NovelToon NovelToon
Cinta Tanpa Syarat.

Cinta Tanpa Syarat.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: atikah@72

sejak lahir, dia tak sempurna.
ibunya ditinggalkan pergi oleh sang ayah, saat ia masih dalam kandungan.

sang ibu mengandung seorang diri, karena bapaknya pergi mencari nafkah dan biaya persalinan sang ibu.

sampai ia lahir ayahnya tak menghendakinya dan datang membawa madu untuk ibunya.
sejak lahir penduduk desa mengatakannya pembawa petaka, karena ia lahir tak sempurna. kini ia hidup berdua bersama sang ibu.

sementara sang ayah pergi dengan wanita lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon atikah@72, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari Menuju Sidang

Pengadilan Negeri Waingapu, 7 hari lagi.

Surat gugatan yang disobek Bintang kemarin masih ada sobekannya di tanah sabana depan Rumah Bintang. Angin timur sudah bawa setengah sobekannya ke Waingapu, tapi setengahnya masih dipegang Bintang, dibuat mainan.

Bintang umur 1 tahun 16 hari, yang dulu dibilang kutukan karena kaki bengkok, yang kemarin baru bisa bilang kalimat panjang "Rumah Bintang tidak dijual, Bintang tidak panti", hari ini demamnya sudah sembuh total. 37 derajat. Bintang sudah bisa berlari lagi kejar ayam di sabana, sambil teriak "Tidak jual! Tidak jual!"

Tapi Sari tidak bisa berlari. Sari hamil 3 bulan 1 minggu, bekas pendarahan 2 hari lalu di RSUD Waingapu, masih harus bed rest total. Bu Dokter Rina dari Puskesmas Kolorai datang pagi-pagi ke Rumah Bintang, bawa obat penguat janin.

"Bu Sari, ini yang terakhir saya bilang, bed rest total! Jangan berdiri! Janin Ibu yang bekas donor sumsum itu masih lemah! Kalau Ibu stres sidang pengadilan 7 hari lagi, Ibu bisa keguguran beneran! Dan Bintang bisa diambil Dinas Sosial beneran!" Bu Dokter Rina marah, tapi marahnya karena sayang.

Johan duduk di dipan kayu dengan tongkatnya, di depannya ada 3 surat di atas dipan:

Cek 100 juta asli dari Ibu Ani Yayasan Bintang Kecil Jakarta yang baik.

Surat gugatan PT Nikel Sejahtera yang disobek Bintang, sudah disambung lagi pakai selotip oleh Mama Leni.

Surat panggilan dari Dinas Sosial Waingapu, "Pemanggilan Ibu Sari terkait penelantaran anak Bintang, harap datang ke kantor Dinsos 3 hari lagi, jika tidak datang, Bintang akan dijemput paksa ke panti asuhan."

3 surat, 1 rezeki, 2 musibah.

Uang 100 juta itu banyak, tapi untuk sewa pengacara di Waingapu yang bisa lawan PT Nikel Sejahtera yang punya 10 pengacara dari Jakarta, 100 juta itu kecil. Pengacara di Waingapu yang berani lawan tambang cuma 1 orang, namanya Pak Frans, mantan jaksa yang pernah dipenjara karena lawan tambang juga.

Johan sudah telpon Pak Frans pagi ini pakai HP bututnya.

"Pak Frans, saya Johan dari Kolorai, istri saya digugat PT Nikel 200 juta, tanah 2 hektar warisan mau diambil, anak saya Bintang mau diambil Dinsos, bisa bantu Pak? Kami ada uang 100 juta dari yayasan Jakarta."

Pak Frans di HP jawab dingin, "100 juta? PT Nikel sewa pengacara Jakarta 500 juta untuk gugat kamu. Saya kalau bantu kamu, saya bisa mati lagi seperti dulu. Tapi saya lihat video viral istrimu pecahkan kaca kantor tambang demi anak diculik, 3,5 juta views sekarang. Saya mau bantu gratis, tapi dengan syarat, istrimu harus berani cerita di pengadilan, di depan hakim, kenapa tanah 2 hektar itu tidak boleh dijual 50 juta. Berani?"

Johan lihat Sari yang masih bed rest di dipan, perut hamilnya masih sakit, tapi matanya masih merah berani seperti saat pecahkan kaca.

"Berani Pak, istri saya berani melahirkan sendirian di badai dengan pisau dapur berkarat, apalagi cuma cerita di pengadilan," jawab Johan.

Siang itu, Pak Frans datang ke Rumah Bintang naik motor ojek, bukan mobil. Pak Frans umur 60 tahun, rambut putih, bawa map kosong, tidak bawa jas pengacara mahal.

Dia lihat Rumah Bintang kayu jati itu, lihat Sari hamil bed rest, lihat Bintang yang bisa berlari, lihat sertifikat tanah kuning 30 tahun warisan ayah Sari.

"Bu Sari, sertifikat ini asli, tanah ini memang warisan ayah Ibu, PT Nikel tidak bisa ambil gratis, tapi mereka bisa bilang Ibu tidak mampu jaga anak karena hamil pendarahan, jadi Bintang harus ke panti, dan kalau Bintang ke panti, Ibu stres, keguguran, tanah tidak ada yang jaga, mereka ambil. Ini strategi mereka, licik," kata Pak Frans.

Sari yang bed rest, duduk pelan-pelan di dipan, pegang cek 100 juta asli itu,

"Pak Frans, uang 100 juta ini dari Ibu Ani Jakarta yang baik, katanya untuk bangun klinik kecil di Rumah Bintang ini, untuk ibu-ibu seperti saya yang melahirkan sendirian. Saya tidak mau pakai uang ini untuk sewa pengacara mahal. Saya mau pakai untuk bangun klinik itu, biarpun tanah ini nanti kalah di pengadilan. Tapi saya mau Bintang tidak ke panti. Bintang ini dulu dibilang kutukan, mau dibuang ke laut, saya selamatkan dengan donor darah 750 cc dan koma 11 hari. Sekarang Dinas Sosial mau ambil Bintang karena saya dibilang telantarkan Bintang?"

Pak Frans diam, lihat Bintang yang sedang berlari di sabana depan rumah, kejar kupu-kupu kuning lagi, seperti 3 hari lalu sebelum diculik.

"Bu Sari, saya akan bantu gratis, tidak usah pakai 100 juta itu. 100 juta itu pakai buat klinik. Saya bantu karena video viral Ibu 3,5 juta views itu, banyak pengacara muda di Jakarta lihat, mereka mau bantu juga. Tapi ada 1 masalah besar Bu, yang bikin saya takut..."

Pak Frans buka HP-nya, kasih lihat video baru yang baru viral 1 jam lalu, viewnya sudah 500 ribu.

Video itu dari akun resmi PT Nikel Sejahtera Sumba, judulnya "Klarifikasi: Ibu Sari Kolorai Tipu Yayasan Jakarta 100 Juta Untuk Beli Tanah Sengketa".

Di video itu, orang kacamata hitam yang culik Bintang itu pakai jas rapi, bilang di depan kamera,

"Kami PT Nikel tidak pernah culik Bintang, itu fitnah. Ibu Sari settingan pecahkan kaca sendiri demi dapat 100 juta dari yayasan Jakarta. Kami punya bukti Ibu Sari hamil palsu, pendarahan palsu, dan Bintang bukan anak cacat, Bintang anak normal yang dibuat cacat untuk dapat donasi. Kami akan buktikan di pengadilan 7 hari lagi, dan kami akan penjarakan Ibu Sari dan suami lumpuhnya karena penipuan donasi 100 juta!"

Video itu komennya 10 ribu, setengah percaya PT Nikel, setengah bela Sari, tapi yang percaya PT Nikel itu akun-akun besar centang biru dari Jakarta!

Sari lihat video itu di HP Pak Frans, di dipan kayu tempat dia bed rest, darahnya naik lagi, perutnya sakit lagi, seperti mau pendarahan lagi!

"FITNAH! FITNAH! SAYA HAMIL BENERAN! SAYA PENDARAHAN BENERAN DI RSUD WAINGAPU 2 HARI LALU! BINTANG KAKINYA BENGKOK BENERAN DULU! ADA SURAT DOKTER RINA! ADA SURAT RSUD!" Sari teriak, mau berdiri dari dipan, tapi Bu Dokter Rina tahan.

Johan lihat video itu, tongkatnya jatuh lagi, "Mereka... mereka balikkan fakta... kita yang diculik... dibilang kita yang tipu..."

Bintang yang lagi berlari di sabana, dengar ibunya teriak, lari masuk ke Rumah Bintang, peluk Sari yang mau pendarahan lagi.

"Mama... jangan... nangis..."

Pak Frans matikan HP-nya, mukanya pucat,

"Bu Sari, ini yang saya takutkan. Mereka punya uang, punya akun centang biru, punya pengacara Jakarta 500 juta. Kita cuma punya video viral 3,5 juta views dari HP warga biasa, cek 100 juta asli, dan sertifikat kuning 30 tahun. Di pengadilan, hakim lebih percaya yang mana? Apalagi 3 hari lagi Dinas Sosial mau ambil Bintang. Kalau Bintang diambil, Ibu pasti stres, keguguran, dan kita kalah sebelum sidang."

Mama Leni yang dari tadi diam di dapur, keluar bawa sesuatu, bukan makanan, tapi bawa HP Sari yang butut, yang ada foto-foto lama Bintang dari lahir sampai bisa berlari.

"Pak Frans, ini bukti Bu, foto Bintang dari lahir kaki bengkok, foto Sari melahirkan sendirian di badai, foto Sari donor darah 750 cc koma 11 hari, semua ada di HP ini, dari setahun lalu, bukan settingan!"

Pak Frans ambil HP butut itu, lihat foto-foto itu satu-satu, matanya berkaca-kaca,

"Ini... ini bukti cinta tanpa syarat... ini lebih kuat dari uang 500 juta pengacara Jakarta... tapi Bu Sari, di pengadilan, foto HP butut ini bisa dibilang editan... kita butuh saksi hidup... butuh Bu Dokter Rina yang bantu lahirkan, butuh orang-orang yang lihat Bintang diculik di sabana..."

Tiba-tiba, dari luar Rumah Bintang, ada suara motor banyak, bukan motor trail merah PT Nikel, tapi motor-motor bebek warga Kolorai!

20 motor bebek warga Kolorai datang, bawa ibu-ibu, bapak-bapak, anak-anak, semua warga yang dulu bilang Bintang kutukan harus dibuang ke laut, tapi sekarang sudah sayang Bintang karena Bintang bisa berlari!

Mereka bawa spanduk kain putih tulisan tangan, "KAMI WARGA KOLORAI SAKSI BINTANG DICULIK PT NIKEL, BUKAN SETTINGAN!"

Pemimpinnya, Pak Kepala Desa Kolorai, teriak dari atas motor,

"Bu Sari! Pak Johan! Kami lihat video klarifikasi PT Nikel itu! Fitnah! Kami warga Kolorai yang lihat Bintang diculik 2 hari lalu di sabana! Kami siap jadi saksi di pengadilan Waingapu 7 hari lagi! Kami 20 orang! Gratis! Demi Bintang yang dulu kami bilang kutukan, sekarang jadi kebanggaan Kolorai!"

Sari yang bed rest, yang hampir pendarahan lagi karena video fitnah itu, lihat 20 warga Kolorai datang dengan spanduk itu, nangis lagi, tapi nangis bahagia.

Bintang yang dipeluk Sari, lihat warga banyak, langsung berlari ke depan, dengan kaki yang dulu bengkok, sekarang bisa berlari, Bintang berlari ke Pak Kepala Desa, peluk kakinya!

Warga Kolorai lihat Bintang bisa berlari, semua tepuk tangan di tengah sabana berdebu!

Pak Frans lihat 20 warga itu, senyum pertama kalinya hari ini,

"Bu Sari, kita punya saksi 20 orang, kita punya foto-foto HP butut, kita punya cek 100 juta asli, kita punya sertifikat 30 tahun, dan kita punya Bintang yang bisa berlari... kita bisa menang... tapi Bu..."

Pak Frans lihat ke langit sabana yang mendung lagi, seperti mau badai lagi, seperti setahun lalu saat Sari melahirkan sendirian.

"Tapi Bu, besok Dinas Sosial mau ambil Bintang, 7 hari lagi sidang tanah, dan malam ini PT Nikel pasti bikin video fitnah lagi... dan Ibu masih pendarahan... apakah Ibu kuat 7 hari lagi? Atau Ibu mau saya bilang ke hakim, Ibu Sari menyerah, jual tanah 2 hektar 50 juta, Bintang ke panti asuhan, biar Ibu selamat dan janin kedua Ibu selamat?"

Semua warga Kolorai diam, lihat Sari di dipan kayu yang bed rest, hamil, pendarahan, gendong Bintang.

Sari harus jawab sekarang, di depan 20 warga, di depan Pak Frans, di depan Johan, di depan Bintang yang bisa berlari.

Apakah Sari menyerah, jual tanah 50 juta, kasih Bintang ke panti, demi selamatkan janin kedua yang masih di perut?

Atau Sari lawan, dengan risiko keguguran, kehilangan Bintang ke panti paksa besok, dan kalah di pengadilan 7 hari lagi dan denda 200 juta?

Sari peluk Bintang erat-erat, lihat cek 100 juta asli dari Ibu Ani yang baik di tangannya, lihat surat panggilan Dinas Sosial besok, lihat spanduk 20 warga Kolorai.

Dan di kejauhan, suara motor trail merah PT Nikel terdengar lagi, kali ini bukan 3 motor, tapi 10 motor, datang dari arah Waingapu, menuju Rumah Bintang, malam-malam!

Lampu-lampu motor trail itu terlihat di padang sabana yang mulai gelap!

*BERSAMBUNG*

Terimakasih telah mengikuti perjalanan Bintang sampai bab ini, silahkan komen di kolom komentar ya.

1
Saint, SN
👋🏻👋🏻
atikah@72: makasih kak, sudah mampir di kolorai🙏🙏
total 1 replies
Paulus Waruwu
kak jnagan lupa mampir di akun aku juga ya
atikah@72: iya kak, salam kenal ya, moga kakak sukses selalu🫰
total 1 replies
oding's
haii ka aku mampir nih semangat yaa😍 yuk mampir jga di karya ku xixi
oding's: semangat trs yaa✨
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!