Ravela Natakusuma, seorang kapten TNI-AD, tiba-tiba harus menerima perjodohan dengan Kaivan Wiratama, seorang CEO pewaris perusahaan besar, demi memenuhi permintaan ayah Kaivan yang tengah kritis.
Mereka sepakat menikah tanpa pernah benar-benar bertemu. Kaivan hanya mengenal Ravela dari satu foto saat Ravela baru lulus sebagai perwira yang diberikan oleh Ibunya, sementara Ravela bahkan tak tahu wajah calon suaminya.
Sehari sebelum pernikahan, Ravela mendadak ditugaskan ke Timur Tengah untuk misi perdamaian. Meski keluarga memintanya menolak, Ravela tetap berangkat sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai abdi negara.
Hari pernikahan pun berlangsung tanpa mempelai wanita. Kaivan menikah seorang diri, sementara istrinya berada di medan konflik.
Lalu, bagaimana kisah pernikahan dua orang asing ini akan berlanjut ketika jarak, bahaya, dan takdir terus memisahkan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepergian Ravela
Malam itu, Ravela dan orang tuanya sedang makan malam. Suasana hening, hanya terdengar dentingan sendok dan piring yang saling beradu. Sementara Arkana sedang di rumah temannya dan akan menginap disana.
“Bunda... Ayah... bisa kita bicara sebentar?” ucap Ravela setelah mereka selesai makan.
Nadira mencondongkan tubuh, menatap putrinya dengan penuh perhatian. “Tentu, Nak. Ada apa? Apa yang ingin kamu bicarakan?”
Ravela mengangkat wajahnya, menarik napas panjang sebelum akhirnya berkata.
“Besok pagi aku harus berangkat,” ucapnya. Suaranya tenang, tapi ada nada berat yang sulit disembunyikan.
Dharma menegakkan tubuhnya di kursi, menatap putrinya dengan alis terangkat. “Berangkat? Maksudmu?”
“Aku ditugaskan ke Lebanon untuk misi pengamanan dan penjaga perdamaian selama enam bulan. Besok pagi aku akan berangkat bersama personel lainnya,” ujar Ravela.
Orang tuanya langsung terkejut. Nadira menatap Ravela dengan mata terbelalak, sementara Dharma memijit pelipisnya perlahan.
“Besok pagi? Kenapa tugas itu datang tiba-tiba sekali, sedangkan lusa kamu akan menikah, Nak.” Suara Dharma terdengar khawatir.
Ravela menunduk sebentar, kemudian menatap ayahnya. “Aku sudah bilang ke Letkol Armand bahwa aku menerima tugas ini. Aku tidak bisa menolak. Sebagai tentara, tanggung jawab adalah yang utama, Ayah. Kalau negara membutuhkan, aku harus berangkat. Ayah pasti tau itu.”
Dharma menunduk sebentar, menatap tangannya yang mengepal di atas meja. Ia mengerti, karena dulu ia juga pernah menghadapi situasi seperti ini, pilihan antara tugas dan keluarga, antara kehendak pribadi dan tanggung jawab negara.
“Iya, Ayah mengerti, Nak,” ucap Dharma lirih
Ravela menatap kedua orang tuanya, sedikit ragu. “Lalu pernikahanku dengan Kaivan apakah batal karena aku pergi?”
Dharma menarik napas panjang, menghela kasar. “Tidak. Pernikahanmu dengan Kaivan tetap bisa berlangsung. Walau kamu tidak hadir secara fisik, yang penting kamu sudah setuju dan ada wali dari pihakmu. Itu sah secara agama. Namamu tetap tercatat, yang utama adalah persetujuan mu.”
Ravela menunduk, tangannya mencengkram ujung celananya. Entah mengapa dadanya terasa semakin berat.
Ravela ingin pernikahannya dengan Kaivan dibatalkan, karena ia tak ingin pikirannya dipenuhi terlalu banyak beban dan ingin merasa sedikit lebih bebas, tanpa harus memikirkan bahwa dirinya sudah terikat dalam sebuah pernikahan setidaknya untuk enam bulan ke depan.
“Itu tidak bisa dibatalkan, ya, Yah?” tanya Ravela lirih, suaranya seperti bisik.
“Tidak bisa, Vela. Kami sudah berjanji dengan keluarga Om Aditya. Kamu pergi secara tiba-tiba saja mereka pasti akan kaget. Apalagi kalau pernikahan kalian dibatalkan,” ucap Nadira lembut.
Ravela hanya menghela napas panjang, mencoba menelan rasa kecewa. “Aku mengerti Bun,” ujarnya pelan.
Dharma menatap putrinya, kemudian tersenyum tipis. “Untuk semua urusan di sini biar kami yang atur. Kamu fokus saja pada tugasmu nanti. Jangan biarkan ini membebani mu.”
Ravela mengangguk, menahan perasaan yang bercampur aduk. “Iya, Yah.”
Nadira kemudian berdiri dan mendekati putrinya. “Kalau begitu, biar Bunda bantu kamu mengemas perlengkapanmu biar cepat.”
“Memang tidak merepotkan Bunda?”
“Tentu saja tidak. Kamu ini anak Bunda masa merasa direpotkan,” kata Nadira.
Ravela tersenyum dan mengangguk.
Pagi itu, cahaya matahari baru menembus tirai kamar, menandai awal hari yang berat bagi Ravela. Ia duduk di tepi tempat tidur, perlahan mengecek perlengkapan yang sudah ia kemas semalam bersama Nadira. Pakaian biasa, seragam, dokumen misi, dan beberapa kebutuhan pribadi tersusun rapi dalam tas dinasnya.
Nadira masuk membawa secangkir kopi. “Ini minum dulu sebelum berangkat.”
Ravela menerima cangkir itu tanpa banyak bicara, tangannya sedikit gemetar. Ia menyesap kopi hangat, mencoba menenangkan pikirannya.
Dalam benaknya, ia membayangkan pernikahan yang esok hari akan berlangsung tanpa kehadirannya, dan misi yang menanti di Lebanon.
Dharma masuk ke kamar Ravela, ia menatap putrinya dengan pandangan serius namun lembut. “Kamu sudah siap, Nak?”
Ravela mengangguk. “Iya, Yah. Semua sudah siap.”
Nadira duduk di sampingnya, menepuk pundak putrinya. “Kamu tahu, Nak... Kami bangga padamu. Tugasmu itu penting. Tapi ingat, hati kami tetap ada di sini menunggu kabarmu.”
Ravela menunduk, menelan rasa berat di dadanya. “Aku tahu, Bun. Tapi rasanya aneh. Pernikahanku harus tetap berjalan meski tanpa kehadiranku.”
Dharma berjalan mendekat, menaruh tangannya di bahu Ravela. “Ayah mengerti, tapi ini skenario yang sudah diatur sama yang di Atas, kita tidak bisa mengubahnya. Ayah yakin Kaivan mengerti keadaan ini meski kalian dijodohkan.”
Ravela menghela napas, mencoba menenangkan dirinya. “Aku cuma berharap alat komunikasi di sana nanti tidak terlalu terbatas. Aku ingin tetap bisa memberi kabar ke kalian.”
“Jangan khawatir, Nak. Biar kami urus semua di sini. Kamu fokus pada tugasmu. Itu yang sekarang paling penting,” ucap Nadira menenangkan.
Tiba-tiba terdengar suara langkah cepat di pintu. Arkana muncul dengan mata terbuka lebar, wajahnya penuh kaget. “Kak serius? Hari ini juga kakak akan pergi ke Lebanon?!”
Setelah diberitahukan tentang kepergian sang kakak ke Lebanon tadi subuh oleh Ayahnya, Arkana pun langsung bergegas pulang.
Ravela tersenyum tipis dan mengangguk, “Iya, Ar. Kakak akan pergi ke Lebanon.”
“Tapi besok kan hari pernikahan kakak.”
Dharma dan Nadira saling bertukar pandang.
Dharma menepuk bahu Arkana. “Nak, ini memang mendadak. Tapi kakakmu punya tanggung jawab besar. Kita akan urus semua yang ada di sini, tenang saja.”
Arkana hanya mengangguk pasrah. Ia tidak bisa menghentikan kakaknya, meski hatinya sedih. Walaupun ini bukan pertama kalinya sang kakak di kirim bertugas untuk menjaga perdamaian, namun satu hal yang jelas di benaknya, ia berharap Ravela akan kembali dengan selamat.
Beberapa menit hening menyelimuti kamar. Tiba-tiba suara seorang prajurit memanggil di luar rumah terdengar samar.
“Ayo keluar, sepertinya jemputan mu sudah datang,” ucap Nadira.
“Iya, Bun.”
“Tolong jaga diri baik-baik, Nak. Ingat, tanggung jawabmu besar, tapi jangan lupakan keselamatanmu juga,” kata Dharma sambil menepuk bahu putrinya sekali lagi.
Ravela berdiri, menegakkan tubuhnya, mencoba menyatukan keberanian dan tanggung jawab. “Iya, Yah. Aku akan menjalankan semuanya sebaik mungkin.”
“Sebenarnya aku berat melepas kakak pergi, apalagi ke negara berkonflik yang penuh bahaya, tapi aku berharap kakak disana selalu dalam lindungan Tuhan,” ucap Arkana tulus.
Ravela tersenyum dan mengangguk dengan mata berkaca-kaca berusaha agar tidak menangis. Ia memeluk orang tua dan adiknya secara bergantian.
Mereka berempat berjalan keluar rumah. Di halaman depan, kendaraan dinas sudah menunggu.
Ravela memasukkan tasnya ke bagasi, menarik napas panjang, dan menatap kedua orang tua dan adiknya untuk yang terakhir kali.
“Maafkan kami, hanya bisa mengantarkan mu sampai disini, nak," ucap Nadira sedih, mata yang sudah mulai tua itu sudah mengeluarkan air matanya.
Ravela menggeleng, “Kalian tidak perlu mengantarkan aku sampai ke barak, ini sudah lebih dari cukup. Aku mohon sama Bunda, jangan menangis. Nanti yang ada aku tidak bisa tenang selama bertugas disana.”
Nadira mengangguk, coba menahan agar tidak menangis.
“Pergilah, Nak. Tugasmu menanti disana. Doa kami selalu menyertaimu,” ujar Dharma sambil menepuk pipi Ravela.
Ravela tersenyum tipis, menahan perasaan campur aduk. “Terima kasih, Ayah, Bunda, Arka.”
Ravela masuk ke dalam mobil, duduk tegak, dan memberi salam hormat singkat kepada orang tua dan adiknya sebelum kendaraan itu melaju meninggalkan halaman rumah.