NovelToon NovelToon
Isteri Sah Di Balik Bayangan

Isteri Sah Di Balik Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: christinsenia seranica

**Isteri Sah di Balik Bayangan**

Sepuluh tahun menikah, Aina, PNS di Kantor Camat Pujut, Lombok Tengah, akhirnya hamil. Ia berniat memberi kejutan pada suaminya, Lalu Raka. Namun di dekat Pantai Kuta Mandalika, ia justru melihat Raka menggendong seorang bocah yang memanggilnya "Bapak", ditemani wanita bernama Baiq Sekar.

Hari itu juga, dari data kependudukan yang setiap hari ia urus, Aina menemukan kebenaran paling pahit: Sekar adalah istri pertama. Selama ini, dialah istri kedua yang hidup di balik bayangan.

Bertahan dalam kebohongan, atau pergi membawa buah hati yang telah lama ia nantikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nota dari Tanak Awu

Raka merebut surat itu dari tangan Aina. Ia membacanya cepat, lalu menatap noda merah muda di sudut kertas. Wajahnya berubah pucat.

"Ini tulisan Sekar," katanya dengan suara tertahan. "Tapi dia tidak pernah menulis seperti ini. Tulisannya selalu rapi. Dia guru mengaji anak-anak di kampung. Dia sangat teliti."

Ketua tim pemeriksa menatap mereka bergantian. "Saudara Raka, apakah Saudara yakin dengan apa yang Saudara katakan?"

"Saya yakin Pak." Raka menunjuk coretan-coretan di kertas itu. "Istri saya menulis ini dalam keadaan tertekan. Anak saya ada di sampingnya. Noda ini dari sirup kesukaan anak saya."

H. Lalu Fathurrahman mengambil kembali surat itu dan memeriksanya dengan teliti. Ia memandangi noda kecil itu cukup lama. Lalu ia menoleh kepada pegawai perempuan berkacamata yang masih berdiri di dekatnya.

"Lelaki yang mengantarkan surat ini masih ada di bawah?"

"Sudah pergi Pak. Dia langsung pergi setelah menitipkan surat di meja penerimaan."

Ketua tim menghela napas panjang. "Saya akan mencatat bahwa surat ini kami terima dalam keadaan yang meragukan. Kami tidak bisa menggunakannya sebagai dasar keputusan sebelum Saudari Baiq Sekar Ayu hadir dan menyampaikannya secara langsung."

Aina menatap lelaki itu dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih, Pak."

"Jangan berterima kasih kepada saya." Ketua tim menyerahkan surat itu kepada Pak Mahsun. "Kalau Saudara-saudara khawatir tentang keselamatan seseorang, laporkan kepada polisi. Itu bukan wewenang kami."

Pak Mahsun bergerak cepat. Ia menelepon kenalannya di kepolisian dan menjelaskan keadaan dengan singkat. Seorang ibu dan anaknya yang berusia lima tahun tidak bisa dihubungi sejak pagi. Ada alasan kuat untuk khawatir.

Sementara itu, Aina terus menatap surat di tangan Pak Mahsun. Ada sesuatu yang mengganggunya, tetapi ia belum tahu apa.

"Pak," katanya tiba-tiba. "Boleh saya lihat sekali lagi?"

Pak Mahsun menyerahkan surat itu. Aina membaliknya.

Di bagian belakang kertas, nyaris tak terlihat, ada bekas cetakan berwarna biru pudar. Kertas itu ternyata sobekan dari sebuah buku nota. Separuh tulisannya terpotong, tetapi beberapa huruf masih bisa dibaca.

…D Tani Makm…

…nak Awu

"UD Tani Makmur," bisik Aina. "Tanak Awu."

Raka langsung mendekat dan membaca bekas cetakan itu. Matanya membesar.

"Itu toko pupuk milik Mamik Mustiadi," katanya. "Di belakang tokonya ada rumah kebun. Dulu dia sering menginap di sana kalau musim panen tembakau. Tidak banyak orang yang tahu tempat itu."

"Seberapa jauh dari sini?" tanya Hamdan.

"Kurang dari setengah jam. Dekat bandara."

Hamdan seketika meraih kunci mobil. "Kita ke sana sekarang."

"Tunggu," kata Pak Mahsun tegas. "Saudara Raka belum memberi keterangan kepada tim pemeriksa. Kalau Saudara pergi sekarang, pemeriksaan Aina bisa tertunda berminggu-minggu. Keterangan Saudara sangat penting."

Raka menatap Pak Mahsun, lalu menatap Aina. Wajahnya penuh pertentangan. Aina tahu apa yang sedang ia pikirkan. Di satu sisi ada istri pertama dan anaknya yang mungkin dalam bahaya. Di sisi lain ada istri kedua yang kariernya bergantung pada kesaksiannya hari ini.

Untuk pertama kalinya, Raka tidak bisa memilih keduanya sekaligus.

Aina meraih tangan suaminya.

"Mas, masuklah ke ruang pemeriksaan," katanya pelan. "Katakan yang sebenarnya, seperti yang kamu lakukan di depan Pak Camat. Biar Kak Hamdan yang pergi bersama polisi."

"Tapi Arsya…"

"Arsya tidak butuh ayah yang panik dan bertindak tanpa berpikir. Dia butuh ayah yang akhirnya berani berdiri di tempat yang benar." Aina menggenggam tangannya lebih erat. "Kamu sudah terlalu lama membiarkan orang lain memilihkan jalan untukmu. Sekarang pilih dengan benar."

Raka menatapnya lama. Lalu ia mengangguk.

Hamdan berangkat bersama dua orang polisi yang datang menjemput sepuluh menit kemudian. Pak Mahsun ikut menemani mereka karena ia mengenal kepala desa Tanak Awu.

Raka masuk ke ruang pemeriksaan pukul sebelas lewat dua puluh menit.

Aina tetap duduk di kursi plastik biru di lorong lantai dua. Ibu-nya naik dari ruang tunggu bawah dan duduk di sampingnya. Perempuan tua itu tidak banyak bicara. Ia hanya menggenggam tangan putrinya dan sesekali berdoa dengan suara pelan.

Waktu pun seakan berjalan sangat lambat.

Aina menatap pintu ruang pemeriksaan yang tertutup. Ia membayangkan Raka di dalam sana, duduk di kursi yang tadi ia duduki, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sama. Ia membayangkan Raka mengakui semuanya. Pemalsuan status di KUA. Pinjaman bank atas nama istrinya. Peran Lalu Mustiadi dalam semua itu.

Ia tidak tahu apakah Raka akan sanggup. Raka yang dulu tidak akan sanggup. Tetapi Raka yang berlutut di halaman rumah Inaq Sumi dua hari lalu mungkin berbeda.

Pukul dua belas, azan Zuhur terdengar dari masjid di seberang kantor. Pintu ruang pemeriksaan masih tertutup.

Ponsel Aina bergetar. Pesan dari Hamdan.

"Sudah sampai di Tanak Awu. Toko tutup. Mobil putih Sekar ada di halaman belakang. Polisi sedang bicara dengan kepala desa. "

Aina menunjukkan pesan itu kepada ibunya. Tangannya gemetar.

Mobil Sekar ada di sana. Artinya Sekar juga ada di sana. Tetapi kenapa tidak ada yang keluar? Kenapa ponselnya tetap tidak aktif?

Lima belas menit berlalu tanpa kabar. Lalu dua puluh menit. Aina mencoba menelepon Hamdan, tetapi tidak diangkat.

Pukul dua belas lewat empat puluh, pintu ruang pemeriksaan terbuka. Raka keluar dengan wajah lelah. Matanya merah, tetapi langkahnya tegap.

"Aku sudah mengatakan semuanya," katanya kepada Aina. "Termasuk tentang Mamik Mustiadi. Termasuk tentang surat keterangan yang ia tanda tangani. Ketua tim bilang keterangan itu akan mereka teruskan ke pihak yang berwenang."

Aina berdiri dan menggenggam tangan suaminya. Untuk sesaat mereka hanya saling memandang, tanpa kata.

"Ada kabar dari Kak Hamdan?" tanya Raka.

Aina menunjukkan pesan terakhir di layar ponselnya. Raka membacanya, lalu langsung menekan nomor Hamdan. Tidak diangkat.

Ponsel Aina bergetar lagi. Kali ini bukan pesan. Sebuah panggilan masuk.

Aina menatap layar dan berhenti bernapas.

Nama yang tertera di sana adalah nama yang sejak subuh tadi tidak bisa dihubungi.

Sekar.

Ia segera mengangkatnya. "Sekar? Sekar, kamu di mana? Kamu baik-baik saja?"

Tidak ada jawaban. Hanya terdengar napas yang terengah-engah, lalu suara pintu yang ditutup perlahan.

"Aina…" Suara Sekar sangat pelan, nyaris berbisik. "Aku tidak punya banyak waktu. Mamik sedang di depan, bicara dengan polisi. Aku mengambil ponselku dari laci waktu dia keluar."

"Arsya?"

"Arsya bersamaku. Dia baik-baik saja. Dia tidur." Suara Sekar bergetar. "Aina, dengarkan aku. Surat itu bukan keinginanku. Mamik bilang kalau aku tidak menulisnya, dia akan membawa Arsya ke rumah saudaranya di Sumbawa, dan aku tidak akan bisa bertemu dengannya lagi."

Aina memejamkan mata. Raka berdiri di sampingnya, mendengarkan dengan wajah tegang.

"Polisi sudah ada di sana, Sekar. Kak Hamdan juga. Kamu akan aman."

"Bukan itu yang ingin aku katakan." Sekar terdiam sejenak. Ketika ia bicara lagi, suaranya semakin pelan. "Mamik tidak sendirian di sini, Aina. Ada seorang lelaki bersamanya sejak tadi pagi. Lelaki itu yang menyuruh Mamik memaksaku menulis surat itu. Lelaki itu juga yang mengantarkan surat itu ke kantor kabupaten."

"Siapa dia?"

"Aku tidak tahu namanya. Tapi aku pernah melihatnya. Dia memakai kemeja batik, dan dia selalu membawa map." Sekar menarik napas gemetar. "Dia bilang kepada Mamik bahwa dia bekerja di kantor kepegawaian. Dia bilang, apa pun keterangan yang kamu berikan hari ini, hasil pemeriksaanmu sudah diatur."

Sambungan terputus.

Aina menurunkan ponselnya perlahan. Kemeja batik. Map. Ia pernah melihat lelaki seperti itu. Di halaman Kantor Camat Pujut, turun dari sedan hitam bersama Lale Rukmini, beberapa saat sebelum ia pingsan.

Ia menoleh ke arah pintu ruang pemeriksaan yang kini tertutup kembali. Di balik pintu itu, tiga orang sedang memutuskan nasibnya.

Aina tampak ragu, Ia tidak tahu lagi siapa di antara mereka yang bisa ia percayai.

1
falea sezi
si aina di jadikan ban serep saat istri. pertama gugat cerai🤣 najis amat bloon
niaww
semngat kak mampir cerita aku juga ya🥰
falea sezi
pake pengacara lah bodoh
falea sezi
🤣🤣🤣 goblok si aina suami berbagi aja dia mau
Emily: kesel ya klo ada istri oon
total 1 replies
falea sezi
cerai aina bloon🤣
falea sezi
cerai aina enak y berbagi batangan satu itu🤣🤣 cari batangan yg gk usah di bagi😒 begooo🤭
falea sezi
aina tololl menye menye
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!