NovelToon NovelToon
Terikat Pernikahan Dengan CEO Dingin

Terikat Pernikahan Dengan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aqilaa Kezia

Alisha Amanda hanyalah seorang gadis sederhana yang bekerja di sebuah toko roti demi menghidupi dirinya dan sang ibu. Sejak kepergian ayahnya, ibunya menjadi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Namun, hidup Alisha berubah ketika penyakit sang ibu semakin parah. Operasi dengan biaya yang sangat mahal menjadi satu-satunya harapan untuk menyelamatkan wanita yang paling ia cintai. Sayangnya, tabungan Alisha tidak cukup, bahkan untuk membayar sebagian kecil dari biaya tersebut.
Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran tak terduga datang kepadanya.
Adrian Mahendra, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa, membutuhkan seorang istri demi mempertahankan posisinya di perusahaan keluarga. Terdesak oleh tuntutan orang tuanya dan ancaman kehilangan jabatan, Adrian menawarkan pernikahan kontrak selama satu tahun kepada Alisha.
Sebagai gantinya, Alisha akan mendapatkan uang yang cukup untuk membiayai operasi ibunya.
Bagi Adrian, pernikahan itu hanyalah kesepakatan bisnis. Tidak ada cinta, tidak ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilaa Kezia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 — Perjanjian yang Harus Diselesaikan

Malam itu, Alisha Amanda duduk di tepi tempat tidurnya sambil memandangi layar ponsel. Pikirannya tertuju pada semua hal yang terjadi beberapa hari terakhir.

Pernikahan.

Sesuatu yang tidak pernah masuk ke dalam rencana hidupnya dalam waktu dekat, tetapi kini justru menjadi pilihan yang harus dipertimbangkannya.

Alisha mengembuskan napas panjang.

Sebenarnya, dia tidak ingin terlalu memikirkan pernikahan tersebut. Ada hal lain yang jauh lebih penting baginya, yaitu kesembuhan ibunya.

Ratih Amanda masih menjalani perawatan di rumah sakit. Meskipun kondisinya mulai mendapatkan penanganan, Alisha tetap khawatir. Dia ingin ibunya segera pulih dan kembali menjalani kehidupan seperti sebelumnya.

Namun, keadaan tidak memberinya banyak pilihan.

Tawaran pernikahan dari Adrian Mahendra datang ketika hidupnya sedang sulit. Alisha tahu pernikahan itu bukan karena cinta. Adrian memiliki alasannya sendiri, begitu pula dirinya.

Mereka hanya memiliki tujuan yang berbeda, tetapi harus mengambil jalan yang sama.

Ponselnya tiba-tiba bergetar.

Sebuah pesan masuk dari nomor Adrian.

Adrian Mahendra:

Besok pukul sepuluh, datang ke kantor saya. Daniel akan mengurus dokumen perjanjian.

Alisha membaca pesan tersebut sebentar, kemudian membalas.

Alisha Amanda:

Baik, saya akan datang.

Setelah mengirim pesan, Alisha meletakkan ponselnya di atas meja.

Tidak ada percakapan lain.

Adrian memang selalu seperti itu. Singkat, seperlunya, dan tidak suka membuang waktu untuk pembicaraan yang menurutnya tidak penting.

Alisha pun tidak berniat mengubah kebiasaan pria tersebut.

Selama urusan mereka berjalan sesuai kesepakatan, dia tidak keberatan.

Baginya, yang terpenting adalah ibunya bisa sembuh.

---

Keesokan paginya, Adrian sudah berada di kantornya sejak pukul tujuh.

Beberapa dokumen menumpuk di atas meja kerjanya. Di layar komputer, laporan keuangan perusahaan masih terbuka, sementara jadwal rapat hari itu sudah menunggu untuk diperiksa.

Adrian membaca laporan dengan serius.

Ketukan terdengar dari pintu ruangannya.

"Masuk."

Daniel, asisten pribadinya, masuk membawa sebuah map hitam.

"Selamat pagi, Pak."

"Pagi. Ada apa?"

"Saya sudah menyiapkan rancangan awal perjanjian pernikahan yang Bapak minta."

Daniel meletakkan map itu di atas meja.

Adrian meliriknya sekilas.

"Bagus. Pastikan semuanya diperiksa dengan benar."

"Baik, Pak. Saya juga sudah menyiapkan beberapa bagian yang masih perlu dibicarakan bersama Nona Alisha."

Adrian kembali memandang layar komputernya.

"Atur saja pertemuannya. Kalau ada hal yang perlu saya putuskan, baru sampaikan kepada saya."

Daniel sudah cukup lama bekerja bersama Adrian. Dia memahami bahwa atasannya itu tidak suka direpotkan oleh urusan yang bisa diselesaikan sendiri oleh orang kepercayaannya.

Terlebih lagi, bagi Adrian, pernikahan ini bukan sesuatu yang ingin dipikirkannya setiap hari.

Dia menerima keputusan tersebut karena keadaan yang memaksanya. Mempertahankan posisinya sebagai CEO merupakan hal yang jauh lebih penting dalam pikirannya.

"Baik, Pak. Saya akan mengatur semuanya."

"Pastikan jadwal rapat pukul sebelas tidak terganggu."

"Sudah saya atur, Pak."

Adrian mengangguk, kemudian kembali bekerja.

Bagi pria itu, pembicaraan mengenai pernikahan telah selesai untuk sementara.

Sekarang, ada banyak urusan perusahaan yang menunggunya.

---

Pukul sepuluh tepat, Alisha tiba di gedung Mahendra Group.

Dia mengenakan pakaian sederhana dan membawa tas kecil. Setelah menyampaikan tujuannya kepada resepsionis, dia diarahkan menuju lantai tempat Daniel bekerja.

Tidak lama kemudian, Daniel menyambutnya.

"Selamat pagi, Nona Alisha."

"Selamat pagi, Pak Daniel."

"Silakan masuk. Kita akan membahas beberapa dokumen terlebih dahulu."

Alisha mengikuti Daniel menuju sebuah ruang pertemuan kecil.

Di atas meja sudah tersedia map hitam, beberapa lembar dokumen, dan alat tulis.

Daniel mempersilakannya duduk.

"Pak Adrian sedang menyelesaikan pekerjaannya. Beliau meminta saya menangani persiapan dokumen ini terlebih dahulu."

Alisha mengangguk.

"Tidak masalah, Pak."

Daniel membuka map tersebut.

"Saya akan menjelaskan isi rancangan perjanjian ini satu per satu. Jika ada bagian yang kurang jelas atau ingin Anda tanyakan, silakan sampaikan."

"Baik."

Daniel mulai menjelaskan beberapa ketentuan yang telah disiapkan.

Masa perjanjian direncanakan berlangsung selama satu tahun setelah pernikahan mereka dilaksanakan. Selama masa tersebut, kedua pihak diharapkan menjaga privasi masing-masing dan tidak menyebarkan informasi mengenai kesepakatan mereka kepada orang lain.

Daniel juga menjelaskan beberapa ketentuan mengenai tempat tinggal, kebutuhan rumah tangga, serta tanggung jawab yang perlu dibicarakan sebelum dokumen final disepakati.

Alisha mendengarkan dengan saksama.

Sesekali, dia membaca kembali bagian tertentu sebelum melanjutkan ke halaman berikutnya.

"Maaf, Pak Daniel. Saya ingin bertanya."

"Tentu, silakan, Nona."

"Kalau setelah menikah saya tetap ingin bekerja, apakah saya boleh?"

Daniel mengangguk.

"Tentu saja. Sejauh ini, tidak ada ketentuan yang melarang Anda bekerja. Namun, untuk ketentuan yang berkaitan dengan jadwal keluarga atau acara resmi, nanti bisa dibicarakan bersama Pak Adrian."

Alisha terlihat sedikit lega.

"Saya mengerti."

Dia tidak ingin kehilangan pekerjaannya hanya karena menikah. Pekerjaan itu penting baginya, terutama karena dia masih harus membantu memenuhi kebutuhan ibunya.

Daniel melanjutkan penjelasannya.

Ketika sampai pada bagian mengenai kehidupan pribadi, Alisha kembali menyampaikan pertanyaan.

"Saya juga ingin memastikan bahwa kami bisa memiliki ruang pribadi masing-masing."

Daniel mencatat permintaan tersebut.

"Baik. Saya akan memasukkannya ke dalam daftar ketentuan yang perlu disepakati bersama Pak Adrian."

Alisha mengangguk.

Dia tidak meminta banyak hal.

Dia hanya ingin pernikahan tersebut tidak membuat kehidupannya menjadi semakin sulit.

"Apakah ada hal lain yang ingin Anda tanyakan?" ujar Daniel.

Alisha memeriksa dokumen di hadapannya sekali lagi.

"Untuk sekarang, sepertinya cukup. Saya ingin membaca semuanya terlebih dahulu sebelum menyetujuinya."

"Itu keputusan yang tepat, Nona. Anda tidak perlu terburu-buru menandatangani dokumen sebelum memahami seluruh isinya."

Alisha tersenyum tipis.

"Terima kasih, Pak Daniel."

"Sama-sama."

Daniel kemudian merapikan dokumen tersebut.

"Setelah semua bagian diperiksa dan disepakati, saya akan menyiapkan dokumen final. Untuk hal-hal yang memerlukan keputusan langsung dari Pak Adrian, saya akan menyampaikannya kepada beliau."

Alisha mengangguk.

"Baik."

Pertemuan itu berlangsung tanpa kehadiran Adrian.

Bagi Alisha, hal tersebut bukan masalah. Dia tahu pria itu memiliki banyak pekerjaan dan tidak ingin menghabiskan waktunya untuk mengurus setiap detail perjanjian.

Sementara bagi Adrian, menyerahkan urusan administrasi kepada Daniel merupakan hal yang biasa.

Dia mempercayai asistennya untuk menangani pekerjaan tersebut.

---

Setelah pertemuan selesai, Alisha keluar dari ruang pertemuan bersama Daniel.

"Apakah Pak Adrian ada waktu sebentar?" tanya Alisha.

Daniel melihat jam tangannya.

"Saat ini beliau sedang rapat. Apakah ada hal penting yang ingin Anda sampaikan?"

Alisha menggeleng.

"Tidak. Saya hanya ingin berpamitan."

"Baik, Nona. Saya akan menyampaikan bahwa Anda sudah selesai."

"Terima kasih."

Alisha berjalan menuju lift.

Sementara itu, di ruang rapat, Adrian sedang mendengarkan laporan dari beberapa kepala divisi. Wajahnya serius ketika memperhatikan angka-angka yang ditampilkan di layar.

Ponselnya bergetar sebentar.

Sebuah pesan dari Daniel muncul di layar.

Pak, pertemuan dengan Nona Alisha sudah selesai. Rancangan dokumen akan saya periksa kembali sesuai dengan pembahasan tadi.

Adrian membacanya sekilas, lalu membalas singkat.

Baik. Lanjutkan.

Setelah itu, dia kembali meletakkan ponselnya dan melanjutkan rapat.

Tidak ada pertanyaan tambahan mengenai pertemuan tersebut.

Tidak ada pula keinginan untuk mengetahui setiap detail yang sudah dibicarakan Daniel dengan Alisha.

Adrian hanya ingin urusan pernikahan itu diselesaikan dengan benar tanpa mengganggu pekerjaannya.

---

Di luar gedung, Alisha berhenti sejenak sebelum memesan kendaraan untuk pulang.

Dia memikirkan dokumen yang baru saja dibahas.

Pernikahan itu memang akan mengubah banyak hal dalam kehidupannya, tetapi dia tidak ingin terus-menerus memikirkan sesuatu yang belum terjadi.

Dia harus tetap bekerja.

Dia juga harus mengunjungi ibunya di rumah sakit.

Itulah yang memenuhi pikirannya sekarang.

Ketika kendaraan yang dipesannya tiba, Alisha segera masuk.

Sepanjang perjalanan, dia memandangi jalanan dari balik jendela.

Dia tidak tahu bagaimana kehidupannya setelah menikah nanti. Dia juga tidak tahu apakah akan mudah tinggal bersama seseorang yang selama ini hanya dikenalnya sebagai pria dingin dan sibuk.

Namun, dia tidak ingin terlalu jauh memikirkan hal tersebut.

Selama Adrian menjalankan bagiannya dan tidak menghalanginya untuk tetap bekerja serta mengurus ibunya, Alisha akan berusaha menjalani kesepakatan itu sebaik mungkin.

---

Sore harinya, Adrian baru selesai menghadiri rapat terakhir.

Dia kembali ke ruangannya dan menemukan Daniel sedang menunggu dengan beberapa dokumen.

"Bagaimana perkembangannya?" tanya Adrian sambil duduk.

"Rancangan perjanjian sedang saya periksa kembali. Ada beberapa ketentuan yang perlu disesuaikan berdasarkan pembicaraan dengan Nona Alisha."

Adrian membuka laptopnya.

"Kalau begitu, perbaiki saja. Saya ingin semuanya selesai tanpa mengganggu jadwal perusahaan."

"Baik, Pak."

"Kalau sudah selesai, berikan dokumen finalnya kepada saya untuk diperiksa."

Daniel mengangguk.

"Siap, Pak."

Adrian kemudian kembali membaca laporan perusahaan.

Beberapa menit berlalu tanpa percakapan.

Daniel memahami bahwa atasannya itu tidak ingin membicarakan pernikahan lebih jauh. Selama semua persiapan berjalan sesuai rencana, Adrian tidak merasa perlu ikut campur dalam setiap prosesnya.

Setelah memastikan tidak ada hal lain yang perlu disampaikan, Daniel meninggalkan ruangan.

Adrian tetap bekerja hingga sore berganti malam.

Baginya, pekerjaan adalah bagian terpenting dari kehidupannya. Dia telah menghabiskan bertahun-tahun membangun posisinya di perusahaan dan tidak berniat kehilangan semua itu.

Pernikahan ini hanyalah keputusan yang harus dijalani karena keadaan.

Dia tidak berharap lebih dari Alisha.

Dia juga tidak berniat mengubah hidupnya hanya karena akan menikah.

Setidaknya, untuk saat ini, Adrian Mahendra hanya ingin semuanya berjalan sesuai rencana.

Sementara itu, Alisha memiliki tujuan yang sama sederhananya.

Dia ingin ibunya sembuh.

Dan demi tujuan itu, dia bersedia menjalani kehidupan baru yang sudah menunggunya.

Dua orang dengan alasan berbeda kini sedang menuju satu peristiwa yang sama.

Pernikahan yang tidak mereka rencanakan sebagai kisah cinta.

Pernikahan yang akan mengikat mereka selama satu tahun.

Tanpa janji manis, tanpa harapan berlebihan, dan tanpa keinginan untuk saling mengubah.

Namun, kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang telah direncanakan manusia.

Dan keduanya belum mengetahui apa yang menunggu mereka setelah hari pernikahan itu tiba.

1
Grend Levn
ceritanya menarik membuat ku penasaran bagaimana kelanjutannya kerenn
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Clarissa, sedemikian ga lakunya kamu ya sama bujangan, sampai orang udah punya istri juga kamu ganggu, hanya alasan masa lalu? Bodohnya kebangetan kamu
Aqilaa Kezia: Hehehe, sabar ya, Kak 😂 Clarissa memang bikin emosi. Terima kasih sudah membaca novelku! ❤️
total 1 replies
Ariany Sudjana
skak mat, bagus Alisha, kamu harus tegas menghadapi si pelacur murahan itu, tunjukkan kamu itu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, meskipun kamu istri CEO, tapi kelas kamu jauh di atas si pelacur murahan itu, yang hanya bisa berharap jadi istri CEO, tapi ga kesampaian
Aqilaa Kezia: makasih banyak Kak Arianya udah selalu dukung Alisha😍
total 1 replies
Ariany Sudjana
Adrian dan alisha harus tegas dan waspada, si pelacur murahan itu ingin menghancurkan rumah tangga kalian
Aqilaa Kezia: terimakasih ka Adriany udah membaca😊
total 1 replies
Ariany Sudjana
jangan menyerah Alisa, buktikan kamu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, dan cocok mendampingi Adrian, jangan biarkan pelacur murahan itu menghancurkan rumah tangga kamu dengan Adrian
katya
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!