NovelToon NovelToon
Di Balik Harga Kebanggaan

Di Balik Harga Kebanggaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:189
Nilai: 5
Nama Author: edwin setiawan

Arini meninggalkan suaminya yang tulus, Dimas, karena terbuai janji kemewahan dari Rian. Namun Rian ternyata hanya menipunya lalu pergi begitu saja, membuat Arini jatuh miskin sendirian. Saat ia menyadari kesalahannya dan berharap kembali pada Dimas, ia terlambat — Dimas sudah bahagia dengan wanita lain. Arini akhirnya belajar: ketulusan jauh lebih berharga daripada kemewahan semu, dan penyesalan selalu datang di akhir cerita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon edwin setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benih Keraguan di Balik Sutra

Dua minggu telah berlalu sejak Arini menjejakkan kakinya di unit apartemen mewah Green Heights Residence. Hari-hari yang dijalaninya bergulir dalam pusaran kenyamanan fisik yang dulu hanya menjadi angan-angan liar di dalam kamar kontrakannya yang sempit.

Setiap pagi, Arini terbangun di atas kasur king-size berbalut sutra, disapa oleh keheningan sejuk pendingin udara dan pemandangan megah gedung-gedung pencakar langit yang menjulang di balik jendela kaca. Kartu kredit platinum bertuliskan namanya telah membukakan pintu ke dunia yang selama ini ia idamkan. Ia menghabiskan siang dengan berbelanja di butik-butik ternama, merawat tubuh di salon langganan para selebritas, atau sekadar duduk menyesap latte di kafe-kafe terbuka bersama Siska dan beberapa kawan lama yang kini memperlakukannya bagaikan seorang ratu.

Rasa bangga memadati dada Arini. Setiap kali ia melirik tas kulit berlogo desainer dunia di lengannya, ia merasa keputusannya meninggalkan Dimas adalah tindakan paling tepat yang pernah ia ambil sepanjang hidupnya.

Namun, di balik permukaan air yang tampak tenang dan berkilau itu, riak-riak kecil mulai bermunculan.

Rian semakin jarang menampakkan batang hidungnya di apartemen. Pria yang semula selalu memanjakannya dengan bisikan manis dan perhatian intensif itu kini seolah lenyap dalam kesibukan yang tak bertepi. Ketika Rian datang—biasanya di tengah malam yang larut dengan bau alkohol tipis atau aroma wewangian asing—pria itu sering kali tampak tegang dan terburu-buru. Bicara Rian menjadi singkat, dan matanya yang dulu selalu menatap Arini dengan gairah kini lebih sering tertuju pada layar ponselnya yang tak berhenti bergetar.

Malam itu, jam dinding berbentuk lingkar emas di ruang tengah menunjukkan pukul satu dini hari.

Arini duduk melamun di atas sofa kulit. Ia mengenakan gaun malam berwarna merah hati, wajahnya sudah dipoles riasan tipis sejak sore hari, menunggu kedatangan Rian yang berjanji akan mengajaknya makan malam romantis. Namun makanan mewah yang dipesan dari restoran bawah sudah membalik mendingin di atas meja kaca.

Suara klik elektronik pada pintu utama akhirnya berbunyi. Pintu kayu mahoni terbuka, dan Rian melangkah masuk dengan langkah sergap. Pria itu melepaskan jas lamanya, melemparkannya begitu saja ke atas kursi, lalu mengusap wajahnya yang tampak kusam dan lelah.

"Rian... kamu baru pulang?" sapa Arini seraya berdiri, mencoba mengumbar senyum paling manis. "Aku sudah menunggu sejak jam delapan. Makan malamnya sampai dingin—"

"Aku sibuk, Arini," potong Rian kaku, tanpa memandang wajah Arini sedikit pun. Ia melangkah lurus menuju meja kerja kecil di sudut ruang tamu, membuka laptopnya dengan gerakan kasar. "Ada masalah ekspansi lahan di proyek perumahan baru. Investor asing menarik sebagian dananya mendadak. Aku tidak punya waktu untuk urusan makan malam."

Arini tertegun di tempatnya berdiri. Senyum di bibirnya perlahan memudar, berganti dengan rasa kaget dan sedikit tersinggung. Selama ini, Rian tidak pernah berbicara dengan nada sedingin dan sekeras itu padanya.

"Rian... aku kan cuma bertanya," ujar Arini pelan, melangkah mendekati meja kerja Rian. "Kalau kamu capek, aku bisa buatkan teh warm—"

"Tolong, Arini! Jangan membebani kepalaku dengan hal-hal sepele!" bentak Rian mendadak, menepak permukaan meja kayu itu hingga menimbulkan suara dentuman nyaring.

Mata Rian menatap Arini tajam, tak ada lagi kehangatan atau pujian di dalamnya. Yang ada hanyalah sorot mata seorang pengusaha yang terdesak dan kehilangan kesabaran.

Arini mundur satu langkah, dadanya berdebar kencang oleh ketakutan dan keheranan. Pipi Arini terasa panas. Bentakan itu mengingatkannya pada pertengkaran-pertengakannya dulu bersama Dimas—bedanya, Dimas tidak pernah membentaknya dengan mata penuh ancaman seperti yang ditunjukkan Rian malam ini.

Melihat raut wajah Arini yang pucat pasi, Rian tampaknya menyadari bahwa ia telah bertindak terlalu jauh. Pria itu menarik napas panjang, merapikan kerah kemejanya, lalu memaksakan sebuah senyuman tipis yang tampak sangat kaku di bibirnya.

"Maafkan aku, Arini..." bisik Rian, berdiri lalu mengusap lengan Arini dengan gerakan yang terkesan sekadarnya. "Pikiranku sedang sangat kacau karena bisnis. Beberapa mitra kerja bertindak curang di belakangku. Aku tidak bermaksud membentakmu."

"Kamu... kamu benar-benar tidak apa-apa, Rian?" tanya Arini ragu, matanya mencari kepastian di wajah pria itu. "Soal investasi itu..."

"Semua masih dalam kendaliku," potong Rian cepat, mengibaskan tangannya seolah masalah itu bukanlah hal besar. "Lagipula, semua jaminan administrasi dan berkas pendukung sudah aman. Kamu tidak perlu ikut pusing memikirkannya. Tugasmu hanya menikmati fasilitas di sini."

Kata-kata 'jaminan administrasi' yang diucapkan Rian melintas sekilas di ingatan Arini, teringat pada lembaran-lembaran kertas yang ia tanda tangani bersama sekretaris Maya minggu lalu. Namun sebelum Arini sempat bertanya lebih jauh, Rian sudah berbalik menuju kamar mandi, menutup pintu dengan rapat dan meninggalkan Arini dalam keheningan yang menyisakan desiran cemas di dalam dadanya.

Arini kembali duduk di tepi sofa. Ia menatap cangkir teh dingin di atas meja. Untuk pertama kalinya sejak ia melangkah keluar dari rumah petaknya, sebuah benih keraguan yang sangat tipis mulai tertanam di dasar hatinya.

Di saat yang sama, di ruang tengah sebuah rumah sederhana di kawasan perkampungan padat, suasana terasa begitu hangat dan bersahaja.

Cahaya lampu neon berwarna putih terang menyinari meja kayu panjang di dalam rumah Pak Joko. Di atas meja tersebut, beberapa piring berisi pisang goreng hangat, rebusan ubi, dan cangkir-cangkir kopi hitam tersaji rapi. Suara tawa renyah sesekali terdengar memecah keheningan malam.

Dimas duduk bersisi dengan Pak Joko. Di depan mereka, beberapa lembar kertas laporan keuangan dan rekapitulasi stok suku cadang bengkel terhampar rapi. Di samping Dimas, Sari duduk dengan anggun, memegang kalkulator dan pulpen, membantu mencocokkan angka-angka transaksi bulanan bengkel.

"Luar biasa kamu, Dim," puji Pak Joko seraya menepuk bahu tegap Dimas dengan raut bangga yang tak disembunyikan. "Baru satu bulan kamu pegang alur pengadaan barang dan administrasi gudang, efisiensi biaya operasional kita naik hampir dua puluh persen. Pemasok oli bahkan memberi kita potongan harga khusus karena pembayaran kita selalu rapi."

Dimas tersenyum rendah hati, menggelengkan kepalanya pelan. "Ini semua berkat bimbingan Pak Joko dan bantuan Mbak Sari juga. Saya cuma merapikan pencatatan yang sudah ada supaya tidak ada barang yang tercecer atau menumpuk tanpa kejelasan."

"Tapi ide penataan rak dan sistem pengkodean barang itu murni dari Mas Dimas," potong Sari lembut, menatap Dimas dengan binar mata jernih yang penuh penghargaan. "Para montir di bengkel sekarang tidak perlu buang waktu setengah jam cuma buat cari satu jenis baut atau filter udara. Semua pekerjaan jadi jauh lebih cepat."

Dimas menatap Sari yang tersenyum padanya. Ada kehangatan tulus yang mengalir di dalam dada Dimas—sebuah perasaan dihargai dan diakui yang sudah sangat lama tidak pernah ia rasakan. Berada di dekat Sari dan Pak Joko membuat luka batin akibat pengkhianatan Arini perlahan-lahan mengering, berganti dengan rasa percaya diri baru bahwa dirinya bukanlah pria tak berguna sebagaimana yang dulu selalu diucapkan mantan istrinya.

"Dimas..." panggil Pak Joko dengan suara yang mendadak berubah menjadi lebih serius dan penuh perhatian. Pria tua itu meletakkan cangkir kopinya ke atas piring kecil.

"Iya, Pak?"

"Bapak dapat kabar dari kawan di pengadilan," ujar Pak Joko pelan. "Surat panggilan resmi untuk sidang pertama cerai talakmu sudah terbit. Jadwal sidangnya hari Kamis minggu depan, jam sembilan pagi."

Suasana di meja kayu itu mendadak hening sejenak. Sari menundukkan pandangannya, jemarinya meremas pulpen di tangannya lebih erat, menunggu reaksi dari pria di sampingnya.

Dimas menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan lewat hidung. Wajahnya tetap tenang, sepasang matanya jernih tanpa ada riak amarah maupun dendam.

"Terima kasih informasinya, Pak Joko," jawab Dimas mantap. "Saya sudah siap. Saya akan hadir tepat waktu."

Pak Joko mengangguk-angguk penuh rasa hormat atas keteguhan jiwa Dimas. "Bagus, Dim. Selesaikan apa yang harus diselesaikan dengan cara yang terhormat. Setelah semua beban masa lalu itu lepas dari pundakmu, berjalanlah ke depan dengan kepala tegak. Kamu laki-laki baik, dan Allah tidak pernah tidur melihat perjuangan hambanya."

"Aamiin, Pak. Terima kasih banyak," sahut Dimas tulus.

Sari mengangkat wajahnya kembali, menatap Dimas dengan sebuah senyuman tipis yang sangat hangat—senyuman yang seolah menyiratkan bahwa apa pun yang terjadi di ruang sidang nanti, ada orang-orang tulus yang akan selalu berdiri di samping Dimas untuk mendukung langkah kebangkitannya.

1
Shankara Senja
yah..itumah bukan istiqomah....tp lari dari kenyataan,arini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!