Selama lima tahun, Bayu telah mengorbankan segalanya untuk merawat Vira dan membesarkan anak dari mantannya, namun ia justru diusir dan dicap sebagai sampah begitu Rama,pria kaya yang dulu mencampakkan Vira,kembali dengan jabatan mentereng sebagai manajer perusahaan besar.
Dihina habis-habisan di depan pintu keluar kantor catatan sipil usai meneken surat perceraian, hidup Bayu berputar 180 derajat saat sebuah Sistem Pengubah Jalur Hidup bangkit di kepalanya dan memberinya kartu-kartu kekayaan mutlak.
Dari seorang pria melarat berhati tulus, Bayu kini melangkah ke dunia para elite kota besar, siap membalas setiap tetes air mata dengan kekuasaan yang membuat orang-orang yang dulu merendahkannya berlutut memohon ampun.
Bantu Cherlly dengan LIKE,KOMENTAR & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Kami selalu balas komentar yang kaka pertanyakan🥰🥰💋
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
Udara di ruang tunggu Kantor Catatan Sipil terasa begitu pengap.
Jam dinding di atas meja administrasi berdetak pelan, menghitung detik-detik runtuhnya lima tahun hidup seorang pria.
Bayu menatap selembar kertas putih di hadapannya.
Di bagian paling bawah, garis kosong itu menunggu coretan pena yang akan mengakhiri segalanya.
"Cepat tandatangani, Bayu. Jangan buang waktuku lagi," suara Vira terdengar dingin tanpa menyisakan secercah pun rasa iba.
Bayu mendongak perlahan.
Wajah wanita itu masih sama cantiknya seperti hari pertama ia datang melamarnya lima tahun lalu, saat usia kandungannya menginjak tiga bulan akibat ditinggal pergi oleh kekasihnya.
"Lima tahun, Vira," suara Bayu parau, tercekat di tenggorokan.
"Aku merawatmu, membanting tulang siang dan malam, membesarkan anak itu seperti darah dagingku sendiri, dan sekarang kamu mengusirku begitu saja hanya karena dia kembali?"
Vira mendengus sinis.
Kedua tangannya terlipat di dada dengan angkuh.
"Jangan mengungkit-ungkit masa lalu yang memalukan itu," ucap Vira tanpa secercah rasa bersalah.
"Mas Rama yang sekarang bukan lagi pria miskin yang dulu lari ketakutan."
Dari ambang pintu utama, suara derap sepatu kulit mahal mendekat.
Seorang pria berjas rapi dengan jam tangan mewah di pergelangan tangannya muncul.
Senyum meremehkan terukir jelas di wajah Rama.
"Sudahlah, Vira. Jangan berdebat dengan orang kalah," kata Rama dengan nada suara yang sengaja dibuat merendahkan.
Rama merangkul pinggang Vira dengan mesra di depan mata Bayu.
"Dia bahkan tidak akan pernah sanggup membeli jas yang kupakai ini seumur hidupnya," lanjut Rama sambil tertawa kecil.
Bayu mengepalkan kedua tangannya di atas meja.
Urat-urat hijau menonjol tegas di punggung tangannya.
Nyeri di dadanya menghujam begitu dalam, merobek sisa kewarasannya.
"Dengar itu, Bayu?" Vira menatap tajam ke arah mantan suaminya.
"Manager operasional di perusahaan properti multinasional.
Apa yang bisa kamu tawarkan selain hidup melarat di kontrakan sempit?"
Bayu menelan ludahnya yang terasa kelat.
Lima tahun lalu, saat Vira menangis histeris di depannya karena hamil dan ditinggal kekasihnya, Bayu lah yang menampung wanita itu tanpa banyak tanya.
Bayu mengabaikan cemoohan orang sekitar, menikahinya, dan bekerja rangkap tiga demi menghidupi mereka berdua hingga anak itu tumbuh besar dan memanggilnya 'ayah'.
Sekarang, pria brengsek itu kembali setelah sukses, dan Vira langsung melompat ke pelukannya tanpa berpikir dua kali.
"Bahkan, asal kamu tahu saja," Vira menambahkan kalimat yang membuat dunia Bayu runtuh seketika.
"Anak yang selama ini kamu panggil anak kandung itu... darah dagingnya adalah Mas Rama.
Kamu tidak lebih dari sekadar pengasuh bayaran selama lima tahun ini!"
Degh!
Jantung Bayu seolah berhenti berdetak.
Matanya membelalak lebar menatap wanita yang pernah sangat ia cintai itu.
Jadi, selama ini dia bukan hanya dikhianati, tapi juga diperbodoh secara total di hadapan publik.
"Kalian... kalian benar-benar iblis," bisik Bayu dengan suara bergetar hebat.
"Cepat tanda tangani dan enyah dari hidup kami!" bentak Vira kehilangan kesabaran.
Bayu tidak lagi berkata-kata.
Seketika itu juga, rasa sedihnya menguap, berganti dengan kehampaan pekat yang disusul kobaran amarah luar biasa.
Sreet!
Bayu menyambar pena di atas meja.
Ia torehkan tanda tangannya di atas surat cerai itu dengan tekanan kuat hingga nyaris merobek kertasnya.
"Bagus. Berkasnya sudah beres," Vira merebut kertas itu dengan kasar dari tangan Bayu.
"Ayo, sayang. Jangan buang waktu lagi dengan sampah masyarakat ini," ajak Rama merangkul Vira keluar ruangan.
Mereka berjalan meninggalkan Bayu seorang diri di ruangan yang mendadak terasa sangat sunyi.
Bayu bangkit berdiri dengan langkah tertatih.
Kakinya terasa berat saat melangkah keluar gedung Kantor Catatan Sipil.
Terik matahari siang langsung menyambut wajahnya yang pucat pasi.
Di halaman depan, Vira dan Rama tampak sedang menunggu taksi online sambil tertawa renyah.
"Makanya, jadi pria itu jangan cuma modal setia tapi dompet kosong," cibir Vira sengaja mengeraskan suaranya saat Bayu melewatinya.
"Sampai kapan pun, kamu cuma sampah di pinggir jalan, Bayu," tambah Rama sambil melirik meremehkan.
Bayu berdiri terpaku di anak tangga terakhir.
Seluruh tubuhnya bergetar hebat menahan amarah yang meletup-letup di kepalanya.
Tiba-tiba...
Ding!
Sebuah suara berdenging tajam berputar di dalam kepala Bayu.
Suara itu sangat jernih, menggema langsung di kesadarannya.
[Sistem Pengubah Jalur Hidup berhasil diaktifkan!]
Bayu mengerjap kaget, spontan memegang kepalanya dengan sebelah tangan.
Ia celingukan kebingungan, namun orang-orang di sekitar berjalan lalu-lalang tanpa mendengar suara apa pun.
[Host telah mengalami titik nadir kehidupan: Dihina oleh mantan istri, dikhianati setelah lima tahun berkorban, mengetahui fakta bahwa anak yang dibesarkan bukan darah dagingnya, dan diusir dalam keadaan miskin.]
[Syarat mutlak kebangkitan terpenuhi. Memulai sinkronisasi dengan inang... 10%... 50%... 100%. Sinkronisasi selesai!]
Bayu menahan napasnya.
Jantungnya berdegup kencang bukan karena sedih, melainkan karena kejutan luar biasa yang menerpa saraf otaknya.
[Selamat datang di Sistem Kartu Perjalanan Hidup Konglomerat.]
[Sistem ini akan mengubah total nasib Host dari pecundang menjadi penguasa mutlak di kota besar melalui serangkaian Kartu Perjalanan Hidup.]
[Misi Pertama diaktifkan: Pukulan Telak Pertama.]
[Deskripsi Misi: Mantan istri dan pria selingkuhannya sedang menuju ke showroom mobil mewah untuk pamer kekayaan. Tunjukkan pada mereka arti kekayaan yang sesungguhnya.]
[Hadiah Selesai Misi: Kartu Perjalanan Hidup Level 1 (Akses Dana Darurat Konglomerat Senilai Rp10.000.000.000 dan Kunci Kepemilikan Showroom Utama Kota).]
[Sanksi Kegagalan Misi: Kehilangan kesempatan mengubah takdir selamanya.]
Bayu membaca setiap baris tulisan itu dengan saksama.
Sepuluh miliar rupiah?
Dan kepemilikan showroom utama kota?
Angka yang seumur hidup bahkan tidak pernah tersentuh oleh rekening banknya yang paling optimis sekalipun.
Di luar gedung, suara klakson kendaraan berbunyi nyaring.
Vira dan Rama sudah masuk ke dalam taksi online yang berhenti di depan mereka.
Bayu melangkah keluar dengan perlahan.
Terik matahari kota menyengat kulitnya, namun Bayu tidak lagi merasakan panas yang mengganggu.
"Kita lihat seberapa lama kalian bisa tertawa di atas penderitaanku," gumam Bayu pelan sambil mengepalkan tangan kanannya.
Sistem telah memberikannya kesempatan kedua.
Dan kali ini, permainan baru saja dimulai.
Bantu Cherlly dengan LIKE & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰