NovelToon NovelToon
Membawa Lari Benih Sang Mafia

Membawa Lari Benih Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Lari Saat Hamil / Single Mom / Anak Genius / Romansa / Roman-Angst Mafia / Tamat
Popularitas:6.8M
Nilai: 5
Nama Author: Senja

🏆 JUARA YAAW PERIODE 3 2025 🏆

Elise, seorang gadis keturunan bangsawan kaya, hidupnya terikat pada aturan keluarga. Untuk mendapatkan harta warisan, ia diwajibkan menikah dan segera melahirkan keturunan. Namun Elise menolak. Baginya, pernikahan hanyalah belenggu, dan ia ingin memiliki seorang anak tanpa harus menyerahkan diri pada suami yang dipaksakan.
Keputusan nekat membawanya ke luar negeri, ke sebuah laboratorium ternama yang menawarkan program bayi tabung. Ia pikir segalanya akan berjalan sesuai rencana—hingga sebuah kesalahan fatal terjadi. Benih yang dimasukkan ke rahimnya ternyata bukan milik donor anonim, melainkan milik Diego Frederick, mafia paling berkuasa dan kejam di Italia.
Ketika Diego mengetahui benihnya dicuri dan kini tengah berkembang dalam tubuh seorang wanita misterius, murka pun meledak. Baginya, tak ada yang boleh menyentuh atau memiliki warisannya.

Apakah Elise berhasil melarikan diri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 28

Jantungnya berdebar seperti genderang perang. Keringat dingin membasahi pelipisnya, menetes perlahan ke lehernya yang tegang.

“Benih itu... milik Diego Frederick.”

Kalimat Dokter Morelli terus terngiang di kepalanya, sebuah gema mengerikan yang merampas udara dari paru-parunya.

Enam tahun. Selama enam tahun ia membesarkan Alex, mataharinya, dengan keyakinan bahwa ia adalah satu-satunya miliknya. Hasil dari prosedur medis anonim yang menyelamatkan harapannya untuk menjadi seorang ibu.

Sekarang, anonimitas itu hancur berkeping-keping.

Ayah biologis putranya adalah monster yang sama yang kini menjadi bosnya. Pria yang tatapannya sedingin es Arktik, yang perintahnya adalah hukum mutlak, yang namanya dibisikkan dengan nada takut di sudut-sudut gelap kota.

Elise berhenti mondar-mandir. Tangannya mencengkeram kusen jendela, buku-buku jarinya memutih. Di bawah sana, taman mansion yang terawat sempurna terbentang seperti permadani hijau. Indah, tenang, dan mematikan. Sama seperti pemiliknya.

“Aku harus pergi,” bisiknya pada pantulan dirinya di kaca. “Aku akan membawa Alex lari dari ayahnya.”

Wajah Alex yang datar melintas di benaknya. Tawa dinginnya, mata birunya yang jernih adalah mata yang sama persis dengan Diego. Awalnya, Elise menganggapnya kebetulan yang aneh.

Kini, kebetulan itu terasa seperti jerat yang mencekik lehernya. Diego sedang mencari pewarisnya. Benih yang hilang. Dan benih itu sekarang sedang tertidur pulas di kamar sebelah, tidak menyadari bahwa ayahnya adalah serigala yang menyamar dalam setelan mahal.

Pintu di belakangnya terbuka tanpa suara.

Elise tidak perlu berbalik untuk tahu siapa yang datang. Udara di dalam ruangan seketika menjadi lebih dingin. Aroma sandalwood dan ozon yang tajam mengisi ruangan, menyusup ke indranya seperti racun.

Langkah kakinya yang mantap dan tanpa ragu terdengar di atas karpet tebal. Semakin dekat.

Elise memejamkan mata, jantungnya terasa seperti akan meledak dari dadanya.

“Kau terlihat gelisah.”

Suara itu. Dalam dan tenang, namun menyimpan ancaman tersembunyi yang membuat bulu kuduk Elise meremang.

Elise tidak menjawab. Ia tidak sanggup. Lidahnya terasa kelu.

Tiba-tiba, sepasang lengan kekar melingkari pinggangnya dari belakang. Tubuhnya menegang seketika. Elise tersentak, napasnya tercekat di tenggorokan saat punggungnya bersentuhan dengan dada bidang yang keras seperti batu.

Diego menundukkan kepalanya, dagunya hampir menyentuh bahu Elise, napasnya yang hangat terasa di kulit lehernya.

“Aku tidak suka melihatmu seperti ini,” bisik Diego, suaranya lebih lembut dari biasanya. “Katakan padaku, Elise. Apa yang ada di pikiranmu?”

“Apa yang saya pikirakn penting, tuan?”

“Sangat penting.”

Elise berusaha mencari kebohongan, alasan, apa pun untuk keluar dari situasi ini. Dari ruangan ini. Dari rumah ini.

“Tidak ada yang saya pikirkan. Saya hanya lelah, Tuan Frederick,” ucap Elise akhirnya.

Cengkeraman di pinggang Elise mengencang.

“Jangan panggil aku seperti itu saat kita hanya berdua.” Perintahnya mutlak. “Dan jangan berbohong padaku. Aku bisa merasakan jantungmu berdetak seperti burung yang terperangkap.”

Elise menelan ludah dengan susah payah. Otaknya bekerja keras. Ia butuh alasan untuk pergi, alasan yang masuk akal, alasan yang akan membuat Diego melepaskannya meskipun hanya untuk sementara.

Dan kemudian, sebuah ide gila dan putus asa muncul. Sebuah kebohongan yang bisa menyelamatkannya atau justru menghancurkannya.

“Saya harus pergi,” katanya, mencoba membuat suaranya terdengar lebih mantap.

“Pergi?” Diego mengulang kata itu. “Pergi ke mana?”

“Pulang,” jawab Elise cepat. “Ya, saya harus pulang ke rumah.”

Keheningan menyelimuti mereka. Elise bisa merasakan otot-otot di lengan Diego menegang.

“Ini rumahmu sekarang,” katanya pelan, setiap kata diucapkan dengan presisi yang mengerikan.

“Bukan!” Elise memberanikan diri, memutar sedikit kepalanya untuk menatap sisi wajah Diego yang tegas. “Saya harus kembali pada suami saya. Dia menunggu saya dan Alex.”

Kata suami keluar begitu saja dari bibir Elise.

Diego tidak bergerak. Tidak bersuara. Tapi Elise bisa merasakannya. Perubahan atmosfer di sekelilingnya. Aura dingin yang memancar darinya kini terasa seperti bilah-bilah es yang menusuk kulit.

“Apa yang baru saja kau katakan?” tanyanya, suaranya turun satu oktaf, menjadi geraman rendah yang nyaris tak terdengar.

“Ayah Alex.” Elise mengulangi, memaksakan keberanian yang tidak ia miliki. “Saya baru saja menemuinya tadi. Dia meminta saya untuk pulang. Dia membutuhkan saya di rumah.”

Elise menahan napas, menunggu reaksi Diego.

Ledakan amarah? Atau mungkin pertanyaan tajam?

Tidak ada.

Yang ada hanyalah tekanan yang semakin kuat di pinggangnya, nyaris menyakitkan. Elise melirik ke bawah dan melihat tangan Diego yang mencengkeramnya, buku-buku jarinya menonjol dan memutih karena tekanan. Ia mengangkat pandangannya kembali ke wajah Diego.

Dan Elise melihatnya.

Otot di sepanjang rahang pria itu menegang, membentuk garis keras yang tajam dari telinga hingga dagunya.

Matanya yang biru, yang biasanya sedingin lautan es, kini menggelap menjadi warna badai. Ada kilat berbahaya di dalamnya, sesuatu yang purba dan sangat posesif.

Dunia Elise seakan menyusut hanya pada rahang yang mengeras itu dan cengkeraman yang menghancurkan di pinggangnya.

Diego akhirnya angkat bicara, suaranya adalah bisikan paling mematikan yang pernah Elise dengar.

“Bagaimana kalau aku menghabisi ayah Alex dengan tanganku sendiri?” kalimat itu sontak membuat Elise hampir tersedak.

Apa dia bilang? Apa dia mau membunuh dirinya sendiri? pikirnya.

1
adisty aulia
Alur ceritanya selalu bagus..🌺🌺🌺🌺
adisty aulia
Alur ceritanya selalu bagus..🌺🌺🌺🌺
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
bagus ceritanya 👍👍👍👏👏👏😘😘😘
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
happy ending 🤗🤗
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
ngakak bet ah 😂😂😂
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Leana jd putri kesayangan Alex dan Leonard 🤗🤗
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
hrsnya Kaylin umurnya lbh muda dr si kembar kok ini malah sama umurnya sama si kembar
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
randomnya kalian 😂😂
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
jngn lebay deh Diego 😏😏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
ortunya Theo keterlaluan
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
apa ada kongkang likong keluarga Theo
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
pd rebutan
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
kasihan Jennifer dn Theo bayinya meninggal
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
kejutan buat Diego
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Diego ngidamnya lama sampai mau lahiran msh ngidam 😏😏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
terlalu lebay deh kl lakuin hubungan suami istri di setiap tempat dan tak kenal waktu dan gak th malu walau sdh bnyk yg liat mereka gituan 😏😏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
kasihan Alex matanya sdh ternoda😏😏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
nyesel pun gak guna Jonathan
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Diego jd berhati hello Kitty 😂😂
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Alex nasehatinnya damage banget 😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!