Ceni yang tak lama ini baru kehilangan sang sahabat untuk selamanya, kini ia harus menelan pahit nya kehidupan karena harus kehilangan untuk yg ke sekian kali nya yaitu sang kakek tercinta.
Sebelum kematiannya, sang kakek sempat memberikan sebuah giok dan cincin dengan ukiran rumit dan kuno, yg kata nya warisan turun temurun.
Bagaimana kah kisah kelanjutan nya.?
Nantikan kisah Ceni di cerita ini.😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon astiana Cantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertandingan Antar Murid perguruan
"Dulu aku menganggap hal itu hanya mengada-ada, tapi sekarang aku yakin ketika sudah bertemu dengan dirimu Zen, bahwa reinkarnasi nyata ada nya walaupun berbeda dimensi, tapi sungguh aku gak yakin bahwa Ara juga sama seperti mu, kau hanya beruntung saja Zen dan keberuntungan itu tak semua orang mendapatkan nya." Ucap Ceni menghela nafas pelan.
"Jangan berkecil hati nona, walaupun saat ini sahabat mu tak ada di samping mu kan masih ada aku, aku bisa kok jadi sahabat sekaligus saudara untuk mu, aku juga sama seperti mu, yatim piatu dan sendirian di dunia ini juga, hanya kau yang ku punya nona Ceni, kita bisa berbagi suka maupun duka sama-sama." Ucap Zeno menghibur Ceni.
"Terimakasih zen." Ucap Ceni tersenyum simpul.
"Sama-sama nona." Ucap Zeno membalas dengan senyuman hangat.
SSSSTTTTT
Ceni pun mendesis kala merasakan dahi nya berdenyut nyeri sehingga membuat nya menggosok dahi nya dengan spontan.
Dan hal itu tak luput dari perhatian Zeno.
"Kenapa gak hilang ketika di gosok.?" Tanya Zeno heran.
"Maksud mu apa Zen.?" Tanya Ceni kala mihat raut wajah Zeno.
"Itu di dahimu nona, lukisan yang kau buat kenapa gak hilang setelah kau gosok.?" Ucap Zeno menunjuk dahi Ceni.
"Lukisan apa,? Kau jangan mengada-ada Zen, aku tidak pernah melukis wajah ku." Ucap Ceni mengernyit dalam.
"Itu lukisan bunga teratai berwarna pink putih, cantik banget, para gadis memang beda ya." Ucap Zeno menggeleng heran lalu menyeruput kopi susu yang tadi di buat Ceni.
Ceni yang penasaran pun mengambil cermin dari ruang penyimpanan lalu melihat wajah nya sendiri.
"Kok gak hilang.?" gumam Ceni heran ketika ia menggosok dahi nya, baru kali ini ia melihat cermin sebab selama perjalanan yang memakan waktu berbulan-bulan ia sama sekali tak sempat melihat cermin apalagi merawat diri, karena kulit nya sudah sehat dan mulus berkat air spiritual yang selalu ia minum.
"Kau baru sadar nona.?" tanya Zeno.
Ceni pun mengangguk dengan dahi berkerut bingung.
"Tapi gak apa-apa sih, cantik juga kok, mungkin efek aku memasuki dunia ini Kali Zen." Ucap Ceni.
Walaupun diri nya bingung tapi Ceni tak ingin mempermasalahkan hal itu.
Tanpa Ceni ketahui bahwa tanda itu di buat oleh pangeran mahkota Shen Xin lian fungsi nya ialah agar bisa melindungi Ceni dari jarak jauh sekaligus tanda kepemilikan sebagai calon putri mahkota.
Andai saja Ceni tau entah bagaimana reaksi nya saat itu.
.
.
2 hari sudah berlalu yang mana hari ini ialah di mulai nya kompetisi yang di adakan secara terbuka, dari kalangan bangsawan tingkat tinggi maupun tingkat rendah sudah banyak yang menghadiri, bahkan kaisar pun turut hadir untuk menentukan calon-calon jenius masa depan.
Zeno dan Ceni saat ini sudah duduk di atas tribun sambil menoleh ke sana kemari.
"Lihat itu, ternyata kaisar nya masih muda." Ucap Zeno.
"Mana Zen." Ucap Ceni celingukan.
"Itu yang duduk di kursi khusus penguasa wilayah ini." Tunjuk Zeno pada kursi kebesaran di tengah tribun .
Ceni pun dapat melihat nya dan benar saja, bahwa kaisar negri ini masih sangat lah muda , Ceni memperkirakan bahwa kaisar itu baru berusia 21 tahun.
"Ngomong-ngomong, kaisar itu sudah nikah apa belum ya.?" tanya Ceni.
"Buat apa nona menanyakan hal itu, ingin daftar jadi istri kaisar begitu.?" Ucap Zeno menatap Ceni.
"Ya bukan itu juga maksud ku Zen, aku hanya ingin tau gak lebih secara kaisar nya kan masih muda banget." Ucap Ceni.
"Oh kirain." Ujar Zeno dengan tatapan menggoda.
Ceni pun mendelik ke arah Zeno.
.
.
Saat ini tampak lah seseorang sudah menaiki panggung besar yang ada di tengah-tengah lapangan sebut saja ia sangat pembawa acara.
Setelah berbicara mengenai peraturan-peraturan yang ada, sang pembawa acara pun mempersilahkan tetua sekte perguruan awan membuat perisai pelindung yang mengelilingi sebuah lapangan luas tersebut agar kelak ketika para peserta bertarung, tidak ada dampak nya sama sekali terhadap penonton dan sekitarnya.
Ceni dan Zeno yang baru pertama kali melihat hal semacam itu di dunia nyata pun terperangah takjub.
"Woah, seperti nonton donghua versi nyata." Ucap Zeno berbinar.
Dan terlihat lah para peserta duduk di kursi nya masing-masing di samping panggung besar tersebut.
Di sana terdiri dari peserta laki-laki dan perempuan.
Lalu pertandingan pertama pun di mulai dengan menunjukkan kekuatan mereka masing-masing murid perguruan awan vs murid perguruan bambu.
Tujuan Ceni menonton hanya ingin melihat Yayan dan Yeyen bertarung dan harapan nya semoga kedua kembar itu menang.
Selama pertarungan di dalam perisai pelindung itu Ceni dengan antusias melihat bagaimana epik nya pertarungan tersebut, ia yang mantan ketua mafia hanya dapat mendesah lirih, kekuatan nya tak ada apa-apa nya di banding orang-orang di zaman kultivasi.
"Kalau aku yang berada di situ mungkin sudah kalah sebelum bertarung." Gumam Ceni.
Ternyata gumaman nya itu dapat di dengar oleh Zeno yang berada tepat di sebelah nya.
"Kau benar nona, aku pun bakal jadi rempeyek kalau berada di situ hahaha." Ucap Zeno sambil tertawa.
"Menurut mu yang mana bakal menang Zen.?" Tanya Ceni dengan mata nya tak lepas memandang para peserta.
"Menurut ku sih perguruan bambu lebih unggul sebab kekuatan fisik dan kekuatan ranah nya lebih tinggi di banding Perguruan Awan." Ucap Zeno.
Dan benar saja baru akan membuka mulut, murid perguruan awan sudah terlempar ke ujung panggung dengan memuntahkan darah sekaligus tangan kiri nya yang terkulai seperti patah.
Pertandingan pun selesai dan di menangkan oleh murid perguruan bambu.
Dan dilanjutkan oleh pertandingan selanjutnya yang mana di pertandingan ini dua orang gadis saling berhadapan membungkuk kan badan saling hormat, lalu memulai pertandingan dengan gaya lincah kedua nya.
"kayaknya mereka imbang gak sih." Ucap Ceni.
"Seperti nya begitu nona." Ucap Zeno yang mengamati pertandingan itu.
Tapi di sela-sela pertandingan salah satu nya mengeluarkan sebuah pedang sehingga gadis yang menjadi lawan nya mengalami luka gores di bagian lengan.
Lalu yang terluka itupun mengeluarkan seekor ular bermahkota yang diyakini sebagai hewan kontrak milik nya.
Seorang gadis yang memegang pedang itu pun terkejut kala seekor ular bermahkota itu tiba-tiba menyerang nya dengan membabi buta dan seketika gadis itu pun kalah telak dan pemenang nya ia gadis yang memiliki hewan kontrak tersebut yang berasal dari perguruan awan.
Di pertandingan itu membolehkan menggunakan hewan kontrak kalau memiliki, bagi yang tidak memiliki hanya dapat mengandalkan diri nya sendiri.
Bersambung.
lanjut up yg bnyak thor💪💪💪💪
3 hari aja kering tak berbekas... tapi gak pake garem