Alya menikah dengan Arga bukan karena harta, melainkan cinta dan harapan akan keluarga yang hangat. Namun sejak hari pertama menjadi menantu, Alya tak pernah benar-benar dianggap sebagai istri. Di mata keluarga suaminya, ia hanyalah perempuan biasa yang pantas diperintah—memasak, membersihkan rumah, melayani tanpa suara. Bukan menantu, apalagi keluarga. Ia diperlakukan layaknya pembantu yang kebetulan menyandang status istri.
Takdir mempertemukan Alya dengan seorang pria yang tak pernah menilainya dari latar belakang—Sultan Rahman, pengusaha besar yang disegani, berwibawa, dan memiliki kekuasaan yang mampu mengubah hidup
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Ketika Masa Lalu Mengetuk Lagi
Arga tidak pernah percaya pada tanda-tanda. Ia selalu menganggap hidup sebagai rangkaian sebab-akibat yang bisa dijelaskan dengan logika, keputusan, dan sedikit keberanian. Namun pagi itu, ketika hujan turun persis seperti bertahun-tahun lalu—di hari terakhir ia dan Alya bertemu sebagai sepasang kekasih—Arga untuk pertama kalinya merasa bahwa hidup sedang berbicara kepadanya dengan bahasa yang tak bisa diabaikan.
Ia berdiri di depan jendela apartemennya, menatap kota yang basah dan kusam. Di tangannya, secangkir kopi telah dingin. Ponselnya tergeletak di meja, layar gelap, tapi pikirannya terus kembali pada satu pesan singkat yang ia terima semalam.
Pesan dari Alya.
Bukan balasan yang ia harapkan. Tidak ada ruang untuk diskusi. Tidak ada kalimat ambigu yang bisa ditafsirkan sebagai harapan. Hanya penerimaan—dan penutupan.
“Terima kasih sudah meminta maaf. Aku menerimanya. Tapi aku tidak ingin bertemu. Semoga kamu baik.”
Kalimat itu menghantamnya lebih keras daripada kemarahan mana pun. Karena Alya tidak marah. Ia sudah selesai.
Dan justru di situlah Arga panik.
Ia duduk di sofa, menekan wajahnya dengan kedua tangan. Bertahun-tahun ia mengira waktu akan membuat segalanya mengecil. Bahwa perasaannya pada Alya akan memudar, larut bersama kesibukan, hubungan baru, dan jarak yang aman. Tapi nyatanya, waktu hanya menguburnya—tidak pernah benar-benar menghilangkannya.
Arga menghela napas panjang, seolah udara di ruangan itu terlalu berat untuk paru-parunya. Ia bangkit dari sofa, berjalan mondar-mandir tanpa tujuan, lalu berhenti di depan rak buku yang jarang ia sentuh. Di antara buku-buku ekonomi dan laporan kerja lama, terselip sebuah novel dengan sampul kusam. Jarinya berhenti di sana.
Buku itu milik Alya.
Ia tidak pernah mengembalikannya.
Saat itu Alya tertawa, berkata Arga boleh menyimpannya dulu. “Biar kamu ingat aku sesekali,” katanya ringan. Arga mengira kalimat itu hanya gurauan. Ia selalu mengira banyak hal dari Alya hanyalah gurauan.
Ia menarik buku itu perlahan, membukanya. Di halaman pertama, tulisan tangan Alya masih jelas, meski tinta mulai pudar.
Untuk Arga, yang selalu berpikir dunia bisa dikendalikan. Semoga suatu hari kamu belajar mendengarkan perasaanmu sendiri.
Arga menutup buku itu kembali, dadanya terasa sesak. Ia baru menyadari betapa sombongnya ia dulu—selalu merasa paling tahu apa yang terbaik, paling rasional, paling kuat. Ia mencintai Alya, itu tidak pernah ia sangkal. Tapi ia mencintai versinya sendiri tentang masa depan lebih besar daripada mendengarkan ketakutan Alya, mimpinya, luka-luka kecil yang ia anggap sepele.
Hujan di luar semakin deras, seolah menegaskan isi kepalanya yang kacau. Arga mengambil ponselnya, membuka kembali pesan Alya. Ia membacanya perlahan, kata demi kata, seperti mencari celah yang tidak ada.
Tidak ingin bertemu.
Ia memejamkan mata. Bagi Alya, kalimat itu adalah batas. Bagi Arga, itu adalah dinding yang mendadak muncul setelah ia terlalu lama berjalan tanpa arah.
“Kalau aku datang tanpa bertemu?” gumamnya pada diri sendiri, lalu menggeleng. Bahkan pikiran itu terdengar egois.
Ia teringat wajah Alya terakhir kali mereka bertemu bertahun-tahun lalu. Tidak ada air mata. Tidak ada teriakan. Hanya kelelahan yang dalam—jenis lelah yang muncul setelah seseorang terlalu lama berharap pada hal yang tidak pernah berubah.
Arga duduk kembali, kali ini lebih tenang, meski hatinya tetap bergetar. Ia bertanya pada dirinya sendiri pertanyaan yang selama ini ia hindari: apakah ia ingin Alya kembali, atau ia hanya takut hidup dengan kesalahan yang tidak bisa ia perbaiki?
Jawabannya tidak sederhana.
Kenangan datang satu per satu, tanpa izin. Alya yang menunggunya pulang larut malam dengan mata setengah terpejam. Alya yang mengirim pesan panjang, sementara Arga membalas singkat. Alya yang berkata, “Aku tidak minta kamu berubah total. Aku hanya ingin didengar.”
Dan Arga yang menjawab, “Kamu terlalu sensitif.”
Kalimat itu kini terasa seperti dosa.
Ia berdiri, mengambil jaket, lalu berhenti di depan pintu. Ada dorongan kuat untuk pergi—ke mana pun—asal tidak sendirian dengan pikirannya sendiri. Namun langkahnya terhenti. Alya sudah memilih jalannya. Untuk pertama kalinya, Arga menyadari bahwa menghormati pilihan itu mungkin adalah bentuk cinta terakhir yang bisa ia berikan.
Ia kembali masuk, menutup pintu perlahan.
Hari itu Arga tidak pergi ke kantor. Ia duduk di meja kerja, membuka laptop, bukan untuk bekerja, melainkan menulis. Bukan email. Bukan laporan. Ia menulis untuk Alya—bukan untuk dikirim, tapi untuk jujur.
Ia menulis tentang ketakutannya akan gagal, tentang bagaimana ia menggunakan logika sebagai tameng agar tidak terlihat rapuh. Ia menulis tentang betapa ia mencintai Alya, namun tidak tahu cara mencintai tanpa menguasai. Ia menulis permintaan maaf yang tidak menuntut balasan, tidak mengharapkan pertemuan, tidak menyelipkan harapan tersembunyi.
Saat selesai, ia tidak merasa lega. Tapi ia merasa lebih utuh.
Sore hari hujan mulai reda. Kota masih basah, tapi langit perlahan membuka celah biru pucat. Arga berdiri di jendela lagi, kali ini tanpa kopi, tanpa ponsel. Ia menyadari sesuatu yang sederhana namun menyakitkan: hidup memang berbicara, tapi tidak selalu untuk memberi apa yang kita inginkan. Kadang ia hanya mengingatkan apa yang telah kita hilangkan.
Di tempat lain, Alya menutup buku yang baru ia baca. Di dalam toko buku kecil yang sunyi, ia memandangi hujan yang sama dari balik kaca. Dadanya tidak lagi sesak saat mengingat nama Arga. Ada bekas, tentu saja. Tapi bekas itu tidak lagi berdarah.
Ia tidak tahu bahwa pagi itu Arga menulis tentangnya. Ia tidak tahu bahwa Arga akhirnya belajar mendengarkan. Dan mungkin, ia tidak perlu tahu.
Karena hidup tidak selalu tentang pertemuan kembali.
Kadang, hidup hanya ingin memastikan dua orang yang pernah saling mencintai bisa melangkah tanpa saling melukai lagi—meski ke arah yang berbeda.
Dan untuk pertama kalinya, Arga menerima satu hal yang dulu selalu ia tolak: tidak semua sebab-akibat berakhir dengan kepemilikan. Ada yang berakhir dengan keikhlasan.
Malam turun pelan, membawa udara yang lebih dingin dan kota yang kembali sibuk dengan cahaya lampu. Arga mematikan laptopnya, lalu bersandar di kursi. Ada keheningan yang asing, tapi tidak lagi menakutkan. Ia menyadari bahwa selama ini ia selalu bergerak—mengejar, membuktikan, mempertahankan—tanpa pernah benar-benar berhenti untuk menerima.
Ia mengambil buku milik Alya itu lagi. Kali ini, ia tidak membukanya. Ia hanya menaruhnya rapi di dalam tas. Besok, ia akan mengirimkannya ke alamat lama Alya, tanpa surat, tanpa catatan. Ia ingin buku itu kembali ke pemiliknya, seperti perasaan yang akhirnya ia lepaskan dengan tenang.
Di sisi lain kota, Alya berjalan pulang dari toko buku. Hujan sudah benar-benar berhenti, menyisakan aroma aspal basah yang menenangkan. Ia berhenti sejenak di bawah lampu jalan, menghela napas panjang. Ada perasaan ringan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya—bukan karena seseorang datang, tetapi karena ia tidak lagi menunggu.
Mereka tidak saling tahu langkah satu sama lain malam itu. Namun, di bawah langit yang sama, dua hati yang pernah terikat akhirnya belajar berdiri sendiri. Dan mungkin, itulah akhir yang paling jujur: bukan tentang kembali bersama, melainkan tentang menjadi utuh—tanpa saling menggenggam.