NovelToon NovelToon
DEWA PEDANG TANPA TANDING

DEWA PEDANG TANPA TANDING

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat / Spiritual / Reinkarnasi / Fantasi Timur
Popularitas:91.1k
Nilai: 5
Nama Author: Otna Forever

Su Yun pernah menjalani hidup penuh kegagalan, kehilangan, dan penyesalan. Ketika takdir memberinya kesempatan kembali ke masa lalu, ia bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

Berbekal pengalaman dari kehidupan sebelumnya dan warisan misterius Seni Pedang Tanpa Batas, Su Yun menapaki kembali jalan kultivasi. Demi melindungi orang-orang yang berharga baginya, ia harus menghadapi para genius, sekte besar, Binatang Roh, hingga musuh yang jauh melampaui kekuatannya.

Kali ini, Su Yun tidak akan tunduk pada takdir.

Dengan pedang di tangannya, ia akan merebut kembali semua yang pernah hilang—dan membuka jalan menuju puncak dunia kultivasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 — Menembus Sarang Iblis

Pemimpin berbaju zirah hitam telah kehilangan seluruh keberaniannya.

Kultivasinya memang lebih tinggi daripada Su Yun, tetapi energi spiritualnya sudah disegel. Dalam keadaan seperti itu, ia tidak lebih dari seorang tahanan yang menunggu keputusan hidup dan mati.

Su Yun menyeretnya menjauh dari kerumunan.

“Masih ingin hidup?”

“Aku mau!”

Pria itu langsung mengangguk cepat.

“Aku mohon, jangan bunuh aku!”

“Aku bisa membiarkanmu hidup untuk sementara.”

Wajah pria itu langsung berbinar.

“Aku akan membawa kalian ke markas Sekte Iblis! Aku bersumpah!”

Belum selesai ia bicara—

Bang!

Su Yun menendang dadanya.

Pria itu terjatuh.

“Menunjukkan jalan memang kewajibanmu.”

Su Yun berjongkok di depannya.

“Tapi aku masih punya pertanyaan.”

“Tanyakan! Aku akan menjawab semuanya!”

Su Yun merendahkan suara.

“Kristal Surgawi.”

Tubuh pria itu langsung menegang.

Tatapan Su Yun berubah tajam.

“Siapa yang menyimpannya?”

“Kristal... Surgawi?”

Sret!

Pedang berkarat keluar dari sarungnya.

Ujungnya menyentuh dahi lelaki tersebut.

“Jangan membuatku bertanya dua kali.”

Wajah pemimpin Sekte Iblis memucat.

“Pemimpin!”

“Apa?”

“Kristal Surgawi berada di tangan Pemimpin Sekte!”

Su Yun menyipitkan mata.

“Dia membawanya terus?”

“Biasanya... biasanya iya.”

“Biasanya?”

Ujung pedang menekan sedikit.

Darah menetes dari dahi pria itu.

“Aku benar-benar tidak tahu banyak!”

Ia hampir menangis.

“Tapi kadang Pemimpin tidak membawanya!”

“Kapan?”

Pria itu terlihat ragu.

Su Yun kembali menekan pedang.

“Katakan.”

“Ketika... bersama istrinya.”

Su Yun terdiam sejenak.

“Pagi atau malam?”

“Biasanya pagi.”

Jawaban itu membuat Su Yun sedikit mengangkat alis.

Menarik.

Kalau informasi tersebut benar, peluang mengambil Kristal Surgawi jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan.

Su Yun menarik pedangnya.

“Bagus.”

Pria itu mengembuskan napas lega.

Beberapa murid Sekte Pedang Abadi yang mengamati dari kejauhan segera mendekat.

Senior Mu menatap tahanan itu.

“Apa yang kau tanyakan?”

Su Yun tersenyum.

“Rutinitas Sekte Iblis.”

Senior Mu mengerutkan kening.

“Rutinitas?”

“Kita akan menyusup ke markas mereka.”

Su Yun menjelaskan dengan tenang.

“Semakin banyak kita tahu, semakin kecil kemungkinan penyamaran terbongkar.”

Seorang murid perempuan bernama Mu Cheng langsung mengangguk.

“Saudara Dewa Pedang benar-benar berhati-hati.”

Su Yun tidak menjawab.

Tidak ada alasan memberi tahu mereka bahwa pertanyaan utamanya sebenarnya tentang Kristal Surgawi.

“Sekarang kita bagi kelompok.”

Ia memandang para murid.

“Mereka yang tidak ikut menyusup harus kembali ke Sekte Pedang Abadi.”

Senior Mu mengangguk.

“Lalu?”

“Laporkan semua yang terjadi.”

Su Yun melanjutkan.

“Dan minta para tetua menyiapkan teknik atau formasi penekan yang cocok untuk menghadapi pemimpin Sekte Iblis.”

Ia sejenak mengingat informasi yang baru diperoleh.

“Serangan terbaik dilakukan pagi hari.”

Senior Mu tampak sedikit heran.

“Kenapa pagi?”

“Karena pada waktu itu kemungkinan pertahanannya paling lemah.”

“Dari mana kau tahu?”

Su Yun menunjuk tahanan.

“Dia yang mengatakannya.”

Pemimpin Sekte Iblis hanya bisa menundukkan kepala.

Senior Mu tampak masih ragu, tetapi akhirnya mengangguk.

“Baik.”

Su Yun lalu berkata,

“Jangan langsung membawa banyak orang masuk.”

“Kita hanya butuh kelompok kecil.”

“Yang lain kembali dan membawa bantuan.”

Para murid mulai berdiskusi.

Tidak semua bersedia menyusup.

Wajar.

Masuk ke markas musuh bukan permainan.

Jika ketahuan, kemungkinan besar mereka tidak akan sempat menunggu pertolongan.

Akhirnya tujuh orang memutuskan ikut.

Jiang Long.

Bai Xiao Fei.

Zhang Da Qiang.

Li Xin Jian.

Liu Rong Hua.

Mu Cheng.

Dan Senior Mu.

Su Yun menatap lengan Senior Mu yang terluka.

“Dengan kondisimu, lebih baik kembali.”

Senior Mu menggeleng.

“Aku tetap ikut.”

“Kau kehilangan satu lengan.”

“Masih ada satu lagi.”

Tatapan pria itu keras.

“Dan aku tidak akan membiarkan orang-orang ini lolos setelah membunuh saudara kami.”

Su Yun dapat melihat alasan lain di baliknya.

Kontribusi.

Jika berhasil memusnahkan Sekte Iblis, semua yang terlibat pasti mendapatkan penghargaan besar.

Bagi seorang murid sekte, peluang semacam itu sulit ditolak.

Su Yun tidak mencoba menghentikannya.

“Baik.”

Ia menatap yang lain.

“Kalau begitu semua harus mengikuti instruksi.”

Tidak ada yang membantah.

Para murid yang tidak ikut segera meninggalkan Lembah Bulan Sabit.

Mereka harus kembali ke Sekte Pedang Abadi secepat mungkin.

Kelompok Su Yun tetap tinggal.

Sebelum bergerak, para murid menggunakan teknik Bayangan Pedang.

Energi spiritual tipis menyelimuti tubuh mereka.

Wajah berubah sedikit.

Aura juga tertutup.

Kalau tidak diperiksa secara mendalam, mereka memang bisa terlihat seperti orang lain.

Kemudian mereka mengambil pakaian anggota Sekte Iblis yang telah mati.

Su Yun juga mengganti pakaiannya.

Pemimpin berbaju zirah hitam memandang semuanya dengan wajah pucat.

Sekarang ia mulai memahami.

Orang-orang ini benar-benar berniat masuk.

“Semuanya hati-hati.”

Senior Mu berbicara dengan suara lemah.

“Orang ini mengenal lembah jauh lebih baik daripada kita.”

Ia menunjuk tahanan.

“Jangan sampai dia melarikan diri.”

Jiang Long dan Bai Xiao Fei langsung mendekat.

“Kami akan menjaganya.”

“Bagus.”

Kelompok pun mulai bergerak.

Perjalanan semakin dalam menuju Lembah Bulan Sabit.

Kabut menjadi lebih tebal.

Mereka melewati rawa-rawa.

Jalur berbatu.

Bahkan beberapa tempat yang terlihat tidak mungkin dilalui.

Namun tahanan itu selalu menemukan jalan aman.

Tidak heran Sekte Iblis mampu bertahan begitu lama.

Markas mereka benar-benar tersembunyi.

Beberapa jam kemudian, tahanan berhenti.

“Di depan.”

Suaranya bergetar.

“Markas Sekte Iblis.”

Semua orang mengangkat kepala.

Kabut perlahan terbuka.

Dan sebuah kompleks besar muncul.

Bangunan-bangunan batu berdiri di antara tebing.

Sebuah aula besar menjulang di pusatnya.

Di sekelilingnya terdapat puluhan bangunan kecil, halaman latihan, menara penjagaan, bahkan beberapa jalur yang menghubungkan bagian dalam sekte.

Mu Cheng terkejut.

“Sebesar ini?”

Bai Xiao Fei mencibir.

“Masih jauh dibandingkan Sekte Pedang Abadi.”

Namun Su Yun tidak tertarik pada ukurannya.

Tatapannya justru jatuh pada udara di sekitar markas.

Ada riak halus.

Formasi.

Seluruh kompleks dilindungi susunan peringatan.

Kalau seseorang masuk dengan cara salah, seluruh sekte akan langsung mengetahui.

“Tidak sederhana.”

Su Yun berkata pelan.

Senior Mu mengangguk.

“Jadi kita harus masuk menggunakan jalur normal.”

Tahanan segera berkata,

“Kalau kelompok patroli tidak kembali dalam sehari, mereka akan curiga.”

Senior Mu melihat matahari.

“Kalau begitu kita tidak punya banyak waktu.”

Semua orang mulai bersiap.

Namun sebelum melangkah—

“Tunggu.”

Su Yun berhenti.

Semua menoleh.

“Ada apa?”

Su Yun menatap tahanan.

Pria itu langsung menyadari sesuatu.

Wajahnya berubah drastis.

“Tunggu...”

Su Yun menghunus pedang.

“Tuan... kita sudah sepakat!”

“Aku memang bilang kau bisa hidup untuk sementara.”

“Tapi aku sudah membawa kalian kemari!”

“Benar.”

Su Yun mendekat.

“Dan tugasmu selesai.”

“Tunggu!”

Pria itu mencoba mundur.

Namun energi spiritualnya masih disegel.

Tidak ada tempat melarikan diri.

Sret!

Pedang menembus jantungnya.

Tubuh pria itu menegang.

Matanya membelalak.

Kemudian ia jatuh.

Semua murid terdiam.

Namun tidak ada seorang pun yang memprotes.

Mereka mengerti.

Membawa tahanan masuk justru akan meningkatkan risiko.

Lebih buruk lagi, jumlah kelompok patroli asli harus cocok.

Kalau ada satu orang lebih banyak...

penyamaran bisa langsung terbongkar.

Senior Mu menatap mayat itu.

“Sejak awal kau memang tidak berniat membiarkannya masuk?”

“Benar.”

Su Yun membersihkan darah dari pedangnya.

“Orang seperti dia tidak akan mempertahankan rahasia ketika hidupnya terancam.”

Mu Cheng mengangguk.

“Itu masuk akal.”

Su Yun memandang semua orang.

“Mulai sekarang, tidak boleh ada kesalahan.”

“Jangan banyak bicara.”

“Jangan bertanya sesuatu yang seharusnya sudah diketahui anggota mereka.”

“Dan yang paling penting…”

Tatapannya bergerak menuju markas Sekte Iblis.

“Jangan mencoba menjadi pahlawan.”

Beberapa murid terdiam.

Su Yun melanjutkan.

“Tujuan kita adalah masuk.”

“Cari informasi.”

“Tunggu bantuan.”

“Kalau ada kesempatan, baru bertindak.”

Senior Mu mengangguk.

“Kau benar.”

Su Yun menarik napas perlahan.

Namun dalam hatinya, ada satu tujuan lain.

Kristal Surgawi.

Kalau informasi tadi benar, benda itu berada di tangan Pemimpin Sekte Iblis.

Ia tidak tahu apakah akan mendapat kesempatan.

Tetapi kalau kesempatan itu muncul...

Su Yun tidak akan membiarkannya lewat.

“Berangkat.”

Kelompok delapan orang mulai berjalan.

Langkah mereka melewati batas formasi.

Tidak ada alarm.

Penyamaran berhasil.

Beberapa murid Sekte Iblis yang berjaga hanya melirik sebentar sebelum kembali melakukan tugas mereka.

Su Yun tetap memasang wajah tenang.

Satu langkah.

Dua langkah.

Semakin jauh.

Mereka benar-benar masuk ke sarang musuh.

Di hadapan mereka berdiri aula besar tempat Pemimpin Sekte Iblis berada.

Dan kemungkinan besar...

Kristal Surgawi juga berada di sana.

Su Yun menyipitkan mata.

Mulai sekarang, satu kesalahan kecil saja dapat membuat mereka semua mati.

......................

Bersambung...

1
Okta Oktafianto
keren
Otna Forever: mksh bosku 🙏
total 1 replies
Okta Oktafianto
alurnya kerennnn
Otna Forever: mksh bosku 🙏 jangan lupa baca karyaku yang lain PENGUASA DEWA NAGA
total 1 replies
Eko🍤
bantaaaaaaaiiiiii bantaaaaaaaiiiiii bantaaaaaaaiiiiii
Eko🍤
🤣🤣malah di peras Nasib sial murid dalam👍🤣🤣
Eko🍤
mantap Thor lanjut 👍👍
Widianto Dalang
alur terlalu lambat. ud bab 100 lebih, masih seputar keluarga saja. blm ada peningkatan sama sekali
Eko🍤
apakah akan terjadi bentrok🤣🤣👍
will
wah stres gk tuh su yun? 😁👍
Nusra Perdana
tahap ke 6, tahap ke 7..?? namanya apa cok😡😡
Nusra Perdana
tahap ke enam apa..?? emang gak ada namanya Thor
Nusra Perdana
nyebutin kekuatan mereka kok hanya tingkat 5, tingkat 6,8 10..apa gak ada nama ranahnya..?
Nusra Perdana
awal yg bagus..coba kita baca terus😄
Eko🍤
bagus lariiii terus🤣🤣👍
Eko🍤
julukan sampah nya melekat terus 🤣🤣
Eko🍤
hehehehe...salah pilih lawan.. bantaaaaaaaiiiiii 🤣🤣👍
Eko🍤
hahahahaha...waktu nya panen 🤣👍🤣
Eko🍤
bagus bantaaaaaaaiiiiii semua
Casver Mentawai
ntah kapan mc nya naik level dah diatas seratus bab nya masih stagnan di pevel enam 🤣🤣🤣 nggak nyambung jga dari bab ke bab lainnya 🤣🤣🤣
Eko🍤
bantaaaaaaaiiiiii bantaaaaaaaiiiiii bantaaaaaaaiiiiii
Muh Nasrun
Tambah ga menarik ceritanya, baru tahap awal sdh spt ujian ahli itngkat tinggi, hyperbola sekali ceritanya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!