Reinkarnasi, Kesempatan Kedua, Kultivasi
Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, Jian Chen tewas tepat sebelum mencapai Ranah Dewa. Namun, ia mendapat kesempatan kedua untuk mengubah takdir dengan kembali ke dua puluh tahun silam.
Saat ia mulai mengungkap dalang di balik kematiannya, masa depan yang ia kenal perlahan berubah. Pusaka yang seharusnya tersembunyi telah dicuri, teknik langka muncul terlalu dini, dan seseorang tampaknya mengetahui rahasia yang bahkan belum terjadi.
Di balik semua kejanggalan itu, tersimpan Lentera Terakhir pusaka yang mampu memutar waktu, tetapi menyimpan harga yang mengerikan.
Siapa yang mengubah masa depan, dan mengapa mereka seolah tahu setiap langkah Jian Chen? Kali ini, musuh terbesarnya mungkin bukan pengkhianat dari masa lalu, melainkan seseorang yang telah menunggunya sejak awal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Gerbang Pemisah
Gerbang pemisah antara kampung murid luar dan sekte dalam berdiri di ujung jalan batu yang menanjak. Dua tiang batu setinggi tiga orang menopang papan kayu bertuliskan nama sekte dengan huruf emas yang sudah memudar. Dua penjaga bersenjata tombak berdiri di bawahnya, dan tidak ada murid luar yang boleh melewatinya tanpa surat jalan.
Jian Chen berdiri di depan gerbang itu selama hampir satu jam sebelum seorang penjaga akhirnya menghampirinya.
"Kau menunggu apa, Nak?"
"Aku mencari murid dalam bernama Zhao Feng," jawab Jian Chen. "Katakan padanya ada murid pondok tujuh yang ingin menyampaikan laporan."
"Zhao Feng tidak menerima tamu sembarangan."
"Dia sendiri yang bilang agar aku melapor langsung kepadanya."
Penjaga itu memandangnya dengan curiga, tetapi kemudian menoleh ke temannya. Mereka berbisik sebentar, dan yang satu masuk ke dalam gerbang. Jian Chen menunggu lagi. Matahari bergeser, dan bayangan tiang batu memanjang di tanah.
Zhao Feng muncul setengah jam kemudian, berjalan dengan langkah tegap dan jubah putih biru yang rapi. Ia tidak tersenyum. Ia berhenti sepuluh langkah dari Jian Chen dan menatapnya dari atas ke bawah.
"Kau menungguku selama satu setengah jam," katanya.
"Aku tidak keberatan."
"Itu kebodohan atau ketekunan?"
"Mungkin keduanya."
"Bicara." Zhao Feng melipat tangan. "Aku punya latihan sebentar lagi."
Jian Chen menarik napas. "Aku ingin melaporkan penyalahgunaan wewenang oleh Kepala Murid Luar Gu Hong. Setiap bulan ia mengurangi poin kontribusi murid luar sebelum dicatat di aula. Aku mengumpulkan seratus sembilan lembar poin dan membandingkannya dengan catatan aula. Selisih rata-ratanya tiga koma dua poin per orang. Jumlah totalnya hampir seribu poin sebulan."
Ia menyerahkan selembar ringkasan. Zhao Feng membacanya, dahinya berkerut, lalu membaliknya dan membaca bagian belakang yang berisi tabel angka. Cukup lama ia terdiam.
"Ini terlalu rapi untuk pekerjaan murid luar," katanya akhirnya.
"Aku punya teman yang membantu."
"Aku tidak bertanya soal teman." Zhao Feng menyerahkan kertas itu kembali. "Aku bertanya soal kau. Kenapa kau tahu bahwa aku akan peduli?"
"Karena kau bilang kau lebih cepat bertindak dari pengawas."
"Itu bukan alasan."
"Karena kau tidak suka orang yang menyalahgunakan wewenang," kata Jian Chen. "Aku melihat caramu bicara dengan Lu Gang waktu pemeriksaan. Kau tegas tetapi tidak merendahkannya. Orang yang bersikap begitu tidak akan suka melihat orang lain memeras bawahan."
Zhao Feng tidak menjawab. Matanya menyipit.
"Aku tidak suka dibaca," katanya.
"Aku tidak membaca. Aku mengamati."
"Itu sama saja." Zhao Feng mendengus. "Baik. Katakanlah aku peduli. Apa yang kau mau dariku?"
"Aku butuh buku pembayaran asli yang disimpan Gu Hong, dan buku aula di ruang Tetua Penilik. Kalau dua buku itu dibandingkan, tidak ada yang bisa membantah."
"Kau meminta aku mencuri dari Kepala Murid Luar dan Tetua Penilik."
"Aku meminta kau memeriksa. Murid dalam punya hak memeriksa catatan aula atas nama sekte."
"Dengan alasan apa?"
"Dengan alasan penyelidikan perintah palsu," jawab Jian Chen. "Kau masih bertugas menelusuri kurir itu. Pemalsu segel butuh akses ke daftar tugas murid luar. Pemeriksaan buku pembayaran bisa dibenarkan sebagai bagian dari penyelidikanmu."
Zhao Feng menatapnya lama. Di wajahnya ada sesuatu yang bergerak, bukan marah, bukan kagum, tetapi sesuatu di antara keduanya. "Kau sudah merencanakan seluruhnya."
"Aku hanya menyusun apa yang masuk akal."
"Murid luar yang masuk akal tidak ada." Zhao Feng mengembuskan napas pendek. "Baik. Aku akan memeriksa. Tapi dengan syarat."
"Apa?"
"Kalau terbukti Gu Hong bersalah, kau berhutang satu jawaban jujur kepadaku. Satu pertanyaan, satu jawaban, tanpa mengelak."
Jian Chen terdiam. Hutang seperti itu berbahaya. Zhao Feng akan menanyakan sesuatu yang paling ingin ia sembunyikan, dan ia tidak bisa berbohong tanpa merusak kepercayaan yang baru terbentuk.
"Satu pertanyaan, satu jawaban," katanya pelan. "Tapi aku berhak memilih tidak menjawab bila jawabannya membahayakan orang lain."
"Itu bukan jawaban jujur."
"Itu jawaban yang aman. Aku tidak menjanjikan lebih."
Zhao Feng mengangkat dagunya sedikit. "Kau tawar-menawar seperti pedagang."
"Aku belajar dari Dao."
"Siapa itu Dao?"
"Pandai besi. Dia bisa membuat besi mengerti kata-kata."
Untuk pertama kalinya, sudut bibir Zhao Feng bergerak ke atas, sangat sedikit, dan cepat hilang. "Baik. Terima syaratmu. Aku butuh tiga hari."
"Terima kasih."
"Jangan berterima kasih. Aku melakukannya karena aku benci pencuri, bukan karena kau." Zhao Feng berbalik, tetapi berhenti sebentar tanpa menoleh. "Dan Jian Chen."
"Ya?"
"Bahu kirimu masih kebas?"
Jian Chen terpaku. "Bagaimana kau tahu?"
"Cara kau berdiri. Kau menyembunyikannya lebih baik dari kemarin, tetapi masih terlihat." Zhao Feng menoleh sedikit, matanya dingin namun tidak bermusuhan. "Jangan berlatih dengan pedang yang berat sebelum sembuh. Aku tidak mau menyaksikan pemuda berbakat merusak dirinya."
Ia pergi memasuki gerbang tanpa menunggu jawaban. Jian Chen berdiri diam menatap punggungnya sampai lenyap. Dua puluh tahun lalu orang itu pernah berdiri di kaki Puncak Lentera menjaga jalan naik dengan dua puluh murid dalam. Dalam ingatannya, Zhao Feng adalah orang yang selalu hadir tetapi tidak pernah bicara tentang dirinya. Sekarang ia bicara dan menanyakan bahu orang lain.
Tiga hari kemudian, saat Jian Chen sedang memutar roda penghembus di bengkel, seorang murid dalam berjubah putih biru berdiri di ambang pintu. Dao berhenti menempa. Jian Chen mengangkat kepala.
"Zhao Feng," kata Dao pelan. "Apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku mencari murid bernama Jian Chen, dan kudengar dia bekerja di tempat yang berbau arang." Zhao Feng melirik sekeliling dengan raut tidak terkesan. "Tempat ini kotor."
"Namanya bengkel," jawab Dao. "Kalau kau mau bersih, pergilah ke ruang minum teh."
"Aku tidak minum teh dengan tukang besi."
"Bagus. Aku juga tidak menempa dengan murid dalam yang bicaranya seperti kakek-kakek."
Zhao Feng menyipitkan mata. Dao balas menatap dengan palu di bahu. Jian Chen berdeham keras.
"Zhao Feng," katanya, "kau membawa sesuatu?"
"Ya." Zhao Feng mengalihkan pandangan dari Dao, melangkah masuk, menaruh dua buah buku tebal berjilid kain di atas landasan, dan membuka keduanya. Buku pertama bertuliskan Pembayaran Murid Luar, yang kedua Catatan Aula Kontribusi. Ia menunjuk dua halaman berdampingan.
"Aku sudah memeriksa," katanya. "Dua buku ini tidak cocok. Tiga ratus dua belas murid, selisih rata-rata tiga koma dua poin. Dan tanda tangan penerima di buku aula... bukan tanda tangan Lu Gang."
"Dipalsukan?" tanya Jian Chen.
"Ya." Zhao Feng menatap mereka satu per satu, mata dinginnya menyala. "Besok pagi, di aula utama, aku akan membawa semua ini ke hadapan tiga tetua. Dan aku ingin kalian berdua hadir."