang tidak punya hati. Di antara kontrak miliaran rupiah dan intrik perebutan harta, mampukah Aira bertahan tanpa harus menyerahkan hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Abu di Atas Luka
Layar televisi di kamar VIP itu masih menyala, menampilkan kepulan asap hitam yang membubung di tengah laut Inggris. Berita itu berulang-ulang menyebut nama Edward Sterling sebagai korban tewas dalam ledakan yacht yang diduga akibat kegagalan sistem mesin.
Namun, di dalam kamar itu, keheningan jauh lebih memekakkan telinga daripada suara jangkar berita.
Arkanza masih menatap Aira yang berdiri mematung di dekat jendela. Tangannya yang memegang cangkir teh bergetar hebat, meski wajahnya berusaha tampak datar.
"Gagal sistem mesin?" Arkanza akhirnya memecah kesunyian dengan suara serak yang penuh sarkasme. "Sejak kapan Vancort menyebut pembantaian dengan istilah 'kegagalan sistem', Aira?"
Aira perlahan berbalik. Ia meletakkan cangkirnya di atas meja dengan denting yang keras. "Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan, Arkan. Aku sudah bilang, aku menyerahkannya pada polisi."
Arkanza tertawa kecil, namun tidak ada keceriaan di matanya. Ia berdiri, mengabaikan rasa perih di perutnya akibat luka operasi, dan melangkah mendekati Aira. Setiap langkahnya terasa berat, namun aura predatornya tidak berkurang sedikit pun.
"Jangan berbohong padaku!" bentak Arkanza sambil mencengkeram kedua bahu Aira, memaksanya menatap mata yang berkilat penuh obsesi itu. "Marco dan orang-orang berbaju hitam itu... mereka bukan polisi! Kau pergi ke dermaga, kau memakai cincin singa itu, dan tiba-tiba pria yang ingin membunuhku meledak berkeping-keping? Kau pikir aku sebodoh itu?!"
Aira mendongak, matanya berkaca-kaca namun ada binar dingin yang belum pernah Arkanza lihat sebelumnya. "Lalu kau ingin apa, Arkanza? Kau ingin dia tetap hidup? Kau ingin dia mencoba meretas pesawat kita lagi dan memastikan kita benar-benar mati kali ini?!"
"Aku ingin kau tetap bersih!" Arkanza mengguncang bahu Aira. "Aku menculikmu dari toko bunga itu agar kau aman dari kegilaan duniaku, bukan agar kau menjadi bagian dari kegilaan yang lebih besar!"
"Duniaku sudah gila sejak aku lahir, Arkan! Hanya saja aku baru tahu sekarang!" Aira melepaskan cengkeraman Arkanza dengan sentakan kasar. "Kau selalu bilang aku 'obatmu', kan? Bagaimana jika obatmu ini menyadari bahwa cara terbaik melindungimu bukan dengan menangis di pojok ruangan, tapi dengan menghancurkan siapa pun yang berniat menyakitimu?!"
Arkanza tertegun. Ia melihat bintik merah di punggung tangannya sendiri. Biasanya, saat Aira marah, bintik itu akan mereda karena sentuhannya. Tapi sekarang, bintik itu justru terasa makin panas, seolah memprotes transformasi wanita di depannya.
"Kau berubah, Aira," bisik Arkanza parau.
"Aku belajar darimu, Tuan Malik," balas Aira dengan nada getir. "Kau yang mengajariku bahwa di dunia ini, kau harus menjadi serigala agar tidak dimakan. Sekarang, silakan benci aku jika kau mau. Tapi Edward sudah mati, dan kau aman."
Satu Jam Kemudian – Lorong Rumah Sakit
Arkanza keluar dari kamar dengan langkah tertatih, ia menemukan Marco berdiri di ujung lorong seperti bayangan. Pria Italia itu membungkuk sedikit, namun matanya tetap menantang.
"Siapa yang memerintahkan ledakan itu? Aira... atau kau?" tanya Arkanza tanpa basa-basi.
Marco tersenyum tipis. "Nona Aira memberikan perintah untuk menangkapnya. Tapi di keluarga Vancort, kami punya aturan tak tertulis: jika seekor ular sudah menggigit sang pemimpin, kepalanya harus dipenggal, bukan dipenjara."
"Kau memanipulasi perintahnya," desis Arkanza, ia mencengkeram kerah baju Marco. "Kau ingin menyeretnya ke dalam lumpur darah agar dia tidak bisa kembali ke pelukanku, kan?"
"Saya hanya melakukan apa yang Lorenzo Vancort inginkan," Marco tidak mundur. "Nona Aira memiliki api di dalam dirinya. Anda, Tuan Malik, adalah air yang mencoba memadamkan api itu. Tapi ingat, tanpa api itu, dia akan hancur oleh musuh-musuh ayahnya yang sekarang mulai mengincar London."
Arkanza melepaskan Marco dengan kasar. "Dengar. Mulai besok, aku akan membawa dia kembali ke Indonesia. Jika kau atau orang-orang Vancort mencoba mendekatinya lagi, aku akan menggunakan seluruh aset Malik Group untuk menghapus kalian dari peta."
"Anda bisa mencoba, Tuan Malik," sahut Marco dingin. "Tapi darah Vancort lebih kuat dari hukum mana pun."
Malam Hari – Di Dalam Kamar
Aira duduk di sofa, menatap paspornya yang tergeletak di meja. Arkanza mendekat, ia duduk di lantai di depan Aira, meletakkan kepalanya di pangkuan istrinya. Sifat posesifnya kini berubah menjadi permohonan yang bisu.
"Mari pulang, Aira," gumam Arkanza, memejamkan mata saat tangan Aira perlahan mengusap rambutnya. "Kita lupakan London. Kita lupakan cincin itu. Aku akan membangunkanmu taman bunga yang lebih besar dari yang pernah kau impikan di Jakarta."
Aira terdiam cukup lama. Ia merasakan detak jantung Arkanza yang tidak beraturan. "Arkan, bagaimana jika London tidak mau melupakan kita?"
Arkanza mendongak, menatap Aira dengan posesif. "Maka aku akan membakar London sampai tidak ada yang tersisa untuk mengejarmu. Hanya aku, Aira. Hanya aku yang boleh memiliki sisi gelapmu."
Aira tersenyum sedih. Ia menunduk dan mencium bibir Arkanza, sebuah ciuman yang terasa seperti perpisahan pada masa lalu mereka yang lugu. "Baiklah. Kita pulang ke rumah."
...****************...
Saat mereka tiba di bandara Heathrow pagi harinya, Reno berlari menghampiri dengan wajah pucat. Ia membawa sebuah tablet yang menampilkan berita breaking news dari Indonesia.
"Mansion mewah keluarga Malik di Jakarta terbakar habis. Nyonya Santi Malik dikabarkan menghilang dari lokasi kejadian, dan sebuah pesan tertinggal di gerbang rumah: 'Vancort tidak pernah membiarkan pengkhianat hidup tenang'."
Arkanza meremas tangan Aira sampai memutih. "Mereka menyerang rumah kita... mereka mengambil Ibuku."
Aira menatap ke arah Marco yang berdiri di kejauhan dengan ponsel di telinga. Aira menyadari, perang yang sebenarnya baru saja dimulai, dan kali ini, rumah mereka bukan lagi tempat yang aman.