Senja, seorang Arsitek berbakat dengan karier gemilang di Bali, memilih melepaskan proyektor dan penggarisnya demi sebuah janji suci. Ia jatuh cinta pada Rangga, mantan pengamen jalanan yang ia temui di tikungan parkir kantornya.
Demi "merajakan" sang suami, Senja resign dari firma arsitek, menguras tabungan untuk memodali karier Rangga menjadi DJ, hingga rela belajar memasak demi memanjakan lidah suaminya. Bagi Senja, rumah pribadinya adalah istana tempat ia mengabdi sepenuhnya.
Namun, saat Rangga mulai sukses dan dipuja banyak orang, dia lupa siapa yang membangun panggungnya. Rumah hanya dijadikan tempat "numpang makan" dan ganti baju, sementara hatinya jajan di kamar hotel setiap luar kota.
Senja tidak akan menangis bombay. Jika Rangga hanya butuh pelayanan gratis tanpa kesetiaan, dia salah alamat. Senja siap menendang benalu itu dari rumahnya!
"Aku istrimu, Mas. Bukan Warteg tempatmu numpang makan saat lapar, lalu kau tinggalkan setelah kenyang!"
Jam update:07:00-12:00-20:00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: Sketsa yang Berbeda
Sore itu, Jakarta sedang tidak bersahabat. Langit mendung menggantung rendah di atas gedung-gedung pencakar langit kawasan SCBD, dan rintik hujan mulai membasahi aspal.
Senja Amara baru saja keluar dari lobi kantornya. Pikirannya sedang semrawut, persis seperti beberapa tahun lalu di Bali.
Ia baru saja menyelesaikan revisi maket yang sangat melelahkan dan harus segera mengejar janji temu lain.
Senja masuk ke dalam SUV putihnya—mobil yang jauh lebih mewah dari mobil sewaan yang ia pakai di Denpasar dulu. Ia menyalakan mesin, pikirannya melayang pada detail plafon dan material marmer untuk proyek Artha Group. Ia melirik jam di dasbor: 17.45.
Ia terburu-buru.
Saat hendak membelok keluar dari pelataran parkir eksklusif itu, pandangannya terhalang oleh pilar beton besar. Karena terburu-buru, ia mengambil tikungan terlalu tajam.
BRAKK!
Bunyi benturan itu tidak nyaring, tapi guncangannya membuat jantung Senja berdegup kencang. Ia segera menginjak rem.
Dejavu.
Suasana ini... guncangan ini... rasa takut yang mendadak muncul di dadanya... semuanya persis seperti kejadian di pelataran parkir kantornya di Denpasar dulu. Senja menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan tangannya yang mulai gemetar. Ia tidak boleh jatuh ke lubang yang sama.
Senja mematikan mesin dan keluar dari mobil. Di sana, di balik pilar, seorang pria berompi petugas parkir sedang tersungkur di aspal. Sebuah motor matic roboh di sampingnya. Pria itu memegangi lututnya yang tampak berdarah.
Senja mendekat, namun langkahnya tidak lagi panik. Ia berdiri dengan tegak, sekitar dua meter dari pria itu.
"Mas, nggak apa-apa?" tanya Senja. Suaranya tenang, stabil, tanpa nada histeris.
Pria itu mendongak. Wajahnya mengernyit menahan perih, tapi kemudian ia justru terkekeh pelan.
"Aduh, Mbak... lain kali kalau bawa mobil jangan sambil mikirin utang ya? Kasihan aspalnya, jadi kena darah saya," ucap pria itu dengan logat Jawa yang kental.
Senja tertegun. Kalimat itu. Kalimat yang sama persis dengan yang diucapkan Rangga enam tahun lalu. Kalimat yang dulu dianggapnya "renyah dan menghibur", kini terdengar seperti alarm bahaya di telinganya.
Ia teringat betapa dulu ia merasa pria ini punya "struktur" yang aneh dan hangat. Sekarang, Senja tahu itu bukan struktur, melainkan skenario untuk memancing empati wanita yang sedang merasa bersalah.
"Sini, Mbak bantu saya berdiri," pemuda itu menawarkan tangannya, mencoba meraih bantuan Senja agar Senja mendekat.
Senja tetap berdiri di tempatnya. Ia tidak mengulurkan tangan.
"Maaf, Mas. Saya akan panggilkan satpam gedung dan tim medis kantor untuk membantu Mas berdiri dan mengobati luka itu. Saya tidak ahli dalam medis, takutnya salah penanganan," jawab Senja dengan nada formal yang sangat dingin.
"Eh, nggak usah Mbak. Cuma lecet dikit, biasa ini buat tukang parkir serabutan kayak saya. Mbak mending buru-buru berangkat, kayaknya Mbak sudah ditungguin urusan penting," ucap pemuda itu lagi, mencoba meniru pola "heroik" yang dulu membuat Senja jatuh hati pada Rangga.
Senja tidak lagi terpaku. Ia tidak lagi melihat "kehangatan" atau "perasaan aman". Ia melihat seorang pria yang sedang mencoba memerankan peran "korban yang baik hati".
Senja membuka tas tangannya yang elegan. Ia mengeluarkan dompet, mengambil tiga lembar uang seratus ribuan, dan meletakkannya di atas jok motor pria itu yang masih roboh.
"Ini uang untuk pengobatan dan kerugian waktu kamu. Saya sudah mencatat nomor plat motor ini. Jika ada kerusakan mesin dan pemiliknya meminta ganti rugi lebih, silakan hubungi nomor pengelola gedung di kartu ini, saya sudah mengasuransikan segala risiko di area parkir ini," ucap Senja sambil meletakkan kartu nama kantornya (bukan nomor pribadi).
"Mbak... kok gitu? Kita makan bareng yuk di balik tembok sana, biar adem? Saya juga belum makan dari siang," pemuda itu mencoba jurus terakhir, jurus "koneksi perantau" yang dulu membuat Senja rela duduk di trotoar mengabaikan rok mahalnya.
Senja menatap pemuda itu dengan tatapan yang tajam, seolah sedang melakukan audit pada sebuah bangunan yang cacat.
"Mas, saya bukan lagi wanita yang sedang kesepian di tanah rantau. Saya sudah tahu rasanya luka, dan saya sudah tahu cara mengobatinya sendiri tanpa perlu bantuan orang asing di parkiran," suara Senja terdengar sangat rendah namun berwibawa.
"Gunakan uang itu untuk makan dan berobat. Jangan berharap lebih dari sebuah ketidaksengajaan."
Senja berbalik, masuk ke dalam mobilnya, dan mengunci pintu. Ia menyandarkan kepalanya di kursi kulit yang empuk. Ia melihat dari kaca spion, pemuda itu langsung berdiri dengan lincah (ternyata lukanya tidak separah aktingnya) dan menyambar uang itu dengan senyum lebar.
Senja tersenyum tipis. Sebuah senyum yang penuh dengan kelegaan.
"Ya... harusnya dulu di Bali aku melakukan ini, Rangga," gumam Senja pada dirinya sendiri.
"Hanya memberi bantuan sewajarnya, tetap profesional, dan tidak membiarkan 'benalu' masuk ke dalam rumah yang sedang aku bangun."
Ia teringat betapa dulu ia menganggap Rangga adalah "ruangan kosong yang perlu ditata". Sekarang ia sadar, beberapa ruangan memang sengaja dibiarkan kosong karena pondasinya memang tidak layak untuk dibangun apa pun.
Senja menyalakan mesin mobilnya. Ia merasa sangat merdeka. Kejadian ini bukan lagi awal dari sebuah "desain hidup yang salah", melainkan ujian akhir yang membuktikan bahwa Senja sudah lulus dengan nilai sempurna. Ia tidak lagi membangun rumah di atas tanah yang labil.
"Terima kasih untuk pelajarannya, Rangga," bisik Senja saat mobilnya melaju keluar dari pelataran parkir. "Berkat kamu, aku jadi arsitek yang paling tahu kapan harus membangun tembok, dan kapan harus membuka pintu."
...----------------...
Malam itu, Senja tidak lagi mampir ke apotek untuk membeli plester atau nasi kotak untuk orang asing.
Ia justru melajukan mobilnya menuju restoran mewah untuk memenuhi undangan makan malam Aditya. Ia tidak lagi mencari "kehangatan di trotoar", karena ia sudah memiliki cahaya sendiri di dalam dirinya.
ksh pelajaran aja buat rangga
dh stadium akut😭
saking bucinnya ke mas dj dj
wkwk doni mulutnya minta disambelin🤣
wwk jdi gembel lg kamu😆
kasian senja😭