NovelToon NovelToon
TAKDIR YANG MEMPERMAINKAN KITA

TAKDIR YANG MEMPERMAINKAN KITA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:509
Nilai: 5
Nama Author: Lewier Lisye

Menikahi seorang duda beranak dua memaksa seorang wanita muda bergelut dalam dinginnya rumah tangga yang penuh penolakan. Di tengah perjuangan dan perlawanannya menembus benteng prasangka sebagai ibu tiri, sebuah rahasia terkuak dan menyadarkannya akan arti takdir yang sebenarnya. Sebuah drama pernikahan yang sarat air mata, sindiran kehidupan, dan ketulusan cinta yang akan mengaduk emosi pembaca wanita dewasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lewier Lisye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: PUING PRASANGKA DI ATAS SINGGASANA

Pagi itu, aroma kopi hitam dan kehangatan roti panggang bermentega memenuhi udara di ruang makan utama Kediaman Pratama. Sebuah pemandangan yang—beberapa bulan lalu—hanya ada di dalam khayalan paling mustahil seorang Kirana.

Di ujung meja, Aris sedang membantu Maya memotong sosisnya menjadi bagian-bagian kecil, sementara Leo duduk di samping Kirana, sibuk menceritakan proyek sains sekolahnya dengan mata berbinar-binar. Suasana begitu damai, begitu hidup. Namun, di balik pendar cahaya matahari pagi yang menerobos jendela kaca setinggi langit-langit itu, Kirana merasakan jemarinya di bawah meja masih gemetaran.

Abu dari dokumen medis Aris dan berkas adopsi asli Leo-Maya di basement tua Bandung kemarin sore mungkin telah dingin, tetapi riaknya dalam jiwa Kirana baru saja dimulai. Ia telah menyelamatkan kebanggaan suaminya. Ia telah melindungi identitas kedua anak tirinya. Namun, harga dari rahasia itu adalah sebuah ketakutan baru yang mengendap di dasar dadanya: sampai kapan ia sanggup memikul kebohongan agung ini sendirian?

"Kamu melamun lagi, Kirana," suara berat Aris memecah denting sendok dan garpu.

Kirana tersentak pelan. Ia mengangkat wajahnya dan mendapati Aris sedang menatapnya lekat. Iris mata cokelat suaminya yang dulu selalu memancarkan keangkuhan dan dingin bagaikan es, kini dipenuhi oleh kecemasan yang begitu telanjang. Aris meletakkan pisau makanannya, lalu mengulurkan tangan melintasi meja untuk mengusap punggung tangan Kirana.

"Sejak pulang dari Bandung kemarin sore, tatapanmu sering kosong," tutur Aris pelan, matanya menyipit penuh selidik namun lembut. "Pak Wijaya bilang kamu hanya mengunjungi panti asuhan lama tempatmu dibesarkan untuk menyumbang... tapi instingku mengatakan ada hal lain. Apakah ada sesuatu yang mengganggumu, Sayang?"

Jantung Kirana berdesir cepat. Ia memaksa bibirnya membentuk senyuman paling natural yang sanggup ia rakit. "Tidak ada, Mas. Aku hanya... masih sering merasa ini semua seperti mimpi. Maksudku, berada di sini, bersamamu, bersama Leo dan Maya. Terkadang aku takut terbangun dan mendapati kita kembali ke masa-masa di mana kita saling membenci."

Aris terkekeh pelan, sebuah tawa rendah yang menenangkan. Pria tegap itu menggenggam jemari Kirana lebih erat. "Masa-masa itu sudah mati, Kirana. Aku yang bodoh karena dulu membiarkan rasa duka dan manipulasi Sheila membutakan mataku. Kamu bukan lagi wanita asing yang kupandang sebelah mata. Kamu adalah jantung rumah ini."

Jantung rumah ini. Words that should have brought comfort instead felt like a heavy iron weight pressing on Kirana's chest. Jika Aris tahu bahwa jantung rumah ini dibangun di atas kebohongan yang disembunyikan dari kebenaran medisnya sendiri, akankah pria itu masih menatapnya dengan pendar pemujaan seperti ini?

Sebelum Kirana sempat membalas, Pak Wijaya melangkah masuk ke ruang makan dengan langkah terburu-buru. Wajah pria tua itu tampak tegang, membawa sebuah nampan berisi tablet digital dan beberapa surat resmi.

"Tuan Aris... Nyonya..." Pak Wijaya membungkuk hormat, namun nadanya mengindikasikan ketidakberesan. "Maaf mengganggu sarapan Keluarga. Namun, Rapat Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Pratama Corp yang dijadwalkan bulan depan... mendadak dimajukan menjadi sore ini."

Aris mengerutkan dahi, garis tegas di wajahnya mendadak mengeras. "Dimajukan? Atas perintah siapa? Pihak direksi tahu jelas aku baru saja pulih dari masa krisis pasca-teror Sheila."

"Bukan dari internal direksi, Tuan," jawab Pak Wijaya seraya menyerahkan tablet digital tersebut. "Konsorsium Wijaya Group—yang dipimpin oleh Tuan Raymond Wijaya—baru saja membeli empat puluh persen saham publik dan saham milik keluarga cabang. Mereka menuntut restrukturisasi kepemimpinan atas alasan 'stabilitas moral dan inkonsistensi kepemimpinan keluarga Pratama'."

Raymond.

Nama itu menghantam dada Kirana seperti godam besi. Cangkir teh di tangan Kirana berdenting keras saat bertubrukan dengan piring tatakannya. Teh hangat sedikit menciprat membasahi taplak meja yang putih bersih.

Aris langsung menoleh cepat pada istrinya. "Kirana? Kamu tidak apa-apa?"

"A-aku tidak apa-apa, Mas," bisik Kirana gagap, buru-buru menyapu tumpahan teh dengan serbet. tangannya bergetar hebat.

Mengapa Raymond melakukan ini? Bukankah kemarin sore pria tua itu telah berjanji di depan abu dokumen yang terbakar? Bukankah ia telah menyerahkan hak asuh spiritual anak-anaknya dan berjanji akan mundur? Apakah itu semua hanya perangkap?

Aris berdiri tegak, memancarkan aura aura aura kepemimpinan yang dominan. Pria itu menyapu rambutnya ke belakang, matanya berkilat dingin—aura penguasa bisnis yang sempat redup akibat depresi kini menyala kembali.

"Raymond Wijaya sudah tua," desis Aris dingin. "Dia adalah musuh bebuyutan Almarhum Kakek Hendra. Puluhan tahun dia mencoba meruntuhkan Pratama Corp dan selalu gagal. Jika dia pikir dia bisa memanfaatkanku saat aku sedang lemah, dia sangat salah besar."

Aris menatap Kirana, lalu mengusap kepala Leo dan Maya yang menatap ayahnya dengan bingung. "Pak Wijaya, siapkan jas saya. Kirana, aku harus ke kantor sekarang. Jangan cemas, ini hanya gertakan bisnis biasa."

Kirana berdiri, meremas ujung bajunya. "Mas... haruskah kamu pergi? Bisakah... bisakah kita biarkan saja mereka mengambil sebagian saham itu? Kita sudah punya cukup, Mas. Kita punya keluarga ini—"

"Ini bukan cuma soal uang atau saham, Kirana," potong Aris seraya menatap istrinya tajam namun penuh kasih. "Ini soal warisan yang akan kutinggalkan untuk Leo dan Maya. Aku berjuang mempertahankan kerajaan ini agar kelak, ketika kedua anak kita dewasa, tidak ada satu orang pun di dunia ini yang bisa meremehkan mereka. Aku melakukan ini demi masa depan anak-anak kita."

Kata-kata Aris bagaikan sembilu yang menyayat hati Kirana. Anak-anak kita. Aris berjuang setengah mati demi melindungi warisan untuk anak-anak yang bahkan tidak memiliki pertalian darah dengannya—anak-anak dari pria yang kini sedang mencoba menghancurkannya di arena bisnis.

Gedung Pratama Tower berdiri menjulang angkuh di pusat kawasan bisnis Jakarta. Pukul tiga sore, ruang rapat utama di lantai lima puluh lima dipenuhi oleh ketegangan yang nyaris meledak. Para pemegang saham veteran, jajaran direksi berkemeja rapi, serta jajaran pengacara papan atas duduk mengelilingi meja oval kayu mahoni yang luas.

Di ujung meja, Aris Pratama duduk dengan posisi tegak, memancarkan wibawa absolut seorang CEO. Namun, di seberang mejanya, duduk Raymond Wijaya. Pria tua berambut perak itu mengenakan jas hitam elegan, menopang kedua tangannya di atas kepala tongkat berukir perak. Wajahnya tenang, tak tersentuh oleh aura intimidasi Aris.

Kirana duduk di jajaran kursi pengamat di bagian belakang ruangan. Ia menolak tinggal di rumah. Ketakutan akan benturan antara masa lalu dan masa kini membuatnya harus menyaksikan sendiri apa yang akan terjadi.

"Tuan Aris Pratama," Raymond membuka suara, suaranya yang berat dan dalam menggema di seluruh ruangan, menciptakan keheningan yang mencekat. "Kami menghargai kontribusi Keluarga Pratama selama tiga dekade terakhir. Namun, dunia bisnis tidak berjalan di atas belas kasihan atau sejarah masa lalu."

Raymond menggeser sebuah map hitam ke tengah meja.

"Laporan keuangan dan audit independen menunjukkan adanya ketidakstabilan manajerial selama dua tahun terakhir—terutama saat Anda mengalami gangguan kesehatan mental pasca-skandal mantan istri Anda, Sheila," lanjut Raymond tanpa emosi. "Konsorsium kami tidak bisa mempertaruhkan investasi triliunan rupiah di bawah kepemimpinan seorang pria yang rentan secara emosional dan tidak memiliki kepastian suksesi yang solid."

"Kepastian suksesi?" Aris terkekeh sinis, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Tuan Raymond, saya memiliki dua orang anak, Leo Pratama dan Maya Pratama. Trah Pratama sangat jelas dan tidak perlu dipertanyakan oleh orang luar seperti Anda."

Mendengar ucapan Aris, Raymond perlahan memalingkan pandangannya dari Aris. Matanya yang tajam dan sarat pengalaman menerobos lurus ke belakang ruangan, mengunci pandangan pada Kirana yang duduk terpaku.

Di dalam manik mata Raymond, Kirana melihat sebuah kilatan rasa sakit dan kepahitan yang teramat dalam. Pria tua itu menatap anak mantunya—suami dari wanita yang dicintainya dulu—yang dengan bangga mengklaim anak-anak biologisnya tanpa tahu kebenaran yang sebenarnya.

Kirana menggelengkan kepalanya sangat pelan dari balik kursi pengamat. Matanya berkaca-kaca, memohon secara tersirat pada Raymond. Jangan... Tuan Raymond, tolong... demi janji kita kemarin.

Raymond memejamkan mata sejenak. Jemarinya yang keriput mengepal erat pada kepala tongkat kayunya. Selama puluhan tahun, dendam membalas kemandulan Aris dan kejahatan Kakek Hendra adalah bahan bakar utama hidupnya. Ia memiliki kekuatan untuk menghancurkan Aris detik ini juga. Ia bisa saja melemparkan kebenaran itu ke hadapan para pemegang saham dan media massa yang berkerumun di luar gedung.

Namun, di bayang-bayang ruangan itu, ia melihat Kirana. Wanita muda berumur dua puluh empat tahun yang kemarin menangis histeris di basement dingin Bandung—bukan demi uang, bukan demi takhta, melainkan demi melindungi senyum Leo dan Maya. Wanita yang rela menjadi wadah bagi seluruh rasa sakit dan rahasia kelam keluarga ini.

Ibu sejati bukan hanya wanita yang melahirkan, tetapi jiwa yang rela mati agar anak-anaknya bisa hidup bahagia.

Kata-kata mendiang Shinta kembali bergaung di telinga Raymond.

Raymond menarik napas panjang, sebuah helaan napas berat yang seolah menyedot seluruh sisa kepahitan dari masa lalunya. Ketika ia membuka mata kembali, aura permusuhan yang pekat di wajahnya perlahan melunak.

"Suksesi bukan hanya soal darah, Tuan Aris," ujar Raymond pelan, suaranya mendadak kehilangan nada tajamnya. "Tapi soal siapa yang berdiri menjaga anak-anak itu ketika dunia menghancurkan mereka."

Aris mengerutkan alisnya, bingung dengan perubahan nada bicara musuh bebuyutannya itu.

Raymond lalu menarik kembali map hitam dari tengah meja. Ia menggesernya ke dalam tas kulitnya, lalu perlahan berdiri dari kursinya. Seluruh direksi dan pemegang saham menatapnya dengan terkejut.

"Tuan Raymond? Bagaimana dengan pemungutan suara pengambilalihan kepemimpinan?" tanya salah satu direksi senior dengan wajah cemas.

Raymond menatap Aris dalam-dalam, lalu pandangannya beralih pada Kirana yang menahan napas di belakang.

"Konsorsium Wijaya Group... menarik seluruh tuntutan restrukturisasi," tegas Raymond, keputusannya membuat seluruh ruangan riuh oleh bisik-bisik ketidakpercayaan. "Kami akan tetap menjadi pemegang saham pasif. Saya melihat... Pratama Corp berada di tangan yang tepat. Bukan karena kehebatan manajemen Tuan Aris... tapi karena keberadaan benteng yang tak terlihat di dalam rumah Anda."

Aris terpaku di tempat duduknya. Pria yang terkenal cerdas dan tak terkalahkan di dunia bisnis itu tampak benar-benar kehilangan kata-kata. Ia menatap Raymond yang mulai melangkah keluar dari ruang rapat dengan bantuan tongkat kayunya.

Saat melintasi kursi Kirana di dekat pintu keluar, Raymond menghentikan langkahnya sejenak. Tanpa menoleh pada Kirana, pria tua itu berbisik sangat pelan, hanya cukup didengar oleh Kirana seorang.

"Jaga anak-anakku, Kirana... Kau adalah kemenangan terbesar yang tidak pernah bisa diraih oleh Keluarga Pratama maupun Keluarga Wijaya."

Airmata Kirana menetes menembus pipinya. Ia menundukkan kepala sangat dalam, memberikan penghormatan terakhir bagi seorang ayah biologis yang memilih untuk kalah di mata dunia demi kemenangan kebahagiaan anak-anaknya.

Malam harinya, hujan deras kembali mengguyur kota Jakarta. Suara gemuruh petir menyahut di kejauhan, menciptakan suasana hangat di dalam kamar utama Kediaman Pratama.

Aris berdiri di depan jendela kaca besar yang menghadap ke taman belakang, memegang segelas wiski yang tak tersentuh. Wajahnya menyiratkan kebingungan yang sangat mendalam atas kejadian sore tadi.

Kirana melangkah mendekatinya dari belakang, melingkarkan kedua lengannya di pinggang tegap Aris, menempelkan pipinya di punggung hangat suaminya.

"Masih memikirkan kejadian di kantor tadi?" bisik Kirana lembut.

Aris menghembuskan napas panjang, meletakkan gelasnya di meja samping, lalu membalikkan badan untuk memeluk Kirana. Ia menenggelamkan wajahnya di leher Kirana, meresapi aroma harum bunga melati yang selalu menenangankannya.

"Aku tidak mengerti, Kirana," gumam Aris parau. "Raymond Wijaya adalah serigala tua yang kejam. Dia sudah membenci keluargaku selama puluhan tahun. Tapi sore tadi... saat dia menatapku, dan saat dia menatapmu... cara dia bicara seolah-olah dia tahu sesuatu yang tidak kuketahui. Seolah-olah dia melepaskan pertempuran yang sudah dia menangkan."

Kirana membelai rambut belakang Aris dengan penuh kelembutan. Jarinya menyusuri setiap helai rambut pria yang dicintainya ini—pria yang telah melewati trauma penderitaan, pria yang rela melakukan apa saja demi dirinya dan anak-anak.

Maafkan aku, Mas, jerit Kirana dalam hatinya. Maafkan aku harus menyimpan rahasia ini dari mu selamanya. Kamu tidak perlu tahu tentang kepahitan medis itu. Kamu tidak perlu tahu tentang rekayasa Kakek Hendra. Biarlah beban ini menjadi milikku. Biarlah aku yang menjadi penjahat yang menyimpan rahasia, asal kamu bisa tetap tersenyum dan menjadi ayah paling membanggakan bagi Leo dan Maya.

"Mungkin..." pangkas Kirana pelan, menarik wajah Aris agar menatap matanya. "Mungkin Tuan Raymond hanya melihat betapa bahagianya kita sekarang, Mas. Kadang-kadang, musuh terbesar pun akan luluh ketika melihat bahwa kasih sayang sanggup mengalahkan segala bentuk dendam."

Aris menatap mata Kirana yang bening dan jujur. Pria itu menangkup pipi Kirana dengan kedua tangannya yang hangat, lalu mengecup kening istrinya lama dan dalam.

"Terima kasih, Kirana," bisik Aris penuh ketulusan, air mata menetes tipis di sudut matanya. "Terima kasih karena tidak pernah menyerah padaku. Terima kasih karena telah datang ke dalam hidupku yang hancur, menerima penolakanku yang dingin, dan mengubah rumah ini menjadi tempat di mana kita bisa merayakan cinta."

Kirana tersenyum, senyuman paling murni yang lahir dari kedalaman jiwanya. Perjuangan berdarah-darah menembus tembok benteng prasangka sebagai seorang ibu tiri kini telah usai. Takdir yang dahulu terasa begitu jahat, yang mempermainkan hidupnya lewat jalan penderitaan dan pernikahan paksa, kini telah menunjukkan wajah aslinya.

Takdir tidak sedang menyiksanya. Takdir hanya sedang mengujinya, menempanya dalam kawah candradimuka air mata, agar ia layak menyandang mahkota tertinggi di dalam rumah tangga ini: Mahkota Cinta Seorang Ibu.

"Ibu! Papa!"

Suara dobrakan pintu kamar yang tiba-tiba membuat Aris dan Kirana tertawa pelan. Maya berlari masuk sambil mengucek matanya yang mengantuk, memeluk boneka kelincinya erat-erat, sementara Leo mengekor di belakangnya dengan wajah ketakutan akibat suara petir.

"Maya takut suara petir..." adu bocah perempuan itu seraya merentangkan tangannya minta diangkat.

Aris segera membungkuk dan menggendong Maya ke dalam pelukannya, sementara Kirana berlutut dan merengkuh Leo yang langsung menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Kirana.

"Tidak ada yang perlu ditakutkan, Sayang," ujar Kirana lembut seraya mengecup pipi Leo. "Ibu dan Papa ada di sini. Kita selalu bersama."

Di atas tempat tidur king-size yang luas itu, mereka berempat berbaring bersama. Malam kian larut, suara hujan di luar jendela berubah menjadi simfoni pengantar tidur yang menenangkan. Dengan Leo yang tertidur lelap di sisi kirinya dan jemari Aris yang menggenggam erat tangan kanannya, Kirana memejamkan mata.

Pernikahan ini tidak lagi berdiri di atas puing-puing prasangka. Di atas takhta ketulusan ini, cinta telah memenangkan pertaruhan terbesarnya. Dan Kirana tahu, apa pun badai yang akan datang di masa depan, jiwa seorang ibu tidak akan pernah melangkah mundur.

#halo guys, jangan lupa like subscribe dan komen, ngasih gift juga dan bintang 5 yah, jadikan novel ini favoritmu, ada karya baruku juga yang ngga kalah seru juga loh, judulnya Aku tak salah, jangan lupa dibaca dan pantengin terus kelanjutan ceritanya yah 😘

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!