Axel Bahng adalah dokter jenius yang percaya bahwa semua racun memiliki penawar — hingga satu kesalahan kecil mengubah cinta dalam hidupnya menjadi mimpi buruk yang tak bisa disembuhkan.
Tunangan yang paling ia cintai, Lusy Kim, tanpa sengaja meminum racikan eksperimen ilegal buatannya. Sejak hari itu, tubuh Lusy tak lagi mengenali rasa lapar seperti manusia. Saat kelaparan menyerang, kesadarannya hilang, digantikan naluri brutal yang hanya bisa diredakan oleh darah.
Demi melindungi Lusy dari dunia — dan dunia dari Lusy — Axel menyekapnya dalam ruang rahasia di bawah rumahnya, mempertaruhkan karier, moral, dan kewarasannya sendiri. Ia mencuri darah dari rumah sakit, membohongi keluarga, dan melawan hukum, yakin bahwa cinta dan sains akan menemukan jalan keluar.
Namun seiring waktu, kebohongan runtuh satu per satu. Ketika kebenaran akhirnya terungkap, tak ada lagi yang bisa diselamatkan — bukan reputasi, bukan keluarga, bukan bahkan cinta itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Di sebuah koridor rumah sakit, Axel berdiri mematung di sudut paling gelap, tubuhnya menyatu dengan bayangan agar tidak terlihat oleh kamera pengawas yang terpampang di atas pintu ruangan. Ia mengatur napasnya yang berat di balik masker medisnya.
Jarum jam yang terpasang di dinding menunjukkan pukul tiga pagi tepat pada titik kedua—waktu di mana sistem penjagaan berada di titik terlemah karena kantuk yang menyerang dan pergantian jaga yang membuat ada celah keamanan yang bisa ia manfaatkan, namun adrenalin yang mengalir deras di pembuluh darahnya justru berada di titik didih, membuat setiap inci kulitnya terasa seperti terbakar dan setiap gerakan menjadi sangat jelas di dalam benaknya.
Ini adalah pengkhianatan terbesar terhadap sumpah profesinya yang pernah ia lakukan dalam hidupnya sebagai dokter. Seorang dokter seharusnya memberikan darah dan bantuan medis untuk menyelamatkan kehidupan, bukan mencurinya secara sembunyi-sembunyi hanya untuk memberi makan sebuah anomali yang muncul akibat kesalahan yang ia buat sendiri.
Setiap kali ia mengingat sumpah Hippokrates yang pernah ia ucapkan dengan penuh keyakinan saat wisuda, rasa bersalah yang sudah sangat dalam itu semakin menghantamnya dengan kekuatan yang tidak bisa ia tolak lagi. Namun di sisi lain, ia tahu bahwa tidak ada pilihan lain selain melakukan ini jika ingin menyelamatkan Lusy dan mempertahankan sedikit saja sisa kemanusiaan yang masih ada di dalam dirinya.
Dengan gerakan yang telah ia latih secara berulang-ulang dalam benaknya ratusan kali, Axel mendekati lemari pendingin logistik yang terletak di pojok dalam ruangan bank darah itu. Ia telah menghafal setiap sudut ruangan ini, setiap posisi kamera, setiap jadwal operan jaga petugas yang bekerja di sini. Ia memanfaatkan celah waktu lima menit yang telah ia teliti dengan sangat cermat saat petugas administrasi bernama Mina sedang melakukan operan jaga di lantai bawah, memeriksa kondisi peralatan medis yang ada di ruang gawat darurat.
Tangannya merogoh dengan hati-hati ke dalam lemari pendingin yang sudah ia buka dengan menggunakan akses kartu yang ia dapatkan secara tidak sah, mengambil empat kantong darah berukuran besar dengan tipe O. Dinginnya kantong plastik yang berisi darah itu seolah membakar kulitnya melalui lapisan sarung tangan, pengingat yang menyakitkan akan dosa yang sedang ia kumpulkan satu per satu dengan setiap tindakan yang ia lakukan ini.
𝘊𝘦𝘱𝘢𝘵, 𝘈𝘹𝘦𝘭. 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪-𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘬𝘦 𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘦𝘳𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘸𝘢𝘴 𝘪𝘵𝘶.
Ia merasa seperti ada seseorang yang sedang berdiri di belakangnya dan mengawasi setiap gerakannya. Ia memastikan bahwa tubuhnya selalu berada di balik bayangan atau objek besar yang bisa menyembunyikannya dari pandangan kamera yang tidak memiliki sensor gerak canggih.
Ia dengan cepat menyembunyikan kantong-kantong darah itu ke dalam tas pendingin portabel yang telah ia siapkan dengan cermat dan selipkan dengan hati-hati di balik jas putih kebanggaannya. Saat ia berjalan keluar dari ruangan bank darah dan melangkah kembali melalui koridor yang sunyi itu, setiap suara derit kecil yang dihasilkan oleh alas kaki atau embusan angin yang masuk melalui ventilasi terasa seperti suara langkah kaki keamanan yang sedang mengejarnya dengan cepat. Ia harus tetap tenang dan menjaga wajahnya tetap datar dan tidak menunjukkan sedikit pun ekspresi yang mencurigakan, ia perpura-pura menjadi seorang residen muda yang kelelahan akibat sif malam yang panjang dan sedang kembali ke ruang tugas untuk mengambil barang yang terlupa.
Setibanya di rumah, rutinitas yang sesungguhnya dan penuh dengan penderitaan mulai dimulai.
Pada siang hari, dunia mengenalnya sebagai Dokter Axel Bahng—seorang dokter muda yang jenius, teladan bagi rekan-rekannya, dan penuh dengan empati terhadap setiap pasien yang ia tangani. Ia selalu dengan senang hati memberikan nasihat kepada mahasiswa kedokteran yang sedang melakukan magang di rumah sakit, berbicara dengan penuh semangat tentang pentingnya etika medis dan keselamatan pasien yang harus selalu menjadi prioritas utama bagi setiap orang yang bekerja di dunia kesehatan. Namun, begitu ia mengunci pintu lemari rahasia yang mengarah ke ruang bawah tanah dan menuruni tangga sempit dan gelap itu, semua topeng yang ia kenakan sehari-hari itu luruh dengan sendirinya, menyisakan seorang pria yang sudah benar-benar hancur oleh beban rahasia yang harus ia pikul sendirian dan beban kesalahan yang tidak bisa ia hilangkan dari benaknya.
"Lusy, aku pulang..."
Udara di dalam ruangan itu masih sama, dingin dan penuh aroma bahan kimia dan sedikit aroma darah yang tidak bisa dihilangkan lagi. Ia melihat dengan hati yang sangat sakit bagaimana Lusy yang dulunya selalu ceria kini berada dalam kondisi yang sangat berbeda.
Kondisi laboratorium bawah tanah itu kini terasa lebih seperti gua pemujaan yang gelap dan penuh dengan kegelapan daripada sebuah ruang sains yang seharusnya penuh dengan harapan dan penemuan baru.
Lusy duduk dengan tubuh sedikit membungkuk di sudut brankar medis yang sudah menjadi tempat tinggalnya belakangan ini, matanya yang berwarna merah pekat berkilat dengan jelas di tengah kegelapan ruangan itu. Ia tidak lagi mengamuk dengan sangat ganas seperti yang terjadi pada hari-hari pertama, namun tubuhnya tetap terus bergetar dengan sangat hebat akibat rasa lapar yang sangat menyiksa dan tidak bisa digambarkan dengan kata-kata apa pun.
Axel dengan hati-hati menuangkan isi kantong darah yang dibawanya itu ke dalam sebuah wadah steril berbentuk mangkuk yang telah ia siapkan sebelumnya. Aroma amis dan tembaga yang khas dari darah segera memenuhi seluruh ruangan isolasi itu, memicu reaksi pada tubuh Lusy.
Wanita itu mendekat dengan perlahan, gerakannya lebih mirip predator yang sedang mengintai mangsanya daripada seorang wanita yang lembut dan penuh dengan kasih sayang. Saat ia mulai meminum darah yang ada di dalam wadah itu, urat-urat biru di lehernya yang tadinya sangat kaku dan menonjol dengan jelas mulai perlahan-lahan mengendur dan kembali ke bawah kulitnya, membuatnya terlihat sedikit lebih normal daripada sebelumnya.
"Apakah ini... rasanya lebih baik sekarang?" Axel bertanya dengan sangat lirih, tangannya yang masih gemetar menyentuh dengan sangat lembut bagian rambut Lusy yang kini terasa kasar dan kering. Ia bisa merasakan bagaimana setiap helai rambutnya sudah tidak lagi seperti dulu yang lembut dan berkilau, namun ia tetap mencoba untuk memberikan sedikit sentuhan kasih sayang yang mungkin bisa membuat Lusy merasa lebih baik.
Lusy kemudian mendongak untuk melihat wajah Axel dengan mata yang sudah mulai sedikit meredup dari warna merah pekatnya, sisa darah merah yang masih menutupi bibirnya membuatnya terlihat seperti seorang vampir yang baru saja selesai makan. Untuk sesaat saja, kabut kegelapan yang selalu menguasai pikirannya ketika rasa lapar menyerang mulai menipis dan ia kembali menjadi wanita yang dikenal oleh Axel selama ini.
"Pahit sekali, Axel. Semuanya terasa sangat pahit di dalam mulutku dan di dalam tubuhku. Aku bisa merasakan setiap sel di tubuhku berteriak dengan sangat keras... mereka ingin lebih banyak dari ini, lebih banyak dari apa yang kamu berikan padaku sekarang ini."
Axel segera memalingkan wajahnya karena tidak sanggup melihat bagaimana sisa kemanusiaan yang masih ada pada Lusy yang sedang berjuang dengan keras di balik raga yang mulai berubah dan menjadi semakin jauh dari bentuk manusia yang normal.
Hidupnya kini terbagi dua secara ekstrem dan sangat menyakitkan. Di rumah sakit, ia adalah sosok dokter yang dihormati dan selalu berbicara tentang pentingnya etika medis serta keselamatan pasien yang harus selalu dijaga dengan sebaik mungkin. Namun di bawah tanah ini, ia menjadi pelayan bagi sebuah mutasi yang haus darah dan harus melakukan segala cara untuk memenuhi kebutuhannya, bahkan jika itu berarti harus mengkhianati semua prinsip yang pernah ia anut sebagai seorang dokter.
Kelelahan yang ia rasakan sekarang ini bukan lagi sekadar kelelahan fisik yang bisa diatasi dengan istirahat atau obat-obatan saja, melainkan kelelahan jiwa yang terasa seperti sedang membusuk perlahan dan akan segera menghancurkan seluruh bagian dirinya yang masih baik.
Setiap pagi setelah ia kembali dari memberikan darah pada Lusy, ia harus dengan sangat hati-hati mencuci noda darah yang mungkin tersisa di wastafel atau lantai menggunakan bahan pembersih yang kuat dan bisa menghilangkan bau serta noda dengan sempurna. Ia harus memastikan bahwa tidak ada sedikit pun bau amis dari darah yang bisa tercium oleh Doni yang tinggal di atas atau oleh tamu yang mungkin datang ke rumah mereka tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Selain itu, ia juga harus menggunakan keahliannya dalam bidang teknologi informasi untuk memalsukan laporan logistik di rumah sakit dengan manipulasi data yang sangat rumit dan cermat. Ia membuat laporan palsu yang menunjukkan bahwa ada kerusakan pada sistem pendingin di ruang bank darah yang menyebabkan beberapa kantong darah harus dibuang karena sudah tidak layak lagi untuk digunakan dalam transfusi—semua ini untuk menyembunyikan fakta bahwa darah itu telah dicuri olehnya dan digunakan untuk kepentingan pribadi yang sangat tidak bisa diterima oleh masyarakat.
***
"Berapa lama lagi aku bisa melakukan semua ini tanpa terdeteksi, Sam?"
Samuel datang ke rumah untuk membantunya melakukan pemeriksaan pada Lusy di malam ketiga setelah ia mulai mencuri darah dari rumah sakit. Ia melihat ke arah sahabatnya yang sudah menjadi satu-satunya orang yang tahu tentang semua ini dan bisa memberikan dukungan meskipun sangat terbatas.
Samuel menatap Axel dengan pandangan kesedihan dan juga kekhawatiran, ia tahu bahwa tidak ada jawaban yang bisa memberikan harapan pada teman baiknya ini. Ia melihat bagaimana kondisi Axel semakin memburuk setiap hari dan bagaimana beban yang ia pikul sudah mulai terlalu berat untuk ditanggung sendirian.
"Sampai kamu tertangkap oleh pihak keamanan rumah sakit atau oleh polisi karena kecurangan yang kamu lakukan, atau sampai Lusy tidak lagi puas dengan darah yang datang dari kantong plastik dan mulai menginginkan sesuatu yang lebih segar dan langsung dari sumbernya sendiri."
Axel terdiam sepenuhnya setelah mendengar kata-kata itu, ia tahu bahwa Samuel benar dan bahwa hari-hari mereka sudah semakin terbatas. Ia menatap tangannya sendiri yang masih mengenakan sarung tangan latex putih itu, bertanya-tanya dalam hati kapan batas yang memisahkan dirinya sebagai manusia yang baik dan monster yang ia ciptakan dengan kesalahannya akan benar-benar lenyap dan tidak bisa dibedakan lagi.
.
.
.
.
.
.
.
ㅡ Bersambung ㅡ