Dunia telah berubah menjadi permainan maut.
Gerbang dimensi terbuka, monster meluap ke bumi, dan manusia terpilih membangkitkan kekuatan luar biasa yang disebut "Hunter". Namun, Kenzo tidak seberuntung itu. Dia hanyalah seorang Cleaner—pemulung mayat monster kelas rendah yang direndahkan dan dianggap sampah masyarakat.
Nasibnya berubah saat ia dikhianati dan dibiarkan mati di dalam Dungeon level tinggi oleh timnya sendiri. Di ambang maut, sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem God Level Extraction Diaktifkan!]
[Target: Black Shadow Wolf (Grade A). Ekstraksi Berhasil!]
[Anda Mendapatkan Skill: Kecepatan Bayangan!]
Siapa sangka, pemulung yang dulunya diinjak-injak kini bisa mencuri bakat, kekuatan, hingga ingatan dari makhluk apa pun yang ia sentuh.
Satu per satu Hunter pengkhianat ia jatuhkan. Satu per satu monster penguasa ia jadikan batu loncatan. Dari pembersih sisa pertempuran, Kenzo bangkit menjadi predator puncak yang akan mengekstrak seluruh dunia!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BENIH KEHANCURAN DAN EVOLUSI PUTIH
Jakarta malam itu nggak memberikan ketenangan sedikit pun. Meskipun laut Selatan sudah "dibersihkan" oleh Kenzo, udara di ibu kota tetap terasa berat, seolah olah oksigen di sana sudah bercampur dengan abu mayat monster. Di lantai paling bawah gedung pusat Shadow Faction, suasananya lebih mirip ruang jagal daripada tempat latihan.
Kenzo berdiri diam, tangan kanannya mencengkeram bahu Hana. Cewek itu lagi berlutut, tubuhnya gemetar hebat sampai bunyi gigi yang beradu kedengaran jelas di ruangan yang kedap suara itu. Uap panas keluar dari pori porinya, bau Mana yang hangus mulai menusuk hidung.
"Jangan dilawan, Hana! Telan semuanya!" bentak Kenzo. Suaranya rendah tapi penuh ancaman.
Kenzo nggak lagi melakukan prosedur medis yang aman. Dia lagi melakukan Forced Awakening memaksa sirkuit Mana Hana yang tadinya cuma sekelas "tukang angkut barang" buat menampung esensi bayangan murni yang diambil dari Jantung Naga. Itu tindakan gila. Di dunia Hunter, ini sama saja dengan mencoba mengisi botol plastik dengan aliran air dari bendungan yang jebol.
"S-sakit... Guru... kepala saya rasanya mau pecah!" Hana teriak, darah mulai merembes keluar dari sela sela kukunya karena tekanan internal yang nggak masuk akal.
"Sakit itu tandanya lo masih hidup," desis Kenzo. "Kalau lo nggak bisa nahan ini, lo nggak bakal bertahan semenit pun di Jeju. Lo mau balik jadi sampah yang diinjek injek klan besar? Pilih sekarang, Hana!"
Hana mengerang keras, sebuah teriakan panjang yang menyayat udara. Tiba tiba, ledakan energi warna perak meledak dari tubuhnya, menghantam dinding pelindung ruangan itu sampai retak. Kenzo terdorong mundur dua langkah, tangannya terasa panas, tapi senyum sinis muncul di bibirnya.
Cahaya itu mereda. Hana masih berlutut, tapi auranya sudah berubah total. Rambut hitamnya sekarang punya semburat perak di ujungnya, dan pas dia mendongak, matanya nggak lagi fokus pada fisik. Dia menatap Kenzo seolah dia bisa melihat detak jantung dan aliran Mana yang mengalir di pembuluh darah gurunya itu.
"Gimana rasanya?" tanya Kenzo sambil ngelap darah di tangannya ke celana.
Hana menatap tangannya yang masih gemetar, tapi tatapannya dingin. "Dunia... kerasa pelan banget, Guru. Saya bisa liat aliran bayangan di bawah kaki Guru. Dan saya bisa liat sirkuit Mana di leher Guru... saya tau di mana harus nebas kalau saya mau ngebunuh Guru sekarang."
Kenzo ketawa, suara tawanya kering dan parau. "Bagus. Itu baru murid gue. Jangan cuma diliat, pelajarin. Karena besok di Jeju, orang orang nggak bakal nanya lo siap atau nggak sebelum mereka nyoba ngerobek tenggorokan lo."
Baru saja Kenzo mau memberikan instruksi lebih lanjut, suara Elara muncul di interkom, kedengaran lebih tegang dari biasanya. "Bos, ada tamu yang bau esnya nyengat banget di lobi. Dia bilang dia bawa pesan dari si Beruang Rusia."
Kenzo turun ke lobi, diikuti Hana yang jalannya sekarang lebih tegap, seolah olah dia baru saja dilahirkan kembali dari neraka. Di tengah lobi, berdiri seorang wanita Rusia yang tingginya hampir menyamai Kenzo.
Namanya Yelena, tangan kanan Vladimir si Sovereign of Frost. Pakaian militernya yang tebal tertutup embun beku, bikin suhu ruangan turun drastis.
"Kenzo," Yelena bicara tanpa basa basi, aksen Rusianya kental dan kasar. "Vladimir nggak suka bertele tele. Moskow lagi jadi lautan darah karena Red Gate yang nggak masuk akal. Vatikan juga udah mulai kebakar habis."
Yelena nyodorin sebuah kristal es yang berdenyut biru pucat. Pas Kenzo menyentuhnya, bayangan hologram Vladimir muncul.
"Kenzo," suara Vladimir berat, kedengaran capek tapi tetap penuh wibawa. "Lo bener soal IHA. Mereka sengaja mancing kita keluar buat ngebakar rumah kita. Sekarang mereka lagi nyiapin Project Ragnarok di Pulau Jeju. Mereka mau ganti kita semua sama anjing anjing buatan mereka yang disebut 'Neo Hunters'."
Vladimir diem sebentar, matanya yang dingin natap Kenzo lewat proyeksi itu. "Gue nggak suka minta tolong, dan gue benci berutang. Tapi kalau lo mau bantu kita beresin kekacauan ini, Rusia bakal dukung kedaulatan lo secara penuh. Dateng ke Jeju minggu depan. Kita hancurin IHA dari dalem, atau kita semua bakal berakhir jadi catatan sejarah yang dilupain."
Proyeksi itu ilang. Yelena natap Kenzo dengan pandangan menantang. "Gue belum pernah liat Vladimir minta aliansi sama orang asing sebelumnya. Jangan bikin dia nyesel."
Kenzo nyengir, dia lempar kristal es itu balik ke Yelena. "Bilang sama bos lo, gue nggak tertarik sama aliansi yang dasarnya rasa takut. Tapi, gue sangat tertarik buat ngelihat gimana cara 'Neo Hunters' itu mati. Gue bakal dateng ke Jeju, bukan buat bantuin kalian, tapi buat ngambil apa yang menurut gue layak buat gue miliki."
Yelena cuma ngangguk singkat, terus balik badan, ninggalin jejak kaki yang membeku di lantai marmer lobi.
"Bos, lo beneran mau masuk ke kandang macan itu?" Valeria muncul dari bayangan tiang, mukanya kelihatan nggak setuju. "Seluruh media dunia bakal ada di sana. Kalau lo salah langkah dikit, IHA bakal punya alasan buat ngebom Jakarta pake nuklir Mana."
"Biarin aja," jawab Kenzo enteng. "Dunia ini emang butuh penjahat buat mereka benci, atau pahlawan buat mereka sembah. Gue nggak keberatan jadi keduanya di hari yang sama."
Kenzo jalan menuju Shadow Vault gudang bawah tanah tempat dia menyimpan semua hasil "panennya". Dia berhenti di depan sebuah peti besar yang terbuat dari baja hitam. Pas dia buka, aura dingin dan menindas langsung keluar dari sana.
Itu adalah zirah baru yang dia sintesis selama tiga hari terakhir. Dibuat dari sisa zirah berlian Siegfried yang hancur dan diperkuat dengan sisik naga Leviathan. Warnanya hitam pekat, tapi punya aksen perak yang berkilat kalau kena cahaya. Zirah itu bukan cuma pakaian pelindung itu adalah bagian dari tubuh Kenzo
yang baru.
Pas Kenzo pake zirah itu, atmosfer di sekelilingnya mendadak jadi berat. Hana yang berdiri di dekatnya sampai harus mundur beberapa langkah karena dadanya kerasa sesak, seolah olah gravitasi di ruangan itu mendadak jadi dua kali lipat lebih kuat.
"Elara, kasih liat daftar korbannya," perintah Kenzo.
Hologram muncul, nampilin profil para peserta turnamen Jeju. "IHA nggak cuma ngirim Rank S biasa, Bos. Mereka ngirim dua belas 'Neo-Hunters'. Manusia yang udah disuntik sel monster kelas tinggi. Pemimpinnya namanya Xander."
Kenzo natap foto Xander. Pria itu punya mata yang item semua, nggak ada putih-putihnya, dan senyum yang kosong kayak boneka.
"Xander..." Kenzo mendesis. "Si oportunis yang dulu ngebocorin lokasi klan Naga Perak demi dapet posisi di IHA. Akhirnya dia dapet apa yang dia mau, ya? Jadi kelinci percobaan."
"Dia sekarang selevel sama Sovereign, menurut intelijen," tambah Arka yang baru masuk. "IHA manggil dia 'Sovereign-Killer'." ucap elara.
Kenzo ketawa, suara ketawanya bikin bulu kuduk berdiri. "Sovereign-Killer? Gelar yang terlalu berat buat sampah kayak dia. Gue bakal pastiin di Jeju nanti, dia bakal sadar kalau kekuatan yang didapet dari jarum suntik nggak ada harganya dibanding kekuatan yang direbut langsung dari tangan kematian."
Sebelum berangkat, Kenzo berdiri di depan pasukan bayangannya yang baru saja dia upgrade. Seratus prajurit biasa dia lebur, dia sintesis jadi tiga puluh sosok baru Shadow Sentinels.
Mereka bukan lagi bayangan yang nggak berbentuk; mereka pake zirah berat, bawa tombak yang dialirin petir hitam, dan berdiri kaku kayak patung kematian.
"Arka, lo pegang kendali di sini," kata Kenzo sambil naik ke jet pribadinya yang sudah dimodifikasi total. "Kalau ada Sovereign lain atau anjing IHA yang berani lewat batas laut kita, jangan tanya dua kali. Langsung habisin."
Arka cuma ngangguk, mukanya serius banget. "Hati hati, Ken. Jangan sampe Jakarta kehilangan tuannya."
Kenzo nggak jawab. Dia cuma masuk ke dalem jet, disusul Hana, Valeria, dan Freya. Pas jet itu lepas landas menembus awan gelap Jakarta menuju Korea Selatan, Kenzo duduk di kursinya dan merem.
Dia bisa ngerasain lewat koneksi bayangannya kalau di luar sana, dunia lagi pelan pelan runtuh. Tapi bagi Kenzo, kehancuran adalah kesempatan. Turnamen di Jeju bukan cuma soal adu kekuatan itu adalah panggung di mana dia bakal nunjukin kalau zaman manusia yang lama sudah berakhir.
"Hana," panggil Kenzo tanpa buka mata.
"Ya, Guru?" jawab Hana.
"Di Jeju nanti, jangan cuma fokus ke monsternya. Fokus ke cara mereka mati. Gue mau lo belajar gimana cara ngebunuh sesuatu yang bahkan nggak ngerasa punya jiwa."
Hana cuma diem, matanya yang berpendar perak menatap tajam ke depan. Jet itu terus melesat menuju Pulau Jeju, pulau yang sekarang dibungkus kabut sihir pekat, tempat di mana IHA sudah menyiapkan pesta darah yang nggak bakal pernah dilupakan sejarah.
Kenzo nyengir dalam tidurnya. Perburuan yang sebenernya baru saja dimulai.