NovelToon NovelToon
Kaisar Naga Bela Diri

Kaisar Naga Bela Diri

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di ujung terlupakan Kerajaan Tianhe, seorang anak yatim bernama Qin Mu tumbuh di Desa Canglan bersama seorang pemabuk tua yang mengaku petani. Yang ia miliki hanyalah pisau berburu berkarat, liontin batu hitam peninggalan ayah yang tak pernah kembali, dan satu pertanyaan yang tak terjawab: mengapa ia ditinggalkan?

Ketika dunia kultivator yang selama ini hanya ia dengar sebagai legenda tiba-tiba menghancurkan kedamaian desanya, Qin Mu dipaksa memasuki jalan yang telah ditentukan jauh sebelum ia lahir jalan yang berlumuran darah, penuh pengkhianatan, dan dibayar dengan harga yang tak seorang pun mau membayarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 15

Tanah di luar tembok selatan Kota Linlang terbelah.

Semburan api hijau zamrud yang berpilin dengan kilatan cahaya pedang keperakan menembus lubang runtuhan tanah, menjulang puluhan tombak ke langit malam hingga membakar awan mendung di atasnya. Gelombang kejutnya menyapu permukaan jalan, mencabut pohon-pohon willow di pinggir parit, dan menghempaskan tubuh Qin Mu bergulingan di atas tanah berlumpur.

Bruk!

Punggung Qin Mu menghantam batu pembatas jalan. Udara terperas keluar dari paru-parunya, dan rasa manis bercampur karat langsung memenuhi rongga mulutnya. Luka di rusuk kanannya kembali robek, merembeskan darah hangat ke jubah raminya yang basah kuyup.

Namun Qin Mu tidak merasakan sakit itu.

Dengan tangan gemetar dan kuku yang patah menggaruk tanah berkerikil, pemuda itu merangkak berbalik, menatap ke arah kawah menganga tempat ia baru saja dilontarkan keluar.

"Kek..."

Suaranya nyaris tak terdengar, tertelan oleh deru api yang melolong dari bawah tanah. Di dalam kawah itu, tidak ada lagi jeritan manusia. Tidak ada lagi suara dentingan logam. Yang tersisa hanyalah hawa panas yang sanggup melelehkan batu bata, disusul oleh kepulan abu putih keperakan yang membubung naik ke udara.

Abu itu berterbangan tertiup angin malam, jatuh perlahan menyentuh pipi Qin Mu yang berlumuran lumpur. Hangat, kering, dan ringan.

Pil Pembakar Kehidupan telah menagih harganya hingga tuntas. Gu Shanyin dan Penatua Luo tidak menyisakan sepotong tulang pun di bawah sana. Mereka membakar habis daging, darah, dan sumsum mereka sendiri menjadi abu agar musuh tidak memiliki apa pun untuk diinjak atau dipermalukan.

Air mata yang sejak tadi menggenang di pelupuk mata Qin Mu menetes jatuh, namun menguap bahkan sebelum menyentuh tanah karena hawa panas dari kawah.

Tangannya terulur ke depan, seolah ingin menangkap abu yang beterbangan di udara, namun yang tergenggam di telapak tangannya hanyalah kehampaan dan dinginnya Plakat Akademi Kekaisaran.

Aturan pertama pegunungan, Bocah... tetaplah hidup.

Suara serak Gu Shanyin seakan berbisik tepat di telinganya.

Dari atas tembok besar Kota Linlang, terompet tanduk kerbau tiba-tiba ditiup panjang dan bersahut-sahutan. Ratusan obor menyala di sepanjang benteng, bergerak cepat bagaikan naga api yang terbangun dari tidurnya. Suara derap kaki kuda perang dan gemerincing zirah besi dari pasukan utama garnisun kota terdengar mendekat dari arah gerbang selatan.

Jika ia tetap berlutut di sini selama sepuluh tarikan napas lagi, pengorbanan dua nyawa di bawah sana akan berubah menjadi lelucon sia-sia.

Qin Mu perlahan menarik kembali tangannya. Ia tidak lagi menangis. Ia tidak berteriak memaki langit.

Secara perlahan namun mengerikan, seluruh kesedihan, keputusasaan, dan rasa takut di wajah pemuda berusia empat belas tahun itu lenyap, membeku menjadi kebencian yang sedingin es abadi di puncak gunung. Matanya yang hitam kelam menatap kawah itu untuk terakhir kalinya, mengukir setiap percikan api dan setiap butir abu ke dalam dasar jiwanya.

Qin Mu bangkit berdiri. Ia meraup segenggam tanah yang bercampur dengan abu putih di depannya, memasukkannya ke dalam kantung kecil di dadanya tepat di sebelah Cincin Giok Retak. Tanpa menoleh lagi, ia membalikkan tubuh dan berlari pincang menembus kegelapan hutan belantara di luar kota, menghilang tepat sebelum barisan kavaleri pertama garnisun tiba di tepi kawah.

Sepuluh menit kemudian, tepi saluran pembuangan selatan telah dikepung oleh ratusan prajurit berzirah lengkap.

Para prajurit itu menatap ngeri ke dasar terowongan yang kini telah berubah menjadi lembah lelehan besi dan batu yang membara. Jeruji baja seberat ribuan kati telah lenyap menjadi cairan logam merah. Dua puluh pemanah elit Klan Wei tidak lagi berbentuk manusia; mereka telah menjadi arang hitam yang menyatu dengan dinding terowongan.

"Tuan Muda! Cari Tuan Muda!" teriak seorang komandan pengawal dengan wajah pucat pasi.

Di ujung kawah yang paling jauh, tumpukan tiga mayat prajurit yang hangus tiba-tiba bergeser.

Sebuah tangan yang gemetar dan melepuh parah mendorong mayat-mayat yang dijadikan tameng hidup itu ke samping. Dari balik tumpukan daging hangus tersebut, Wei Canglan merangkak keluar sambil memuntahkan darah segar yang bercampur serpihan organ dalam.

Jubah brokat biru tuanya yang mewah telah hancur menjadi kain compang-camping. Di lehernya, sebuah kalung giok pelindung nyawa tingkat tinggi harta pusaka yang diberikan ayahnya telah hancur lebur menjadi bubuk putih.

Namun, meski nyawanya tertolong oleh pengorbanan bawahannya dan artefak pelindung tersebut, harga yang harus ia bayar sangat mengerikan. Seluruh sisi kiri wajahnya yang tampan dan lengan kirinya telah hangus terbakar oleh sisa Api Alkimia beracun milik Penatua Luo, memperlihatkan daging merah yang mendesis membusuk. Sementara di dadanya, sebuah luka sayatan sedalam tulang memanjang dari bahu hingga perut bekas tebasan Niat Pedang terakhir Gu Shanyin yang merusak sebagian jalur meridian utamanya.

"Tuan Muda!" Komandan pengawal buru-buru melompat turun, hendak memapahnya.

PLAK!

Dengan tangan kanannya yang masih utuh, Wei Canglan menampar wajah komandan itu hingga tersungkur. Napasnya berderak kasar seperti bellow yang bocor, mata kanannya yang tersisa memerah dipenuhi kegilaan dan rasa sakit yang membakar akal sehatnya.

"Mayatnya...!" desis Wei Canglan dengan suara parau yang rusak karena menghirup uap panas. "Di mana mayat dua anjing tua itu?! Aku ingin mencincang tulang mereka dan memberikannya pada babi!"

Komandan itu menelan ludah, menatap ke arah pusat ledakan yang hanya menyisakan abu putih yang tersapu angin malam. "Tuan Muda... mereka membakar roh dan sumsum mereka. Tidak ada... tidak ada sepotong daging pun yang tersisa."

Wei Canglan terdiam, lalu tubuhnya bergetar hebat karena amarah yang tak menemukan pelampiasan. Fondasi kultivasinya yang selangkah lagi menembus Foundation Establishment kini retak parah. Wajah yang selalu ia banggakan di hadapan para bangsawan ibu kota telah hancur menjadi monster.

"Bocah itu..." Wei Canglan mencengkeram tanah panas dengan kuku-kukunya hingga berdarah. "Orang tua itu melempar bocah itu keluar sebelum meledakkan diri! Tutup semua jalan keluar perbatasan! Kerahkan seluruh tabib dan pelacak milik Klan Wei! Aku tidak peduli siapa dia, aku ingin dia dikuliti hidup-hidup di hadapanku!"

Tiga hari berlalu.

Jauh di perbukitan berbatu di sebelah timur Kota Linlang, di dalam sebuah kuil dewa gunung tua yang telah lama runtuh dan tertutup tanaman merambat, terdengar suara kunyahan pelan.

Qin Mu duduk bersandar pada patung batu tanpa kepala. Wajahnya tirus dan pucat, namun sorot matanya setajam belati yang baru diangkat dari air dingin.

Di tangannya, ia menggenggam bungkusan kertas minyak yang sudah kusut bungkusan berisi akar teratai hitam dan daun jarum pinus yang ia beli di Distrik Barat tiga hari lalu. Ramuan fana yang seharusnya ia rebus untuk meredakan rasa sakit Gu Shanyin.

Gu Shanyin tidak lagi membutuhkannya.

Tanpa ekspresi, Qin Mu memasukkan akar teratai hitam yang pahit dan sepat itu ke dalam mulutnya sendiri, mengunyahnya mentah-mentah hingga airnya yang kelam menetes dari sudut bibirnya, lalu menelannya. Sebagian lagi ia tumbuk dengan batu, lalu ditempelkan secara paksa ke luka robek di rusuk dan bahunya. Rasa perih yang membakar membuat otot wajahnya berkedut, namun tidak ada satu suara rintihan pun yang keluar dari tenggorokannya.

Setelah lukanya dibalut dengan robekan kain jubah, Qin Mu menarik napas panjang dan meletakkan tiga benda di atas tanah di depannya.

Pertama, Kantung Penyimpan milik Mo Tu. Kedua, kantung kulit besar milik Penatua Luo. Ketiga, Plakat Pendaftaran Akademi Kekaisaran Tianhe.

Qin Mu membuka kantung kulit Penatua Luo yang tidak dikunci dengan segel Qi. Ketika isinya dituangkan, puluhan botol porselen berbagai warna, bungkusan benih tanaman spiritual, serta tumpukan kristal berkilau menggelinding keluar.

Ada tiga puluh enam keping Batu Roh tingkat rendah di sana jumlah yang jika digabungkan dengan simpanan dari kantung Mo Tu, cukup untuk membuat kultivator pengembara tahap Qi Gathering saling membunuh.

Namun perhatian Qin Mu langsung tertuju pada sebuah gulungan tebal yang terbuat dari kulit ular air di bagian paling dasar kantung. Ia membukanya perlahan.

Di halaman pertama, tertulis goresan kuas yang berantakan namun tajam, persis seperti sifat pemiliknya: Warisan Alkimia dan Seribu Racun Luo Tua.

Di sela-sela gulungan itu, terselip selembar kertas baru yang tampaknya ditulis terburu-buru oleh Penatua Luo saat masih bersembunyi di Penginapan Kuda Pincang.

"Untuk siapa pun yang mewarisi kantung ini jika aku mati di tangan Klan Wei: Jangan biarkan ilmu seumur hidupku terkubur di tanah! Di halaman ketujuh belas ada formula 'Cairan Peredam Darah'. Jika bocah gila di kamar sebelah yang membawa kantung ini, gunakan cairan itu saat kau melatih tubuhmu, atau pembuluh darahmu akan pecah sebelum kau berumur lima belas tahun! Botol berlabel hitam adalah racun pembusuk tulang, jangan sampai tertukar dengan obat luka di botol putih, dasar bocah bodoh!"

Jari Qin Mu yang kasar mengusap deretan tulisan cakar ayam itu. Dadanya terasa sesak, seolah ada batu besar yang menekan jantungnya. Orang tua cerewet yang baru mengenalnya kurang dari satu jam itu bahkan sempat memikirkan cara menyelamatkan hidupnya di tengah kepungan musuh.

Qin Mu melipat catatan itu dengan sangat rapi. Ia mengambil satu keping Batu Roh di tangan kirinya, dan meletakkan gulungan Sutra Penempaan Tulang Kehampaan di pangkuannya.

"Qin Long dari Klan Qin. Yan Ruo dari Klan Yan," gumam Qin Mu di dalam keheningan kuil yang runtuh. Nama asli kedua orang tuanya bergema di kepalanya.

Ia masih belum tahu di mana letak kedua klan itu, mengapa mereka meninggalkannya, atau mengapa Sekte Bayangan Darah memburu jejak masa lalu mereka. Ia juga tahu bahwa dengan kekuatannya yang baru berada di tahap Awal Penempaan Tubuh, kembali ke Kota Linlang untuk membunuh Wei Canglan saat ini sama saja dengan mengantarkan nyawa.

Ia butuh waktu. Ia butuh tempat di mana Klan Wei tidak berani menyentuhnya secara terang-terangan, tempat di mana ia bisa mencerna warisan alkimia Penatua Luo dan menempa tulangnya hingga tak terkalahkan.

Qin Mu menyarungkan Bilah Kembar Taring Hantu ke punggungnya, mengikat semua kantung warisan di balik jubah barunya yang berwarna hitam legam, lalu menggenggam Plakat Akademi Kekaisaran.

Ia melangkah keluar dari reruntuhan kuil, menatap ke arah timur ke arah Kota Provinsi Cangzhou, tempat Gerbang Luar Akademi Kekaisaran Tianhe membuka pendaftaran tahunannya minggu ini.

Lima hari kemudian, di dataran luas di depan Gerbang Batu Provinsi Cangzhou, ribuan pemuda dan pemudi dari berbagai penjuru wilayah barat berkumpul.

Kereta-kereta kuda berlapis emas yang ditarik oleh kuda spiritual berbaris megah, membawa tuan muda dan nona dari keluarga bangsawan. Sementara di sisi jalan yang berdebu, para pendekar muda dari kalangan rakyat biasa berdiri menunggu giliran pemeriksaan dengan wajah tegang. Di kejauhan, menara-menara megah Akademi Kekaisaran menjulang menembus awan, memancarkan tekanan formasi kuno yang membuat siapa pun merinding.

Qin Mu berdiri di tengah kerumunan pelamar dengan tudung jubah yang menutupi separuh wajahnya. Selama lima hari perjalanan sambil merendam meridiannya dengan ramuan dasar dari catatan Penatua Luo, tubuhnya telah pulih sepenuhnya, bahkan melangkah mantap menuju puncak tahap Awal Penempaan Tubuh.

Saat ia hendak melangkah menuju meja pemeriksaan khusus pemegang Plakat Rekomendasi, kerumunan di depannya tiba-tiba terbelah dengan kasar.

"Minggir! Beri jalan untuk kereta Keluarga Wei dari Kota Linlang!"

Cambuk kulit berderak di udara. Sebuah kereta perang hitam yang dikawal oleh dua belas kultivator tahap Qi Gathering berbaju zirah perak melaju membelah jalan.

Dari balik jendela kereta yang tirainya terbuka separuh, Qin Mu melihat sesosok pria yang duduk bersandar dengan wajah separuh tertutup topeng besi perak untuk menutupi luka bakarnya yang mengerikan.

Wei Canglan.

Ia tidak mati. Dan yang lebih buruk, ia datang langsung ke gerbang Akademi Kekaisaran untuk mengawasi pendaftaran dan mencegat siapa pun yang membawa plakat milik Penatua Luo!

Tepat ketika pandangan mata kanan Wei Canglan yang penuh kebencian menyapu ke arah kerumunan tempat Qin Mu berdiri, sebuah tangan besar yang dipenuhi kapalan dan bekas luka bakar tiba-tiba menepuk bahu Qin Mu dari samping, menariknya mundur setengah langkah ke balik bayangan pilar batu.

Qin Mu nyaris mencabut bilah kembarnya sebelum ia mengenali sosok pemuda bertubuh kekar yang memanggul martil besi raksasa di punggungnya.

"Jangan menoleh ke kereta itu jika kau belum siap mati hari ini," bisik Han Lie dengan wajah serius, matanya menatap lurus ke arah pengawal Klan Wei. "Ayahku menyuruhku pergi dari Kota Linlang malam itu juga... karena keesokan paginya, Wei Canglan membakar habis seluruh Distrik Barat untuk mencarimu."

1
ibarumbung
💪💪💪💪💪
ibarumbung
💛💛💛💛💛
ibarumbung
⭐⭐⭐⭐⭐
ibarumbung
👍👍👍👍👍
Liang Hou
pake Sreettt aja tor kalo ranting, sring! lebih cocok suara besi 🙏
Sang_Imajinasi: siap terimakasih sarannya
total 1 replies
Am Mi
up
ibarumbung
👍👍👍👍👍
ibarumbung
💪💪💪💪💪
ibarumbung
⭐⭐⭐⭐⭐
Asta Hariadi
bagus, ceritanya menarik
Sang_Imajinasi: Terima Kasih Bintang 5 nya 🙏
total 1 replies
Sang_Imajinasi
Halo Para Reader.

Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.

Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.

TERIMA KASIH.... ✌️
Sang_Imajinasi: oke lanjut 4 bab
total 4 replies
Budi Wahyono
biasanya tokoh jahat ketika mau mati,ada aja yg nyelametin...
ini enak nih gak bertele2,tinggal musuh yg lebih kuat udah nunggu
Begin Bae
/Determined/
Sang_Imajinasi: Terima Kasih Bintang 5 nya 🙏
total 1 replies
Sang_Imajinasi
Halo Para Reader.

Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.

Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.

TERIMA KASIH.... ✌️
ibarumbung
keren 👍👍👍👍👍
Sang_Imajinasi: Terima Kasih Bintang 5 nya 🙏
total 1 replies
ibarumbung
💪💪💪💪💪
ibarumbung
⭐⭐⭐⭐⭐
ibarumbung
👍👍👍👍👍
ibarumbung
💛💛💛💛💛
ibarumbung
💪💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!