Abimana Rahardjo adalah putra pemilik sebuah pesantren dan merupakan penerus dari pondok pesantren milik keluarganya karena dia merupakan putra satu-satunya keluarga tersebut.
Sejak kecil dia telah di jodohkan dengan seorang gadis yang merupakan putri asuh keluarga Rahardjo yakni Kemala Putri Dewi yang merupakan putri sahabat kedua orangtuanya.
Kemala yang telah lama jadi yatim piatu sejak usia 10 tahun harus merelakan cita-citanya yang ingin jadi dokter karena sebuah balas budi.
Pernikahan karena dijodohkan itu benar-benar mencekik Kemala dikarenakan sang suami yang rupanya memilih poligami dengan perempuan yang telah lama ada dihati Abimana.
Hati Kemala hancur karena cinta suami yang tak kunjung dia dapatkan dan karena kehadiran orang ketiga dalam rumah tangga mereka.
Hingga suatu hari, seorang pemuda mampu menggoyahkan hati Kemala.
Laki-laki yang dianggap urakan dan bertato layaknya preman.
simak kisahnya di Memeluk Bayangan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kemarahan Ummi
Pertemuan itu terjadi lagi, kali ini di lorong belakang gedung perpustakaan yang sepi, saat senja mulai meluruhkan cahayanya ke dinding-dinding putih.
Kemala tak sengaja berpapasan dengan Sean, bukan kebetulan sepenuhnya, ia akui dalam hati. Ia seakan tahu laki-laki itu akan lewat di sana, dan kakinya sendiri yang membawanya ke tempat itu.
"Kamu datang," sapa Sean pelan, seakan sudah menunggunya.
Kemala menunduk, meremas ujung jilbabnya. "Saya hanya… lewat."
Sean tersenyum tipis, tak menuntut.
Mereka berdiri berhadapan, jarak di antara mereka tak terlalu dekat, namun rasanya seperti ada sesuatu yang halus menyambungkan napas mereka.
Mereka berbicara lagi, tentang hal-hal kecil yang tak pernah ia ceritakan kepada siapa pun, tentang lelah yang tak terucap, tentang malam-malam yang ia lalui sendirian, tentang bagaimana kata "sabar" kini terasa seperti beban yang ditumpuk di dadanya.
Sean mendengarkan. Tak menyela, tak menghakimi. Kadang ia hanya menyebut namanya pelan, atau menatapnya dengan pandangan yang seolah memahami setiap retak di hatinya.
Dan di situlah rasa itu bermula, sesuatu yang asing, yang aneh, yang membuat jantungnya berdebar tak wajar setiap kali suara laki-laki itu terdengar.
Kemala menarik napas pelan, berusaha menenangkan diri.
Namun rasanya tak hilang. Justru makin mengakar. Saat Sean menatapnya, ia merasa dilihat, bukan sebagai istri pertama yang harus mengalah, bukan sebagai bagian dari pernikahan yang terbagi dua, melainkan sebagai dirinya sendiri, Kemala.
Saat laki-laki itu berpamitan dan melangkah pergi, ia masih berdiri di tempat yang sama. Dadanya terasa hangat sekaligus mencekam.
Apa ini? batinnya bergetar.
Ia sudah bersuami. Ia milik Abimana. Seharusnya tak ada ruang bagi perasaan lain.
Namun setiap kali ia mengingat senyum Sean yang teduh, setiap kali terbayang bagaimana laki-laki itu memandangnya sendu seolah ia sesuatu yang berharga, pipinya memerah dan hatinya berdebar kencang.
Rasa itu aneh, manis namun juga menakutkan. Seperti memegang bunga yang indah namun berduri. Ia tahu ia tak seharusnya merasakannya. Ia tahu ini salah. Tapi ia tak sanggup menepisnya.
Langkah kakinya terasa berat saat berjalan pulang. Di rumah itu, ada suaminya yang entah ada angin apa datang mengunjuginya.
Sementara, di sini, ada perasaan yang mulai tumbuh diam-diam, tersembunyi di balik bayang-bayang senja, sesuatu yang tak boleh ia miliki, namun tak bisa ia lepaskan.
"Mas... Sudah lama?" sapa Kemala lembut.
Abimana memindai penampilan Kemala.
Tak ada yang berubah dari istrinya itu.
"Kirana memintaku mengunjungi mu... Katanya dia merasa tidak enak hati karena sudah hampir dua bulan ini, saya selalu bersamanya karena efek kehamilan..." ucap Abimana tanpa memikirkan perasaan Kemala.
Dia sepertinya lupa, jika Kemala itu bukan selingkuhannya melainkan istri sah-nya yang dinikahi dengan wali dan surat-surat sah diakui negara.
Hati Kemala mencelos.
Senyum yang tadinya mulai terukir kini kembali surut berganti rasa perih yang menikam jantung.
Kemala berlalu dari hadapan Abimana.
Berusaha mengabaikannya.
"Kenapa wajahmu terlihat tidak senang ketika saya datang? Bisakah kamu bersikap lebih lembut, lebih anggun ketika suamimu dirumah?" protes Abimana dengan sikap Kemala yang acuh dan dingin.
Kemala berbalik, "Saya tidak menyuruh kamu datang! Jika kamu tidak suka dengan sikap saya, pulang sana, kerumah istri tercintamu" jawab Kemala.
"Ini yang saya tidak suka dari sikap kamu! Kamu sekarang jadi istri yang berani membangkang pada suami. Dan jika didepan Abah dan Ummi, bersikap sebaliknya seolah saya dan Kirana yang paling kejam" suara Abimana mengeras.
Dirumah itu, saling berteriak satu sama lain sudah jadi hal biasa belakangan ini.
"Lantas, kamu mau saya bagaimana mas? Saya harus mengemis cinta dan belas kasihmu gitu?" Kemala menatap lurus pada Abimana "Maaf, jika saya adalah istri yang selalu mengecewakan mu... Saya bukan Kirana yang pandai bermanja-manja dan bermanis-manis demi sebuah perhatian darimu... Jika kamu tidak suka, maka kamu bisa ceraikan saya!" kalimat itu akhirnya meluncur dari bibir Kemala. Bahunya nampak naik turun seperti menahan sesak.
Abimana seperkian detik terdiam.
Otaknya mencerna, namun sesaat kemudian, laki-laki itu tertawa miring, meremehkan.
"Kamu sadar dengan apa yang barusan kamu katakan Kemala? Cerai?"
Kemala tak bergeming.
"Dengan statusmu yang yatim-piatu itu, saya yakin, kamu tidak akan bisa hidup tanpa keluarga Rahardjo.. Mau kemana kamu? Ke rumah paman yang bahkan tidak pernah mengunjugi mu kecuali karena ijab qabul kemarin?" kalimat Abimana sungguh sangat melukai hati Kemala.
Tapi perempuan itu tidak tunduk melainkan terus menatap mata suaminya.
Matanya yang bening kini berkaca-kaca, sekali saja kelopak indah itu berkedip, bisa saja cairan bening itu kembali jatuh. Tapi, Kemala menahannya.
"Kamu jahat mas! Tega kamu mengatakan hal itu tanpa memikirkan perasaanku padahal saya juga istri mu meskipun kamu tidak menganggapku ada..." ada getar disetiap kelimat yang Kemala lontarkan.
"Kamu yang jahat Kemala? Jangan melempar kesalahan mu pada saya. Jika saja, kamu tidak hadir di keluarga ini, jika saja sejak awal kamu bukan putri kesayangan Abah dan Ummi, saya tidak akan pernah menikahimu"
"Abimana... Lancang kamu berkata demikian pada istri mu!" suara Ummi menggelegar, memecah keriuhan ruang tamu rumah Kemala.
Keduanya menoleh bersamaan.
Beberapa menit sebelumnya...
Dirumah kediaman Abah Adi, terlihat Kirana hilir-mudik, dengan wajah pucat dan kening berkeringat.
Ummi yang baru saja akan hendak mengambil air minum datang menghampiri Kirana yang terus-menerus mengusap perutnya.
"Kamu kenapa Kirana?"
"Maaf Ummi... Tapi perut saya terasa tidak nyaman... Mulas dan perih bagian bawah sini..." ucap Kirana meraba perut bagian bawahnya.
"Duduklah dulu, Ummi ambilkan air hangat" Ummi bergegas menuangkan air panas dan dicampur air dingin dispenser lalu memberikan pada Kirana.
"Dimana suamimu?" tanya Ummi tentang keberadaan Abimana.
Kirana yang masih meringis menyahut terbata-bata "Mas Abi sedang ke rumah Kemala..."
Ummi mengusap dahi Kirana yang terus basah oleh keringat.
"Bi Atik... Tolong jaga Kirana. Saya mau ke tempat Kemala..." pinta Ummi, bergegas berjalan ke rumah Kemala sambil menghubungi ponsel keduanya.
Berapa kalipun Ummi mencoba menghubungi Abimana ataupun Kemala, tetap tak ada sahutan dari seberang.
Kaki Ummi baru saja tiba di luar pagar ketika sayup-sayup dia mendengar orang yang berteriak dari dalam.
Dan betapa hancurnya hati Ummi Dewanti ketika mendengar kalimat Abimana, yang adalah putra kandungnya mengatakan hal yang tidak seharusnya dikatakan kepada perempuan yang tak lain adalah istrinya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Abimana masih diam, menatap takut ke arah ibunya.
Sementara Kemala, berdiri tak jauh dari mereka.
"Ummi tidak pernah mengajarkanmu untuk berkata kasar kepada perempuan terlebih dia adalah istri mu... Ummi betul-betul kecewa padamu, Abimana..." suara Ummi bergetar.
Ponsel ditangannya berdering.
Bi Atik mengatakan, jika Kirana semakin meringis kesakitan.
Ummi menghela nafas berat
"Urusan ini belum selesai Abimana, sekarang, pergi bawa Kirana ke klinik... Dia sedang meringis kesakitan di bagian perutnya" titah Ummi kemudian.
Tanpa berfikir panjang, Abimana berlari meninggalkan rumah Kemala.
Kemala hanya melirik dengan ekor matanya.
"Kemala..." panggil Ummi berjalan mendekat kepada menantunya.
Kemala menatap Ummi tanpa menyahut.
Tak ada kalimat menghakimi. Tak ada pertanyaan yang Ummi berikan.
Dia hanya memeluk Kemala hingga tangisan yang ditahan sejak tadi runtuh seketika.
Kemala menangis, meraung dalam pelukan Ummi Dewanti.
bersambung...