Mita Septia, seorang gadis manis yang berprofesi sebagai Guru PJOK di sekolah terpencil Kecamatan Entikong, kabupateng Sanggau perbatasan Kalimantan Barat dengan negeri jiran Malaysia. Ia telah menjalin hubungan asmara dengan Denis yang menjabat sebagai CSR Supervisor di salah satu perusahaan pertambangan ternama di Kalimantan Barat. Hubungan yang telah berjalan hampir 3 tahun, membuat keduanya berencana meresmikan di akhir tahun. Tetapi kenyataan tak sesuai harapan Mita. Denis telah berpaling hati, hingga membuat rekan kerjanya hamil. Tak bisa menghindari tanggung jawab, Denis melupakan janji yang telah ia susun bersama Mita. Keputusan Denis tentu saja menghancurkan hati Mita, dalam kelukaan atas kabar yang dikirim Denis mempertemukan ia dengan seorang Abdi Negara berpangkat Kapten yang bernama Reihan. Akan kah Kapten Reihan mampu menyembuhkan segala luka yang dialami Mita....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leny Fairuz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5. Perjalanan Menuju Jawaban
Keesokan paginya, Mita datang ke sekolah lebih awal dari biasanya. Semalaman ia hampir tidak memejamkan mata. Wajahnya terlihat sedikit pucat dengan mata sembab, tetapi ia berusaha menyembunyikan kedukaan di balik riasan tipis dan senyum yang dipaksakan.
Ada satu urusan penting yang harus diselesaikannya sebelum ia meninggalkan perbatasan. Akhirnya ia mengajukan Cuti tahunan.
Setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan mendesak, Mita mengetuk pintu ruangan kepala sekolah.
“Silakan masuk,” terdengar suara pak Wahyu dari dalam.
Mita melangkah mendekat, kemudian duduk setelah dipersilakan. Ia telah menyiapkan alasan yang cukup jelas, meskipun tidak mudah baginya menjelaskan bahwa kepulangannya kali ini bukan semata-mata untuk beristirahat.
“Pak, saya bermaksud mengajukan cuti tahunan beberapa hari. Ada urusan keluarga yang perlu saya selesaikan di Pontianak.”
Atasannya memperhatikan Mita sejenak.
“Urusan mendesak?”
“Iya, Pak. Saya perlu pulang secepatnya.”
“Baik. Berapa hari yang kamu butuhkan?”
“Kalau memungkinkan, lima hari kerja.”
Setelah memastikan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab Mita telah memiliki pengaturan pengganti, atasannya menyetujui permohonan tersebut.
“Silakan. Selesaikan administrasinya. Semoga urusan keluargamu berjalan baik.”
“Terima kasih, Pak.”
Mita keluar dari ruangan itu dengan perasaan sedikit lega. Setidaknya, ia tidak harus menunda kepulangannya. Ia segera menghubungi ibunya untuk mengabarkan bahwa cutinya telah disetujui.
“Kalau begitu, Ibu pun akan bersiap untuk ke Ponti,” kata Riani. “Ayah juga sudah tahu kamu akan pulang ke Pontianak. Kemaren ia mengurus cuti tahunan, agar kita bisa berkumpul Bersama.”
“Bu, aku tidak ingin kalian khawatir. Aku hanya ingin menyelesaikan semuanya dengan baik.”
“Ibu mengerti, Nak. Tapi kamu tidak perlu berpura-pura kuat di depan kami.”
Kalimat itu membuat tenggorokan Mita tercekat. Ia mengucapkan terima kasih sebelum mengakhiri panggilan.
Menjelang siang, ia mulai mempersiapkan perjalanan. Karena tidak membawa banyak barang dan ingin segera berangkat, Mita memilih mobil travel antarkota yang biasa digunakan masyarakat di Kalimantan untuk perjalanan darat antardaerah.
Ia telah beberapa kali menempuh perjalanan Sanggau –Pontianak, sehingga cukup memahami bagaimana rasanya duduk berjam-jam di dalam kendaraan. Namun, perjalanan kali ini terasa berbeda. Biasanya, ia menikmati pemandangan sepanjang jalan sambil mendengarkan musik atau bertukar pesan dengan Denis.
Kini, setiap kilometer yang dilalui justru membawanya semakin dekat kepada jawaban yang mungkin akan menghancurkan harapan terakhirnya.
Ketika mobil travel mulai meninggalkan desa Sumber Harapan, Mita menyandarkan kepala pada jendela. Pepohonan hijau, permukiman kecil, dan jalan panjang yang membelah wilayah Kalimantan perlahan berganti di hadapannya.
Ponselnya tergeletak di pangkuan. Ia telah mengirim pesan kepada Denis sebelum berangkat.
"Mas, aku sedang menuju Pontianak. Aku ingin kita bertemu dan berbicara baik-baik. Aku tidak akan memaksamu mengubah keputusan, tetapi aku berhak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi."
Pesan itu telah terkirim, tetapi belum dibalas. Mita menatap layar sebentar, lalu mematikan ponselnya. Ia tidak ingin menghabiskan perjalanan dengan terus menunggu respons seseorang yang bahkan tidak bersedia menjawab panggilannya.
Di tengah perjalanan, mobil berhenti di sebuah tempat makan sederhana. Beberapa penumpang turun untuk membeli makanan dan minuman. Mita ikut turun, tetapi ia hanya membeli air mineral. Nafsu makannya hilang sejak membaca pesan Denis.
Seorang perempuan paruh baya yang duduk di sampingnya memperhatikan wajah Mita.
“Adek sedang sakit?” tanyanya ramah.
Mita tersenyum tipis. “Tidak, Bu. Hanya sedikit lelah.”
“Perjalanan jauh memang melelahkan. Apalagi kalau pikiran sedang banyak.”
Mita terdiam. Entah mengapa, perkataan sederhana itu terasa begitu dekat dengan keadaan hatinya, “Iya, Bu.”
Perempuan itu tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya tersenyum sebelum kembali menuju mobil.
Mita memandang langit yang mulai mendung. Ada sesuatu yang ingin ia tangisi, tetapi ia menahannya. Ia tidak ingin orang-orang asing mengetahui betapa berantakannya perasaannya. Perjalanan dilanjutkan.
Di dalam mobil, kenangan demi kenangan datang tanpa diminta. Ia teringat ketika pertama kali Denis mengantarnya pulang setelah mereka makan bersama di Pontianak. Denis saat itu masih pekerja training pada Perusahaan yang kini memberinya jabatan cukup mentereng, sedangkan Mita baru mulai menata kehidupan perkuliahannya.
Mereka berbicara tentang hal-hal sederhana, tertawa karena lelucon yang tidak terlalu lucu, dan berjanji untuk saling mendukung dalam mengejar cita-cita.
Mita juga mengingat bagaimana Denis memperlakukannya ketika hubungan mereka mulai diketahui kedua keluarga. Tidak ada keberatan dari Hendro dan Sarah. Sebaliknya, mereka menyambut kedekatan itu dengan hangat.
“Kalau memang kalian saling mencintai dan bisa bertanggung jawab, Tante dan Om tentu mendukung,” demikian pernah dikatakan Sarah.
Kata-kata itu masih tersimpan jelas dalam ingatan Mita.Karena itulah, ia tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari keluarga yang begitu dekat dengannya justru akan menjadi bagian dari luka yang harus ia hadapi.
Beberapa jam kemudian, ponselnya bergetar. Mita segera membukanya.
Pesan dari Denis, “Kalau kamu sudah sampai, datang saja ke rumah. Kita bicara di rumah. Ku harap kamu bisa menerima keputusanku.”
Mita membaca pesan itu dengan dada berdebar. Setidaknya, Denis bersedia menemuinya.
Namun, kalimat terakhir itu kembali menorehkan luka. Mengapa Denis sudah berbicara seolah-olah ia harus menerima semuanya tanpa kesempatan menjelaskan perasaannya?
Mita membalas singkat, “Baik. Aku akan datang.”
Ia tidak menulis apa-apa lagi.
Menjelang sore, mobil travel memasuki kawasan Pontianak. Suasana kota yang akrab mulai terlihat. Jalanan yang ramai, bangunan-bangunan yang dikenalnya, serta aroma makanan dari warung di tepi jalan membangkitkan kenangan masa kecil.
Pontianak adalah kota tempat ia tumbuh. Kota yang menyimpan sebagian besar kenangan indah bersama kedua orang tuanya dan keluarga Denis.
Dulu, ia selalu merasa kota ini adalah tempat paling aman untuk pulang. Hari ini, ia justru datang membawa hati yang penuh luka.
Setelah turun di tempat pemberhentian travel, Mita memesan kendaraan untuk mengantarnya menuju rumah Denis. Ia tidak langsung menghubungi orang tuanya untuk menjemput. Karena ia tau, keduanya baru mendarat sore ini, karena menggunakan pesawat siang.
Ada satu hal yang ingin ia selesaikan sendiri sebelum bertemu Andi dan Riani. Ia harus mendengar jawaban Denis terlebih dahulu.
Ketika kendaraan memasuki lingkungan perumahan tempat keluarga Denis tinggal, Mita merasakan jantungnya berdegup semakin kencang. Rumah itu tidak banyak berubah. Pagar yang dahulu sering terbuka, tanaman hias di halaman, dan pohon yang menaungi sebagian teras masih tampak seperti yang diingatnya.
Ia turun, membayar ongkos perjalanan, lalu berdiri sejenak di depan pagar. Rumah itu pernah menjadi tempat yang akrab baginya.
Ia sering datang bersama ibunya untuk mengobrol dengan Sarah. Terkadang, ia ikut membantu menyiapkan makanan di dapur. Saat masih kecil, ia bermain dengan Denis di halaman, berlari mengejar bola, atau duduk di teras sambil menikmati camilan buatan kedua ibu mereka.
Kini, ia harus mengetuk pintu rumah itu untuk menanyakan mengapa anak laki-laki yang pernah tumbuh bersamanya memilih menghancurkan hubungan mereka. Mita menarik napas panjang, kemudian menekan bel.
Tidak lama kemudian, pintu terbuka. Sarah berdiri di ambang pintu. Perempuan itu tampak terkejut ketika melihat Mita dengan tas ransel di bahunya.
“Mita?”
“Assalamu’alaikum Tante,” ucap Mita pelan.
Sarah segera membuka pintu lebih lebar,” Wa’alaikumussalam. Ya Allah, Nak. Kamu datang dari Entikong? Kenapa tidak memberi kabar lebih dulu?”
“Saya ingin bertemu mas Denis, Tante. Ada yang perlu kami bicarakan,” Mita to the point tidak ingin barbasaa-basi lebih lama.
Senyum Sarah memudar. Ia memandang Mita dengan ekspresi yang sulit diartikan, “Denis ada di dalam. Mari masuk dulu.”
Mita melangkah melewati pintu. Aroma masakan dari dapur menyambutnya, sama seperti bertahun-tahun lalu. Namun, kali ini ia tidak merasa nyaman.
Hendro belum terlihat di ruang tamu. Sarah mempersilakannya duduk dan menawarkan minuman, tetapi Mita menolak dengan sopan.
“Tante, Mas Denis tahu saya akan datang.”
Sarah mengangguk perlahan.
“Dia di kamar. Tante panggilkan.”
Beberapa saat kemudian, Denis muncul dari lorong. Ia mengenakan kaus sederhana dan celana panjang. Wajahnya terlihat tegang ketika melihat Mita berdiri di dekat sofa. Mereka saling menatap. Untuk sesaat, tidak ada yang berbicara.
Mita menunggu Denis menyambutnya, menanyakan perjalanannya, atau setidaknya meminta maaf karena membiarkannya menempuh perjalanan panjang seorang diri.
Namun, Denis hanya berkata, “Kamu sudah sampai.”
Mita menelan kepahitan yang terasa di tenggorokannya, “Iya. Aku datang untuk memperjelas chat mas …”
Denis melirik ibunya, lalu kembali memandang Mita, “Baik. Kita bicara.”
“Mama ke belakang dan tidak ingin mengganggu pembicaraan kalian,” ujar Sarah mencoba mendinginkan suasana yang tiba-tiba terasa dingin mencekam.
Ia merasa kehadirannya akan mengganggu Mita dan Denis. Ia pun sadar, keputusan keluarga akan membuat Mita bahkan keluarganya kecewa.
Mita meletakkan tasnya di sofa setelah Sarah berlalu dari hadapan mereka. Ia telah menempuh perjalanan berjam-jam untuk sampai ke tempat itu. Ia tidak akan pulang sebelum mendapat jawaban yang ia inginkan.
“Mas,” katanya, berusaha menjaga suaranya tetap tenang, “aku ingin tahu sejak kapan hubungan kita tidak lagi berarti bagimu.”
Tak ingin berbasa-basi lebih lama, Mita langsung menuntut Denis memberikan jawaban yang tegas.
Lelaki yang ia percayai akan menjadi imamnya di masa depan itu menunduk sejenak. Dan pada saat itulah Mita menyadari bahwa jawaban yang akan didengarnya mungkin jauh lebih menyakitkan daripada apa pun yang pernah ia bayangkan.
Sebab, terkadang, perjalanan terjauh bukanlah perjalanan melewati jalan panjang di tanah Kalimantan, melainkan perjalanan hati untuk menerima bahwa seseorang yang pernah menjadi rumah ternyata tidak lagi ingin ditinggali.