Xavier Rey Lergan hidup dalam sangkar steril akibat dirinya yang mengidap Myshopobia, hingga orang tuanya nekat menjodohkannya dengan Nara, seorang single mom. Pernikahan ini menjadi medan tempur antara si perfeksionis dan wanita tangguh yang tak mau diatur.
"Nara, sudah kubilang jangan diletakkan di sini!" bentak Xavier saat melihat barang berserakan.
"Diam Tuan Bakteri! Ini kamarku, keluar! Kamu kan belok!" balas Nara sengit.
"Aku hanya anti bakteri, bukan anti wanita!" seru Xavier tak terima.
Di tengah pertikaian, hadir Raya seorang putri kecil Nara yang polos. "Papa Laya balu cekalang! Halusnya dali dulu mama cali Papa balu, kenapa balu cekalang? Papa lama, buang aja ke celokan!" ucapnya menggemaskan.
Akankah kesterilan Xavier runtuh oleh kehangatan keluarga kecil ini, ataukah perbedaan prinsip tentang kebersihan akan memisahkan mereka selamanya?
"Bagaimana bisa aku menikahimu, sementara aku tak suka bekas orang lain?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pendekatan Calon Pasangan
"Pamit ya Bunda, Nara mau jemput Raya dulu di sekolah," ucap Nara dengan nada sopan saat mereka berdiri di lobi butik yang mewah itu. Matahari mulai terik, memberikan suasana panas menyengat.
Raisa, yang sedari tadi memperhatikan interaksi antara putra sulungnya dan calon menantunya, seketika membulatkan matanya. Sebuah ide cemerlang sekaligus nakal melintas di benaknya. "Jemput Raya? Oh, kalau begitu sekalian saja sama Xavier ya! Dia juga mau keluar untuk urusan kantor," cetus Raisa dengan nada yang tidak bisa dibantah.
Nara mengerutkan kening, merasa tidak enak hati sekaligus canggung. "Eh, tapi Nara bawa mobil sendiri, Bunda," jawab Nara bingung. Ia tahu betul bagaimana ekspresi Xavier sejak tadi, pria itu seolah ingin menjauh sejauh mungkin dari jangkauan fisiknya.
Xavier, yang berdiri tak jauh dari sana, sudah membelalakkan mata dengan ekspresi protes yang sangat kentara. Bibirnya sudah terbuka ingin melayangkan keberatan, namun Raisa dengan cekatan mengabaikannya. Sang Bunda tetap menatap calon menantunya itu sambil memegang kedua tangan Nara dengan lembut, mencoba memberikan kehangatan yang tulus.
"Mobil kamu simpan di sini saja dulu, Nara. Nanti sopir Ayah yang bantu antarkan ke rumahmu sore nanti. Hitung-hitung, ini kesempatan bagus untuk pendekatan antara Raya dengan ayah barunya. Mau ya, Sayang?" bujuk Raisa dengan tatapan memohon yang meluluhkan.
"Bundaaa ...," Xavier akhirnya bersuara, nadanya merintih penuh tekanan. Ia tak bisa membayangkan harus berbagi ruang tertutup atau sebuah mobil dengan wanita yang menurutnya asing dan belum terverifikasi kesterilannya. Bukan apa-apa, Xavier sangat cemas jika Nara tidak memahami kondisinya yang mengidap mysophobia akut.
"Protes saja terus kamu ini ya, Xavier! Sudah, nurut sebentar kenapa sih? Kamu ini sama saja seperti Ayahmu, ngeyelnya minta ampun kalau dikasih tahu. Kenapa para pria di rumah ini selalu saja keras kepala?" gerutu Raisa kesal sambil berkacak pinggang, membuat Xavier hanya mampu mengerucutkan bibirnya pasrah. Ia tahu, melawan Raisa adalah misi mencari masalah.
Raisa kembali tersenyum pada Nara yang sedang menahan tawa di balik telapak tangannya. Bagi Nara, wajah Xavier yang sedang diomeli bundanya itu terlihat sangat lucu, sosok CEO yang dingin dan ditakuti kini tampak seperti remaja yang sedang dihukum.
"Ah iya, Sayang. Ayo masuk ke mobil. Bunda sebentar lagi juga dijemput Ayahmu. Kalian, pergilah dulu sebelum jam pulang sekolah makin ramai," ucap Raisa sambil melambai kecil.
Nara akhirnya menurut dengan perasaan campur aduk. Ia melangkah mengikuti Xavier menuju sebuah mobil sedan hitam yang mengkilap sempurna, saking bersihnya hingga permukaan cat mobil itu bisa digunakan untuk bercermin. Nara hendak membuka pintu penumpang depan, namun suara Xavier yang tajam menghentikannya seketika.
"Eh, nanti dulu! Jangan masuk dulu!" seru Xavier.
Nara menghentikan gerakannya, menoleh dengan kening berkerut. "Apalagi?" geram Nara, kesabarannya mulai menipis menghadapi tingkah pria ini.
Tiba-tiba, Xavier mengeluarkan botol hand sanitizer dari saku celananya dengan gerakan cekatan. "Mana tanganmu," ucap Xavier datar tanpa ekspresi.
Daripada memperpanjang perdebatan di depan teras butik, Nara akhirnya menyerahkan kedua tangannya dengan malas. Xavier menyemprotkan cairan dingin itu dengan jumlah yang lebih dari cukup ke telapak tangan Nara. Belum sempat Nara memprotes, Xavier mengambil botol disinfektan semprot dari kantong di pintu mobil dan menyemprotkan cairan itu ke seluruh tubuh Nara, dari bahu hingga ujung kaki.
Raisa, yang masih mengawasi dari kejauhan, syok bukan main melihat kelakuan putranya yang kelewat batas. "Xavier! Apa-apaan kamu!" tegur Raisa dengan mata membulat sempurna, khawatir Nara akan sakit hati.
Namun sebaliknya, Nara justru tidak menangis. Wanita itu justru menatap tajam pada Xavier dengan emosi yang menggebu-gebu di matanya. "Kamu pikir aku ini k0l0ni bakteri yang sedang bermigrasi?!"
"Anggap saja begitu untuk sementara," desis Xavier dingin sebelum masuk ke dalam mobilnya tanpa salah, meninggalkan Nara yang mel0ng0 tak percaya di luar.
"Bunda ...," Nara menatap Raisa dengan tatapan protes yang sangat dalam. Raisa hanya bisa terkekeh getir, seolah sedang menonton sebuah drama komedi yang tragis.
"Masuklah, Sayang. Maafkan keg1laan Xavier ya. Dia hanya ... terlalu berhati-hati," ucap Raisa menenangkan. Dengan perasaan terpaksa yang luar biasa, Nara akhirnya masuk ke dalam mobil Xavier. Begitu pintu tertutup, aroma antiseptik yang sangat menyengat langsung memenuhi indra penc1umannya. Seluruh isi mobil tampak begitu kinclong, tidak ada satu butir debu pun di atas dashboard.
.
.
.
.
Mobil pun melaju pergi dengan kecepatan sedang. Untuk sesaat, keadaan di dalam kabin menjadi hening yang mencekam. Hanya suara mesin mobil yang halus yang terdengar, sampai akhirnya Nara memecah kesunyian.
"Nanti di depan belok kanan, jangan lurus," ucap Nara pelan.
"Kenapa? Lewat lurus jalannya lebih lebar dan aspalnya lebih bagus," tanya Xavier bingung tanpa menoleh.
"Ada polisi di depan sana. Sedang ada razia besar-besaran," jawab Nara singkat.
"Teruuuus? Apa hubungannya denganku?" balas Xavier dengan nada yang ditekan, merasa Nara terlalu ikut campur dengan cara mengemudinya.
"Nanti kamu ditilang," ucap Nara dingin yang membuat Xavier mel0ng0 sejenak.
"Kenapa harus ditilang? Kamu pikir aku begaaal?Mobilku bukan milik curian, surat-suratku lengkap, aku punya surat izin mengemudi yang masih berlaku, aku ...,"
"Tapi kamu tidak berakal!" seru Nara kesal, memotong ucapan Xavier dengan telak.
"Heuh? Apa maksudmu?" Xavier merasa harga dirinya tersinggung sebagai lulusan terbaik universitas ternama.
Xavier....saatnya kamu beraksi.....🤭🤭🤭🤭🤭