Arlan butuh bantuan buat menertibkan arsip OSIS yang berantakan demi akreditasi sekolah. Ghea, yang butuh poin tambahan karena nilai fisikanya terjun bebas, terpaksa jadi "asisten" Arlan. Masalahnya, Arlan itu disiplin tingkat dewa, sementara Ghea adalah ratu rebahan. Di antara tumpukan kertas dan debat kusir, ada rasa yang mulai tumbuh, tapi terhalang sama masa lalu Arlan yang belum selesai.
Tokoh Utama:
Arlan: Ganteng sih, tapi aslinya clueless soal perasaan. Ketua OSIS yang sok sibuk padahal sering stres sendiri.
Ghea: Cewek yang hidupnya santai banget, hobi tidur di perpustakaan, dan punya prinsip "hidup itu jangan dibawa susah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Operasi Oleh-Oleh, Polisi Jerman, dan Kepulangan Sang Juara
Setelah insiden ledakan petasan naga di laboratorium pusat yang mengakibatkan Profesor Hans harus mencuci rambutnya yang terkena serbuk warna-warni selama tiga hari berturut-turut, Arlan, Ghea, dan Juna kini menjadi "buronan" paling sopan di Munich. Beruntung, berkat pengaruh Papa Arlan dan bukti rekaman ilegal di HP Ghea, kasus sabotase itu ditutup dengan jalur kekeluargaan yang sangat kaku khas birokrasi Jerman.
Pagi itu, di apartemen 402 yang baunya masih menyisakan aroma terasi dan mesiu, Ghea sedang melakukan kegiatan paling krusial bagi warga Indonesia yang sedang berada di luar negeri: Packing Oleh-Oleh.
"Ar! Bantuin gue! Ini kenapa cokelat Ritter Sport yang gue beli sepuluh lusin nggak muat di koper?!" teriak Ghea sambil duduk di atas kopernya, mencoba menekan ritsleting yang sudah menjerit minta tolong.
Arlan, yang sedang membaca jurnal Fisika sambil minum kopi, hanya melirik tanpa dosa. "Secara matematis, volume koper lo itu cuma 60 liter, Ghe. Sedangkan cokelat yang lo beli volumenya setara dengan kulkas dua pintu. Hukum fisika nggak bisa lo lawan pake tenaga otot doang."
"Duh, Robot! Ini buat tetangga gue, buat guru-guru SMA Garuda, buat Pak Bagus, bahkan buat Pak RT! Gue nggak mau pulang tangan kosong!"
Juna muncul dari dapur sambil membawa sosis Jerman yang dia tusuk pakai lidi, mirip sate. "Ghe, saran gue, cokelatnya lo cairin dulu, lo siram ke baju lo, ntar pas sampe Jakarta lo kerok lagi. Hemat tempat!"
"IDE LO MAKIN HARI MAKIN MIRIP IDE LELE, JUN!" seru Ghea sambil melempar bantal ke arah Juna.
Kekacauan berlanjut saat mereka harus berurusan dengan polisi setempat karena Juna dituduh melakukan "tindakan mencurigakan" di taman kota. Ternyata, Juna mencoba berjualan siomay dadakan menggunakan bahan-bahan lokal Jerman di pinggir jalan Marienplatz demi menambah uang jajan beli sepatu bola.
Di kantor polisi Munich, Arlan harus turun tangan menjadi penerjemah.
"Petugas, teman saya ini tidak bermaksud melakukan perdagangan ilegal," ucap Arlan dalam bahasa Jerman yang sangat formal kepada seorang polisi bertubuh kekar.
"Tapi dia mencampur sosis Jerman yang suci ini dengan saus kacang yang baunya... aneh. Dan dia menyebutnya 'Siomay Aryan'? Ini penghinaan kuliner!" balas sang polisi dengan wajah serius.
Ghea menyenggol Juna. "Jun, lo kasih nama apa tadi?"
"Siomay Aryan, Ghe! Maksud gue biar kerasa lokal Jermannya gitu loh! Kan mereka bangsa Arya!" jawab Juna polos.
Ghea menepuk jidatnya. "Itu mah sensitif sejarah, Juna! Pantesan polisinya galak!"
Setelah melalui negosiasi panjang (dan Arlan terpaksa memberikan penjelasan panjang lebar tentang akulturasi budaya kuliner), Juna akhirnya dibebaskan dengan peringatan keras: Dilarang keras menyiram sosis Jerman dengan bumbu kacang di area publik.
Hari kepulangan tiba. Bandara Munich Franz Josef Strauss menjadi saksi bisu perpisahan mereka dengan Eropa. Ghea memakai jaket bulu "Yeti"-nya yang sekarang sudah penuh dengan pin-pin lucu dari berbagai tempat di Jerman. Arlan terlihat lebih santai, dia tidak lagi memakai kemeja yang dikancing sampai leher.
"Ar, lo bakal kangen nggak sama apartemen sempit kita?" tanya Ghea saat mereka duduk di ruang tunggu keberangkatan.
"Gue bakal kangen sama ketenangannya sebelum Juna dateng dan bakar terasi," jawab Arlan jujur. Tapi kemudian dia menatap Ghea, "Tapi gue nggak akan kangen sama kedinginannya, karena di Jakarta, gue punya lo yang lebih berisik dari pemanas ruangan manapun."
Ghea tersipu. "Ciee, algoritma cintanya udah makin canggih nih."
Tiba-tiba, sesosok gadis muncul dari balik kerumunan. Elena.
Dia tidak lagi memakai jas lab, melainkan gaun musim dingin yang elegan. Dia membawa sebuah kotak kecil.
"Arlan, Ghea," sapa Elena pelan. Wajahnya tidak lagi sinis, melainkan penuh rasa bersalah. "Gue ke sini bukan buat berantem. Gue cuma mau minta maaf atas nama bokap gue dan Hans. Gue juga minta maaf karena udah egois."
Elena menyerahkan kotak itu kepada Ghea. "Ini koleksi jurnal asli tahun '95 yang belum sempat dihancurkan Hans. Gue rasa, Arlan berhak punya ini sebagai bukti kalau dia... lebih dari sekadar angka."
Ghea menerima kotak itu dan, secara mengejutkan, memeluk Elena. "Makasih, Noni Pirang. Lo tetep pinter kok, cuma kurang asupan sambal ulek aja makanya sifat lo agak pahit kemarin-kemarin."
Elena tertawa kecil, air matanya sedikit menetes. "Safe flight, you guys. Viel Glück."
Perjalanan 14 jam di pesawat tidak terasa membosankan karena Juna sibuk mencoba semua menu makanan di pesawat sampai pramugarinya hafal nama dia. Sedangkan Arlan dan Ghea, mereka duduk berdampingan, berbagi satu headphone mendengarkan lagu-lagu band lama Papa Arlan yang ternyata... lumayan keren juga.
Begitu mendarat di Terminal 3 Soekarno-Hatta, suasana panas Jakarta langsung menyambut. Tapi bagi mereka, bau polusi dan aroma nasi uduk bandara adalah bau surga.
"JAKARTA! GUE DATENG! MANA TUKANG SEBLAK?! MANA JURAGAN LELE?!" teriak Juna sambil berlutut mencium lantai bandara (yang langsung ditarik satpam karena menghalangi jalan).
Di pintu kedatangan, sebuah spanduk besar dibentangkan oleh anak-anak SMA Garuda.
"SELAMAT DATANG PAHLAWAN JERMAN: ARLAN SI ROBOT DAN GHEA SI TIKUS ARSIP!"
Ternyata seluruh anggota OSIS dan teman sekelas mereka datang menjemput. Bahkan Pak Bagus berdiri di sana sambil memegang papan bertuliskan nama mereka, lengkap dengan senyum lebar yang sangat lebar sampai giginya terlihat semua.
Papa Arlan juga ada di sana. Dia langsung memeluk Arlan erat. "Selamat pulang, Arlan. Ayah sudah pesankan sate kambing paling enak se-Jakarta."
"Makasih, Yah. Arlan kangen banget sama nasi," jawab Arlan.
Ghea ditarik oleh teman-temannya, mereka menanyakan ribuan pertanyaan tentang Jerman, salju, dan apakah orang Jerman beneran ganteng-ganteng kayak pemain bola.
"Ganteng sih ganteng, tapi nggak ada yang se-kaku Arlan! Seru tahu, punya cowok yang kalau gombal pake rumus fisika!" cerita Ghea yang langsung bikin temen-temennya bersorak "Cieee!"
Malam harinya, sekolah mengadakan acara penyambutan kecil di aula. Arlan naik ke podium untuk memberikan pidato singkat tentang pengalamannya di Jerman. Ghea duduk di barisan depan, menatap cowok itu dengan bangga.
"Selama di Jerman, gue belajar banyak hal tentang sains," ucap Arlan di depan mikrofon. "Tapi satu hal yang paling berharga yang gue dapet bukan dari laboratorium. Gue belajar kalau manusia itu hebat bukan karena seberapa cepat otaknya menghitung, tapi seberapa besar hatinya berani berjuang buat orang lain."
Arlan berhenti sejenak, menatap Ghea. "Gue tadinya pikir gue adalah produk laboratorium yang gagal. Tapi asisten gue di sana ngajarin gue, kalau hidup itu bukan tentang menjadi produk yang sempurna, tapi tentang menjadi manusia yang berani mencintai kekurangannya sendiri."
Ghea meneteskan air mata bahagia. Seluruh aula bertepuk tangan meriah. Juna yang ada di pojokan sibuk membagikan sisa cokelat Jerman yang dia curi dari koper Ghea secara gratis kepada adik-adik kelas.
Setelah acara selesai, Arlan dan Ghea berjalan menuju ruang arsip sekolah—tempat semua ini dimulai. Ruangan itu masih sama, penuh dengan tumpukan berkas tua dan bau debu yang khas.
Arlan duduk di kursi kerjanya yang lama. Ghea berdiri di depannya, bersandar pada rak akreditasi.
"Ghe," panggil Arlan.
"Ya, Robot?"
"Laporan akreditasi kita tahun ini... gue udah kasih nilai A mutlak di hati gue."
"Hilih! Bisa aja lo! Terus, status gue sekarang gimana nih? Masih asisten magang atau udah naik pangkat?" tanya Ghea sambil menaikkan satu alisnya.
Arlan berdiri, dia mengeluarkan sebuah kunci kecil dari sakunya. Kunci ruang arsip. Dia menyerahkannya ke tangan Ghea. "Status lo sekarang adalah pemilik kunci hati gue. Dan tugas pertama lo adalah... jangan pernah biarin gue jadi robot lagi."
Ghea tertawa, dia menggenggam kunci itu erat-hal. "Siap, Bos! Tapi ada satu syarat."
"Apa?"
"Besok temenin gue makan seblak level 10. Gue kangen banget mulut gue berasa kayak kena ledakan petasan Juna!"
Arlan tersenyum, lalu dia menarik Ghea ke dalam pelukannya di antara tumpukan dokumen yang menjadi saksi bisu perjalanan cinta unik mereka.
Dari ruang arsip yang membosankan, sampai ke puncak Alpen yang dingin, Arlan dan Ghea membuktikan bahwa cinta tidak butuh algoritma yang sempurna. Dia hanya butuh dua orang yang saling percaya, sedikit keberanian, dan tentu saja... persediaan sambal ulek yang cukup.