"Om mau nyeraikan gue? Bagus dong! Mana drafnya? Gue tanda tangani sepuluh kali kalau perlu!"
Mayor Yudhana (32) mengira ancaman perceraian akan membuat Vina (20) berlutut memohon ampun. Namun, benturan keras di aspal telah menghapus seluruh kenangan penderitaan Vina selama menikah. Vina yang baru adalah gadis barbar usia 18 tahun yang sama sekali tak terintimidasi oleh baret hijau maupun pangkat tiga melati.
Saat Vina memperlakukannya seperti bapak kos galak dan sibuk mencari uang sendiri untuk angkat kaki, Mayor Yudhana terpukul oleh gengsinya sendiri. Untuk pertama kalinya, Sang Mayor menyadari bahwa hal paling berbahaya bukan lagi kehilangan wibawa di Batalyon—melainkan kehilangan wanita yang baru saja mulai menguasai seluruh sudut hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Ampun, Mayor!
"Kamu ... kamu bicara apa pagi-pagi begini?" tegur Yudhana, suaranya berat dan bernada kaku, berusaha menutupi rasa syok yang mendadak melilit tenggorokannya.
"Yaelah, ngomongin surat cerai lah, Om!" jawab Vina enteng, mengibaskan kertas itu di udara hingga berbunyi krek-krek. "Tadi beberapa hari yang lalu kan Om beralasan prosedur dinas lah, izin Batalyon lah. Nah, saya udah baca-baca nih drafnya semalem. Biar prosedurnya cepat dikabulkan komando Om, tinggal disetujui kedua belah pihak, kan?"
Yudhana mengepalkan tangannya di sisi tubuh, menyerap hawa dingin yang merayap di dadanya. "Vina, perceraian perwira itu ada mekanisme resmi—"
"Gak usah pakai bahasa planet, Om!" potong Vina cepat, memutar bola matanya malas seraya menyandarkan pinggulnya di tepi meja dapur. "Saya tahu Om gengsi kan kalau dikira Om yang ditendang duluan sama cewek panti? Gini aja deh, solusi cerdas dari saya! Di lembaran alasannya, Om tulis aja kalau kesalahan sepenuhnya ada di saya!"
Dahi Yudhana berkerut makin dalam, garis rahangnya menegang keras. "Apa maksud kamu?"
Vina tersenyum lebar, menepuk dadanya sendiri dengan rasa bangga yang konyol. "Om tulis aja gini: 'Vina tidak penurut, barbar, suka ngacak-ngacak rumah dinas, dan tidak bisa bikin makanan yang enak.' Nah! Beres kan? Dengan alasan begitu, atasan Om pasti langsung kasihan sama Om dan ngizinkan kita cerai detik ini juga! Om tetap kelihatan sebagai perwira teraniaya yang gagah, dan saya bebas merdeka kembali ke panti! Win-win solution, kan?"
Keheningan seketika menyergap dapur rumah dinas itu.
Ita yang baru saja masuk dari pintu samping membawa kantong plastik es batu dan nasi uduk mendadak membeku di dekat kulkas, menutup mulutnya kencang-kencang agar letupan tawa konyolnya tidak meledak di depan muka sang Mayor.
Yudhana berdiri mematung. Pria tegap yang biasanya ditakuti oleh ratusan prajurit di lapangan Batalyon itu merasa seperti baru saja dihantam meriam tak berbunyi.
Gengsinya sebagai seorang perwira menengah hancur berkeping-keping. Selama ini, ia membayangkan proses perceraian ini akan menjadi panggung kekuasaannya—momen di mana Vina akan menangis meratapi nasibnya yang dibuang. Namun kini, wanita di depannya ini justru menyusun skenario perceraian mereka sendiri dengan raut gembira, bahkan dengan senang hati menumbalkan namanya sendiri demi bisa secepatnya terbebas dari status sebagai 'Istri Mayor Yudhana'.
"Kenapa diam aja, Om?" goda Vina, mengoyak keheningan dengan tawa renyah yang mengejek. Ia kembali menyodorkan pulpen hitam itu. "Ayo tanda tangan! Om yang dari kemarin koar-koar mau nyeraikan saya, masa sekarang malah mundur dua langkah? Om gertak sambel doang atau sebenernya Om kagak rela pisah sama cewek cantik kayak saya?"
Wajah Yudhana memerah padat dari leher hingga ke batas rambutnya. Rasa malu, jengkel, dan kebingungan yang bergulung-gulung membuat dadanya berdesir panas.
"Saya tidak ada waktu untuk melayani kekonyolan kamu, Vina!" sentak Yudhana, suaranya melengking kaku, mencoba merebut kembali sisa-sisa wibawanya yang tersisa di lantai dapur. Pria itu mengibaskan tangannya kasar, menepis pulpen dalam genggaman Vina. "Urusan perceraian ini akan diselesaikan secara resmi di markas oleh staf hukum, bukan di antara botol kecap dan teko air panas!"
"Dih, disodorin jalan pintas malah marah-marah!" cibir Vina geleng-geleng kepala, menarik kembali tangannya tanpa rasa tersinggung sedikit pun. "Terserah Om aja dah. Yang penting ingat ya, begitu surat resminya datang, saya tanda tangani pakai tinta emas kalau perlu!"
Yudhana menyentak napasnya kasar, memutar tubuhnya tegap tanpa sempat menyentuh cangkir air hangat yang semula hendak diambilnya. Dengan derak langkah sepatu lars yang dihentakkan keras ke lantai, sang Mayor berjalan cepat meninggalkan area dapur, menembus pintu depan yang dibantingnya kencang.
Brak!
Suara deru mesin mobil SUV dinasnya menderu melengking di luar pagar, meninggalkan kepulan asap dan keheningan di dalam rumah dinas.
Di dapur, Ita akhirnya meluapkan tawanya yang ditahan sejak tadi, terduduk di kursi sambil memegangi perutnya yang mulas. "Aduduh, Vin! Kamu bener-bener ya! Muka Mas Yudhana tadi udah merah padam kayak kepiting rebus!"
Vina menaikkan bahunya santai, meletakkan kembali lembaran draf perceraian itu di samping botol kecap, lalu menyambar sepotong roti bakar mentega yang masih hangat.
"Biarin aja, Ta," gumam Vina sambil mengunyah roti dengan nikmat. "Om-om gengsian kayak begitu emang harus dikasih paham tiap hari, biar sadar kalau dunia ini kagak berputar di sekitar papan namanya doang!"
Vina menyeruput teh hangatnya dengan helaan napas lega, membiarkan pendar sinar matahari pagi memenuhi dapur rumah dinas yang kini tak lagi menyimpan sedikit pun rasa takut pada ketegasan Sang Mayor.
***
Breeeng! Breng-breng-breng!
Suara deru knalpot brong dari dua unit sepeda motor bebek bermesin racikan memecah ketenangan sore di Kompleks Batalyon. Udara sore yang hangat dan berdebu tipis seketika diguncang oleh raungan mesin kencang yang melambat tepat di depan pagar besi hijau rumah dinas Batalyon nomor empat puluh lima.
Dua orang pemuda berjaket kulit hitam lusuh dan berkaos oblong santai melempar standar samping motor mereka. Sinar matahari senja menyepuh bayangan mereka yang melangkah masuk melintasi halaman rumput yang biasanya tak boleh diinjak sembarangan oleh siapapun.
"Vina! Oy, Vina!" seru salah seorang pemuda berambut agak gondrong dengan helm berstiker warna-warni tergantung di siku tangannya.
Pintu depan rumah dinas terdorong terbuka lebar. Vina melangkah keluar ke teras rumah dengan memakai daster kain santai berwarna biru muda. Di tangannya, sebatang es lilin rasa cokelat menggantung setengah meleleh.
Begitu matanya menangkap dua sosok di depan pagar, binar mata cokelat bening Vina seketika menyala terang penuh antusias.
"Tio! Doni!" teriak Vina kegirangan, melompat turun dari dua anak tangga teras tanpa memedulikan sandal jepit karetnya yang menepuk-nepuk tumitnya nyaring. "Ya ampun, lu berdua nemu aja rumah kos kaku ini!"
"Gila lu, Vin!" pemuda bernama Tio tertawa berkacak pinggang, menatap rumah dinas bertipe sembilan puluh di belakang Vina dengan mata membelalak heran. "Kata Ita lu ketabrak terus amnesia, kok tiba-tiba terdampar di komplek tentara begini? Rumahnya gede amat, tapi sepi kayak kuburan!"
"Biasa, rumah tumpangan!" jawab Vina santai, mengibaskan tangannya seraya melahap gigitan es lilinnya. "Ayo duduk di teras! Ita lagi ke warung depan beli es batu. Pas banget lu berdua pada datang, pusing pala gue seharian nggak ada temen ngobrol yang asik!"
Ketiganya langsung menguasai kursi teras berbahan kayu jati yang dipoles mengkilap. Tio dan Doni tanpa canggung menyelonjorkan kaki mereka ke atas meja kayu, tertawa-tawa lepas sambil menceritakan kejadian-kejadian konyol di sekitar panti asuhan dan kawan-kawan lama SMA mereka.
bersambung...
Vina benar jadi untuk apa takut di lihat suaminya,,, orang cari uang halal ko dan
apa bila mau protes dan marah marah ,,Vina juga bisa menyampaikan kepada Kakek Gema iya to,,,wong cucunya yang selingkuh bahkan seolah Vina hanya di jadikan babu ,,,sedang dirinya mirip buaya muara ngecas sama wanita lain ko ga malu sama rekan atau bawahannya, biarpun banyak uang buat apa ga menghargai wanita notabene sebagai istri,,anjit ga banget lihat tiap hari di samperin sama si pELaKoR,,najong tralala,,😡😡