NovelToon NovelToon
Kebangkitan Sang Dokter Buangan

Kebangkitan Sang Dokter Buangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Mafia
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Velyqor

Kayra Ardeane mengasingkan diri ke desa sunyi bernama Elara demi mengubur trauma masa lalunya sebagai ahli bedah. Namun, ketenangannya hancur saat seorang pria bersimbah darah menerjang masuk dengan peluru di dada. Demi sumpah medis, Kayra melakukan tindakan gila: merogoh rongga dada pria itu dan memijat jantungnya agar tetap berdenyut.

Nyawa yang ia selamatkan ternyata milik Harry, seorang predator yang tidak mengenal rasa terima kasih, melainkan kepemilikan. Di bawah kepungan musuh dan kobaran api, Harry memberikan ultimatum yang mengunci takdir Kayra.

"Pilihannya sederhana, Dokter. Mereka selamat dan kau ikut denganku, atau kita semua tetap di sini sampai musuh mengepung. Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke tempat di mana aku tidak bisa melihatmu."

Terjebak dalam pelarian maut, Kayra menyadari satu hal yang terlambat, ia memang berhasil menyelamatkan jantung Harry, namun kini pria itu datang untuk mengincar jiwanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9. Perjanjian Berdarah

Keheningan yang mencekam menyelimuti pusat komando bawah tanah setelah wajah Luca menghilang dari layar. Hanya suara dengung kipas server dan detak jam digital di dinding yang mengisi kekosongan.

Kayra merasa dunianya seolah melambat, namun jantungnya memompa adrenalin dengan kecepatan yang menyakitkan. Tangannya yang masih menekan perban di dada Harry, bisa merasakan rembesan darah hangat yang kental merembes ke sela-sela jarinya.

Namun, bukan rasa sakit Harry yang saat ini memenuhi kepalanya. Melainkan ancaman Luca.

"Kenapa?" bisik Kayra, suaranya bergetar antara amarah dan kebingungan yang luar biasa. "Kenapa dia menginginkanku? Aku hanya tenaga medis, Harry! Bahkan di medan perang paling brutal sekalipun, tenaga medis adalah zona netral. Menyerang dokter adalah kejahatan perang! Siapa sebenarnya kau, dan apa yang kau lakukan sampai dia mengabaikan aturan paling mendasar di dunia ini?"

Harry tidak langsung menjawab. Ia bersandar di kursi komando, membiarkan Kayra mengobati lukanya sementara matanya terpaku pada monitor perimeter yang menunjukkan pasukan Luca mulai mencoba menjebol gerbang atas.

"Enzo, matikan audio eksternal. Berikan kami waktu lima menit!" perintah Harry dingin.

"Baik, Tuan." Enzo segera menjauh ke sudut ruangan, memberikan privasi yang janggal di tengah serangan yang sedang berlangsung.

Harry menoleh ke arah Kayra. Intensitas di matanya berubah seketika. Jika tadi saat bicara dengan Luca suaranya bagaikan pedang yang siap menebas, kini suaranya melunak, masih rendah dan berat, namun ada nada kelembutan yang hanya disisakan untuk wanita di depannya.

"Aturan tidak berlaku untuk pria seperti Luca, Kayra," ujar Harry pelan. "Dan di dunia ini, kau bukan lagi sekadar tenaga medis. Kau adalah 'tangan' yang menjahit kembali nyawaku. Baginya, kau bukan dokter. Kau adalah alat pertahanan paling krusial yang aku miliki."

"Itu tidak masuk akal!" potong Kayra, suaranya naik satu oktav. "Aku tidak memegang senjata! Aku tidak tahu strategi perangmu! Bagaimana mungkin aku menjadi target utama hanya karena aku melakukan pekerjaanku?"

Harry meraih pergelangan tangan Kayra, menariknya dengan lembut agar wanita itu berhenti menekan lukanya dan menatapnya tepat di mata. "Dengar baik-baik. Luca tahu bahwa aku tidak akan bisa bertahan dari luka ini tanpa tangan ajaibmu. Jika dia mengambilmu atau membunuhmu, dia tidak hanya membunuh seorang dokter, dia memutus harapan hidupku. Dia tahu aku terluka parah, dan dia ingin memastikan tidak ada orang yang bisa menyambung napas pria yang paling dia takuti."

Harry menghela napas panjang, menahan nyeri yang menusuk paru-parunya. "Dan yang terpenting … dia melihatku membawamu ke helikopter itu. Dia melihat pria yang biasanya meninggalkan mayat di belakangnya, justru mempertaruhkan nyawa timnya untuk menyelamatkan seorang wanita desa. Baginya, kau adalah kelemahanku yang pertama kali terlihat setelah bertahun-tahun aku tidak memiliki siapa pun untuk dilindungi."

Kayra tertegun. Kalimat itu terasa seperti beban seberat gunung yang diletakkan di pundaknya. "Jadi ini karena kau? Karena ego dan kekuasaanmu, aku sekarang menjadi buronan organisasi kriminal?"

"Ini bukan soal ego, Kayra. Ini soal siapa aku sebenarnya," Harry menjeda, menatap Kayra dengan tatapan yang seolah ingin menelanjangi semua rahasia wanita itu.

"Kau bertanya siapa aku? Aku adalah orang yang dicari oleh pemerintah di tiga benua, dan orang yang mengontrol jalur distribusi yang diinginkan Luca. Aku adalah Harry Marcello, nama yang menjadi kutukan bagi musuhku, tapi satu-satunya perlindungan yang kau miliki sekarang."

Kayra menarik tangannya dengan kasar. "Aku tidak butuh perlindunganmu! Aku punya kehidupan di Elara!"

"Kehidupan yang sudah terbakar menjadi abu, Dokter," sahut Harry dengan nada bicara yang tiba-tiba menjadi sangat jernih dan tajam. "Jangan naif. Saat peluru pertama ditembakkan di puskesmasmu, Elara sudah mati bagimu. Jika kau keluar dari pintu bunker ini sekarang, kau tidak akan sampai ke ujung lorong tanpa lubang peluru di kepalamu. Luca ingin mematahkan semangatku melalui dirimu. Mengerti?"

Kayra jatuh terduduk di kursi samping meja kontrol. Kepalanya berdenyut. Ia melihat sosok Harry di depannya, pria yang setengah telanjang dengan perban berdarah, namun tetap memancarkan aura otoritas yang begitu kuat hingga oksigen di ruangan itu terasa menipis.

Siapa sebenarnya pria ini? Mengapa namanya terdengar begitu asing namun sekaligus begitu berpengaruh?

Tiba-tiba, getaran hebat mengguncang bunker. Suara ledakan terdengar di atas mereka, lebih keras dari sebelumnya.

"Mereka sudah di lobi utama," lapor Enzo, suaranya kembali terdengar di sistem komunikasi. "Tuan, sistem pertahanan otomatis kita hanya punya waktu sepuluh menit sebelum mereka meledakkan lift."

"Kau punya dua pilihan, Kayra Ardeane," bisik Harry, suaranya kembali ke mode predator namun tetap ada getaran protektif di dalamnya. "Kau bisa terus bertanya-tanya mengapa dunia ini begitu kejam padamu sambil menunggu maut datang menjemput ...."

Harry mengulurkan tangan kiri, mengusap pipi Kayra dengan ibu jarinya yang kasar. "... atau kau bisa menerima kenyataan bahwa kau adalah milikku sekarang. Dan selama kau berada di bawah perlindunganku, aku akan membakar seluruh dunia ini sebelum membiarkan satu peluru pun menyentuh kulitmu."

Harry bangkit berdiri, mengabaikan rasa sakit yang luar biasa di dadanya. Ia menyambar sebilah pisau taktis dan sebuah pistol dari meja komando. Ia berjalan mendekati Kayra, berdiri tepat di hadapannya hingga bayangan tubuh besarnya menelan tubuh mungil Kayra.

Kayra terdiam sejenak, membiarkan sentuhan kasar itu membakar kulit pipinya. Ia menatap tangan Harry yang bersimbah darah, lalu beralih ke mata pria itu yang tak menunjukkan keraguan sedikit pun. Amarah yang sedari tadi ia tahan akhirnya pecah dalam bentuk bisikan yang pedih.

"Aku tidak ingin kau membakar dunia, Harry," sahut Kayra, suaranya bergetar menahan tangis yang menolak pecah. "Aku hanya ingin hidup tenang. Aku meninggalkan rumah sakit kota, meninggalkan karierku, dan membuang identitasku hanya agar bisa bernapas tanpa perlu merasa takut setiap kali bangun di pagi hari. Elara adalah ketenangan yang aku bangun dengan susah payah, dan kau ... kau menghancurkannya hanya dalam satu malam."

Kayra mencengkeram jas putihnya yang sudah tak berbentuk. "Kenapa hidupku harus menjadi jaminan dalam perangmu? Aku hanya seorang dokter yang ingin menebus dosa masa laluku dengan mengobati petani dan anak-anak desa. Kenapa kau harus menyeretku ke dalam neraka yang kau buat sendiri?"

Harry menatapnya lama, ekspresinya tidak terbaca. Namun, ia tidak melepaskan cengkeramannya di pergelangan tangan Kayra. "Duniaku tidak mengenal kata 'tenang', Kayra. Dan sejak kau menarik peluru itu dari dadaku, ketenanganmu sudah kadaluwarsa. Kau bisa membenciku karena itu, tapi jangan harap aku akan membiarkanmu pergi ke luar sana hanya untuk menjadi mayat yang indah di tangan Luca."

Harry menarik Kayra lebih dekat, hingga wanita itu bisa merasakan detak jantungnya yang liar di balik perban. "Tenang itu membosankan, Dokter. Bersamaku, kau akan tetap hidup. Dan bagiku, itu sudah lebih dari cukup."

Tiba-tiba, getaran hebat kembali mengguncang bunker. Lampu darurat berwarna merah menyala, menandakan pintu lift di level atas telah diledakkan.

"Mereka masuk!" raung Enzo sambil mengokang senjatanya.

Harry menatap Kayra untuk terakhir kalinya sebelum perang pecah di depan mata mereka. "Simpan keinginanmu untuk hidup tenang itu nanti. Sekarang, prioritasku adalah memastikan kau tetap bernapas."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!