NovelToon NovelToon
Bisikan Ghaib

Bisikan Ghaib

Status: tamat
Genre:Horor / Petualangan / Matabatin / Tamat
Popularitas:144.3k
Nilai: 5
Nama Author: cucu@suliani

IG @suliani_cucu

Berawal dari sambaran petir saat mendaki gunung, bertepatan pula dengan terbukanya alam ghaib. Aneska jatuh pingsan karena takut, karena dia terpisah dari rombongannya.

Namun, setelah dia terbangun. Dia begitu kaget karena dia bisa melihat arwah gentayangan, bahkan dia mampu mendengarkan bisikan hati mereka.

Akankah Aneska mampu melawan rasa takutnya?

Yuk kepoin kisahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengetahui Kelakuan Ibu Dewi

Sepertinya selama ini yang tuan Dirgantara hanya mengetahui jika Ibu Dewi adalah sosok wanita yang lembutz pengertian, perhatian dan juga penuh cinta.

Tidak pernah sekalipun Ibu Dewi membentak orang lain, apalagi menyakiti. Hari ini tuan Dirgantara menyaksikan keduanya, Ibu Dewi membentak dan juga mendorong diriku dengan kasar.

Hal itu membuat dia merasa jika dirinya masih belum mengenal Ibu Dewi dengan baik. Tuan Dirgantara seakan menatap Ibu Dewi dengan tatapan penuh kekecewaan.

Alex yang melihatku tersungkur langsung menghampiriku dan membantuku untuk berdiri, sedangkan Mario dan juga Naura nampak menghampiri Ibu Dewi lalu mereka berkata.

"Nyonya ini kenapa sih? Kenapa begitu kasar terhadap Aneska?" protes Mario.

"Iya bener, kalau emang nggak boleh masuk ke situ ngomong aja baik-baik. Ngapain sih pakai berbuat kasar begitu? Udah gitu mukanya kayak orang ketakutan begitu, memangnya apa sih yang disembunyikan di dalam ruangan itu?" tanya Naura menggebu.

Dia terlihat begitu kesal terhadap ibu Dewi, wajah Ibu Dewi terlihat marah sekali. Dia bahkan terlihat menatap kami berempat secara bergantian dengan napas yang tersenggal, seolah ada sesuatu yang akan meledak kapan saja dari dalam tubuh Ibu Dewi.

Dia terlihat menghampiri Naura dan mengayunkan tangannya ke atas, sepertinya dia ingin memukul Naura.

Namun, dengan cepat tuan Dirgantara menghalanginya. Dia terlihat tidak suka dengan apa yang akan dilakukan oleh istrinya tersebut.

"Kamu itu kenapa sih, Sayang? Kenapa kasar sekali terhadap mereka? Beri mereka pengertian saja, tidak usah galak seperti ini. Aku seakan tidak mengenalmu," kata Tuan Dirgantara dengan raut wajah penuh dengan kekecewaan.

"Sayang, tidak seperti itu," rayu Ibu Dewi.

Lalu dia terlihat memeluk tuan Dirgantara, air matanya mengalir dengan deras. Dia seperti sedang bersandiwara, aku muak melihatnya.

Tidak lama kemudian aku mendengar sosok Wira kembali menangis di dalam ruangan tersebut, hatiku terasa ngilu jika mendengar tangisan Wira.

Aku melihat ke arah Ibu Dewi dan juga tuan Dirgantara yang terlihat masih asik berpelukan, dia masih asik menenangkan hati suaminya.

Aku menggunakan hal tersebut untuk segera masuk ke dalam ruangan itu, aku memberikan kode kepada Alex agar aku dan dia bisa masuk ke sana.

Dia sepertinya sangat paham dengan kode yang aku berikan, lalu dengan secepat kilat kami masuk ke dalam ruangan tersebut.

Ibu Dewi tersentak kaget, saat melihat aku dan juga Alex berhasil masuk. Dia terlihat melerai pelukannya dengan tuan Dirgantara lalu mengejar kami.

Tanpa ragu dia langsung menarik tubuhku, aku hampir kembali tersungkur. Namun, Alex menahan kedua tangan Ibu Dewi dengan cepat.

Aku segera menggunakan kesempatan itu untuk mengambil koper yang berada di bawah tumpukan barang-barang bekas, sesuai petunjuk dari Wira.

Tuan Dirgantara hanya menatap bingung dengan apa yang kini tengah kami lakukan, dia bahkan menetap ke arahku dengan Intens. Sepertinya dia ingin tahu, apa yang sebenarnya sedang aku lakukan.

"Dasar sialan! Anak sialan! Jangan sentuh barang itu!" sentak Ibu Dewi seraya meronta-ronta.

Dia berusaha untuk melepaskan diri dari cengkraman tangan Alex. Namun, Alex seolah tidak peduli. Dia justru mengencangkan cengkeraman tangannya.

Alex bertubuh lebih besar dari pada Ibu Dewi, hal itu sangat menguntungkan untukku. Karena dengan seperti itu, Ibu Dewi tidak bisa bergerak.

karena dia merasa tidak bisa melarikan diri dari Alex Ibu Dewi terlihat menatap ke arah Tuan Dirgantara dia memasang wajah

"Sayang, tolong aku. Jangan biarkan dia memperlakukan aku seperti ini," kata Bu Dewi.

Dia terlihat meronta seraya meminta tolong kepada suaminya, tuan Dirgantara. Namun, yang aku lihat tuan Dirgantara hanya diam saja.

Dia seolah sedang menunggu apa yang sebenarnya ingin aku lakukan, setelah aku berhasil menarik koper yang berada di bawah tumpukan barang-barang bekas, aku langsung menggeretnya dengan sekuat tenaga.

Namun, koper itu sangat berat. Akhirnya aku melihat Naura dan Mario yang sejak tadi diam langsung mendekat dan membantuku untuk menarik koper tersebut.

Setalah itu kami menyerahkan koper tersebut kepada tuan Dirgantara, aku seolah berkata bukalah koper ini dengan sorot mataku kepada tuan Dirgantara.

Tuan Dirgantara seolah begitu paham dengan apa yang aku minta. Dia terlihat memaksakan senyumnya, lalu dia menganggukkan kepalanya.

Berbeda dengan Ibu Dewi, melihat tuan Dirgantara yang menunduk seakan ingin membuka koper tersebut, Ibu Dewi terlihat berteriak histeris.

"Jangan, Sayang! Jangan pegang itu, jangan, Sayang. Aku mohon, Yang," kata Ibu Dewi.

Raut wajah tuan Dirgantara terlihat bingung, aku menjadi takut dibuatnya. Aku takut jika pikiran tuan Dirgantara akan berubah.

Aku langsung berlutut di bawah kaki tuan Dirgantara, aku berusaha untuk meyakinkan tuan Dirgantara bahwa dia harus segera membuka koper tersebut.

Aku sangat paham jika Wira begitu tersiksa, dia ingin segera dikebumikan dengan layak. Bukan seperti ini. bahkan tulang-belulangnya malah disembunyikan di dalam koper.

Dengan teganya ibu Dewi juga malah menyembunyikan jenazah Wira di bawah tumpukan barang bekas yang terlihat berkarat dan juga bau.

"Terserah Tuan, mau percaya atau tidak kepadaku. Namun, Wira datang kepadaku. Dia berkata jika dia dibunuh oleh ibu tirinya sendiri, di sinilah mayatnya berada," aku berkata seraya menangis sesenggukkan ketika mengatakan hal itu.

Hatiku merasa sedih sekali, terasa sakit, terasa disayat sembilu saat aku mengingat tangisan Wira yang begitu memilukan.

Tuan Dirgantara terlihat syok saat mendengar apa yang aku katakan, dia terlihat tidak percaya. Namun, dia juga terlihat begitu penasaran.

Dia mencengkeram lembut kedua bahuku, dia seolah berusaha untuk membangunkan diriku. Lalu, tuan Dirgantara berkata.

"Jangan seperti ini, kumohon. Biar aku periksa, aku ingin melihatnya. Aku ingin membuktikannya," kata tuan Dirgantara.

Dengan perlahan dia mulai membuka koper tersebut, sedangkan Ibu Dewi terlihat meronta-ronta. Dia berkata untuk jangan membuka koper itu terus-menerus.

Dia berteriak-teriak histeri seperti orang gila, dia terlihat sangat ketakutan. Tuan Dirgantara terlihat beberapa kali mencoba membuka koper tersebut.

Namun, sepertinya koper itu memakai kode agar kami tidak bisa membukanya. Dari sudut ruangan kulihat Wira menangis darah.

Namun, di bibirnya tersungging sebuah senyuman. Mungkin dia senang karena pada akhirnya jasadnya sudah ditemukan oleh ayah kandungnya.

Aku menangis seraya menatap Wira, tuan Dirgantara yang mendengar tangisanku langsung menolehkan wajahnya ke arahku.

"Ada apa?" tanya Tuan Dirgantara.

"Wira ada di sini, dia sedang menangis," kataku jujur.

Tuan Dirgantara menatap ke arah pojokan ruangan di mana Wira berada, dia menangis. Dia terlihat begitu sedih saat aku mengatakan keberadaan Wira.

"Jika memang kamu ada di sini, Nak. Tolong maafkan, Ayah. Karena Ayah tidak bisa melindungi kamu," kata Tuan Dirgantara.

Setelah mengatakan hal itu, tuan Dirgantara terlihat menghampiri Ibu Dewi, lalu dia mencengkram leher Ibu Dewi dengan kuat.

Wanita itu nampak kaget mendapatkan perlakuan seperti itu dari suaminya, lalu wanita itu berkata dengan sorot mata penuh ketakutan.

"Sayang, ku mohon jangan percaya dengan apa pun yang mereka katakan. Mereka hanya ingin menghancurkan rumah tangga kita," kata Ibu Dewi dengan napas tersenggal karena lehernya tercekik.

Tuan Dirgantara seolah tidak peduli, dia terlihat menatap Ibu Dewi dengan tatapan tajamnya kemudian dia kembali berkata.

"Cepat buka koper sialan itu, kalau tidak jangan salahkan aku jika aku membunuhmu saat ini juga," ancam Tuan Dirgantara.

****

Selamat pagi semuanya, maaf jika lama tidak up. Semoga masih ada yang menunggu kisah ini, happy weekend.

1
kaliaa🐈🐈‍⬛👯
thor masii gantung, harusnya sampe mereka nikah dan punya 100 anak😈😈😈😈seruu banget, ga sia sia maraton dari subuh sampe akhir🤣lovv lovvv
Cucu Suliani: ini kan genre remaja🤣
total 1 replies
kaliaa🐈🐈‍⬛👯
Thor seremmm
kaliaa🐈🐈‍⬛👯
huuuu Alex💔💔💔💔jangan nyerah pls nanti si donat tambah liar😭💔
kaliaa🐈🐈‍⬛👯
hiii si donat moncong nya harus di tarik, ga banget
kaliaa🐈🐈‍⬛👯
alex mulai ugal ugalan, lucu bngt🤣 kita kerjain lex si donat itu😈😈
kaliaa🐈🐈‍⬛👯
awas aja si donat donat itu jadi pelakor 😡
kaliaa🐈🐈‍⬛👯
ihh risih bngt, sini itu siapa namanya lupa, aku seret terus aku masukin ke kandang embe biar di seruduk
kaliaa🐈🐈‍⬛👯
hiiih pelakor 😡
kaliaa🐈🐈‍⬛👯
hooo pinter slex ini🌹
kaliaa🐈🐈‍⬛👯
seru banget keluarga anes, huhuhu..rada iri tapi okla🌹🌹🌹
kaliaa🐈🐈‍⬛👯
lucu bngt bonyok 🤣bokap nyokap
kaliaa🐈🐈‍⬛👯
mau mau mau mau mau😈😈😈🌹🌹🌹🌹🌹🌹
kaliaa🐈🐈‍⬛👯
tambah seru bngt, aku baca sambil makan roti bakar nih thor, enaknya novel udah tamat, jadi bisa baca langsung🤤
kaliaa🐈🐈‍⬛👯
seruuuu
kaliaa🐈🐈‍⬛👯
hii kasiannya thor 💔💔sakit hati aku
kaliaa🐈🐈‍⬛👯
aku suka nih yang novel gini, horor tapi gak yang horor horor bngt, tapi horor juga, terus banyak petualangan nya kaya misi misi😎😎keren thor
kaliaa🐈🐈‍⬛👯
naura❣️mario
anes❣️alex
kaliaa🐈🐈‍⬛👯
deg degan
kaliaa🐈🐈‍⬛👯
moto nya pake apa thor, kan hp nya pura pura gaada🤣 apa bawa kamera ya..
kaliaa🐈🐈‍⬛👯
visual nya udah lama banget tahun 2022, aku ngehayal sendiri ya🙈
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!