Astiana Larasati turun ke ibu kota dengan ilmu bela diri kuno, pengobatan ajaib, dan kemampuan mendengar niat jahat untuk mencari orang tua kandungnya. Berpandukan liontin yang bisa menyala hijau, Astiana menavigasi intrik para elit kota sambil mati-matian menekan kekuatannya demi mematuhi amanat kakek angkatnya untuk hidup rendah hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Dia merogoh sisa uang di sakunya dan menghitungnya dalam hati.
"Sisa lima puluh ribu rupiah saja." Astiana bergumam pelan memikirkan di mana dia harus tidur malam ini dengan uang sekecil itu.
Dia melihat sebuah halte bus besar yang cukup terang dan ada beberapa bangku panjang yang kosong.
Astiana memutuskan untuk duduk beristirahat sejenak di halte tersebut sambil merilekskan kakinya yang pegal.
Brummm.
Suara deru mesin mobil mewah kembali menarik perhatiannya namun kali ini bukan mobil sedan hitam.
Sebuah mobil SUV berwarna perak mengkilap berhenti mendadak tepat di dekat trotoar halte bus tersebut.
Cittt.
Suara decit ban mobil bergesekan dengan aspal membuat beberapa pejalan kaki menoleh kaget.
Pintu penumpang bagian belakang mobil itu terbuka dengan sangat tergesa-gesa.
Seorang pria tua berambut putih rapi melangkah keluar dari dalam mobil sambil memegangi dadanya.
Wajah pria tua itu sangat pucat pasi dan dipenuhi keringat dingin yang mengucur deras.
"Tuan Darma, Anda tidak apa-apa." Seorang pria muda berjas hitam yang sepertinya supir mobil itu ikut turun dengan panik.
"Dada saya... sesak sekali... obatnya." Pria tua bernama Pak Darma itu berbicara terbata-bata sambil bersandar pada badan mobilnya.
Brukk.
Belum sempat sang supir mengambil obat, tubuh Pak Darma ambruk dan jatuh ke atas aspal trotoar.
"Tuan Darma." Supir itu berteriak histeris dan langsung berlutut memangku kepala majikannya yang sudah tidak sadarkan diri.
Kerumunan pejalan kaki mulai terbentuk mengelilingi kejadian tersebut dalam hitungan detik.
"Ada apa ini, kenapa bapak itu pingsan."
"Sepertinya dia terkena serangan jantung, cepat telepon ambulans."
Orang-orang mulai panik dan berteriak memberikan instruksi namun tidak ada yang berani mendekat.
"Tolong siapapun, tolong majikan saya." Supir itu menangis sambil melihat ke sekeliling mencari bantuan medis dari kerumunan orang.
"Gawat, majikan saya bisa mati kalau tidak segera ditolong."
"Kalau Tuan Darma mati, Tuan Muda Raka pasti akan membunuhku hidup-hidup."
Suara hati supir yang ketakutan itu menggema sangat keras di telinga Astiana yang duduk di halte.
Astiana berdiri dari bangkunya dan berjalan perlahan mendekati kerumunan tersebut.
Dia memfokuskan pendengarannya bukan pada suara hati orang-orang melainkan pada suara detak jantung.
Dug... dug... dug...
Astiana bisa mendengar ritme detak jantung Pak Darma yang sangat kacau dan semakin melemah.
"Ini bukan serangan jantung biasa."
Astiana membatin saat menyadari ada kejanggalan dalam aliran darah pria tua yang terbaring itu.
Aliran darahnya seperti tersumbat oleh sesuatu yang dingin dan tidak wajar.
"Minggir, tolong beri jalan."
Seorang pria berkacamata menerobos kerumunan dengan wajah serius.
"Saya seorang dokter, biar saya periksa keadaannya."
Supir itu sedikit lega dan membiarkan dokter itu memeriksa denyut nadi Pak Darma.
"Nadinya sangat lemah dan nafasnya hampir berhenti."
Dokter itu berbicara dengan nada panik sambil membuka kerah kemeja Pak Darma.
"Kita harus melakukan RJP sekarang juga."
Dokter itu menyilangkan tangannya dan bersiap menekan dada Pak Darma dengan kuat.
"Jangan lakukan itu."
Sebuah suara wanita yang lantang tiba-tiba menghentikan gerakan tangan sang dokter.
Semua mata di kerumunan itu menoleh ke arah sumber suara tersebut.
Astiana berdiri di barisan paling depan dengan tatapan mata yang sangat tajam dan serius.
"Apa maksudmu, Nak, bapak ini sedang meregang nyawa."
Dokter itu membentak marah merasa otoritas medisnya diganggu oleh seorang gadis muda berpenampilan dekil.
"Jika Anda menekan dadanya sekarang, pembuluh darah di sekitar jantungnya akan langsung pecah."
Astiana melangkah maju mengabaikan tatapan meremehkan dari orang-orang di sekitarnya.
"Pembuluh darahnya saat ini sedang membeku dan menyusut dengan sangat tidak wajar."
"Menekannya secara paksa sama saja dengan membunuhnya secara perlahan."
Dokter itu terdiam sejenak mendengar penjelasan medis yang terdengar asing namun diucapkan dengan sangat yakin.
"Gadis gila, jangan asal bicara kalau tidak mengerti ilmu medis."
"Anak ini pasti hanya ingin mencari perhatian saja, usir saja dia."
Suara hati orang-orang di kerumunan mulai menyudutkan dan merendahkan kapasitas Astiana.
"Saya mohon, Nona, jangan mengganggu, biarkan dokter ini bekerja."
Supir itu ikut memohon pada Astiana sambil menangis putus asa memegangi tangan majikannya.
Astiana menghela nafas panjang dan teringat kembali pada ajaran mendiang kakeknya tentang kehidupan.
"Menolong nyawa manusia jauh lebih penting daripada menyembunyikan kemampuanmu, Astiana."
Petuah kakeknya itu seolah membisikkan keberanian di telinganya saat ini. "Aku bisa menyelamatkannya."
Astiana berbicara dengan nada tenang namun memancarkan aura otoritas yang sangat kuat.
Dia melepaskan tas ranselnya ke lantai dan berlutut di samping tubuh Pak Darma yang semakin membiru.
"Minggir, Nona, saya tidak akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu."
Dokter itu mencoba menyingkirkan tubuh Astiana dari dekat pasiennya.
Namun saat tangan dokter itu menyentuh bahu Astiana, dia merasakan sebuah tekanan energi yang aneh.
Tangan dokter itu refleks mundur sendiri seolah baru saja tersengat aliran listrik statis yang kecil.
Astiana merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil berwarna cokelat tua.
Klik.
Kotak kayu itu terbuka dan menampilkan deretan jarum perak yang sangat tipis dan berkilau di bawah lampu jalan.
Orang-orang di kerumunan menahan napas melihat benda tajam tersebut dikeluarkan di jalanan.
"Apa yang mau dia lakukan dengan jarum-jarum mengerikan itu."
Suara hati sang supir berteriak panik namun mulutnya seolah terkunci melihat gerakan tangan Astiana yang begitu luwes.
Astiana mengambil tiga buah jarum perak terpanjang tanpa ragu sedikit pun.
Dia harus berpacu dengan waktu sebelum detak jantung pria tua ini benar-benar berhenti berdetak untuk selamanya.
selamat untuk memperbaiki semua kerusakannya pak manajer 🤣🤣