Sisi Caldwell dipaksa keluarganya mengikuti pesta kencan buta demi menyelamatkan perusahaan, hingga terpilih menjadi istri keenam Lucien Alastor, miliarder dingin yang tak percaya pada cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melon Milk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6
Perasaan Sisi bercampur aduk, namun lebih didominasi kesedihan dan kekecewaan saat matanya menelusuri kamar kecil itu.
Beginikah caranya memperlakukan semua mantan istrinya? Pantas saja dia sering bercerai. Pria ini jelas punya banyak masalah.
“Kita… tidur terpisah?” tanyanya tanpa sadar.
Hebat sekali, Sisi. Mengatakan sesuatu yang sudah sangat jelas.
“Kau baru mengerti sekarang?” tanya Lucien malas.
“Jangan berada di kamarku lebih dari satu menit kecuali jika diperlukan,” lanjutnya datar. “Dan jangan sentuh barang-barangku. Terutama tempat tidurku.”
Ia menunjuk king-size bed miliknya seolah sedang menetapkan hukum mutlak.
Aturanmu banyak sekali. Siapa sebenarnya yang sensitif di sini?
“Apa kau punya mysophobia?” tanya Sisi, murni penasaran.
“Aku hanya muak dengan makhluk menjijikkan sepertimu,” balas Lucien dingin.
Makhluk menjijikkan? Wah, bukan cuma penuh aturan, dia juga hobi menghakimi. Bajingan.
“Bagaimana dengan, ah, sudahlah,” desis Sisi kesal.
“Maksudmu soal kewajiban suami istri?” Lucien menoleh, tatapannya tajam.
Sisi langsung mengalihkan pandangan.
Sial. Dia langsung menangkap maksudku.
Hei, jangan salah paham. Aku hanya ingin kejelasan, bukan berarti aku menginginkannya.
“Tenang saja,” ujar Lucien dingin. “Aku tidak akan menyentuh sehelai rambutmu, bahkan jika kau telanjang di depanku.”
Sisi refleks menatapnya dengan mata membelalak.
Astaga.
Apa dia pikir Sisi akan mau melakukan hal seperti itu dengannya? Percaya diri yang berlebihan.
Tapi… kenapa? Aku cantik dan seksi.
Ia segera menghapus pikiran itu dari kepalanya.
“Kau tahu kenapa aku sering bercerai?” lanjut Lucien. “Karena mereka selalu memaksaku melakukan hal-hal yang tidak kuinginkan.”
Sombong sekali. Apa dia pikir dirinya luar biasa?
Namun mata Sisi tetap melirik tanpa sadar, polo pria itu terbuka sedikit, menyingkap dada bidangnya.
“Seksi juga…” gumamnya lirih.
Astaga!
Sisi langsung menutup mulutnya. Syukurlah Lucien tidak menangkap ucapannya dengan jelas. Jika tidak, ia akan mati malu di malam pertama pernikahan ini.
“Kau alien?” tanya Lucien tiba-tiba.
Sisi menghembuskan napas lega.
“Tidak. Aku hanya bertanya-tanya… apa kau gay?” ucapnya cepat, mengalihkan pembicaraan. Ia tidak ingin pria itu makin besar kepala.
“Apa?” Lucien menoleh tajam.
“Hanya karena aku tidak suka wanita, bukan berarti aku menyukai pria,” jawabnya dingin.
Oh, dia kesal.
“Dan aku membenci wanita, terutama yang suka bertanya,” lanjutnya. “Jadi jika kau ingin hidup tenang di sini, belajarlah diam.”
Baik. Diam, Sisi, katanya dalam hati.
Lebih baik ia menghindari hal-hal yang membuat pria itu terganggu. Tujuannya lebih penting.
“Oke,” ucapnya singkat, lalu berbalik.
Ia masuk ke kamarnya dan menarik napas panjang begitu pintu tertutup. Kamar itu memang kecil, tapi masih bisa ditoleransi, meski jauh dari standar hidup yang biasa ia jalani.
Sisi melepas gaun pengantinnya, memperlihatkan kulitnya yang pucat. Ia membuka lemari dan terkejut melihat isinya, pakaian wanita berkualitas tinggi, lengkap, dan masih berlabel. Belum pernah dipakai.
Ia memilih baju tidur paling sederhana.
Saat hendak mengenakannya, pintu kecil tiba-tiba terbuka.
Sisi menegang.
Lucien berdiri di sana.
Oh, sial!
Refleks, Sisi menutupi tubuh telanjangnya dengan baju tidur.
“KAU TIDAK BISA MENGETUK?!” bentaknya.
Lucien menatapnya malas.
“Sudah kubilang, aku tidak tertarik pada wanita,” dengusnya. “Pakai bajumu. Lalu keluar.”
Ia pergi begitu saja.
Sialan. Wajahku panas sekarang.
Meski tidak tertarik, mengetuk pintu itu etika dasar. Bajingan.
Setelah berganti, Sisi keluar dengan wajah kesal.
Lucien berbaring santai di tempat tidurnya, lalu meliriknya.
“Keluargaku mungkin akan datang memeriksa. Jadi kau harus berada di kamar ini,” ujarnya.
Sisi memutar mata.
“Berada di sini? Dan berdiri seperti patung?” tanyanya bingung.
Bagaimana cara kerja otaknya?
Lucien tidak menjawab.
Sialan.
Lima menit berlalu. Sisi masih berdiri, sementara Lucien membaca dengan tenang. Kakinya mulai pegal.
“Boleh aku duduk di sofa?” tanyanya sambil menunjuk sofa tunggal.
Lucien tidak menolak, jadi Sisi menganggapnya sebagai persetujuan.
Namun baru satu langkah ia melangkah...
Sebuah lengan menarik pinggangnya.
Tubuhnya terangkat, pandangannya berputar, dan detik berikutnya Sisi terbaring di atas tempat tidur Lucien, dengan pria itu menindih tubuhnya.
Wajah Lucien hanya berjarak dua inci darinya.
Begitu dekat hingga napas mereka saling bertabrakan.
“A-apa yang kau lakukan?” darah langsung naik ke wajah Sisi.
Astaga…
Aku… merona? Kenapa?
“Kubilang, keluargaku mungkin akan memeriksa,” jawab Lucien santai.
“Kita bisa duduk sambil menunggu! Tidak harus seperti ini!” desis Sisi. “Bukankah kau bilang tidak suka wanita? Lalu apa ini? Jangan bilang kau menarik kembali ucapanmu, Lucien!”
Lucien mendekatkan wajahnya.
“Lihat ke sana,” bisiknya di telinga Sisi, lengannya semakin erat.
Ia menunjuk ke arah kanan.
Sisi mengikuti arah pandangnya.
Pintu itu tidak tertutup rapat.
Ada celah kecil.
“Mereka sedang memeriksa,” ujar Lucien pelan.
Sialan! Memalukan!
Bagaimana kalau mereka benar-benar melihat kami?
Sisi ingin mengubur wajahnya di dada keras Lucien.
Hebat sekali, Sisi. Kau malah terlihat seperti menggoda.
Wajah dewa Yunani di hadapannya semakin mendekat.
Dan sebelum Sisi sempat bereaksi...
Bibir dingin Lucien menyentuh bibirnya.
Lembut.
Singkat.
Mata Sisi membelalak.
Ia membeku.
Ciuman pertamaku.
Ciuman pertamaku.