NovelToon NovelToon
Vows Of Silence

Vows Of Silence

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Bad Boy / Cintapertama / Tamat
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Hazel Bellvania Cavanaugh adalah definisi kesetiaan yang naif. Ia mencintai James Patrick, seorang atlet sekolah yang karismatik namun manipulatif.
Hubungan mereka aneh—tanpa ciuman, tanpa sentuhan intim, karena James berjanji ingin "menjaga" Hazel hingga pernikahan. Namun, di balik topeng itu, James adalah predator yang memanfaatkan jari-jarinya untuk memuaskan hampir seluruh siswi di SMA mereka.
Kebohongan James terkubur rapat di bawah bayang-bayang geng paling berkuasa di sekolah yang dipimpin oleh Kenneth Karl Graciano. Kenneth yang dingin dan tak tersentuh mengetahui rahasia busuk James, namun ia diam. Bukan karena setia kawan, melainkan karena ia sedang menunggu saat yang tepat untuk meruntuhkan segalanya dan mengambil apa yang menurutnya pantas ia miliki, Hazel Bellvania Cavanaugh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiga

Latar belakang musik klasik yang mengalun dari pengeras suara sekolah terasa kontras dengan apa yang terjadi di dalam ruang musik yang kedap suara itu.

Di sana, di balik deretan piano besar dan tumpukan partitur, James Patrick kembali memainkan peran ganda yang sangat ia kuasai.

Sore itu, James tidak sendirian. Di sudut ruangan yang remang, ia menyudutkan salah satu siswi populer, seorang pemain biola yang selalu tampak anggun di depan umum, namun kini terengah-engah di bawah kuasa James.

Dengan seringai yang meremehkan, James menyisir rambut gadis itu, sementara jemari tangannya yang panjang jari yang selalu ia banggakan pada Hazel sebagai alat "penahan diri"—kini sedang bekerja dengan sangat lincah dan berani di balik rok seragam sang gadis.

"James... bagaimana kalau Hazel melihat?" bisik gadis itu di sela desahannya, mencoba mencari sisa kesadaran.

James terkekeh rendah, suara yang terdengar sangat manipulatif. "Hazel? Dia sedang sibuk di perpustakaan, menganggapku pria paling suci di New Zealand karena aku bahkan tidak mencium bibirnya," ucap James sambil mempercepat gerakan jari-jarinya, menikmati bagaimana ia bisa memegang kendali penuh atas gairah seseorang.

"Dia itu naif. Dia percaya kalau aku melakukan ini hanya untuk menjaga miliknya agar tetap utuh sampai menikah nanti. Bukankah itu lucu?"

Namun, James tidak puas hanya dengan jari-jarinya sore ini. Ia merasa hyper, adrenalinnya terpacu oleh risiko. Kebohongan yang ia katakan pada Hazel selama enam minggu ini bahwa ia hanya menggunakan tangan untuk mencari pelepasan adalah sampah. Dengan gerakan kasar, James membuka ikat pinggangnya dan melepaskan juniornya yang selama ini ia sembunyikan dari Hazel dengan alasan kehormatan.

"Tutup mulutmu," perintah James saat ia mulai menyatukan tubuhnya dengan gadis itu di atas kursi piano yang dingin. "Anggap saja ini rahasia kecil kita, sama seperti rahasia-rahasia dengan gadis-gadis lain sebelum kamu."

Suasana ruang musik itu dipenuhi oleh suara napas yang memburu dan gesekan kulit yang memuakkan, sebuah pengkhianatan total terhadap janji manis yang ia berikan pada Hazel beberapa jam yang lalu.

James merasa tak terkalahkan, ia merasa bisa memiliki semua wanita di sekolah ini secara fisik, sementara tetap memiliki hati dan jiwa Hazel yang murni sebagai piala tetapnya.

Sementara itu, di lorong luar yang sunyi, sesosok pria berdiri bersandar pada dinding kayu ek yang mahal. Kenneth Karl Graciano berdiri di sana, melipat tangan di depan dada dengan ekspresi yang sangat datar. Ia tidak perlu masuk untuk tahu apa yang sedang terjadi, pendengarannya yang tajam menangkap setiap desahan dan suara hantaman kursi piano di dalam sana.

Kenneth menatap jam tangan kronografnya dengan tenang. Ia tahu James sedang menggali kuburannya sendiri semakin dalam.

Tiba-tiba, ia melihat siluet seseorang berjalan di ujung lorong—itu Hazel, yang datang membawa sekotak cokelat buatan tangan untuk mengejutkan kekasihnya.

Kenneth tidak bergerak untuk menghalangi Hazel. Ia justru memiringkan kepalanya sedikit, menanti dengan sabar apakah Kebusukan ini akan pecah sore ini di Queenstown, atau apakah ia harus membiarkan Hazel hancur sedikit lebih lama lagi sebelum ia datang sebagai penyelamat yang membawa kegelapan baru.

Hazel melangkah dengan ringan, senyum kecil tersungging di bibirnya saat ia memeluk kotak cokelat berpita satin itu.

Pikirannya dipenuhi bayangan wajah James yang akan berbinar senang, setidaknya itulah yang ia bayangkan dalam kepolosan dunianya yang sempit.

Namun, saat langkahnya hanya berjarak beberapa meter dari pintu ruang musik yang tertutup rapat, sebuah tangan yang dingin dan kuat tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya.

Hazel tersentak, hampir menjatuhkan kotaknya. Ia mendongak dan menemukan sepasang mata kelam milik Kenneth Karl Graciano menatapnya dengan intensitas yang mencekik.

"Kenneth? Kau mengagetkanku. Aku sedang mencari James, dia bilang ada latihan tambahan—"

"Jangan masuk," potong Kenneth.

Suaranya rendah, bergetar dengan otoritas yang tak terbantahkan, lebih dingin dari salju yang mulai turun di luar gedung.

"Kenapa? James ada di dalam, kan? Aku mendengar suara..." Hazel menghentikan kalimatnya.

Ia mengerutkan dahi, mencoba menajamkan pendengarannya. Dari balik pintu kayu ek yang tebal itu, sayup-sayup terdengar suara yang tidak ritmis, suara piano yang tertekan asal-asalan, diikuti oleh suara napas yang tak beraturan.

Wajah Hazel memucat. Ia ingin melangkah maju, didorong oleh rasa penasaran yang menyakitkan, namun Kenneth menariknya dengan kasar hingga tubuh Hazel menabrak dada bidang pria itu.

"Kubilang jangan, Hazel Bellvania," desis Kenneth tepat di telinganya. Aroma maskulin yang mahal dan aroma tembakau tipis dari tubuh Kenneth merasuki indra penciuman Hazel, menciptakan sensasi pusing yang aneh.

"Ada pemandangan di balik pintu itu yang tidak akan sanggup ditanggung oleh matamu yang murni."

"Apa maksudmu? James... dia sedang apa?" Suara Hazel mulai gemetar. Ketakutan mulai merayap di dadanya seperti es yang membeku.

Kenneth menatap pintu itu dengan pandangan benci yang terselubung, lalu kembali menatap Hazel. Ia bisa saja membiarkan Hazel masuk. Ia bisa saja membiarkan Hazel melihat bagaimana James sahabatnya sendiri sedang memuaskan juniornya pada gadis lain, menghancurkan ilusi tentang jari dan kesucian itu dalam sekejap mata.

Namun, Kenneth menyadari ia belum ingin melihat Hazel hancur sepenuhnya sekarang. Ia ingin menjadi satu-satunya yang memegang kendali atas kehancuran itu.

"Ikut aku," perintah Kenneth tanpa penjelasan. Ia tidak menunggu jawaban. Ia menarik Hazel pergi dari lorong itu, menjauh dari suara-suara menjijikkan yang kian meninggi di dalam ruang musik.

Hazel mencoba memberontak kecil, "Tapi cokelat ini—"

"Buang sampah itu," Kenneth merampas kotak cokelat dari tangan Hazel dan melemparkannya ke tempat sampah besar di sudut lorong tanpa perasaan.

"Ikut aku ke mobil, atau aku akan membiarkanmu masuk ke sana dan membiarkan hatimu mati sebelum musim dingin berakhir. Pilih, Hazel."

Hazel menatap tempat sampah, lalu menatap Kenneth yang terlihat seperti malaikat maut yang memberinya pilihan hidup. Di bawah dominasi tatapan Kenneth, Hazel kehilangan suaranya. Ia membiarkan penguasa sekolah itu menuntunnya keluar menuju parkiran, menuju mobil hitamnya yang gelap.

Di dalam ruang musik, James tidak tahu bahwa ia baru saja selamat dari kehancuran hubungan enam minggunya, namun ia juga tidak tahu bahwa Kenneth baru saja memulai langkah pertama untuk mengambil milik James yang paling berharga.

🌷🌷🌷🌷

Happy Reading Dear 🥰🥰

1
Triana Oktafiani
Selalu menarik cerita2mu 👍
ros 🍂: Ma'aciww kak😍
total 1 replies
Retno Isusiloningtyas
😍
terimakasih
ceritanya bagus
ros 🍂: Ma'aciww 😍
total 1 replies
falea sezi
lanjut
falea sezi
kapok kau kenzo
falea sezi
suka deh g bertele tele sat set
falea sezi
aneh wong kakak mu yg ngemis cinta ampe gila kok Arthur di salahkan hadehhh ampe bales dendam ke adeknya abis ini qm pasti nyesel kenn
falea sezi
bodohnya qm hazel
falea sezi
jahat nya kennet
falea sezi
q ksih hadiah deh
falea sezi
tolol harusnya biarin aja tau hadeh
Rahmawaty24
Semangat kk ceritanya bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!