Alessia Francesca Zorzi,Sang ratu jalanan yang liar dan kerasa kepala tiba-tiba saja harus menikah dengan CEO perusahaan besar yang tegas dan berwibawa,Vellano Federico Luca.
Bahkan sebelum menikah,Vellano mempunyai kekasih cantik yang ia sembunyikan selama 3 tahun.Yaitu seorang bintang musisi yang bernama Ansley Flavia.
Tentu saja pernikahan mereka hanya di atas kertas dan sebatas saling menguntungkan.Namun batasan itu hancur ketika salah satu diantara mereka dengan suka rela menghapus garis pembatas.
Akankah Vellano berhasil menaklukkan Alessia?atau justru malah keliaran Alessia yang membuatnya menyerah?
Yuk,mari kita baca sama-sama dan terus nantikan update episode terbarunya!
Author up lebih dari 1 part/hari!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fio Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART23.AKHIRNYA! (21+)
Bibir mereka akhirnya bertemu. Ciuman itu lembut pada awalnya, lalu berlangsung sedikit lebih lama. Ketika mereka berpisah, Alessia menatap Vellano dengan mata sayu.
Vellano menelan ludah.
Jantungnya berdegup lebih cepat.
Jangan sampai malam ini berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa kami hentikan.Begitulah kira-kira gumam dalam hati Vellano.
Alessia tersenyum kecil melihat ekspresinya.
“Kenapa kau terlihat gugup?”
“Aku tidak gugup.”
“Bohong.”
Vellano menghela napas.
“Kau memang suka membuat masalah.”
Alessia terkekeh.
Namun ketika mereka kembali saling mendekat, suasana mendadak berubah tegang—bukan karena ancaman atau musuh, melainkan karena keduanya mulai sadar bahwa perasaan mereka sudah jauh lebih sulit dikendalikan daripada sebelumnya.
Malam semakin larut setelah panggilan dari Fabiola berakhir. Televisi masih menyala, tetapi tak satu pun dari mereka benar-benar memperhatikan berita yang ditayangkan.
Alessia dan Vellano kembali saling menatap.
Tidak ada candaan kali ini.
Hanya keheningan yang dipenuhi sesuatu yang sejak berbulan-bulan lalu mereka coba abaikan.
Vellano perlahan mendekat. Alessia tidak mundur.
Ciuman mereka kembali bertemu, kali ini lebih lama dan penuh perasaan yang selama ini tertahan. Tangan Vellano menggenggam jemari Alessia, sementara Alessia tanpa sadar mendekat hingga jarak di antara mereka benar-benar menghilang.
Mereka berhenti sejenak.
Tatapan Vellano bertanya tanpa kata.
Alessia menjawab dengan senyum kecil.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak pernikahan mereka dimulai sebagai sebuah kesepakatan bisnis, tidak ada kontrak yang mereka pikirkan.
Tidak ada keluarga.
Tidak ada perusahaan.
Tidak ada William.
Hanya mereka.
Mereka saling memeluk, berbagi ciuman yang semakin hangat, lalu membiarkan perasaan yang selama ini mereka sembunyikan mengambil alih.
Tangan Vellano menjelajahi setiap inci tubuh Alessia.Sementara Alessia hanya bisa pasrah dan menatap sayu.Ia gugup karena ini yang pertama.Namun debaran aneh menutupi semua rasa gugup itu.
Lembut,kenyal dan basah.
Setelah semuanya pakaian yang membungkus tubuh terlepas,dengan hati-hati dan perlahan Vellano menyiapkan diri dan terdengar jeritan manja Alessia pertanda bahwa ia sudah sepenuhnya masuk.
"Ahk!.Ini,ini sakit sekali"
"Tahan ya,aku akan pelan"
Tentu saja karena ini yang pertama.
Dengan lembut Vellano bergerak,sesekali melumat lembur bibir sang istri dengan tangan yang tidak bisa diam.Seolah memeta setiap inci tubuh indah istrinya.
Dan entah berapa banyak tanda ruam kemerahan yang di ciptakan Vellano di tubuh Alessia.
Mereka menghabiskan malam sebagai pasangan yang benar-benar saling mencintai—dengan kelembutan, kepercayaan, dan gairah yang selama ini hanya tersimpan dalam tatapan.
Ada gairah yang terpendam lama yang harus di tuntaskan.Suara lenguhan yang bersahutan,peluh yang mengalir dan iya malam ini Alessia menyerah diri sepenuhnya kepada Suaminya.
"Huh,aku lelah sekali"
Vellano berbaring di sisi istrinya.
"Terimakasih,kau hebat!."
Pujian itu membuatnya salah tingkah.
Mereka baru saja melakukan pelepasan yang ke tiga kali.
Sesekali terdengar tawa kecil.
Alessia bahkan sempat berbisik, “Kalau besok kau mengungkit ini, aku akan menyangkal semuanya.”
Vellano tertawa pelan.
“Padahal kau yang memulainya.”
“Diam.”
“Baik.”
Beberapa saat kemudian, kamar kembali sunyi.
Pagi belum tiba ketika mereka akhirnya tertidur berdampingan.
Tidak ada lagi jarak seperti sebelumnya.
Alessia tidur dengan kepala bersandar di dada Vellano, sementara tangan pria itu melingkar lembut di tubuhnya.
Untuk pertama kalinya, tidak ada kontrak yang mengikat mereka.
Tidak ada kewajiban yang memaksa.
Hanya pilihan.
Dan malam itu menjadi awal baru bagi keduanya—bukan sebagai dua orang yang kebetulan menikah, melainkan sebagai dua orang yang akhirnya berani mengakui bahwa mereka memang saling mencintai.
......................
Cahaya pagi perlahan masuk melalui celah tirai. Alessia mengerang pelan ketika mencoba bergerak.
Tubuhnya terasa pegal.
Ia memejamkan mata sebentar, mengingat kejadian semalam. Wajahnya langsung memanas.
Saat membuka mata, ia baru menyadari keadaan mereka. Ia dan Vellano masih berada di bawah selimut yang menutupi tubuh hingga sebatas dada.
Alessia langsung menarik selimut lebih tinggi.
“Ya Tuhan…”
Ia menoleh ke samping.
Vellano masih tertidur dengan wajah tenang, seolah semalam tidak terjadi apa-apa.
Alessia menatapnya kesal.
“Enak sekali tidurnya.”
Seolah mendengar gumamannya, Vellano membuka mata.
“Pagi.”
Alessia langsung membuang pandangan.
“Jangan lihat aku.”
Vellano justru tersenyum kecil.
“Kau malu?”
“Tidak.”
“Wajahmu merah.”
“Karena panas.”
Vellano melirik jendela. Udara pagi justru cukup dingin.
“Tentu.”
Alessia menarik selimut hingga hampir menutupi seluruh wajahnya.
Vellano tertawa pelan, lalu mendekat dan mengecup dahinya dengan lembut.
“Terima kasih.”
Alessia mengintip dari balik selimut.
“Untuk apa?”
“Karena mempercayaiku.”
Alessia terdiam.
Vellano menyentuh rambutnya dengan lembut.
“Dan karena membiarkanku menjadi lebih dekat denganmu.”
Alessia langsung memerah lagi.
“Jangan bicara seperti itu pagi-pagi.”
“Kenapa?”
“Memalukan.”
Vellano tertawa.
“Aku hanya berterima kasih.”
Alessia mendengus. “Kalau begitu jangan tersenyum seperti orang menang lotre.”
“Aku memang merasa menang.”
Alessia mengambil bantal dan memukul dadanya.
“Dasar sombong.”
Vellano menangkap bantal itu sambil tertawa.
Namun setelah tawa mereka mereda, suasana berubah lembut.
Mereka saling menatap beberapa saat.
Tidak ada lagi kecanggungan seperti dulu.
Tidak ada kontrak.
Tidak ada kewajiban.
Hanya dua orang yang akhirnya sadar bahwa hubungan mereka telah berubah sepenuhnya.
Alessia perlahan menyandarkan kepalanya di dada Vellano.
“Vellano.”
“Hm?”
“Mulai sekarang…”
Ia berhenti sejenak.
“Jangan pernah bilang ini cuma bagian dari kontrak lagi.”
Senyum Vellano menghilang menjadi tatapan hangat.
“Tidak akan.”
Tangannya memeluk Alessia lebih erat.
“Karena sekarang aku mencintaimu bukan karena kontrak.”
Alessia tersenyum kecil.
“Bagus.”
Lalu beberapa detik kemudian ia menambahkan, “Tapi tetap jangan mengira kau bebas dari tugas membelikan ku hadiah.”
Vellano terdiam.
“Kau benar-benar merusak momen romantis.”
Alessia tertawa.
"memang"
......................
Setelah mandi dan berganti pakaian, Alessia dan Vellano turun ke ruang makan. Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, sarapan pagi terasa begitu berbeda.
Tidak ada perdebatan tentang siapa yang mengambil kopi lebih dulu. Tidak ada sindiran soal kontrak. Bahkan suasana di antara mereka terasa jauh lebih hangat.
Alessia duduk sambil mengoleskan selai ke rotinya, sementara Vellano menuangkan kopi ke cangkirnya.
“Tidurmu nyenyak?” tanya Vellano.
Alessia langsung menatapnya tajam.
“Jangan mulai.”
Vellano menahan senyum. “Aku hanya bertanya.”
“Kau tahu jawabannya.”
“Baik.”
Vellano mengambil roti panggang.
Namun ketika ia hendak menggigitnya, Alessia tiba-tiba mengambil potongan roti itu dari tangannya.
“Ini punyaku.”
Vellano menatap tangannya yang kosong.
“Kau baru saja mengambil sarapanku.”
“Aku mau.”
“Kenapa tidak ambil yang lain?”
“Karena yang itu kelihatan lebih enak.”
Vellano menghela napas. “Istriku ternyata perampok.”
Alessia tersenyum puas. “Kau baru sadar?”
Vellano menggeleng sambil tertawa kecil.
Kemudian ia mengambil potongan buah dan menyodorkannya kepada Alessia.
“Nih.”
Alessia menerimanya.
“Terima kasih.”
Sederhana, tetapi membuat keduanya saling tersenyum.
Sesekali tatapan mereka bertemu dan bertahan sedikit lebih lama dari biasanya. Setiap kali itu terjadi, Alessia langsung sibuk dengan makanannya, sementara Vellano pura-pura tidak melihat wajah istrinya yang memerah.
Seorang maid yang baru datang membawa teh bahkan sempat berhenti di ambang pintu.
Ia melihat keduanya yang kini duduk begitu dekat.
“Apakah saya mengganggu?”
Alessia langsung tersedak.
Vellano malah tertawa.
“Tidak. Kami sedang sarapan.”
Maid itu tersenyum kecil lalu pergi.
Alessia menatap suaminya dengan malu.
“Ini semua salahmu.”
Vellano mengangkat alis.
“Kenapa?”
“Karena kau terlalu bahagia.”
Vellano tersenyum.
“Memang. Aku punya alasan.”
......................
Pagi yang baru saja terasa hangat itu ternyata tidak berlangsung lama.
Ting-tong!
Bel mansion berbunyi nyaring.
Alessia yang sedang menikmati sarapannya langsung menoleh. Vellano bahkan baru saja hendak mengambil kopi ketika bunyi bel kedua terdengar.
Ting-tong! Ting-tong!
“Siapa pagi-pagi begini?” gumam Alessia.
...Seorang maid segera membuka pintu.........
...****************...
Jujur bingung banget di part ini wkwkwk🤣😭