Tiga tahun Alyssa Kirana Sastro duduk di meja makan keluarga Narendra, dan tiga tahun pula ia dituduh jadi penyebab lumpuhnya Nadine. Suaminya, Devan, tak pernah mau mendengarnya.
Malam ini Alyssa meletakkan surat gugatan cerai dan cincin nikahnya di meja kerja Devan, lalu pergi tanpa membawa apa pun. Dua jam kemudian, mobilnya ditemukan hancur di dasar jurang. Jasadnya tidak ada.
Devan masih ingin percaya itu hanya drama. Namun di rumahnya tertinggal selembar catatan.
Ke mana Alyssa pergi, dan apa yang akan Devan lakukan saat sadar apa yang sudah ia buang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zikri Cahyandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketukan Palu dan Pertaruhan
Tawa Henry Wijaya memantul di dinding ballroom, memotong keheningan ratusan tamu dan kilatan kamera. Pria tua itu berdiri di barisan VIP dengan ponsel terangkat. Layarnya menyala, panggilan ke Zurich masih tersambung.
"Kamu dengar penjelasanku, Devan?" Suaranya menggema lewat mikrofon pengacaranya. "Sekali palu itu menyentuh meja, klausul kontrak derivatif kami aktif. Seluruh kilang dan konsesi Mahendra Corp di Sumatra dibekukan selama dua puluh tahun!"
Gumam panik meledak di bangku investor. Lensa-lensa zoom bergeser serempak ke panggung. Di sudut, Hendri memegang tepi meja teknis dengan wajah pucat.
Devan berdiri membeku di mimbar. Palu kayu berukir masih terangkat di tangan kanannya. Ia menatap Henry dari ketinggian, lalu pandangannya turun ke arah Alyssa di karpet merah.
Alyssa tidak bergeser. Blazer putih gadingnya tetap rapi. Wajahnya tidak menunjukkan ketakutan. Ia hanya menatap Devan, lalu mengangguk satu kali, kecil dan pasti.
"Jangan ragu," katanya. Suaranya jernih menembus keriuhan tanpa mikrofon. "Selesaikan bagianmu."
Sesuatu di dada Devan mengeras. Bukan amarah. Ia lebih mirip keyakinan.
"Tuan Henry Wijaya," panggilnya lewat mikrofon. Suaranya tenang. "Kontrak derivatif yang Anda sebut ditandatangani Siska Narendra atas nama perseroan, tanpa persetujuan direksi. Pukul tiga pagi tadi, saya sebagai Direktur Utama yang masih sah menyatakannya batal demi hukum. Dokumennya sudah masuk ke OJK, bursa Singapura, dan konsulat pagi ini, dua jam sebelum rapat dibuka."
Tawa Henry berhenti.
"Apa?"
"Pembatalan itu didampingi bukti aliran dana ilegal yang menjadi dasarnya." Devan menatapnya tanpa berkedip. "Atas kuasa pemilik saham pengendali."
Ponsel di tangan Henry bergetar keras. Ia menunduk menatap layarnya. Notifikasi darurat dari Zurich masuk beruntun: Transaksi dibekukan. Menunggu verifikasi otoritas.
Wajah Henry memucat sampai ke bibir.
Devan mengangkat palu setinggi kepala.
"Dengan persetujuan tujuh puluh enam persen suara pemegang saham yang sah, pengalihan pengendalian PT Narendra Group Tbk kepada A-K Capital serta penggantian Direktur Utama dengan ini ditetapkan."
Brak. Brak. Brak.
Tiga ketukan menggema di seluruh ballroom.
Layar LED di belakang panggung berganti: Pengendali baru: A-K Capital. Direktur Utama: Karen Alyssa Mahendra.
Tepuk tangan meledak dari bangku investor, disusul badai kilatan kamera. Tongkat berukir naga terlepas dari tangan Henry dan jatuh di karpet merah dengan bunyi tumpul. Ponselnya masih menyala, tak lagi memancarkan apa pun.
"Tidak..." Suaranya serak. "Kalian tidak bisa memutus jaringan Zurich!"
Pintu samping ballroom terbuka. Enam penyidik tindak pidana ekonomi khusus melangkah masuk dipimpin seorang Komisaris Polisi. Perwira itu mendekati Henry sambil mengeluarkan amplop merah.
"Tuan Henry Wijaya. Atas perintah Kejaksaan Agung dan OJK, Anda kami tahan atas dugaan pencucian uang, manipulasi derivatif lepas pantai, dan pemalsuan dokumen konsolidasi modal."
Dua penyidik memasang borgol baja di pergelangannya. Empat pengacara asing menunduk dan menyerahkan dokumen mereka tanpa protes.
Henry digiring keluar di depan ratusan kamera televisi. Pria yang selama puluhan tahun mengatur arus uang lepas pantai berjalan dengan kepala tertunduk.
Devan meletakkan palu di mimbar dan mundur satu langkah. Alyssa menaiki tangga panggung, mengambil mikrofon dari tangannya, dan menghadap seluruh ballroom.
"Hari ini," katanya, jernih dan tidak terburu-buru, "perusahaan ini kembali dipimpin oleh orang yang membaca sendiri laporannya."
Tepuk tangan mengalir lagi.
Devan turun lewat tangga samping. Di kakinya Hendri sudah menunggu dengan air mata di pipi.
"Anda hebat sekali, Tuan Devan."
"Terima kasih untuk semuanya, Hendri." Devan menepuk bahunya. "Bantu Alyssa membangunnya kembali."
Ia berjalan keluar lewat lorong khusus tanpa menggubris panggilan para wartawan di belakangnya. Tangannya mengepal di dalam saku jas. Tidak ada kemenangan di dadanya. Hanya ruang kosong yang luas, dan kelegaan yang aneh.
***
Satu jam kemudian, ruang konferensi lantai empat Hotel Grand Senayan.
Ruangan berpanel kayu jati gelap itu hening. Di atas meja oval besar tergeletak berkas pendaftaran dana wali amanat bernilai seratus juta dolar. Seorang notaris senior konsulat Singapura duduk di kepala meja dengan kacamata berbingkai perak.
Alyssa duduk di sisi kiri bersama Aris. Devan duduk di sisi kanan dengan kemeja hitam yang rapi.
"Berdasarkan verifikasi sertifikat asli dan dokumen konsolidasi Mahendra Corp," kata notaris dalam bahasa Inggris yang resmi, "seluruh syarat pengalihan dana wali amanat telah terpenuhi."
Ia memutar layar laptop. Konfirmasi validasi hak waris muncul, terhubung ke server otoritas Singapura.
"Dana ini dirancang oleh Tuan Rendra Mahendra dan almarhum Tuan Broto Narendra pada tahun 2006 sebagai cadangan bagi anak cucu dua keluarga. Penandatanganan membutuhkan kedua ahli waris utama dalam status hubungan hukum yang sah."
Ia menggeser dua pulpen emas di atas dokumen.
Devan meraih pulpen lebih dulu. Tanpa bertanya, tanpa syarat, ia menandatangani lembar Singapura itu dan menggesernya ke seberang meja.
Alyssa menatap tanda tangan itu sebentar, tegas dan rapi seperti gaya lamanya. Ia mengambil pulpen kedua.
"Sebelum saya tanda tangan," katanya pada notaris, "saya ingin alokasi yayasan pendidikan dan Panti Asuhan Kasih Bunda dipisahkan sebagai dana abadi. Tidak boleh tersentuh operasional perusahaan."
Notaris menatap Aris, lalu mengangguk. "Itu dapat dicatat dalam berkas, Nona."
Aris mencatat. Devan menunduk menatap meja. Alyssa tidak menoleh padanya, tapi bahunya sedikit mengendur.
Ia membubuhkan tanda tangannya di sebelah tanda tangan Devan.
Notaris menempelkan stempel timah resmi di atas keduanya dan menekan tombol verifikasi.
"Pengalihan selesai. Seratus juta dolar Amerika telah ditransfer ke rekening utama Mahendra Corp."
Ia merapikan dokumennya dan keluar bersama asistennya. Aris membereskan salinan berkas ke tas kulit.
"Saya urus administrasi di bawah, Nona. Sepuluh menit."
Pintu menutup di belakangnya. Ruangan sunyi.
***
Devan menyandarkan punggung ke kursi kulit, menatap Alyssa di seberang meja.
"Modal awal sudah kembali utuh. Cukup untuk membangun ulang fasilitas Sumatra dan melunasi utang operasional."
Alyssa menatapnya. Tidak ada kebencian di mata cokelat terang itu, tapi juga tidak ada kehangatan. Hanya jarak, seperti jarak antara dua orang yang bertemu di stasiun dan sudah punya kereta masing-masing.
"Terima kasih karena tidak melawan di panggung."
Sudut bibir Devan terangkat tipis dan pahit. "Aku tidak berbuat baik, Alyssa. Aku hanya mengembalikan yang seharusnya sudah menjadi milikmu."
Ia merogoh saku jas dan meletakkan sebuah kunci kuningan kecil di atas meja, menggesernya pelan.
"Kunci lemari arsip di ruang kerjaku. Isinya barang-barangmu yang pernah dibuang ibuku, yang kuselamatkan pagi itu. Sweater, buku, sepatu. Ambil kapan saja."
Alyssa menatap kunci itu. Jemarinya tidak bergerak meraihnya.
"Dan setelah ini kamu mau apa, Devan?"
Devan berdiri dan merapikan kancing jasnya.
"Besok pagi aku menyerahkan diri ke polisi."
Alyssa membeku. "Menyerahkan diri?"
"Sebagai Direktur Utama, aku bertanggung jawab secara hukum atas kelalaian pengawasan laporan keuangan yang dipalsukan Ibu dan Nadine." Suaranya tenang. "Aku tidak akan lari, Alyssa."
"Hukumannya bisa lima tahun."
"Lima tahun di balik sel lebih ringan daripada rasa salah yang kubawa tiap hari."
Ia membungkuk pelan di hadapannya, untuk kedua kalinya, lebih dalam.
"Semoga perusahaan ini tumbuh lebih baik di tanganmu. Selamat tinggal."
Ia berbalik menuju pintu. Alyssa tetap duduk tanpa bicara, tangannya di atas kunci kuningan itu, ibu jarinya menyentuh pergelangan kiri yang tidak lagi kosong.
Devan belum sempat menyentuh gagang pintu ketika pintu itu terdorong keras dari luar.
Aris berlari masuk dengan wajah bersimbah keringat. Ponsel masih tersambung di tangannya.
"Nona! Tuan Devan!"
Alyssa berdiri seketika. "Ada apa?"
"Laporan dari Medika Utama dua menit lalu." Napas Aris terputus-putus. "Dua polisi penjaga ruang Nyonya Siska ditemukan pingsan di koridor akibat racun saraf. Dua orang kita di dalam kamar juga."
"Ibuku?" Suara Devan nyaris tak keluar.
"Hilang, Tuan. Seorang perawat palsu membawanya pergi dengan ambulans tanpa pelat nomor."
Aris menyodorkan layar ponselnya. Foto dari penyidik di rumah sakit: ranjang medis kosong dengan seprai putih. Di atasnya tergeletak selembar kertas dengan noda gelap. Tulisan merah tebal di atasnya, miring dan bergetar:
Darah dibayar darah, Alyssa. Kamu merebut kekaisaranku, maka aku akan mengambil nyawamu sebelum minggu ini berakhir.
Alyssa membaca satu kali. Wajahnya tidak berubah.
Devan merebut ponsel itu dan menatap tulisan di layar. Matanya menyipit.
"Ini bukan tulisan Ibu."
Aris dan Alyssa menoleh.
"Ibu menulis angka tujuh dengan garis tengah, sejak aku kecil. Dan tidak akan pernah menulis kekaisaranku dengan darah." Suaranya turun, dingin. "Seseorang memakai nama Ibu untuk menakutimu."
Alyssa tidak menjawab. Matanya masih pada layar.
Ponsel Aris bergetar di tangan Devan. Pesan baru dari tim penyidik masuk. Devan membacanya, lalu mengangkat wajah dengan rahang mengeras.
"Ambulans itu terekam kamera gerbang tol dua puluh menit lalu. Menuju arah Puncak."
Hening. Suhu ruangan seolah turun beberapa derajat.
"Km 45," kata Alyssa pelan.
Tidak ada yang menyebutnya lebih dulu, tapi ketiganya tahu: tikungan yang sama tempat sedan hitamnya jatuh ke jurang, enam belas hari lalu.
.....
.....
Bersambung.