JANGAN LUPA UNTUK SELALU MEMBERIKAN DUKUNGANNYA YA...!!!
Lin Yao seorang blogger makanan didunia modern Time Travel kenegeri kuno, menjadi seorang wanita muda miskin.
Berawal hanya dengan sebuah sendok, ia menghasilkan uang sepenuhnya melalui Hobby & kecerdasannya dalam makanan.
Lin Yao memanfaatkan keterampilan memasaknya untuk bisa bertahan bertahan hidup didunia yang baru ia pijaki.
Bukan cuma untuk dirinya seorang, tapi juga bagi keluarganya.
Bagaimana kah kisah perjalan Lin Yao diDunia kuno...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
"Tuan, bisakah kau memberikan aku diskon..?"
Suara familiar tertangkap diindra pendengaran Lin Yao.
"Aku membeli tiga puluh mangkuk mie daging kali ini, bagaimana kalau tiga ratus lima puluh wen..?"
Lin Yao mendongak, pemuda itu lagi. Xu Fang Zhi, seorang cendikiawan jangkung dan kekar yang membeli panekuk terakhir kali.
Pemuda itu mengikuti pemilik tempat berkeliling dengan terus menawar harga.
Sangat lucu sekali tingkahnya.
Akhirnya, pemilik kedai yang merasa kesal, memberinya diskon sepuluh wen.
Barulah Xu Fang Zhi berhenti merengek, membayar lalu pergi dengan senyum penuh kepuasan.
Tak lama, giliran tiga saudara yang meninggalkan warung bakmie itu.
Tujuan mereka selanjutnya adalah bengkel pandai besi.
Pandangan Lin Yao menyapu sekeliling ruangan yang dipenuhi aroma arang dan logam.
Iris mata Lin Yao berhenti pada tumpukan piring besi yang tersusun rapi dirak kayu kokoh.
Kala pemilik tempat menghampiri, bertanya apa yang mereka cari. Yao menjawab dengan lugas jika ingin memesan teppanyaki.
Tetapi si pandai besi tak memiliki model wajan yang dimaksud oleh Yao, membuat bahkan melihat pun belum.
Oleh sebab itu Lin Yao hanya bisa menjelaskan struktur piringan besi modern kepada pandai besi tersebut.
"Tuan, aku ingin wajan besi sebesar ini dan sedalam ini." sambil berbicara Yao memberi isyarat dengan tangannya.
"Tepinya harus sedikit lebih tinggi, piringan besi harus dibuat rata, dan permukaannya wajib halus datar."
Pandai besi itu mendongak, menatap Lin Yao dengan penuh keraguan "Nona, mengapa kau membuat panci yang dangkal seperti ini..? memangnya kau mau memakainya untuk memasak apa..?"
"Tuan, kami sekeluarga sangat menyukai panekuk, akan terlalu merepotkan jika membuatnya dengan memakai panci biasa. Kalau yang semacam Ini lebih praktis."
Meski pandai besi itu bingung. Menurutnya juga amat sangat pemborosan, membuat panci khusus cuma untuk mengolah pancake. Tapi ini adalah transaksi, selama ia bisa menghasilkan uang yang lainnya ia tak perduli.
"Oke, kembalilah dalam dua hari untuk mengambilnya." kata pemilik tempat menaruh kertas sketsa bergambar wajan.
"Totalnya dua ratus delapan puluh koin, dan aku ingin kalian membayar uang muka delapan puluh wen."
Saat Lin Shun mengeluarkan kantong uang, jari-jari remaja lelaki itu gemetar tanpa sadar.
Hatinya terasa sakit, melihat uang yang dihasilkan susah payah dengan mudahnya dibelanjakan.
Besi memang sangat mahal dizaman ini, selain itu juga amat langka.
Namun Lin Shun kembali berpikir, piringan lebar ini bukan hanya untuk membuat pancake saja. Pasti adiknya memiliki ide yang lain.
Memang benar yang ada dibenak Lin Shun.
Wajan itu juga bisa digunakan untuk tahu, wonton, telur dadar, mie dan nasi goreng serta masih banyak lagi.
Bisnis pasti akan berkembang pesat dimasa depan, karena banyak pilihan menu makanan.
Ini adalah investasikan jangka panjang yang menguntungkan.
Lin Shun memberikan uang pembayaran lunas kepada pemilik tempat.
Setelah meninggalkan bengkel pandai besi, mereka bertiga menuju kekios daging Chen.
Dilapak daging Chen, Lin Yao dengan cekatan memilih sepotong besar lemak babi putih mengkilap.
Melihat perut babi segar diatas meja, dan mengingat jika mereka kekurangan gizi. Lin Yao pun berniat untuk membelinya sedikit.
"Bisakah paman memotong satu jin saja perut babi ini..?"
"Jika nona mau, cukup bayar tiga wen per jin."
Dengan tak tahu malu Lin Yao pun menerima kebaikan pemilik lapak.
Diera ini belum ada yang tahu metode membersihkan perut babi agar tidak amis dan berbau busuk. Makanya perut babi tak memiliki nilai jual.
Sama seperti jerohan, kecuali jeroan harimau yang pasti akan laku keras meski aromanya lebih tajam.
Namun bagi kaum miskin terkadang mereka masih mau membeli jeroan karena harganya sangat murah.
Namun Lin Yao tentu tahu caranya, karena ia berasal dari abad modern yang telah mempelajari banyak hal.
Lagi, mata Yao tergoda dengan tulang besar dipojokan meja. Ini sangat cocok untuk membuat sup rebusan atau bubur. Sumsumnya yang direndam dalam kaldu pasti akan sangat lezat.
"Paman Chen, berapa harga tulang ini..?" tanya Lin Yao.
"Dua wen per buah."
"Tolong berikan kami tiga tulang saja paman."
"Oke....!"
Saat mereka hendak membayar, Lin Yao melihat sebuah ember besar berisi jeroan babi disamping paman Chen.
Matanya berbinar terang "paman, aku akan membeli semua jeroan babi ini."
Lin Shun segera meraih lengan sang adik wajahnya berkerut khawatir.
"Yao'er, jika kau ingin daging, aku akan membelikannya untukmu. Jeroan babi ini kotor dan bau, sangat merepotkan untuk membersihkannya. Jadi pilih saja daging mana kau inginkan."
Namun saat itu, pikiran Lin Yao dipenuhi dengan bayangan olahan usus dan paru babi rebus.
Meskipun ia baru beberapa hari berada didunia ini, Yao merasa telah lama tidak menikmati hidangan lezat itu. Hanya dengan memikirkannya saja sudah membuat air liurnya nyaris menetes.
Lin Yao bertekad tetap ingin membeli semua jeroan babi hari ini "Kakak, aku bisa membersihkannya dengan benar. Masakan yang kubuat nanti pasti enak, percayalah padaku."
Lin Shun tidak bisa membujuknya, jadi ia cuma bisa pasrah saja.
Jeroan dan perut babi hanya dihargai satu wen untuk tiga jin.
Sangat amat murah sekali.
Kuah rebusan tidak bisa dibuat tanpa berbagai rempah-rempah, jadi Lin Yao mengajak kakak dan adik laki-lakinya kekios bumbu dan toko obat herbal.
Bintang adas, daun salam, cengkeh-----
Lin Yao berlarian kebeberapa tempat sebelum akhirnya kebeli semuanya.
Garam dan gula juga dibeli dalam jumlah banyak. Mumpung mereka memiliki uang lebih kali ini.
Dari semua belanjaan, mereka menghabiskan satu tahil enam ratus delapan puluh wen.
Lin Yao kontan membaca matera dalam hati "Kau tak bisa menangkap serigala tanpa mempertaruhkan keberuntunganmu. Uang datang, uang datang dari segala arah."
Mereka bertiga pulang dengan membawa keranjang besar dan kecil yang penuh terisi.
Untuk stok bahan pangan mereka akan membelinya besok setelah berjualan.
Menuju pulang Lin Song berjalan didepan dengan masih memegang patung gula yang sesekali ia jilati.
Saat mereka melewati pohon akasia tua dipintu masuk desa, beberapa bibi sedang mengobrol.
Melihat keranjang dipunggung tiga saudara terisi penuh, mata para bibi itu berbinar rakus. Sapaan ramah penuh kehangatan tiga saudara dapatkan.
"Shun-ge, Yao-ya, banyak sekali barang yang kalian bawa..?"
Sebelum Lin Shun sempat berbicara, Lin Yao sudah berkata lebih dulu sembari menyematkan senyuman manis.
"Bibi, guci beras dirumah sudah lama kosong, kami hanya makan sup sayur liar hambar setiap hari. Beruntung kemarin kakakku mendapatkan buruan, jadi kami akan mengisi ulangnya sekarang."
Mendengar ini, para bibi tidak bertanya lebih lanjut.
Setelah bertukar beberapa kata, para bibi itu kembali keurusan masing-masing.
Lin Yao diam-diam menghela napas lega, lalu berpamitan guna melanjutkan perjalanan.
Kau tak bisa menilai buku dari sampulnya, dan menyembunyikan kekayaan adalah pendekatan yang paling aman.
semangat trs updatenyaaa 💪