Elara mengira pernikahannya adalah akhir dari semua penderitaan.
Namun malam itu, ia justru menemui akhir hidupnya—dikhianati, dijebak, lalu dibunuh oleh suaminya sendiri dan wanita yang ia percayai sebagai sahabat.
Saat membuka mata, Elara kembali hidup.
Ia terlahir kembali ke masa sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.
Rambut putihnya menjadi saksi kelahirannya yang kedua.
Mata pink-nya menyimpan dendam yang tak lagi bisa dipadamkan.
Kali ini, Elara bukan wanita polos yang mudah diinjak.
Ia mengingat setiap pengkhianatan, setiap rencana keji, dan setiap kebohongan yang pernah merenggut nyawanya.
Bukan untuk memohon keadilan.
Bukan untuk meminta belas kasihan.
Elara kembali…
untuk membalas semuanya, satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE SPESIAL 2: Rahasia di Balik Hutan Pinus
Setelah keriuhan di dapur istana mereda dan dekret cuti Empress telah resmi diumumkan, Elara Lane dan Alaric von Ravenhurst benar-benar meninggalkan kemegahan Ibu Kota Aurora. Mereka tidak menggunakan kereta kuda berlapis emas yang biasa digunakan untuk kunjungan kenegaraan. Sebaliknya, mereka memilih dua ekor kuda perang terbaik—satu hitam pekat milik Alaric dan satu putih salju milik Elara—dan mengenakan pakaian perjalanan dari kulit naga yang kokoh namun sederhana.
Tujuan mereka adalah wilayah paling utara di kekaisaran, tanah kelahiran Alaric yang dikenal sebagai "Tanah Serigala Abadi". Perjalanan ini memakan waktu beberapa hari, melintasi perbatasan antara padang rumput yang luas hingga memasuki wilayah pegunungan yang tertutup salju abadi. Bagi Elara, setiap mil yang mereka tempuh menjauh dari ibu kota terasa seperti melepas satu lapis beban dari pundaknya.
Perjalanan Menuju Keheningan
Selama perjalanan, mereka tidak menginap di kastil para bangsawan lokal. Elara ingin merasakan kembali dunia yang nyata, dunia yang tidak diatur oleh protokol. Mereka berkemah di tepi sungai yang airnya sedingin es, menangkap ikan untuk makan malam, dan berbicara hingga larut malam di bawah taburan bintang yang tampak lebih cerah tanpa asap kota.
Alaric menunjukkan sisi yang hanya dimiliki oleh pria yang tumbuh di alam liar. Ia tahu cara membaca jejak binatang, tanaman mana yang bisa dimakan, dan bagaimana arah angin bisa memprediksi badai salju yang akan datang. Elara menatap suaminya dengan rasa kagum yang baru; pria ini bukan hanya seorang jenderal atau politikus, ia adalah bagian dari alam itu sendiri.
"Kau menatapku seolah aku adalah makhluk langka, Elara," goda Alaric saat ia sedang mengasah belatinya di depan api unggun.
"Aku hanya berpikir," jawab Elara sambil memeluk lututnya, "betapa banyak hal tentangmu yang tidak kuketahui karena kita terlalu sibuk mencoba untuk tidak mati dalam perang."
Alaric berhenti mengasah belatinya, menatap api yang berderak. "Sekarang kita punya waktu, Elara. Seluruh waktu di dunia ini."
Pondok Kayu dan Danau Perak
Pada hari keempat, mereka memasuki hutan pinus purba yang sangat rapat. Pohon-pohon di sini begitu besar sehingga butuh lima orang untuk memeluk batangnya. Lumut hijau tebal menutupi segalanya, dan aroma pinus yang tajam memenuhi indra penciuman. Di jantung hutan inilah berdiri sebuah pondok kayu kecil yang kokoh, dibangun dari kayu cedar hitam dan batu gunung.
Pondok itu terletak tepat di tepi sebuah danau tersembunyi. Air danau itu begitu tenang dan jernih hingga tampak seperti kaca perak yang besar. Tidak ada suara di sini selain siulan angin di sela pohon pinus dan sesekali suara kepak sayap elang salju.
"Selamat datang di satu-satunya tempat di mana aku benar-benar bisa bernapas," bisik Alaric saat ia membuka pintu pondok yang berat.
Di dalam, suasananya sangat hangat. Ada perapian besar dari batu, ranjang luas yang tertutup bulu beruang, dan rak-rak buku yang berisi catatan lama keluarga Ravenhurst. Alaric segera menyalakan api, dan dalam sekejap, ruangan itu dipenuhi cahaya oranye yang nyaman.
Rahasia di Balik Peti Kayu
Malam itu, setelah mereka makan malam dengan sup daging hangat, Elara menemukan sebuah peti kayu tua di sudut ruangan yang tertutup kain linen. Rasa ingin tahunya bangkit. Ia melirik Alaric yang sedang menyusun kayu bakar di luar jendela.
"Boleh aku membukanya?" teriak Elara.
"Buka saja. Tidak ada rahasia negara di sana," sahut Alaric dari luar.
Elara membuka peti itu dengan hati-hati. Harapannya adalah menemukan peta kuno atau senjata pusaka. Namun, ia justru menemukan tumpukan kertas perkamen yang sudah menguning di bagian pinggirnya. Ia mengambil satu, dan jantungnya hampir berhenti berdetak.
Itu adalah sebuah sketsa. Seorang gadis muda dengan gaun pesta sederhana sedang berdiri di balkon, menatap jauh ke arah taman. Gadis itu adalah Elara. Tanggal di pojok bawah menunjukkan waktu sepuluh tahun yang lalu—jauh sebelum mereka pertama kali bicara secara resmi.
Elara mengambil sketsa lainnya. Ada gambar dirinya sedang tertawa saat masih di akademi, gambar dirinya saat sedang serius membaca di perpustakaan Marquess Lane, bahkan sketsa saat ia sedang marah dalam sebuah pertemuan sosial. Semua sketsa itu digambar dengan sangat detail dan penuh perasaan.
Alaric masuk kembali ke pondok, membeku saat melihat apa yang ada di tangan Elara. Ia tampak sangat malu, sebuah ekspresi langka bagi sang Serigala Utara.
"Kau... kau menggambarku selama ini?" suara Elara gemetar.
Alaric menghela napas panjang, duduk di kursi di depan perapian. "Sejak pertama kali aku melihatmu di pesta musim semi keluarga Lane, aku tidak bisa berpaling. Kau tampak begitu berbeda dari gadis-gadis lain—ada kemarahan dan kesedihan yang kau sembunyikan dengan sangat rapi. Aku tahu kau tidak akan memperhatikanku, jadi aku hanya bisa menjagamu dari jauh. Dan menggambarmu adalah caraku untuk mengingat mengapa aku harus terus berjuang demi kekaisaran ini... demi dirimu."
Elara mendekati Alaric, berlutut di depannya, dan memegang tangannya yang kasar. "Kau mencintaiku sejauh itu? Bahkan saat aku masih mengejar bayangan Julian yang palsu?"
"Cintaku tidak butuh balasanmu saat itu, Elara," jawab Alaric lembut, mengusap pipi Elara. "Aku hanya ingin kau aman. Melihatmu sekarang berdiri di sampingku, hidup dan bahagia... itu adalah hadiah terbesar yang pernah kuterima."
Elara menangis, bukan karena sedih, tapi karena ia menyadari betapa dalam cinta yang Alaric miliki untuknya. Ia menyadari bahwa ia tidak pernah benar-benar sendirian, bahkan di saat-saat tergelap dalam hidupnya dulu.
Penyembuhan Jiwa
Malam-malam berikutnya di pondok itu diisi dengan kejujuran. Mereka bercerita tentang ketakutan terdalam mereka. Alaric bercerita tentang betapa ia benci harus membunuh untuk pertama kalinya saat berusia empat belas tahun, dan Elara bercerita tentang betapa ia masih terkadang bermimpi tentang rasa dingin dari racun yang diberikan Julian padanya di kehidupan pertama.
Namun, di pondok ini, mimpi buruk itu terasa jauh. Alaric akan memeluknya setiap kali ia terbangun dengan keringat dingin, membisikkan kata-kata penenang sampai ia tertidur kembali. Mereka menghabiskan pagi dengan memancing di danau dan sore dengan berjalan-jalan di salju.
Di danau itu, ada sebuah tempat di mana uap panas bumi keluar dari sela bebatuan, menciptakan kolam air panas alami di tengah udara dingin. Mereka berendam di sana, dikelilingi oleh kabut putih dan pepohonan pinus. Di sinilah, Elara merasa seluruh rasa sakit dari "dendam" lamanya benar-benar luruh.
"Aku merasa... aku sudah selesai, Alaric," ucap Elara sambil bersandar di bahu suaminya di dalam kolam air panas. "Dendam itu sudah pergi. Sekarang aku hanya ingin membangun sesuatu yang baru."
"Kita akan membangunnya bersama, Elara," jawab Alaric, mencium keningnya.
Sumpah di Bawah Cahaya Aurora
Pada malam terakhir mereka di pondok, langit Utara memberikan hadiah perpisahan yang luar biasa. Aurora Borealis muncul, menari-nari dalam warna hijau, ungu, dan perak di atas puncak pegunungan. Cahaya itu memantul di permukaan danau yang membeku sebagian, menciptakan pemandangan yang seolah berasal dari dunia lain.
Mereka berdiri di dermaga kayu kecil di depan pondok. Alaric melepaskan jubah bulunya dan menyampirkannya ke pundak Elara agar istrinya tetap hangat.
"Elara," Alaric memanggil namanya dengan nada yang sangat serius. Ia berlutut di satu kaki di atas dermaga kayu itu. Ia tidak membawa pedang, tidak membawa mahkota. "Aku sudah bersumpah setia sebagai ksatria padamu. Aku sudah bersumpah setia sebagai suamimu. Tapi malam ini, di depan tanah kelahiranku, aku ingin bersumpah sebagai laki-laki yang hanya milikmu."
Ia mengeluarkan sebuah cincin perak sederhana dengan ukiran mata serigala yang sedang menjaga bunga lili. "Aku berjanji, tidak akan ada lagi rahasia. Tidak akan ada lagi perang yang kita hadapi sendirian. Di mana pun kau berada, itulah rumahku."
Elara menarik Alaric berdiri dan memeluknya dengan erat. "Dan di mana pun kau berada, itulah hidupku, Alaric."
Mereka berciuman di bawah tarian cahaya aurora. Di tempat yang sunyi itu, jauh dari takhta yang dingin dan intrik yang mematikan, Elara Lane akhirnya menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Ia bukan lagi sekadar Empress yang haus darah musuh; ia adalah seorang wanita yang dicintai sepenuhnya oleh pria yang telah menjaganya sepanjang waktu.
Esok harinya, mereka akan kembali ke ibu kota. Mereka akan kembali menghadapi tanggung jawab besar. Namun, mereka kembali bukan lagi sebagai dua pejuang yang terikat aliansi, melainkan sebagai dua jiwa yang telah menyatu di bawah keheningan hutan pinus Utara.
qu membayangkan opa"😂
lanjuuut
ini 2024 tp msh ada kereta kuda yaa🤔