Safira Grace Bastian hanyalah seorang mahasiswa biasa di Kalimantan. Hidupnya terasa tenang bersama kakak yang sukses sebagai pebisnis dan adik yang disiplin sebagai taruna di universitas ternama Jakarta. Keluarga mereka tampak harmonis, hingga suatu malam ayah dan ibu berpamitan dengan alasan sederhana: sang ibu pulang kampung ke Bandung, sang ayah menemui teman lama di Batam. Namun sejak kepergian itu, semua komunikasi terputus. Telepon tak pernah dijawab, pesan tak pernah dibalas, dan alamat yang mereka tuju ternyata kosong. Seolah-olah kedua orang tua lenyap ditelan bumi. Ketiga kakak beradik itu pun memulai perjalanan penuh misteri untuk mencari orang tua mereka. Dalam pencarian, mereka menemukan jejak masa lalu yang kelam: organisasi rahasia, perebutan kekuasaan, dan musuh lama yang kembali bangkit. Rahasia yang selama ini disembunyikan ayah dan ibu perlahan terbuka, membuat mereka bertanya dalam hati: “Apakah ini benar orang tua kami?
ini cerita buatan sendiri!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAFRIDA ANUGRAH NAPITUPULU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batam — Tembok yang Semakin Dekat (Armand)
Armand berjongkok di balik kontainer, peluh bercucuran meski malam terasa dingin.
Setiap langkah yang ia rencanakan di peta kini berubah menjadi improvisasi. Lawannya terlalu dekat, dan mereka tahu arah pergerakannya.
Satu mobil bergerak lambat di jalan setapak. Dua orang bersenjata keluar, meneliti setiap bayangan.
Armand menarik napas, menunggu. Satu detik terlalu cepat, dan nyawanya bisa hilang.
Ia merogoh saku, mengambil ponsel yang hampir tak punya sinyal. Tidak ada yang bisa dihubungi—tidak untuk Safira, Clarissa, Adrian, atau Elisabet.
Menghubungi mereka hanya akan membahayakan.
Satu peluru meledak tepat di sampingnya.
Armand merunduk, menembakkan senjatanya sekali. Bunyi tembakan bergaung, tapi berhasil memberi jarak.
Di sudut hatinya, ia memikirkan Elisabet: api yang sudah menyala di Bandung.
Jika ia bergerak, itu akan membuat segalanya lebih panas.
Armand tahu satu hal: dia harus bertahan. Untuk keluarganya. Untuk Elisabet. Dan untuk warisan yang tak boleh jatuh ke tangan orang-orang itu.
Jakarta — Rahasia Terungkap
Adrian melangkah masuk ke apartemen teman lama Raka, tempat yang penuh kabel, monitor berserakan, dan aroma kopi pekat. Atmosfer hacker benar-benar terasa—lampu redup, layar monitor menyala, dan suara keyboard yang mengetik cepat menembus keheningan.
Adrian: “Raka… gue butuh bantuan lo.”
Raka: “Bantuan apa, bro?” tanya Raka, sembari menyeruput mie di tangan satunya.
Adrian: “Tentang Ibu ku… Elisabet.”
Raka menoleh, matanya membelalak, jari-jarinya berhenti sejenak di keyboard.
Raka: “What the…?! Ibu kalian? Are you serious, bro? Sial, lo bikin gue hampir muntah!”
Adrian menghela napas panjang, menatap layar penuh kode.
Adrian: “Serius, Raka. Tolong, cari semua info yang bisa lo temukan. Aku nggak peduli risikonya.”
Raka menepuk meja beberapa kali, mukanya campur kesal dan tak percaya.
Raka: “Oke, oke… santai dulu! Gue coba. Tapi… sialan, ini bakal bikin gue marah setengah mati!”
Beberapa menit berlalu. Raka mengetik cepat, jari-jari menari seperti menaklukkan dunia digital. Layar penuh arsip, kode, dan sistem pertahanan yang otomatis menyerang balik.
Tiba-tiba Raka berteriak sambil menepuk dadanya:
Raka: “Fuck! Aduh, sial! Gue nemuin sesuatu… ibu lo… nama asli dia… Elisabet Santoso! Anak kaya raya, bro! Properti, rekening… alamat lengkap! Dan gue nggak bohong, sistemnya langsung nge-lock lagi, sialan, gue nggak bisa masuk lagi!”
Adrian menelan ludah, tak percaya.
Adrian: “Itu… ibu sungguh ibu ku?”
Raka: “Iya, gila, bro… miliarder bahkan lebih!” ujar Raka, tak percaya.
Adrian menutup laptop, mencoba mencerna semuanya.
Adrian (chat ke Clarissa & Safira):
“Aku baru dapat info… Ibu kita… Elisabet Bastian… nama asli Elisabet Santoso. Anak kaya raya. Sistem langsung nge-lock. Nggak ada info tambahan.”
Tak lama, ponselnya bergetar dengan balasan dari kakaknya:
Clarissa: “Apa?! Pulang sekarang, Adrian. Kita harus ketemu!”
Safira: “Cepat, jangan tunggu! Ini serius!”
Adrian menatap Raka, yang hanya mengangkat bahu dengan ekspresi campur frustasi dan kagum.
Raka: “Yeah, gue bilang ke lo… sometimes truth is… too much. Tapi gue salut, bro, lo berani nyari tahu sendiri.”
Adrian tersenyum tipis.
Adrian: “Thanks, Raka. Gue nggak bisa lakukan ini sendirian.”
Setelah memastikan semua aman, Adrian bergegas pulang ke rumahnya yang ada di kota Medan. Di perjalanan, pikirannya kacau rasa penasaran, kaget, marah… semua bercampur.
Begitu sampai, ketiga kakak-beradik itu duduk di ruang tengah. Perdebatan kecil terjadi:
Safira: “Kenapa ibu kita bohong sama kita selama ini? Semua yang kita tahu ternyata palsu?”
Clarissa: “Aku nggak ngerti… tapi kita nggak bisa tinggal diam sekarang. Semuanya… terlalu besar.”
Tiba-tiba, ponsel Adrian bergetar lagi. Sebuah pesan baru dari Raka:
Raka (chat): “Bro, gue berhasil… alamatnya nemu! Fakta ibu kalian pewaris. Tapi sial, sistem langsung nge-lock lagi, nggak ada cara lain.”
...----------------...
Medan — Serangan di Rumah Bastian
Malam menutup kota Medan dengan gelapnya yang pekat. Di rumah mewah keluarga Bastian, lampu taman berkelap-kelip, namun terasa hening—terlalu hening. Safira, Clarissa, dan Adrian baru saja kembali dari kepanikan setelah mengetahui rahasia ibu mereka. Ketiganya masih duduk di ruang tengah, cemas, gelisah, dan bingung.
Tiba-tiba, suara ledakan mengguncang dinding. Debu beterbangan. Suara sirine dan alarm berbunyi bersamaan. Lampu di rumah padam, gelap menyelimuti setiap sudut.
BUMMM
Seseorang dari luar mengumpat, keras:
“Sial! Jangan sampai mereka terluka!”
Tembakan terdengar beruntun. Para pelayan yang mencoba melindungi tuan mereka… mati tersungkur satu per satu.
Clarissa: “Awas!!” teriaknya, menarik Safira ke belakang sofa.
Adrian segera membuka tasnya, mengeluarkan pistol yang biasa ia bawa saat latihan di Taruna Akademi. Naluri bertarungnya muncul seketika.
Namun jumlah musuh terlalu banyak. Dari jendela yang pecah, pria bersenjata meluncur masuk, menembak ke segala arah. Ledakan kecil dari granat stun menghantam lantai, kaca berhamburan.
Di tengah kekacauan itu, sosok laki-laki paruh baya dengan tubuh kekar dan perempuan setengah baya muncul dari lorong samping, seakan dari bayangan. Mereka cepat, terlatih, gerakannya nyaris tak terlihat.
...----------------...
Visual Adam dan Livia
Laki-laki itu: “Adrian! Ambil ini!”
Sebuah senjata dilempar ke tangan Adrian. Dengan gerakan cepat, ia menembak balik, memberi kesempatan bagi ketiganya untuk bergerak.
Safira: “Siapa mereka?! Dari mana datangnya?!”
Perempuan paruh baya: “Musuh Ayah kalian… cepat, ikut kami! Jangan berhenti!”
Ketiganya melarikan diri ke lorong belakang rumah. Ledakan demi ledakan menghantam dinding, pintu bergetar, dan suara kaca pecah terdengar di seluruh rumah. Adrian memimpin, menahan pintu agar musuh tidak mudah mengejar.
Di halaman belakang, ketiganya berlari menuruni tangga darurat yang licin karena hujan semalam. Adrian hampir tergelincir, nyaris terjatuh ke jurang kecil di sisi rumah. Safira memegangi tangannya dengan cepat, menariknya kembali.
Clarissa: “Hati-hati! Ada musuh di sana!”
Dari atas, suara tembakan menembus malam. Adam, laki-laki paruh baya yang menyelamatkan mereka, menahan tembakan dengan gesit, lalu menyeret seorang musuh ke belakang kontainer. Perempuan itu menembak ke arah lain, memaksa musuh mundur.
Adam: “Cepat! Jangan pikirkan apa pun! Kita harus ke titik aman!”
Mereka berlari melewati gang sempit, berputar ke jalan sepi. Safira menoleh ke belakang—ledakan terakhir membuat sebagian dinding rumah meledak, api mulai menjilat atap.
Adrian (bernapas cepat): “Gila… rumah kita… semua hampir hancur!”
Di tengah pelarian, rasa takut bercampur adrenalin. Adrian memikirkan pelatihan senja di Taruna Akademi; itu yang membantunya tetap fokus, menembak balik, dan melindungi kakak-kakaknya.
Setelah berlari beberapa blok, mereka sampai di sebuah gedung kosong yang cukup aman untuk beristirahat. Semua terengah-engah, tubuh gemetar. Lampu kota jauh di kejauhan, hanya suara malam yang terdengar.
Safira: “Siapa… siapa mereka sebenarnya?”
Adam: “Musuh yang tak akan berhenti mengejar.”
Perempuan paruh baya: “Kami teman Ayah kalian. Kami sudah mengenal semua bahaya yang mengintai. Dan… kami di sini untuk memastikan kalian hidup.”
Adam: “Tapi ini baru permulaan. Musuh terlalu banyak. Kita harus bergerak cepat sebelum mereka menyusun serangan berikutnya.”
Adrian menatap kakaknya, lalu Safira, lalu perempuan dan Adam. Semua rasa takut, kebingungan, dan amarah bercampur. Ia menyadari satu hal: ini bukan lagi hanya tentang rahasia ibu mereka. Ini perang hidup atau mati.
Ketiganya saling berpandangan. Safira menggenggam tangan Clarissa. Adrian menepuk bahu mereka berdua. Di luar, suara sirine polisi dan kendaraan mendekat, tapi itu hanyalah gangguan—musuh mereka terlalu cepat, terlalu banyak.
Adrian: “Kita harus keluar dari kota ini, minimal sementara. Kita butuh strategi. Kita butuh info lebih banyak.”
Adam mengangguk, menatap mereka dengan serius.
Adam: “Kalian harus tahu… ini baru permulaan. Tapi satu hal pasti: jika Ayah kalian mempercayakan hidup kalian kepada kami, berarti ada alasan besar. Dan sekarang, kalian harus siap menghadapi semuanya.”
Safira menatap langit malam, napasnya masih berat. Clarissa menatap rumah yang terbakar dari kejauhan. Adrian menatap teman Ayah mereka, Adam dan perempuan itu, dengan campuran rasa kagum dan lega.
Safira: “Kalau kita selamat malam ini… kita harus cari tahu semua. Semua rahasia. Semua kebohongan. Kita nggak bisa berhenti.”
Adam tersenyum tipis, tapi matanya tetap waspada.
Adam: “Benar. Tapi malam ini, kalian masih hidup. Itu yang paling penting.”
Di tengah hening itu, suara kota Medan masih berdengung. Tapi untuk pertama kali, ketiganya merasakan satu hal: mereka tidak sendirian, dan api yang mulai menyala dalam diri mereka siap membakar semua kebohongan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...