**Perjodohan Pembunuh Naga dan Putri Naga**
Veronica, seorang naga setengah manusia, harus menikah dengan Altres Vanguard, kesatria terkenal yang dijuluki pembunuh naga. Pernikahan mereka merupakan syarat perdamaian antara bangsa naga dan manusia yang telah lama bermusuhan. Namun, menyatukan dua makhluk dari ras berbeda bukanlah perkara mudah. Veronica yang tidak memahami kehidupan manusia sering berselisih dengan Altres, sementara Altres sulit menerima kenyataan bahwa wanita yang menjadi istrinya adalah seekor naga.
Di balik pertentangan mereka, tersimpan luka masa lalu yang perlahan terungkap. Veronica kehilangan ibunya yang seorang manusia, menyaksikan bagaimana usia singkat sang ibu memisahkan mereka untuk selamanya. Sementara itu, Altres kehilangan ayah dan kedua kakaknya dalam perang melawan bangsa naga, meninggalkan kebencian yang sulit dihapuskan.
Seiring waktu, keduanya mulai memahami kesedihan dan ketakutan masing-masing. Di antara perbedaan, dendam, dan luka masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EMPIRE RAJA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 perjalanan pertama pasangan suami istri
Veronica menatap tangan Altres yang masih bersandar tenang di meja, dengan jari-jari panjang yang terbiasa menggenggam pedang, lalu menatap kue-kue di piringnya, dan untuk pertama kalinya sejak menginjakkan kaki di kediaman Vanguard, wajahnya tampak benar-benar berpikir keras. Bayangan hari-hari tanpa kue krim, sup hangat, dan daging panggang melintas di benaknya, dan bayangan itu sama sekali tidak menyenangkan, bahkan terasa lebih mengerikan daripada tombak para kesatria yang dulu menyerang sarangnya. Ia meletakkan garpunya perlahan, menegakkan punggung, lalu berkata dengan nada seperti seorang panglima yang terpaksa mengambil keputusan berat, "Baiklah. Aku akan membantumu." Altres yang baru saja hendak berdiri berhenti di tengah gerakannya, alisnya terangkat tinggi. "Membantu bagaimana maksudmu?" tanyanya curiga, sebab ia belum pernah mendengar seekor naga menawarkan bantuan tanpa maksud tersembunyi. Ia bahkan menyipitkan mata dan memperhatikan wajah Veronica lebih saksama, mencari tanda-tanda tipu muslihat di balik sorot mata ularnya, tetapi yang ia temukan hanya tekad keras kepala seseorang yang tidak mau kehilangan kue-kuenya.
"Aku menyimpan banyak harta di sebuah gua dekat gunung," jawab Veronica sambil mengibaskan rambut merahnya ke belakang bahu. "Aku yakin semua itu bisa membuatmu jauh lebih kaya. Sepuluh kereta kuda pun tidak akan cukup untuk membawanya. Emas, permata, mahkota, pedang bertatahkan batu, semuanya bertumpuk setinggi bukit kecil. Dengan semua itu kau bisa membeli makanan untukku selama bertahun-tahun, bahkan mungkin seumur hidupmu." Altres terdiam sesaat, memandangi wanita itu dengan sorot ragu dan jemari yang mengetuk lengan kursi. Dalam kepalanya ia sudah menghitung jumlah kesatria yang harus dikirim, jumlah kereta yang harus disiapkan, serta jumlah nyawa yang mungkin hilang di jalan. Sebagian dirinya tergoda oleh tawaran itu, tetapi sebagian lain mengingat sesuatu yang membuat dahinya berkerut dalam. "Tempat itu pasti sangat jauh, dan perjalanannya berbahaya. Aku tidak yakin ingin mengirim orang ke sana hanya demi harta yang belum tentu ada. Kalau para kesatriaku mati di jalan, kerugianku justru jauh lebih besar daripada sekadar tagihan makanan."
Veronica mendengus tidak sabar dan mencondongkan tubuhnya ke depan dengan mata menyala, kedua tangannya menepuk meja hingga piring-piring berdenting. "Kau harus mengambilnya. Aku tidak mau mengurangi makanku, dan aku tidak mau diusik olehmu setiap kali aku menikmati makanan manusia. Jadi ambil harta itu, dan berhenti mengeluh soal uang. Kau seorang duke, bukan pedagang kecil yang menghitung koin setiap malam." Altres menyipitkan mata dan menghela napas panjang sambil menggeleng pelan, jelas tidak sependapat. "Ini tidak semudah yang kau bayangkan, Veronica. Jalannya berbahaya, dan di sekitar gunung itu pasti banyak monster yang akan menyerang para kesatriaku. Itu semua gara-gara kau menaruh hartamu di tempat seperti itu."
"Itu tempat yang paling aman untuk menyimpan harta!" bantah Veronica dengan dagu terangkat tinggi, seakan tersinggung karena pilihannya dipertanyakan. "Tidak ada manusia yang berani mendekat, dan itulah gunanya." Altres mengusap pelipisnya, merasa kepalanya mulai berdenyut, dan untuk sesaat ia bertanya-tanya bagaimana seseorang bisa begitu keras kepala sekaligus begitu yakin pada logikanya sendiri. "Tempat yang tidak bisa didekati siapa pun justru masalahnya, bukan?" Veronica mengepalkan tangan dan akhirnya bangkit dari kursinya dengan gerakan cepat. "Kalau begitu aku sendiri yang akan mengambilnya dan membawanya untukmu. Kau tidak perlu mengirim siapa pun."
Keduanya pun berdebat sengit di tengah kamar yang penuh kue itu, saling melempar alasan tanpa ada yang mau mengalah sedikit pun. Veronica berjalan mondar-mandir dengan gaun yang berkibar di sekeliling kakinya, sesekali menyambar sepotong kue dari meja dan mengunyahnya dengan geram, sementara Altres tetap duduk dengan lengan menyilang dan menjawab setiap bantahan dengan nada rendah yang justru terdengar lebih menjengkelkan. Suara mereka sempat meninggi hingga seorang pelayan yang lewat di lorong berhenti sejenak di depan pintu dengan nampan bergetar di tangannya, lalu buru-buru pergi sambil menahan napas. Akhirnya Altres menghela napas berat dan mengangkat satu tangan untuk menghentikan perdebatan. "Baiklah. Kau boleh mengambil hartamu sendiri, dengan satu syarat. Aku ikut bersamamu."
Veronica langsung berhenti melangkah, rambut merahnya bergoyang, dan menatapnya dengan alis berkerut tajam. "Kenapa kau harus ikut? Kau hanya akan menghambatku." Altres menjawab tanpa mengangkat suara, matanya menatap lurus ke arah wanita itu tanpa sedikit pun goyah, dan nada tenangnya justru membuat Veronica semakin jengkel. "Karena aku tidak mau kau kabur dari wilayahku. Seperti yang kau katakan sendiri, kau adalah tawanan di sini." Wajah Veronica menegang, lalu ia melangkah mendekat dan menunjuk dada Altres dengan satu jari. "Aku istrimu, dan itu tidak bisa dibantah. Aku bukan tawanan yang bisa kau awasi seperti narapidana." Altres menatap jari di dadanya sejenak dengan wajah tanpa ekspresi, kemudian menepisnya dengan tenang dan hampir lembut. "Kalau begitu sebagai suami, aku berhak ikut dalam perjalanan istriku." Veronica membuka mulut hendak membalas, tetapi tidak menemukan kata yang cukup tajam, dan pipinya sedikit memerah karena kesal bercampur malu, jadi ia hanya mendecak kesal dan membuang muka. "Terserah. Tapi jangan menyusahkanku."
Esok harinya, halaman depan kediaman Vanguard sudah dipenuhi para pelayan dan kesatria yang berkumpul untuk melepas kepergian sang duke, dan udara pagi yang dingin diwarnai bisik-bisik gelisah tentang apa yang akan terjadi. Altres berdiri dengan jubah perjalanan dan Carax tergantung di pinggangnya, Reynan di sisinya sibuk memeriksa perbekalan yang sudah disiapkan sejak subuh, sementara Veronica melangkah ke tengah halaman dengan wajah tenang. Ia memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam, dan udara di sekelilingnya mendadak bergetar hingga debu di halaman berputar membentuk lingkaran kecil. Cahaya merah menyala menyelimuti tubuhnya, tanduk dan ekor dan sayap muncul satu per satu, lalu tubuhnya membesar dengan cepat hingga bayangannya menutupi seluruh halaman. Dalam hitungan detik, seekor naga merah raksasa berdiri di sana, sisiknya berkilau seperti bara yang tertimpa matahari pagi, dan sepasang matanya yang kuning menyala menyapu seluruh halaman dengan sorot angkuh. Para pelayan menjerit dan berhamburan lari ke segala arah, beberapa bahkan bersembunyi di balik pilar teras dengan tubuh gemetar, nampan dan keranjang jatuh berserakan, sedangkan para kesatria langsung menghunus pedang dengan wajah tegang.
"Tenang!" seru Altres lantang sambil mengangkat satu tangan, dan suaranya yang berwibawa membuat para kesatria menahan langkah. "Semuanya tetap di tempat." Ia melangkah santai ke arah kaki naga itu, sama sekali tidak terpengaruh oleh kepanikan di sekelilingnya, lalu tanpa banyak bicara memanjat sisik yang licin dan naik ke punggung Veronica dengan gerakan terlatih. Mata ular raksasa itu langsung melebar, dan suara Veronica menggelegar dari tenggorokan naganya, jauh lebih berat dari suara manusianya. "Apa yang kau lakukan di punggungku, manusia rendahan?! Turun sekarang juga!" Altres duduk dengan tenang dan berpegangan pada salah satu duri di punggung itu, seolah sedang duduk di atas pelana kuda yang sudah ia kenal bertahun-tahun. "Kau sendiri yang bilang jaraknya jauh. Aku tidak mau berjalan lima hari hanya untuk melihat tumpukan emasmu." Ekor Veronica menghantam tanah hingga debu beterbangan dan retakan kecil muncul di ubin halaman. "Aku tidak sudi ditunggangi makhluk fana! Itu penghinaan!"
Para kesatria dan pelayan yang menyaksikan dari kejauhan saling berpandangan dengan wajah bingung, dan perlahan ketegangan di halaman itu mengendur menjadi sesuatu yang hampir menyerupai rasa geli. Naga sebesar rumah dan pria dengan pedang sakti itu sedang bertengkar seperti pasangan yang berselisih soal tempat duduk di kereta, dan entah mengapa pemandangan itu terasa jauh lebih akrab daripada mengerikan. Seorang kesatria bahkan berbisik pada rekannya bahwa mereka tampak sangat dekat untuk dua makhluk yang katanya saling membenci, dan temannya mengangguk pelan tanpa berani berkomentar lebih jauh. Sementara itu perdebatan di atas halaman terus berlanjut dengan suara yang bersahut-sahutan, sampai akhirnya Altres menghela napas panjang, menyerah pada keras kepala sang naga, dan melompat turun dengan jubah berkibar. "Baiklah. Aku akan berada di tanganmu saja."
Veronica menurunkan salah satu tangannya yang bercakar besar dengan gerakan enggan, mendengus keras sampai rambut-rambut para kesatria di dekatnya berkibar, dan Altres naik ke telapak itu dengan hati-hati. Ia tetap menatap jari-jari raksasa yang mengelilinginya dengan waspada, memperkirakan seberapa cepat ia bisa menghunus pedang jika diperlukan. "Kau tidak akan meremasku, bukan?" tanyanya datar, tetapi jemarinya diam-diam bertumpu pada gagang Carax. Tawa Veronica menggelegar dari mulut naganya, bahunya yang besar sampai berguncang, membuat udara bergetar dan dedaunan di pepohonan terdekat berguguran. "Kau takut padaku! Seorang pembunuh naga takut dalam genggaman seekor naga!" Rahang Altres mengeras, dan ia mencabut separuh pedangnya hingga bilah itu berkilat. "Aku hanya berjaga-jaga. Kalau kau macam-macam sedikit saja, aku akan memotong jarimu, dan kau tidak akan bisa makan kue lagi dengan tangan itu." Veronica masih terkekeh puas, tetapi tangannya menggenggam dengan sangat hati-hati, seolah memegang sesuatu yang rapuh, dan Altres yang menyadari hal itu diam-diam mengendurkan genggaman pada gagang pedangnya.
Reynan melambaikan tangan dari bawah, setengah tidak yakin apakah tuannya akan kembali dalam keadaan utuh. Dengan satu kepakan sayap yang menciptakan badai kecil di halaman, Veronica melesat ke langit. Angin menderu di telinga Altres dengan suara yang memekakkan, dan tanah di bawah mereka mengecil dengan kecepatan yang membuat perutnya terasa jungkir balik. Ia langsung berpegangan erat pada jari naga itu dengan kedua tangan, pedang terlupakan di sisi tubuhnya, dan untuk pertama kalinya hari itu ia tidak sempat memasang wajah dingin. Awan-awan putih membelah di kiri dan kanan mereka seperti kain tipis yang tersibak, dan hutan serta sungai menjadi garis-garis kecil di kejauhan, sementara pegunungan biru perlahan muncul di cakrawala. Veronica terbang membelah langit begitu cepat hingga suara angin hampir menenggelamkan segalanya, dan dari balik jarinya Altres menyadari sesuatu yang sulit dipercaya. Mereka akan tiba dalam beberapa jam saja, jauh lebih cepat dari yang pernah ia bayangkan, tanpa perlu menempuh perjalanan lima hari dengan kuda melewati jalan berbahaya.