"Om Ganteng, kerjanya cuma duduk doang? Kok nggak lari-lari kayak Mami? Om pemalas ya?"
Cayvion Alger, seorang CEO dingin, terkejut saat bocah 4 tahun yang mengatainya "pemalas" ternyata adalah anak kembarnya sendiri—hasil "kesalahan satu malam" empat tahun lalu dengan asisten pribadinya, Hara.
Rahasia ini terbongkar saat Hara terpaksa membawa anak-anaknya ke kantor karena pengasuh sakit.
Demi hak asuh dan citra perusahaan, Cayvion mengajukan pernikahan kontrak dengan syarat dilarang jatuh cinta. Hara menyetujuinya, namun menegaskan bahwa kekuasaan Cayvion sebagai bos tidak berlaku di rumah.
Kini, Cayvion harus menghadapi tantangan baru: mengurus kekacauan anak-anak dan menahan hatinya yang perlahan luluh pada istri kontraknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Market Day & Strategi Marketing
"Sepi banget, Mi... Nggak ada yang beli satu pun."
Elia meletakkan dagunya di atas meja lipat dengan lesu. Di depannya, terhampar dagangan hasil karyanya semalam suntuk: puluhan gelang manik-manik dengan perpaduan warna yang... ajaib. Hijau neon ketemu pink norak, ditambah ungu janda. Bentuknya pun tidak bulat sempurna, melainkan bergelombang seperti jalanan rusak.
"Sabar ya, Sayang. Nanti pasti ada yang beli kok," hibur Hara sambil mengelap keringat di dahi Elia. Hara sendiri kewalahan melayani pelanggan di meja sebelah—meja Elio.
Bisnis Elio laku keras. Dia tidak jualan barang. Dia jualan jasa.
‘Jasa Rakit Robot & Hapus History Youtube di HP Papa Kalian: 15 Ribu Rupiah’, begitu bunyi tulisan di karton yang dipajang Elio.
Antrian bapak-bapak yang menjemput anaknya mengular di depan meja Elio.
"Tolong ya, Dek Elio. Rakitin robot anak Om. Om pusing liat manualnya," keluh salah satu bapak sambil menyodorkan uang.
"Beres. Lima menit jadi," jawab Elio profesional, tangannya cekatan memutar obeng kecil.
Sementara Elio panen cuan, Elia makin merana. Di seberangnya, Lala—saingan Elia di kelas menari—sedang sibuk melayani pembeli Cupcake Unicorn buatannya yang cantik dan mahal.
"Ih, liat deh, gelangnya Elia jelek banget!" seru Lala sengaja dikeraskan, membuat teman-temannya tertawa. "Warnanya norak! Kayak ulat bulu kejepit pintu!"
Bibir Elia bergetar hebat. Matanya mulai berkaca-kaca. Hatinya hancur. Dia sudah capek-capek meronce manik-manik itu sampai jarinya sakit, tapi malah diejek.
"Mami... Elia mau pulang... Elia gagal..." isak Elia, air matanya menetes satu per satu membasahi taplak meja.
Hara baru mau memeluk putrinya untuk menenangkan, ketika sebuah bayangan tinggi menutupi sinar matahari yang menyorot meja mereka.
"Siapa bilang gagal?"
Suara bariton yang berat dan dingin itu membuat suasana di sekitar meja Elia mendadak hening.
Cayvion Alger berdiri di sana. Dia baru saja kabur dari kantor, masih memakai kemeja putih licin dan celana bahan yang harganya bisa buat beli seluruh jajanan di pasar ini. Jas mahalnya disampirkan di lengan.
"Papa!" Elia langsung merentangkan tangan, mengadu. "Lala bilang gelang Elia jelek... Nggak laku..."
Cayvion mengangkat alis tebalnya. Dia menatap tumpukan gelang warna-warni itu. Jujur, dalam hati Cayvion mengakui desainnya memang bencana visual. Tapi, tidak ada yang boleh menghina produk keluarganya.
"Hapus air matamu, Elia," kata Cayvion tenang, mengambil tisu dari saku celana dan mengusap pipi gembil putrinya. "Seorang pebisnis tidak menangis saat produknya belum laku. Dia ganti strategi marketing."
Cayvion meletakkan tas kerjanya di rumput, lalu mulai menggulung lengan kemeja putihnya sampai siku, memperlihatkan lengan yang berotot dan jam tangan mewah yang berkilau.
"Hara, minggir sebentar. Kamu urus Elio. Biar ahli yang menangani krisis ini," perintah Cayvion.
Hara mundur selangkah sambil melipat tangan di dada, menahan senyum geli. "Silakan, Pak CEO. Tunjukkan magis Bapak."
Cayvion berdiri di belakang meja kecil Elia. Dia mengambil salah satu gelang paling norak—warna oranye campur biru elektrik—lalu dengan percaya diri memakainya di pergelangan tangannya sendiri, tepat di sebelah jam tangan miliaran rupiahnya.
Kontrasnya luar biasa. Jam tangan Swiss yang elegan bersanding dengan manik-manik plastik pasar gembrong.
"Perhatian Ibu-ibu sekalian!"
Suara Cayvion yang lantang dan berwibawa langsung menarik atensi seluruh populasi emak-emak di area itu. Mereka yang tadinya sibuk beli puding atau ngerumpi, langsung menoleh. Mata mereka berbinar melihat "pemandangan indah" di tengah hari bolong.
"Kalian mencari aksesoris yang beda? Bosan dengan emas dan berlian yang pasaran?" Cayvion mengangkat tangannya tinggi-tinggi, memamerkan gelang buatan Elia di bawah sinar matahari.
"Ini adalah Abstract Art Series, koleksi terbatas dari desainer muda berbakat, Elia Alger. Dibuat handmade dengan filosofi tabrak warna yang berani, melambangkan kebebasan ekspresi wanita modern!"
Cayvion membual dengan wajah serius dan meyakinkan, seolah sedang presentasi peluncuran produk teknologi terbaru di Silicon Valley.
"Gelang ini..." Cayvion menatap ibu-ibu itu dengan tatapan tajam yang mempesona. "...adalah simbol keberanian menabrak aturan fashion. Saya saja pakai. Sangat nyaman, stylish, dan meningkatkan aura percaya diri. Siapa yang mau kembaran dengan saya?"
Keheningan berlangsung satu detik.
Lalu... Kiamat kecil terjadi.
"SAYA MAU, PAK!"
"SAYA DULUAN! SAYA MAU YANG WARNA PINK!"
"PAK CAYVION, SAYA BORONG LIMA KALAU BAPAK YANG PAKAIKAN!"
Gerombolan ibu-ibu sosialita langsung menyerbu meja Elia seperti zombie kelaparan. Mereka tidak peduli bentuk gelangnya. Mereka cuma peduli satu hal: Gelang itu dipromosikan dan dipakai oleh Cayvion Alger.
"Antre! Budayakan antre!" teriak Hara mencoba mengatur lalu lintas yang kacau, sementara Cayvion dengan cekatan melayani transaksi.
"Satu gelang harganya lima puluh ribu," kata Cayvion santai, menaikkan harga seenak jidat dari harga awal lima ribu perak.
"Bungkus, Pak! Kembaliannya ambil aja!" seru seorang ibu sambil melempar uang seratus ribu.
"Elia, masukkan uangnya ke kotak. Senyum ke pelanggan," perintah Cayvion pada putrinya yang kini melongo tak percaya.
Elia sibuk memasukkan lembaran uang biru dan merah ke dalam kotak kaleng bekas biskuitnya. Wajah sedihnya hilang seketika, digantikan senyum lebar pamer gigi. Lala di seberang sana hanya bisa menatap nanar lapaknya yang mendadak sepi karena semua pelanggannya pindah ke meja Elia.
Dalam waktu sepuluh menit, meja Elia bersih. Sold out. Ludes tak bersisa. Bahkan gelang sampel yang dipakai Cayvion pun dibeli paksa oleh seorang ibu yang rela bayar dua ratus ribu demi mendapatkan "bekas keringat" Pak CEO.
"Kita menang telak," bisik Cayvion pada Elia, mengedipkan sebelah mata.
Elia memeluk leher Cayvion erat-erat. "Papa hebat! Papa Salesman paling jago sedunia!"
"Bukan Salesman, Elia. Chief Marketing Officer," koreksi Cayvion, tapi dia membiarkan Elia memeluknya.
"Makasih Papa Sales!"
Cup.
Elia mendaratkan ciuman basah dan lengket di pipi kanan Cayvion. Masalahnya, Elia baru saja menghabiskan permen lolipop warna merah menyala yang dikasih Hara tadi sebagai penghibur.
Sebuah jejak bibir mungil berwarna merah terang tercetak jelas di pipi tirus Cayvion yang bersih.
Cayvion tidak sadar. Dia terlalu sibuk menghitung tumpukan uang di kotak kaleng bersama Elio yang datang untuk minta jatah profit sharing karena dia yang bantu jaga keamanan uangnya.
"Lumayan, Pa. Keuntungannya 900 persen. Papa bakat jadi pedagang asongan," komentar Elio sambil menghitung lembaran uang.
Hara melihat noda merah di pipi suaminya itu. Dia mau memberi tahu, tangannya sudah terulur ingin menghapusnya. Tapi kemudian, ide jahil muncul di kepalanya.
Kapan lagi melihat CEO angkuh ini jalan-jalan dengan cap bibir anak TK di wajahnya?
"Ayo pulang, Pak. Bapak ada rapat evaluasi jam dua kan?" ajak Hara, tersenyum manis, menyembunyikan fakta noda itu.
"Ah, benar. Saya harus kembali ke kantor," Cayvion berdiri, merapikan kemejanya yang kusut ditarik ibu-ibu tadi. Dia merasa bangga hari ini. Misi penyelamatan mental anak sukses, profit didapat.
Dia berjalan menuju mobil dengan langkah tegap, tidak menyadari tatapan geli orang-orang yang berpapasan dengannya. Jejak ciuman Elia di pipinya bersinar terang di bawah matahari, sebuah lencana kehormatan dari "Bos Kecil" yang tak sengaja dia bawa sampai ke ruang rapat direksi nanti sore.
Dan Hara... dia akan membiarkan suaminya menyadari itu sendiri nanti, saat dia melihat wajah para direkturnya menahan tawa.
aku juga suka wanita yg tegas dia tidak ningalin suaminya. tapi memberi pelajaran suaminya.
sukurinn kau cayvion di benci anakan mu sendiri