Menjadi orang asing adalah satu-satunya cara kita bisa bekerja sama tanpa harus saling menghancurkan lagi."
Lima tahun lalu, Maya pergi membawa luka yang tidak sempat ia jelaskan. Ia mengira waktu dan jarak akan menghapus segalanya. Namun, takdir memiliki selera humor yang pahit. Maya dipaksa kembali ke hadapan Arlan Dirgantara—pria yang kini menjadi sosok dingin, berkuasa, dan penuh kebencian.
Arlan bukan lagi pria hangat yang dulu ia cintai. Arlan yang sekarang adalah klien sekaligus "penjara" bagi karier Maya. Arlan menuntut profesionalisme, namun tatapannya masih menyimpan bara dendam yang menolak padam.
Di tengah proyek renovasi rumah tua yang penuh kenangan, mereka terjebak dalam permainan pura-pura. Berpura-pura tidak kenal, berpura-pura tidak peduli, dan berpura-pura bahwa getaran di antara mereka sudah mati.
Mampukah mereka tetap menjadi asing saat setiap sudut ruangan mengingatkan mereka pada janji yang pernah terucap? Ataukah kembali mengenal satu sama lain justru akan membu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Transformasi Sang Arsitek
Suasana di pinggir sungai Dago itu terasa membeku. Suara gemericik air yang biasanya menenangkan, kini terdengar seperti iringan musik kematian. Arlan berlutut di atas tanah yang basah, tangan kirinya menekan luka tembak di bahu kanan yang terus mengucurkan darah segar.
Siska berdiri sepuluh meter di depan mereka. Wajah yang biasanya ramah dan sering membawakan kopi untuk Maya itu kini tampak seperti topeng porselen yang dingin. Moncong senapan runduknya tidak goyah sedikit pun, tertuju tepat ke dada Arlan.
"Mbak Maya, tolong jangan buat ini jadi lebih sulit," suara Siska tetap lembut, dan itulah yang membuatnya terdengar sangat mengerikan. "Serahkan koper hitam itu, dan saya pastikan Arlan dapat bantuan medis. Tapi kalau Mbak tetap keras kepala... Mas Arlan nggak akan punya waktu sampai fajar."
"Siska... kenapa?" bisik Maya. Suaranya pecah. "Aku sudah menganggapmu seperti adik sendiri."
"Karena loyalitas nggak bisa dibeli dengan gaji bulanan, Mbak," sahut Siska tanpa ekspresi. "Organisasi The Chrysanthemum memberiku tujuan hidup yang lebih besar daripada sekadar menjadi asisten desainer."
Arlan terbatuk, darah merembes dari sela bibirnya. "Jangan... May... jangan kasih mereka apa pun..."
Maya menatap Arlan, lalu menatap perutnya sendiri. Ia teringat janin yang ada di rahimnya. Jika Arlan mati di sini, ia dan anaknya akan menjadi sasaran empuk. Ia harus bertindak. Sekarang.
Maya merogoh saku jaketnya, tapi bukan koper yang ia keluarkan. Ia mengeluarkan sebuah kaleng kecil—semprotan cat yang tadi ia gunakan untuk menandai detail renovasi di gudang bawah tanah.
"Kamu mau koper ini, Siska?" Maya mengangkat koper hitam itu tinggi-alih. "Kemari dan ambil sendiri. Tapi lepaskan Arlan!"
Siska menyipitkan mata. Ia menurunkan sedikit senjatanya, merasa di atas angin karena Maya tampak seperti wanita yang putus asa. Saat Siska melangkah maju satu tindak, Maya melakukan sesuatu yang tak terduga.
Ia tidak melempar kopernya. Maya justru melemparkan kaleng cat itu tepat ke arah lampu sorot jeep Yudha yang sedang menyala.
Brak!
Bersamaan dengan itu, Maya menekan pemantik api darurat yang ia genggam di tangan kiri. Kaleng cat itu meledak kecil menciptakan kilatan api dan asap pekat yang menyilaukan mata Siska yang sedang fokus pada bidikan.
"Yudha, SEKARANG!" teriak Maya.
Yudha, yang sejak tadi menunggu aba-aba, langsung menekan gas mobil jeep-nya. Suara raungan mesin memecah kesunyian. Di saat Siska terdistraksi oleh asap, Arlan dengan sisa tenaganya melakukan gerakan berguling ke samping, menjatuhkan tubuhnya ke balik batu besar.
Maya tidak lari. Dengan keberanian yang muncul dari rasa takut yang luar biasa, ia mengambil sebuah besi tuas ban yang tergeletak di lantai mobil dan menghantamkan tangannya ke arah Siska yang mencoba membidik kembali.
Klang!
Senjata Siska terlempar. Siska terkejut melihat Maya yang biasanya lembut kini menerjangnya seperti macan betina yang melindungi sarangnya. Mereka bergulat di atas tanah berlumpur. Siska mencoba meraih pisau di sepatunya, tapi Maya menekan lengan Siska dengan lututnya.
"Kamu salah menilaiku, Siska!" geram Maya. "Aku mungkin desainer interior, tapi aku tahu cara menghancurkan sesuatu dari dalam!"
Maya menghantamkan kepalanya ke dahi Siska. Jedukk! Siska terhuyung lemas. Di saat itulah, Yudha sampai di samping mereka dan langsung melumpuhkan Siska dengan satu pukulan telak.
"Cepat, Mbak! Bawa Bos ke dalam mobil!" Yudha membantu Arlan berdiri.
Maya memapah Arlan dengan sisa tenaganya. Bahu Arlan terasa sangat berat, tapi Maya tidak peduli. Ia mendorong Arlan masuk ke kursi belakang, lalu ia sendiri duduk di sampingnya, memangku kepala Arlan yang mulai pucat.
"Jalan, Yudha! Ke rumah persembunyian di Lembang!" perintah Maya.
Mobil jeep itu melesat membelah hutan, meninggalkan Siska yang tergeletak pingsan dan rumah Dago yang mungkin sekarang sudah rata dengan tanah.
Di dalam mobil yang berguncang, Maya merobek bagian bawah gaunnya untuk membebat luka Arlan. Tangannya bersimbah darah suaminya sendiri, tapi matanya tidak lagi mengeluarkan air mata.
"Lan, bertahanlah..." bisik Maya sambil mengecup dahi Arlan.
Arlan membuka matanya sedikit, menatap Maya dengan rasa bangga sekaligus ngeri. "Kamu... kamu hebat tadi, May..."
"Tidurlah, Arlan. Mulai sekarang, bukan cuma kamu yang melindungiku," ucap Maya dengan nada yang sangat dingin dan dewasa. "Kita akan hancurkan organisasi itu bersama-sama. Sampai ke akar-akarnya."
Maya menoleh ke arah jendela. Di kegelapan malam, ia menyadari satu hal: Maya yang lama, yang hanya memikirkan warna cat dan tekstur kain, sudah mati malam ini. Yang tersisa adalah seorang wanita Dirgantara yang siap membakar dunia demi keluarganya.