Merelakan masa mudanya merantau demi modal bisnis, Nesa berhasil membangun brand kosmetiknya seorang diri. Sebagai wujud bakti, ia memberikan posisi nyaman di perusahaan untuk kakak kandungnya, Sasya, dan mempercayakan hatinya pada Dika, suami yang dipacarinya sejak SMA.
Namun, dunia Nesa runtuh seketika saat ia mendapati kenyataan paling menjijikkan: Dika berselingkuh dengan Sasya. Di saat yang sama, Sasya memanfaatkan fasilitas perusahaan untuk merintis skincare tandingan di bawah dukungan penuh Dika. Syok luar biasa akibat pengkhianatan berlapis itu merenggut nyawa bayi yang tengah dikandung Nesa.
Berada di titik terendah setelah keluar dari rumah sakit, air mata Nesa berubah menjadi bara. Mengabaikan rasa sakitnya, Nesa bersiap membalas setiap tetes air matanya, membongkar kebusukan suami dan kakak kandungnya, serta merebut kembali apa yang sepenuhnya menjadi hak miliknya.
Satu Atap, Seribu Dusta ketika bakti dibalas duri dan pengkhianatan harus dibayar mahal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SATU ATAP SERIBU DUSTA
Bau disinfektan yang tajam menusuk indra penciuman begitu Nesa membuka matanya perlahan. Cahaya putih yang menyilaukan dari lampu LED rumah sakit membuat kepalanya terasa berdenyut sakit, seolah ada ribuan jarum tak kasat mata yang menghujam pelipisnya.
Nesa mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali, mencoba menyesuaikan penglihatannya yang masih kabur. Langit-langit ruangan itu berwarna putih bersih, diiringi bunyi ritmis monitor detak jantung yang berdengung konstan di sisi ranjang. Ruangan VVIP rumah sakit swasta tersebut terasa sangat sunyi, dingin, dan hampa.
Seketika itu juga, memori mengerikan semalam menghantam kepalanya bagaikan ombak besar yang menghantam karang.
Bentakan dingin dari Dika, seringai penuh kemenangan dari Sasya, lemparan dokumen akta pengalihan saham, rasa sakit luar biasa yang meremukkan perut bagian bawahnya, hingga tetesan darah segar yang merembes di lantai karpet ruang kerja CEO.
Nesa secara refleks langsung mengangkat tangan gemertak, meraba perut ratanya yang kini terasa kosong dan nyeri. Tidak ada lagi sensasi hangat kehidupan kecil yang selama ini ia jaga dengan sepenuh hati.
Pintu ruangan terbuka perlahan, membuyarkan lamunan kelam Nesa. Sosok Bila melangkah masuk dengan membawa kantong plastik kecil berisi air mineral dan handuk hangat. Wajah asisten setia itu tampak pucat pasi, matanya sembab, menyiratkan bahwa ia menangis semalaman.
Begitu melihat Nesa sudah sadar, Bila langsung meletakkan bawaannya di atas nakas dan bergegas menghampiri ranjang, meraih tangan Nesa dengan lembut.
"Bu Nesa... Ya Allah, Ibu sudah sadar?" suara Bila bergetar hebat, air mata kembali menetes di pipi gadis itu. "Ibu merasa bagaimana sekarang? Apa ada yang sakit? Panggilkan dokter ya, Bu?."
Nesa menatap Bila dengan tatapan kosong. Suaranya tercekat di tenggorokan, kering kerontang, dan parau. "Bila..." panggil Nesa lirih, nyaris tak terdengar. "Bayiku... di mana bayiku, Bil?"
Pertanyaan itu menohok hati Bila. Asisten itu menunduk, menggigit bibirnya erat-erat hingga memutih, tidak sanggup menjawab pertanyaan sang atasan. Keheningan yang menyelimuti ruangan itu menjadi jawaban paling kejam dan telak bagi Nesa.
Takdir telah merenggut segalanya dalam satu malam. Janin berusia tiga bulan yang tumbuh dari benih cinta yang salah yang ia lindungi dengan cucuran air mata telah gugur akibat guncangan psikologis dan fisik yang teramat ekstrem. Syok luar biasa dari pengkhianatan berlapis suami dan kakak kandungnya sendiri telah merampas nyawa tak berdosa yang ada di dalam kandungannya.
Nesa tidak menangis. Tidak ada air mata yang keluar dari pelupuk matanya kali ini. Air matanya seolah sudah mengering sepenuhnya, terserap oleh rasa sakit yang jauh lebih dalam di relung jiwanya.
Tatapan mata Nesa berubah menjadi kosong, dingin, dan legam seperti arang yang terbakar habis.
"Dokter bilang... benturan emosi dan syok semalam membuat rahim Ibu mengalami kontraksi hebat. Kehamilan tiga bulan itu tidak bisa diselamatkan..." suara Bila tercekat, mencoba menjelaskan dengan hati-hati. "Semalam, Pak Dika dan Ibu Sasya sempat memaksa masuk ke IGD rumah sakit ini saat Ibu sedang ditangani dokter. Tapi... tapi saya dan tim keamanan rumah sakit melarang mereka mendekat."
Mendengar nama Dika dan Sasya disebut, sudut bibir Nesa terangkat sedikit bukan sebuah senyuman bahagia, melainkan sebuah seringai tipis yang mengerikan dan penuh racun.
"Mereka ke sini?" tanya Nesa dingin.
"Iya, Bu. Tapi saya usir mereka," jawab Bila tegas. "Pak Dika sempat marah-marah dan mengaku sebagai suami sah, tapi setelah saya katakan bahwa seluruh rekaman CCTV kejadian di ruang kerja semalam sudah saya amankan dan diam-diam diserahkan ke firma hukum Miya, mereka langsung terdiam dan pergi."
Nesa menarik napas dalam-dalam, merasakan rongga dadanya terbakar oleh kobaran api yang sangat panas. Sisa-sisa kebaikan, ketulusan, rasa cinta, dan sisa kerapuhan sebagai seorang istri yang naif telah mati sepenuhnya tadi malam di lantai dingin ruang kerja itu. Yang tersisa di dalam tubuh Nesa saat ini bukanlah lagi seorang perempuan yang mudah disetir, melainkan sesosok jiwa yang haus akan keadilan dan pembalasan.
"Bil," panggil Nesa dengan suara berat, tenang, namun penuh wibawa yang membuat bulu kuduk merinding.
"Iya, Bu Nesa? Apa yang harus saya lakukan?" tanya Bila siaga.
"Tolong bantu aku duduk. Dan panggilkan Miya serta Kara ke sini sekarang juga," perintah Nesa, menatap lurus ke depan dengan sorot mata yang menyala tajam. "Permainan mereka sudah cukup sampai di sini. Sekarang, giliran aku yang akan memegang kendali atas kehancuran mereka."
Di tempat terpisah, suasana di ruang kerja pribadi sebuah apartemen mewah milik Dika dan Sasya tampak jauh dari rasa tenang.
Dika mondar-mandir mondar-mandir di atas lantai kayu dengan gelisah, melonggarkan kancing kerah kemejanya sambil merokok secara beruntun. Asap rokok mengepul di udara, mencerminkan kekacauan pikiran pria itu. Di sofa beludru, Sasya duduk bersidekap dengan wajah cemas, mengetuk-ngetukkan ujung sepatu hak tingginya ke lantai berulang kali.
"Sialan! Kenapa situasinya bisa jadi serumit ini?!" gerutu Sasya frustrasi, menatap tajam ke arah Dika. "Kita tadinya hanya ingin memaksa dia menandatangani akta pengalihan saham secara sukarela! Kenapa anak itu malah keguguran di kantor?."
Dika menghentikan langkahnya, menoleh dengan tatapan tajam dan penuh tekanan. "Kamu pikir aku merencanakannya, Sasya?! Aku juga tidak menduga Nesa akan sepeka itu hingga mengalami syok separah itu! Kalau sampai berita keguguran ini bocor ke dewan komisaris atau media, reputasi kita di perusahaan bisa hancur lebur sebelum sempat menguasai seluruh aset NesAura."
"Lalu kita harus bagaimana?!" suara Sasya mulai meninggi, terselip kepanikan nyata di balik nada arogansinya. "Asistennya si Bila itu tadi sempat mengancam di rumah sakit! Dia bilang mereka sudah mengamankan rekaman CCTV dan bukti aliran dana kita ke firma hukum luar! Kalau Nesa melaporkan kita atas tuduhan penggelapan, pemalsuan dokumen, dan persekongkolan jahat, kita bisa dipenjara, Dika."
Mendengar kata penjara, rahang Dika mengeras. Pria itu mematikan puntung rokoknya di atas asbak dengan kasar. Sisi gelap dan egois dari diri Dika yang selama ini tersembunyi di balik senyuman manisnya kini keluar sepenuhnya.
"Tenang, Sasya. Jangan panik dulu," ujar Dika dingin, suaranya terdengar penuh perhitungan licik. "Nesa sekarang sedang berada di titik terendahnya. Dia baru saja kehilangan bayinya. Secara psikologis, dia pasti sedang terpukul hebat dan tidak akan bisa berpikir jernih dalam beberapa hari ke depan."
Dika melangkah mendekati meja kerja, menyambar ponsel pintarnya, lalu mendengus sinis.
"Sebelum dia sempat melangkah lebih jauh ke ranah hukum atau dewan komisaris, kita yang harus bergerak lebih dulu menyerang balik," lanjut Dika dengan seringai tajam. "Kita akan sebarkan narasi di internal perusahaan bahwa Nesa sengaja memalsukan laporan keuangan dan mengalami depresi berat akibat salah mengelola perusahaan, sehingga kitalah yang harus mengambil alih kendali penuh demi menyelamatkan NesAura. Dan jika dia tetap keras kepala..."
Dika menjeda kalimatnya sejenak, sorot matanya berubah menjadi sangat kejam.
"...maka kita pastikan dia tidak akan pernah bisa kembali menginjakkan kakinya ke gedung perusahaan itu untuk selama-lamanya."
Sasya menatap ipar sekaligus kekasih gelapnya itu dengan perasaan ngeri bercampur kagum. Di bawah satu atap persekongkolan yang sama, dua orang manusia tanpa hati itu terus merajut rencana busuk, sama sekali tidak menyadari bahwa mangsa yang baru saja mereka injak-injak hingga nyaris mati kini telah bangkit kembali dengan bara dendam yang siap membakar seluruh istana kebohongan mereka hingga menjadi abu.
Kembali ke ruang VVIP rumah sakit, matahari sore perlahan meredup, menyisakan bias cahaya jingga yang menembus tirai jendela kaca.
Miya dan Kara sudah tiba di ruangan Nesa sejak setengah jam yang lalu. Di atas meja nakas kecil, tablet digital milik Miya menyala terang menampilkan dokumen-dokumen hukum, draf tuntutan pidana, serta bukti rekaman transaksi digital perusahaan cangkang milik Dika.
Kara, dengan gaya jurnalis investigasinya yang tajam, melipat tangan di depan dada sambil menatap Nesa yang kini sudah duduk bersandar di atas ranjang rumah sakit dengan wajah pucat namun memancarkan aura ketegasan yang luar biasa.
"Nesa, semua bukti sudah kita pegang. Tim hukumku di firma sudah siap mendaftarkan gugatan perdata dan pidana atas tuduhan penggelapan aset, pemalsuan tanda tangan direksi, hingga konspirasi curang korporat terhadap Dika dan Sasya," papar Miya serius, menatap sahabatnya dengan penuh dukungan. "Tapi kamu harus tahu... menghadapi mereka berdua secara hukum di pengadilan akan menjadi pertarungan panjang yang melelahkan, apalagi setelah apa yang terjadi pada kehamilanmu..."
Nesa mengangkat tangan kanannya pelan, menghentikan ucapan Miya.
Ia menatap lurus ke depan, manik matanya memantulkan cahaya dingin yang menusuk. Tidak ada air mata. Tidak ada isak tangis. Suara Nesa terdengar begitu tenang, datar, namun sarat akan ancaman yang mematikan.
"Aku tidak butuh proses hukum yang lambat, Miya," ucap Nesa pelan namun tegas. "Mereka merampas segalanya dariku perusahaanku, kerja kerasku, dan darah dagingku sendiri. Aku tidak akan membiarkan mereka menikmati hasil curian itu dengan tenang di balik proses birokrasi yang berbelit-belit."
Kara tersenyum tipis, melihat kilatan api keberanian di mata sahabatnya. "Lalu, apa rencana tontonan yang ingin kamu buat untuk mereka, Nes?."
Nesa menoleh, menatap Kara dan Miya bergantian, lalu melirik ke arah Bila yang berdiri setia di samping ranjang.
"Kita tidak langsung menyeret mereka ke pengadilan," ucap Nesa dengan senyuman tipis penuh misteri. "Kita biarkan mereka merasa menang untuk beberapa hari ke depan. Biarkan Dika dan Sasya menikmati euforia palsu di atas kursi kepemimpinan NesAura. Dan tepat di hari peluncuran resmi Glow Series akhir bulan ini... di hadapan seluruh media nasional, investor, dan dewan komisaris..."
Nesa mengepalkan kedua tangannya erat-erat di atas selimut rumah sakit.
"...kita akan hancurkan topeng mereka secara bersamaan, di tempat yang sama, hingga tidak ada lagi tempat bagi mereka untuk bersembunyi."
Bara di dada Nesa kini telah resmi menyala, membakar habis sisa-sisa masa lalu yang menyakitkan. Perang sesungguhnya baru saja dimulai.