Di usia empat puluh, Antonella pikir hidupnya sudah selesai dikhianati—sampai ia memergoki suaminya sendiri bersama sang sekretaris. Perceraian mengubahnya: dari istri yang patah hati menjadi wanita baru yang tajam, berani, dan tak takut pada siapa pun.
Termasuk pada Don Enrico Costello—mafioso paling ditakuti di seluruh Italia.
Ketika utang judi sang mantan suami membuat putri semata wayangnya terancam, Antonella melakukan hal yang tak pernah berani dilakukan siapa pun: ia menatap langsung mata sang Don dan menawarkan dirinya sebagai gantinya. Seorang guru berusia empat puluh tahun, di tengah dunia penuh darah, senjata, dan kuasa.
Enrico terbiasa ditakuti. Ia tak pernah mencintai, tak pernah tertawa, tak pernah mengizinkan seorang wanita pun terlalu dekat. Tapi wanita satu ini menolak gemetar di hadapannya—malah membuatnya ingin membunuh sekaligus tertawa di saat yang sama. Dan untuk pertama kalinya, es di hati sang Don mulai retak.
Di antara dua bocah lelaki yang haus kasih sayang, musuh yang mengintai dari bayang-bayang, dan gairah yang membakar setiap malam, Antonella menemukan bahwa "dibawa oleh seorang mafioso" mungkin justru awal dari hidup yang selalu ia impikan—dan pertaruhan paling berbahaya yang pernah ia ambil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vlaucia Campos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Ingin Kau Tahu bahwa Kau Milikku!
Antonella
Aku menjemput anak-anak di sekolah sambil terus memikirkan betapa Enrico pasti pernah menderita—dan pasti masih menderita sampai sekarang.
Kujemput mereka, yang datang sambil tersenyum, dan aku sudah amat menyayangi dua bocah ini. Kami pulang. Sebelumnya kutanya Fernando apakah bisa mampir ke drive-thru untuk membeli milkshake, dan ia bilang bisa. Kami senang bukan main—aku juga suka milkshake! Kami membelinya, lalu meminumnya sambil bersorak riang.
Hari ini agak berangin, jadi akhirnya kami bermain petak umpet di dalam rumah. Kami batasi ruangannya, sebab kalau tidak, bisa berhari-hari kami saling mencari.
Kami naik, kumandikan mereka, kami makan malam, main tebak gaya, dan mereka tertawa habis-habisan. Kulihat mereka sudah lelah, jadi kutidurkan mereka.
Aku ke kamarku, mandi, dan saat baru keluar, kudengar suara Enrico yang tak mungkin salah, lalu langkah kaki di tangga. Apakah dia akan menemuiku? Pikiran macam apa itu, Antonella?
Untuk berjaga-jaga, setelah mengoleskan pelembap, kupilih salah satu gaun tidur mini paling seksi yang pernah kubeli.
Enrico
Aku ingin pulang lebih cepat untuk makan malam di rumah, tapi tak sempat. Akhirnya aku makan di kasino. Aku akan mandi dulu, lalu menemui Antonella.
Selepas mandi, kukenakan celana jogger saja, lalu aku pergi ke kamarnya.
Antonella
Malaikat pelindungku, aku tahu kau mendengarku. Bisa-bisanya kausuruh Sang Mahakuasa mengucapkan selamat malam padaku.
Saat itu pintu kamar terbuka dan ia masuk.
Malaikat sayang, kali ini kau cepat sekali—dan wah, wah, kau bahkan mengirimnya tanpa baju. Begini caramu, kau malah menjerumuskanku. Bukannya selamat malam, aku malah ingin menyambutnya dengan "selamat datang".
Enrico
Kubuka pintu kamar tempatnya berada—aku sama sekali tak berniat mengetuk, tak akan pernah! Begitu masuk, aku langsung berhadapan dengan pemandangan luar biasa. Perempuan macam apa ini? Aku akan senang sekali menghukumnya. Ia mengenakan gaun tidur mungil yang membuat sahabatku di bawah sana langsung bereaksi seketika. Artinya, kalaupun tadinya ada peluang ia lolos dariku, sekarang sudah lenyap.
"Kau bisa saja mengetuk dulu sebelum masuk," kata Antonella.
"Tidak," jawabku.
Antonella
Ia berjalan mendekat, menatapku seolah aku mangsa dan ia serigala kelaparan. Astaga, aku sudah tak sabar untuk dilahap.
Ia mengurungku ke dinding, berhenti hanya beberapa sentimeter dariku. Satu lengannya yang berotot terentang penuh dengan telapak tangan menempel di dinding, sementara tangannya yang lain memegang daguku, memaksaku menatapnya. Kulihat api di matanya—api dalam arti yang baik.
"Kau mau apa, Enrico?" tanyaku.
"Don! Antonella, kalau begini terus, terpaksa aku menghukummu," katanya.
"Cuma karena aku memanggilmu Enrico?"
"Kau tahu kau harus memanggilku Don. Tapi malam ini aku ingin kau memanggilku Tuanku."
Aku tersenyum. "Dua hal. Kau belum menjawab pertanyaan pertamaku—kau mau apa di sini? Dan yang kedua, kenapa aku harus memanggilmu Don atau Tuanku?"
Enrico menyunggingkan senyum kecil. "Dua hal. Aku ke sini karena malam ini kau akan jadi milikku, dan kau akan memanggilku seperti yang kuminta—karena kau milikku, Antonella."
Antonella
Ia menarikku kuat-kuat, cukup dengan satu tangan, lalu meremas bokongku dengan keras—bukan untuk menyakiti, melainkan untuk menunjukkan bahwa dialah yang berkuasa. Aku sudah panas, panas sekali.
Enrico
Aku tak suka ciuman, tapi aku ingin—dan akan—menciumnya.
Antonella
Ia menciumku, dan sama sekali tak lembut. Ciuman itu panas dan penuh gairah. Lalu tiba-tiba ia menghentikan ciumannya, melepaskanku.
"Aku ingin lihat apa yang ada di balik gaun tidur ini, Antonella. Buka untukku—dan ini bukan permintaan, ini perintah," katanya.
Aduh, gawat. Pria ini bisa membuatku hancur dengan cara begini. Aku benar-benar hanyut.
"Aku menunggu, Antonella. Tapi kalau kau mau, aku bisa merobek gaun tidur mungil itu dalam sekejap mata," kata Enrico.
Astaga, jangan robek gaun tidur kesukaanku! Lebih baik kulepas sendiri.
Enrico
Ia menurunkan satu tali gaunnya, lalu tali yang satu lagi, dan membiarkan secarik kain kecil itu jatuh ke kakinya. Wah, perempuan yang cantik. Semuanya di tempat yang tepat, dan aku berani bertaruh payudaranya pas benar dalam genggaman tanganku.
"Berputarlah, aku ingin melihatmu seutuhnya," kataku.
"Kau cantik sekali, Antonella—atau lebih tepatnya, Bella. Tapi masih ada secarik kain yang tersisa."
Antonella
Ia melangkah mendekat. Astaga, pria macam apa dia ini... "Ya, mari kita lihat apakah kau senikmat kecantikanmu," katanya, lalu meremas bokongku, menarikku, dan melemparkanku ke ranjang—tanpa kelembutan sedikit pun, tapi dengan cengkeraman yang membuatku benar-benar gila. Pria macam apa ini...
"Ah, Bella-ku, masih ada satu kain yang tersisa. Aku sama sekali tak punya kesabaran," kata Enrico.
Antonella
Ia merobek celana dalamku, dan entah terlempar ke mana. Lalu ia melepas celana panjang dan celana dalamnya sendiri, dan ereksinya terlompat keluar. Wah... apa-apaan itu? Kalau aku dua puluh tahun lebih muda, pasti aku ketakutan.
Enrico tersenyum. "Jangan takut, Bella."
Antonella
Ia menumpukan satu lututnya ke ranjang dan menunduk ke atasku, menciumku sambil turun dengan lidahnya. Salah satu tangannya menyentuh kewanitaanku, dan dengan telapak tangannya ia menggosok klitorisku. Aku mengerang keras.
"Kau tahu, Bella, aku menyetubuhi dengan keras dan tanpa ampun sedikit pun," katanya.
"Aku bercinta, Enrico," balasku.
"Tuanku, Bella." Ia menarikku dan membalikkanku membelakanginya. "Angkat pinggulmu untukku, Bella. Aku ingin menyetubuhimu keras, kuat, dan nikmat."
Antonella
Ia membalikkanku membelakanginya, membuka kedua kakiku, dan memintaku mengangkat pinggul. Aku bisa merasakan kejantanannya yang besar dan keras di mulut kewanitaanku.
"Akan kumasukkan dengan nikmat. Tapi sebelumnya, aku ingin kau bilang, iya, Tuanku," kata Enrico.
Ia menampar bokongku—tak keras sampai menyakiti, tapi cukup untuk memenuhiku dengan gairah—lalu ia menyapukan kejantanannya ke belahanku.
"Katakan, Bella," kata Enrico.
"Iya, Tuanku," ucapku.
"Iya, apa, Bella?"
"Masukkan saja dengan nik—"
Ia menembusku dengan keras. Wah, pria macam apa ini.
"Kau nikmat, Bella. Nikmat sekali," kata Enrico.
"Aku harus menghukummu, Bella-ku. Kau selalu saja lupa memanggilku dengan benar."
Antonella
Ia mulai bergerak perlahan, menyiksaku dengan gerakan-gerakan itu, sementara tangannya membelai payudaraku. Aku meledak oleh gairah. Ia menampar bokongku lagi.
"Perempuan yang menggairahkan. Cukup sudah aku bersikap baik...," kata Enrico.
Antonella
Saat itu ia mulai menghunjamkan kejantanannya yang keras bagai batu dengan kuat dan irama yang menggila. Aku tak tahan, aku akan meledak. Belum pernah aku merasakan gairah sedahsyat ini.
Ia berhenti, tersenyum nakal.
"Sudah kubilang aku harus menghukummu," kata Enrico.
Antonella
Ia membalikkanku menghadapnya, meletakkan kedua kakiku di atas bahunya, lalu menembusku tanpa ampun sedikit pun. Astaga, kurasa aku mengerang terlalu keras... Aku sudah tak tahan lagi dan mencapai orgasme yang luar biasa. Ia terus bergerak dengan irama yang membangkitkan gairahku, dan tak lama kemudian aku merasa—
"Sialan, betapa nikmatnya kau, Bella-ku. Datanglah bersamaku, dasar nakal, ayo," kata Enrico.
Ia mengerang keras.
"Aku keluar, sialan, bangsat, Bella-ku," kata Enrico.
Aku berusaha mencari jiwaku yang hilang entah ke mana di tengah kegilaan ini. Pria macam apa dia ini? Aku ingin sekali dihukum lagi...
Enrico
Perempuan yang menggairahkan! Kali ini berbeda. Ia memberiku kenikmatan luar biasa; kami punya ikatan yang menakutkan. Belum pernah aku merasakan yang seperti ini... Beberapa menit kemudian... aku harus memastikan.
Antonella
Ia berbalik, jatuh menindihku.
"Hukumanmu belum selesai," kata Enrico.
"Semoga lama," jawabku.
Antonella
Dan kami memulainya lagi. Ia sudah keras kembali—dan cengkeraman itu! Setelah kami kelelahan dan ia membuatku mencapai dua orgasme lagi—belum pernah aku merasakan sebanyak ini—aku bahkan sudah siap mati. Aku tak peduli apakah ia akan membunuhku atau tidak. Aku merebahkan diri di dadanya. Nikmat sekali!
Enrico
Tiba-tiba ia datang dan berbaring di dadaku. Sialan, apa-apaan ini? Kenapa dengannya rasanya berbeda? Aku menyukainya, dan aku tak sanggup memintanya menyingkir. Aduh, Bella-ku, kau mengacaukan kepalaku dan hatiku.
"Antonella, aku ingin kau tahu bahwa mulai sekarang kau hanya milikku. Kuharap kau mendengar dan mengerti—bahwa kau milikku... Aku akan sangat membenci kalau harus membunuhmu," kata Enrico.
Ish, ini seksi sekali...
Kami terdiam, menenangkan diri.