NovelToon NovelToon
Dari Ribut Jadi Jodoh

Dari Ribut Jadi Jodoh

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta setelah menikah / Kisah cinta masa kecil / Romansa / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

Cerita ini adalah season dua dari karya "Cinta Masa Kecil Ustadz Athar"
***

"Abid... Kamu gak perlu merasa bertanggung jawab karna kemarin kita udah dalam posisi yang tak pantas, kita gak perlu menikah. Kita bisa menolak dan mengatakan itu pada kakek kamu dan semua orang. Kita gak harr-"
"Harus." Athar memotong ucapan Azzura cepat. "Kamu harus tanggung jawab."
"Loh kok aku? Dimana-mana yang dimintai pertanggungjawaban itu laki-laki, masa perempuan!" Azzura makin sewot.
"Ya udah ayo kita nikah kalau gitu. Aku mau tanggung jawab kok, meski kamu yang kemarin cium aku duluan."
"Ya itu karna gak sengaja, Abid. Kamu yang narik aku."
"Maka dari itu aku tanggung jawab."

Itu semua berawal dari Azzura yang berniat untuk mengagetkan Ayza tapi ia tidak tau bahwa itu Abidzar terjadilah mereka jatuh bersamaan dengan posisi tak pantas.

***

"aku kaya orang udah gak waras mau setuju aja nikah sama kamu!"
***
"Jadi kamu sudah tau apa tugas istri yang sesungguhnya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Serangan Dadakan Azzura

Sudah waktunya makan malam. Semua orang berkumpul di meja makan. Aneka hidangan telah tersaji rapi: ayam goreng, capcay, tempe orek, sambal terasi, dan teh hangat yang masih mengepul.

“Wah, ada tempe orek!” seru Ayza antusias. “Ini siapa yang masak, Umi?”

“Menantu Umi dong, Nak,” jawab Umi Hafiza sambil tersenyum.

“Ih, enggak, Za,” Azzura buru-buru membantah. “Umi yang bikin bumbunya, aku cuma masak doang.”

“Kalau tempe oreknya baru Umi,” timpal Umi Hafiza tenang.

Azzura melirik Umi sekilas. Ia paham betul, Umi sengaja sedikit berbohong. Sepertinya mereka ingin tau, kalau yang masak dikira Umi, apakah Abidzar tetap mau menyentuh tempe orek itu.

“Mas, mau makan apa?” tanya Umi Hafiza pada Gus Alif.

“Ayam goreng sama tempe orek aja dulu,” jawab Gus Alif. “Capcay pisahin di mangkuk kecil ya, Humairah.”

“Iya, Mas.”

Umi Hafiza lalu menyiapkan nasi dan lauk untuk Abah Kyai Abdul Hamid.

“Terima kasih, Nak,” ucap Abah lembut.

“Sama-sama, Abah.”

Umi Inayah, istri Abah, telah wafat tiga tahun lalu. Sejak itu, Hafiza mengambil peran besar di dapur ndalem.

Azzura lalu menoleh ke Abidzar. “Kamu mau makan apa, Bid?”

“Ayam goreng sama capcay aja. Tempe oreknya dikit ya.”

“Iya,” jawab Azzura singkat.

Dalam hati, Azzura tau betul. Ini jelas ‘jebakan halus’. Umi dan Azzura ingin melihat apakah Abidzar bisa membedakan tempe orek buatan Umi atau buatan istrinya sendiri.

Ayza sebenarnya hampir saja bersuara, ingin mengatakan bahwa tempe orek itu buatan Azzura—karena ia hafal betul rasanya. Tapi Umi lebih dulu menggeleng pelan, menghentikannya.

“Ini enak banget loh tempe oreknya,” ujar Gus Alif setelah beberapa suap. “Aku boleh nambah?”

“Boleh, Mas,” jawab Umi.

Abidzar masih asyik menghabiskan ayam dan capcaynya. Tempe orek yang diambilkan Azzura belum juga disentuh.

“Aku mau nambah juga boleh?” tanya Ayza.

“Boleh dong,” jawab Umi Hafiza.

Umi lalu melirik Abidzar. “Kok gak kamu makan, Bid, tempe oreknya?”

“Iya, ini mau, Umi,” jawab Abidzar santai.

Ia pun mulai mengunyah tempe orek itu. Baru satu suap, alisnya sedikit mengernyit. Rasanya… beda. Tidak seperti masakan Umi biasanya.

Abidzar mendongak dan mendapati Umi Hafiza serta Azzura saling berpandangan, menahan senyum.

Seolah baru sadar, Abidzar segera mengambil tempe orek itu lagi. Saat Ayza melihat piring tempe yang hampir habis, ia protes.

“Ih, abaaang! Kok dihabiskan?”

“Kamu udah banyak,” jawab Abidzar tenang. “Ini buat abang.”

“Tadi katanya mau makan dikit aja, Bid.”

“Iya, tapi ini baru kerasa enak,” balas Abidzar sambil terus makan.

“Enak karena istrinya yang masak, ya?” goda Umi Hafiza.

Abidzar tersenyum kecil. “Dua-duanya, Umi.”

“Jadi ini Azzura yang masak?” tanya Gus Alif memastikan.

“Iya, Mas,” jawab Umi Hafiza. “Aku cuma bikin bumbu capcay sama ayam gorengnya aja.”

“Berarti tetap Umi yang bikin enak,” sela Azzura santai.

Gus Alif tertawa kecil. “Kalau sambal terasinya siapa yang buat?”

“Menantu Umi dong,” jawab Hafiza sambil tersenyum penuh makna.

Suasana meja makan pun hangat, dipenuhi tawa kecil dan godaan ringan—sebuah malam sederhana, tapi penuh rasa kebersamaan.

Setelah makan malam selesai, Azzura memilih masuk ke kamar Ayza. Gadis itu sedang duduk lesehan di lantai, buku-buku pelajaran terbuka di depannya.

“Za,” panggil Azzura sambil duduk di sampingnya, “kok kamu tau kalau yang masak tempe orek itu aku?”

Ayza menoleh sambil tersenyum penuh percaya diri. “Tau dong, Kak.”

“Tau dari mana?” Azzura mengernyit heran.

“Dari rasanya lah. Sama potongan tempenya,” jawab Ayza santai.

Azzura terkekeh. “Bisa aja kamu.”

Ayza langsung menunjuk buku di depannya. “Mana sini PR fisika aku yang kemarin minta dibantuin?”

“Ini, Kak. Susah banget kan?” Ayza menyodorkan bukunya.

Azzura melirik sekilas, lalu mengambil pulpen. “Gampang ini mah.”

“Hah? Serius?”

Azzura mulai menjelaskan pelan, ringkas, tapi jelas. Ia menggambar skema sederhana, menuliskan rumus, lalu memberi contoh soal yang mirip.

Ayza mengangguk-angguk. “Lah… kok jadi kelihatan mudah banget, ya?”

“Memang,” jawab Azzura santai. “Kenapa gak minta abang kamu aja?”

Ayza langsung manyun. “Kalau minta dia, yang ada bisa berjam-jam, Kak.”

“Kenapa emangnya?”

“Ya… ceramah dulu.”

Azzura terbelalak, lalu tertawa lepas. “Ya ampun.”

Suasana mendadak hening. Ayza kembali menunduk, melanjutkan PR-nya. Hanya suara goresan pulpen yang terdengar.

Beberapa saat kemudian, Ayza memecah keheningan.

“Kak Zura…”

“Hm?”

“Kakak sudah cinta belum sama Bang Abidzar?”

“Hah?” Azzura refleks menoleh cepat.

“Jawab aja, Kak. Aku nggak bakal bilang ke abang, sumpah.”

Azzura terdiam. Tangannya berhenti menulis. Ia bingung—bukan karena tak punya jawaban, tapi karena terlalu banyak perasaan yang bercampur jadi satu.

Tanpa mereka sadari, di balik pintu kamar Ayza, Abidzar berdiri. Ia mendengar semuanya. Dan kini, ia menunggu—diam-diam—jawaban dari istrinya.

“Kenapa kamu nanya gitu?” Azzura akhirnya bersuara.

“Ya jawab aja, Kak.”

Azzura menarik napas pelan. “Cinta… nggak ya…”

Ayza menoleh penuh harap.

Namun Azzura malah tersenyum kecil. “Udah deh, kamu masih kecil. Jangan mikirin cinta-cintaan dulu. Belajar yang bener biar jadi santriwati berprestasi lagi.”

Di luar kamar, Abidzar menghembuskan napas kasar. Jawaban itu—atau lebih tepatnya, ketiadaan jawaban—entah kenapa terasa menyesakkan.

Tak lama kemudian, terdengar ketukan pelan di pintu.

“Za,” suara Abidzar terdengar tenang, “udah malam. Zura aku jemput.”

Ayza menoleh ke Azzura sambil tersenyum kecil. “Tuh, udah di jemput suami."

Azzura bangkit, merapikan kerudungnya. Saat membuka pintu, pandangannya langsung bertemu dengan Abidzar. Tatapan laki-laki itu sulit dibaca—tenang, tapi menyimpan sesuatu.

“Ayo,” ucap Abidzar singkat.

Azzura mengangguk, lalu melangkah keluar kamar. Di belakang mereka, pintu kamar Ayza menutup pelan, meninggalkan satu pertanyaan yang belum terjawab—dan satu hati yang diam-diam berharap.

***

Pintu kamar tertutup rapat. Suasana mendadak lebih tenang, hanya ada mereka berdua dan lampu temaram yang menggantung di langit-langit.

Abidzar duduk di tepi ranjang, menoleh ke arah Azzura yang masih berdiri sambil menyilangkan tangan di dada.

“Zuya,” panggilnya pelan, “kenapa tadi kamu gak bilang ke aku kalau tempe oreknya itu kamu yang masak?”

Azzura mengangkat bahu, lalu berjalan mendekat dan duduk berhadapan dengannya. “Buat apa? Lagian Umi kayaknya sengaja pengen ngetes kamu.”

Abidzar tersenyum tipis. “Dan kamu ikutan ngerjain aku.”

“Bukan itu,” potong Azzura cepat. “Aku cuma pengen tau satu hal.”

“Apa?”

Azzura menatap Abidzar lurus. “Kamu kan sebenarnya gak terlalu suka tempe orek. Tapi pas tau itu masakan aku… kenapa malah kamu habisin sampai gak sisa?”

Pertanyaan itu membuat Abidzar terdiam sejenak.

Ia menghela napas pelan, lalu mencondongkan tubuh sedikit ke arah Azzura. Tatapannya lembut, jauh dari sikap menggoda atau jahil seperti biasanya.

“Karena itu masakan istriku,” jawabnya mantap.

Azzura terpaku.

“Sesederhana itu?” gumamnya.

“Sesederhana itu,” ulang Abidzar. “Apapun yang istriku masak, akan aku makan. Mau aku suka atau enggak.”

“Terus masakan Umi gimana?” Azzura bertanya pelan, seolah takut jawabannya terdengar salah.

Abidzar langsung menggeleng. “Bukan berarti masakan Umi nggak enak. Masakan Umi itu rumah. Rasanya selalu sama, selalu bikin tenang.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara lebih rendah, lebih dalam. “Tapi masakan istri itu… tanggung jawab. Ada doa kamu di situ, ada capek kamu, ada perhatian kamu. Itu yang bikin rasanya beda.”

Azzura menelan ludah. Dadanya terasa hangat, aneh, dan pelan-pelan. “Jadi meski aku masak sesuatu yang kamu nggak suka… kamu tetap bakal makan?” tanyanya lirih.

Abidzar mengangguk. “Iya. Karena aku nggak menikah sama selera makan aku. Aku menikah sama kamu.”

Azzura memalingkan wajah, menyembunyikan senyum kecil yang tiba-tiba muncul. “Kamu lebay,” gumamnya.

Abidzar terkekeh. “Terserah. Yang jelas, tempe orek hari ini habis karena istriku yang masak.”

Azzura tidak menjawab. Tapi malam itu, entah mengap, ia merasa… berada di tempat yang tepat.

***

Abidzar baru saja naik ke lantai atas setelah dari bawah. Begitu pintu kamar terbuka, ia tidak menemukan Azzura di ranjang. Alisnya sedikit berkerut.

“Zuya?” panggilnya pelan.

Tak ada jawaban.

Pandangan Abidzar lalu tertuju ke arah balkon yang pintunya sedikit terbuka. Ia melangkah mendekat—dan benar saja, Azzura berdiri di sana, bersandar pada pagar balkon. Dari tempat itu, ia bisa melihat suasana pesantren yang mulai lengang, lampu-lampu temaram menyala, dan suara langkah santri yang sesekali melintas memecah sunyi malam.

Abidzar mendekat tanpa suara. “Ngapain di sini?” tanyanya pelan.

Azzura terlonjak kaget saat sepasang tangan kekar tiba-tiba melingkar di pinggangnya. “Ya Allah, Abid!” serunya refleks. “Kenapa sih kamu selalu bikin aku kaget, hah!"

Abidzar tersenyum kecil. “Iya, maaf, Zuyaaa. Kamu itu baru aku tinggal sebentar ke bawah, udah ngilang aja.”

“Ya aku pengen di sini aja,” jawab Azzura sambil memalingkan wajah.

“Ngapain? Ini udah malam, tau. Jam sembilan lewat,” ujar Abidzar. “Anginnya dingin.”

“Iya aku tau. Tapi aku belum ngantuk. Tadi aku bete aja… kamu ke bawah lama banget.”

“Aku ngambilin air minum buat kamu.”

“Ngambil air kok lama sih.”

Abidzar terkekeh. “Ciee… kangen ya?”

“Pede banget kamu, Abid,” sahut Azzura ketus.

“Aku sekalian ada urusan juga tadi,” tambahnya santai. Lalu ia menatap Azzura dengan lebih serius. “Udah, ayo masuk. Ini dingin. Habis hujan pula.”

“Tunggu sebentar dong,” protes Azzura. “Aku mau di sini dulu.”

Abidzar menggeleng. “Ayo masuk, Zuyaaa.”

“Lima menit aja,” pinta Azzura. “kalau kamu mau ya tungguin di sini.”

Abidzar menghela napas. “Oke. Tapi… kamu gak dingin?”

“Enggak,” jawab Azzura cepat.

Abidzar langsung meraih tangan Azzura. Telapak tangan itu dingin.

Ia menggosok-gosokkan tangan Azzura di antara kedua tangannya sendiri, berusaha menghangatkannya. “Bohong kan kamu, Zuya.”

Azzura memutar bola mata malas.

Tanpa banyak bicara, Abidzar menarik Azzura ke dalam pelukannya dari belakang. Pelukannya erat, protektif.

“Lepas dong,” protes Azzura. “Kamu terlalu erat meluk aku.”

“Itu karena kamu bohongin aku,” balas Abidzar ringan.

“Masih ada santri lewat, Abid. Kalau mereka lihat—”

“Biarin aja,” potong Abidzar santai.

Azzura berdecak kesal. “Kamu tuh emang nyebelin, ya. Susah banget dibilangin.”

“Sama dong kayak kamu.”

“Sama apanya?”

Abidzar menyeringai. “Ya itu. Kamu susah sekali nerima sentuhan aku, tinggal terima aja kalau Aku peluk, aku cium—apa susahnya sih?”

Azzura langsung menoleh, menatap tajam. “Coba kamu bayangin posisinya jadi aku. Kalau misalnya aku tiba-tiba peluk atau cium kamu tanpa peringatan, kamu suka?”

Tanpa ragu, Abidzar mengangguk mantap. “Suka. Suka banget malah. Aku mau kamu begitu.”

“Dasar menyebalkan!” gerutu Azzura.

Ia langsung melepaskan diri, lalu masuk ke kamar sambil menghentakkan kaki kesal.

Abidzar menatap punggung istrinya sambil tersenyum kecil.

Malam di pesantren kembali sunyi—tapi di dalam kamar itu, hangatnya belum benar-benar pergi.

***

Tiap kali Azzura berpikir kalau Abidzar adalah manusia paling menyebabkan di muka bumi ini, selalu saja ada sisi Abidzar yang manis yang membuat Azzura berubah pikiran.

Abidzar yang mengatakan tadi ada urusan di bawah ternyata ia habis pergi berbelanja.

"Tuh ada coklat di kantong plastik."

Azzura segera membukanya. Matanya berbinar tapi Abidzar langsung meredupkannya.

"Besok aja ya makannya, ini udah malam. Dan tadi pagi kamu udah makan itu."

"Tapi kan aku mau."

"Kamu pilih simpen atau gak makan coklat selama sebulan?"

"Iya iyaaa. Dasar nyebelin."

Azzura merapikan belanjaan yang tadi dibawa Abidzar. Satu per satu ia susun ke dalam lemari kecil, sampai tangannya berhenti saat membuka plastik lain.

Di dalamnya ada body care, sampo, dan sabun dengan merek yang sangat ia kenal.

Alis Azzura langsung bertaut.

“Ini… kamu semua yang beliin?” tanyanya ragu.

“Lah, terus siapa lagi?” jawab Abidzar santai.

“Maksud aku,” Azzura mengangkat satu botol, menatap Abidzar heran, “kok kamu tau aku pakai merek itu semua?”

Abidzar menyandarkan tubuh ke meja, menatap istrinya dengan senyum kecil yang sulit ditebak. “Kan aku udah pernah bilang. Aku tau banyak tentang kamu. Kamunya aja yang nggak tau apa-apa tentang aku.”

Azzura mendengus pelan. “Kok kamu baik banget malam ini?”

“Baik salah, cuek salah, jahat juga salah, nyebelin lebih salah lagi,” balas Abidzar cepat. “Kamu maunya aku kayak gimana sih?”

“Ya… tumben aja,” jawab Azzura jujur. “Nggak biasa kamu seperhatian ini.”

Abidzar menganga sesaat, tak percaya. “Memangnya selama ini aku jahat sama kamu?”

“Bukan gitu.” Azzura buru-buru menggeleng. “Tapi ini tuh kayak… bukan Abidzar yang aku kenal. Kamu yang aku kenal itu cuek, dingin, galak, irit bicara.”

Abidzar melangkah mendekat. “Berarti penilaian kamu selama ini ke aku salah.”

Oh, tidak mungkin.

Penilaian Azzura tentang Abidzar tak pernah salah. Mereka sudah berteman sejak lama. Abidzar itu menyebalkan, hobi cari ribut, dan nyaris tak pernah menunjukkan perhatian. Bahkan para santri yang diajarinya di pesantren ini pun sepakat—Abidzar dikenal dingin dan kaku.

Ia hanya banyak bicara kalau sedang berdebat atau bertengkar dengannya.

Jadi melihat Abidzar yang perhatian dan manis, apalagi baru sehari menikah, jelas terasa asing bagi Azzura.

“Please deh, Abid,” katanya pelan, “nggak usah sok manis.”

Abidzar menyeringai. “Kenapa? Takut kebawa perasaan? Takut kamu jadi suka sama aku?”

“Heh! Bukan gitu maksud aku!”

“Kalau iya juga nggak apa-apa kok, Zuya.”

Azzura menatapnya tajam. “Terus kalau aku beneran jatuh cinta sama kamu, emangnya kamu mau tanggung jawab?”

Abidzar menggeleng pelan, lalu menatapnya lembut. “Zuya, kalau kamu lupa… kita ini sudah menikah. Kamu mau bentuk tanggung jawab seperti apa lagi?”

Azzura mendadak terdiam. Lidahnya kelu.

“Iya sih…” gumamnya. “Tapi kan kita menikah bukan karena cinta, Abid.”

“Siapa bilang?”

“Ya kenyataannya memang begitu. Aku nggak cinta kamu. Dan kamu juga nggak cinta sama aku.”

Tatapan Abidzar langsung mengeras.

Dari mana Azzura bisa menyimpulkan kalau dia tidak mencintainya?

Dan… Azzura benar-benar mengatakan kalau dia juga tidak mencintainya?

Abidzar memang sudah menduga, tapi mendengarnya langsung dari mulut istrinya tetap membuat dadanya perih.

Menyadari perubahan wajah Abidzar, Azzura buru-buru menepuk dada suaminya, menenangkan. “Tapi tenang aja. Kata Abi, cinta itu bukan hal paling penting dalam hubungan.”

Abidzar terdiam.

“Cinta bisa datang dan pergi,” lanjut Azzura serius. “Bisa timbul dan tenggelam. Sifatnya sementara. Yang paling penting itu komitmen.”

Azzura menatap Abidzar dengan sungguh-sungguh. “Komitmen dua orang untuk tetap bertahan. Menerima kekurangan dan kelebihan pasangan. Jadi kamu tenang aja… aku sudah berkomitmen jadi istri kamu.”

“Berkomitmen?” ulang Abidzar.

Azzura mengangguk. “Iya. Aku mau kamu juga punya komitmen. Menerima baik-buruknya aku. Sabar sama aku yang cerewet, mungkin menyebalkan.”

Abidzar tak sanggup menahan tawanya.

“Kok kamu malah ketawa sih?” Azzura manyun. “Aku lagi serius loh. Jarang-jarang aku serius.”

“Maaf.” Abidzar mengangkat tangan. “Tapi kalimat terakhir kamu bikin aku kebayang semua tingkah menyebalkan kamu selama ini. Lanjut, aku dengerin. Aku janji gak ketawa.”

Azzura menarik napas panjang. “Intinya… kamu mau gak berkomitmen jadi suami yang baik buat aku? Laki-laki setelah Abi dan Bang Azzam yang bisa aku andalkan, aku repotin, dan jadi pelindung aku setelah mereka?”

Begitu kalimat itu keluar, Azzura langsung tersadar.

Ini… kenapa jadi kayak dia yang melamar?

Wajahnya memanas.

Ia ingin kabur saat itu juga, apalagi Abidzar tersenyum kecil, jelas menahan geli.

“Oke,” Azzura buru-buru berkata, “lupain aja apa yang barusan aku bilang. Kamu nggak perlu jawab. Minggir, aku mau tidur.”

“Mau ke mana?” Abidzar cepat menahan. “Kasih aku kesempatan buat jawab dong.”

Pergelangan tangan Azzura sudah berada dalam genggamannya.

“Aku udah bilang gak usah jawab, Abid,” protes Azzura sambil berusaha melepaskan diri.

“Tapi aku mau jawab, Zuya.”

Abidzar mengangkat dagu Azzura, memaksa mereka saling menatap.

“Aku bersedia,” ucapnya mantap. “Jadi suami yang baik buat kamu. Jadi satu-satunya orang yang bisa kamu andalkan, kamu repotin, dan akan melindungi kamu dari apa pun.”

Setelah itu, Abidzar mengecup kening Azzura dengan lembut.

“O-oke,” Azzura gugup. “Udah kan? Kalau gitu ayo tidur.”

“Tentu.”

Nada suara Abidzar membuat jantung Azzura berdetak tak karuan—nada yang sama seperti malam pertama mereka.

Ia menelan ludah susah payah. Tatapan Abidzar kini jelas berbeda. Ia tau persis apa maksud suaminya.

“A-aku mau—”

“Jangan menghindar lagi, Zuya,” potong Abidzar lembut tapi tegas. “Bukannya kamu mau berkomitmen jadi istri yang baik?”

Azzura merutuki dirinya sendiri. Ia benar-benar terjebak oleh ucapannya sendiri.

Sejak dulu Abidzar memang paling pintar membuatnya tak berkutik. Bahkan di malam pertama, laki-laki itu berhasil merayunya dengan menjelaskan isi kitab ‘Uqudullujain tentang kewajiban istri—membuat Azzura tak mampu membantah.

“Zuyaaa,” suara Abidzar merendah, “kalau seorang suami mengajak istrinya dengan baik lalu sang istri menolak, maka malaikat—”

“Oke! Cukup jangan ceramah!” Azzura langsung memotong.

Ia sudah hafal kelanjutan ceramah itu.

“Tapi kayaknya kamu perlu diingatkan lagi,” Abidzar tersenyum nakal. “Aku cuma nggak mau istriku jadi durhaka. Katanya mau jadi istri baik, mana co—”

Belum sempat Abidzar menyelesaikan kalimatnya, Azzura sudah berjinjit dan membungkam bibir suaminya dengan kecupan singkat.

Abidzar terkesiap.

Ia benar-benar tidak menyangka serangan balik itu datang dari Azzura.

1
Nifatul Masruro Hikari Masaru
yang nurut bidz. pawangnya galak
Siti Java
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Anak manis
azzura di lawan 🤣
anakkeren
cepet sembuh abid😍
Nifatul Masruro Hikari Masaru
nah gitu dong baikan
syora
lah ank umma mau kamu ajak debat abidz
ckckck mau cari gr"🤭
Alana kalista
lanjutkan
Nifatul Masruro Hikari Masaru
makanya bid pamit kalo pulang telat
Siti Java
up ge dong kk... gw seru ni🥰🥰
syora
wahhh ujian ya abidz,,,,kdng org tipe ceria klau dah marah DIEM itu yg bth ksbran nghadapinya
apa lgi nggak ksh kabar,,,,
maaf kmungkinan coklat kamu nggak mempan ya abidz
Nifatul Masruro Hikari Masaru
duh yang mulai cemburu
darsih
adyh bikin azura salah paham abidzar
Nifatul Masruro Hikari Masaru
duh pasangan ini bikin iri aja
Anak manis
cie cie😍
syora
nggak la zuya
awas kamu abidz bilang telat🤭
Nifatul Masruro Hikari Masaru
enggak telat kok malah seneng
Nifatul Masruro Hikari Masaru
ea yang sudah mulai membuka diri
Fegajon: zuya luluh juga🤭
total 1 replies
syora
berasa berdampingan dg athar versi abidzar❤❤❤❤❤
mereka yg cerita,aku yang masyallah dag dig dug
Fegajon: iya ya🤭 seperti mengulang kisah mereka
total 1 replies
Nifatul Masruro Hikari Masaru
abid jangan bikin jantung zuya copot
Siti Java
up ge dong kk🥰🥰🥰
Fegajon: nanti malam ya😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!