Ini adalah cerita tentang seorang pria yang kembali ke masa lalunya.
Petualangannya terus dimulai. Ia kini harus menghadapi pendekar kuat yang datang dari alam lain. Seorang pendekar yang bahkan tidak ia temui di kehidupan pertamanya.
Jalan takdir telah berbeda akibat dirinya yang telah banyak membuat perubahan sejarah.
Apakah kali ini ia akan mampu bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sekte Dua Pedang Petir
Sementara itu, di Sekte Dua Pedang Petir, suasana tidak kalah ramai dibandingkan Kota Shui. Di dalam kawasan sekte yang terletak di antara pegunungan tersebut, para murid terlihat sibuk melakukan berbagai persiapan. Ada yang membersihkan halaman latihan, ada yang mengatur tempat pendaftaran, sementara sebagian lainnya mengangkut meja dan kursi ke bangunan yang akan digunakan untuk menerima calon murid baru.
Para tetua pun tidak tinggal diam. Mereka turut mengawasi pekerjaan para murid, memastikan setiap persiapan berjalan sesuai rencana. Sesekali, beberapa tetua memberikan arahan kepada para murid yang terlihat kebingungan.
"Letakkan meja itu di sebelah kanan gerbang! Jangan menghalangi jalan masuk!"
"Pastikan halaman utama sudah bersih sebelum matahari terbenam. Besok pagi, para calon murid akan mulai berdatangan!"
“Lihat bagian itu masih kotor.”
Suara para tetua terdengar bersahutan di berbagai sudut kawasan sekte.
Sekilas, keadaan tersebut membuat Sekte Dua Pedang Petir tampak seperti sekte besar yang sedang mempersiapkan sebuah perayaan penting. Tahun ini, Sekte Dua Pedang Petir hanya berencana menerima sekitar seribu murid baru, belum termasuk murid-murid khusus yang direkomendasikan langsung oleh para tetua.
Jumlah tersebut sebenarnya sudah lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, bagi sebuah sekte yang kini memiliki pengaruh luas di dunia persilatan, seribu murid baru masih tergolong sedikit.
Alasannya cukup sederhana. Sekte Dua Pedang Petir belum memiliki cukup banyak tetua untuk membimbing murid dalam jumlah besar. Selain itu, bangunan tempat para murid tinggal juga belum mampu menampung terlalu banyak orang sekaligus.
Memang, selama beberapa tahun terakhir, kawasan sekte telah mengalami perluasan besar-besaran. Berbagai bangunan baru berdiri di lereng pegunungan, halaman latihan diperluas, sementara sejumlah paviliun didirikan untuk menunjang kegiatan para murid.
Namun, secepat apa pun pembangunan dilakukan, perkembangan itu tetap tidak mampu mengimbangi derasnya arus calon murid yang ingin bergabung. Nama Sekte Dua Pedang Petir kini telah menggema ke berbagai wilayah. Banyak pendekar muda datang dengan harapan dapat mempelajari ilmu bela diri di tempat yang sama dengan Dewa Kematian, Boqin Changing.
Tidak sedikit pula keluarga yang rela menempuh perjalanan jauh demi memberikan kesempatan kepada anak-anak mereka. Semua orang tua mempunyai harapan yang sama, anak mereka bisa bergabung dengan sekte ini.
Menghadapi keadaan tersebut, Patriak Sekte Dua Pedang Petir sebenarnya bisa saja memperbesar jumlah penerimaan murid. Ia bahkan dapat mencari lebih banyak pendekar berpengalaman untuk mengisi posisi tetua.
Namun, Wang Zhou tidak pernah berniat melakukan hal itu secara terburu-buru. Baginya, jumlah murid bukanlah ukuran utama kemajuan sebuah sekte. Jika terlalu banyak orang diterima tanpa adanya pembimbing yang memadai, kualitas para murid justru akan menurun.
Ia lebih memilih menerima seribu murid yang dapat dibimbing dengan baik daripada menerima lima ribu orang tetapi membiarkan sebagian besar dari mereka berkembang tanpa arahan yang jelas.
Ada pula persoalan lain yang cukup mengganggunya. Semua tetua baru yang bergabung dengan Sekte Dua Pedang Petir dalam beberapa tahun terakhir merupakan rekomendasi Tetua Keempat mereka, Boqin Changing.
Wang Zhou sendiri tidak mempermasalahkan hal tersebut. Ia justru sangat berterima kasih atas bantuan Boqin Changing. Tanpa rekomendasi dari pemuda itu, sekte mereka mungkin tidak akan memiliki begitu banyak pendekar kuat yang bersedia bergabung.
Masalahnya, sampai sekarang, Wang Zhou belum berhasil menemukan murid senior yang benar-benar layak dipromosikan menjadi tetua.
Ia bukannya tidak pernah mencari. Selama beberapa tahun terakhir, Wang Zhou telah memperhatikan banyak murid berbakat. Ada yang memiliki bakat kultivasi luar biasa, ada yang rajin berlatih, dan ada pula yang menunjukkan kemampuan memimpin yang cukup baik.
Sayangnya, setelah mempertimbangkan semuanya dengan saksama, ia masih belum menemukan seseorang yang benar-benar memenuhi harapannya. Menjadi murid berbakat tidak berarti seseorang pantas menjadi tetua. Selain kekuatan, seorang tetua harus memiliki pengalaman, kebijaksanaan, serta kemampuan membimbing generasi berikutnya. Wang Zhou tidak ingin mengangkat seseorang hanya demi mengisi kekosongan jabatan.
Sore itu, sang Patriak sedang duduk di teras halaman kediamannya. Sebuah meja kayu berada di hadapannya, ditemani teko teh dan beberapa cangkir kecil. Di luar teras, taman yang tertata rapi tampak tenang, jauh berbeda dari kesibukan yang berlangsung di bagian lain sekte.
Wang Zhou mengangkat cangkir tehnya, lalu memandang bunga-bunga yang tumbuh di sepanjang jalan setapak.
Ia menghela napas panjang.
"Benar-benar di luar dugaan..."
Suaranya terdengar pelan.
"Siapa yang akan menyangka bahwa sekte yang kudirikan dahulu bisa berkembang sejauh ini?"
Wang Zhou masih ingat betul bagaimana keadaan Sekte Dua Pedang Petir pada masa awal pendiriannya. Saat itu, jumlah murid mereka tidak banyak. Sumber daya terbatas, bangunan sekte pun sederhana, sementara pengaruh mereka di dunia persilatan hampir tidak berarti.
Bahkan, jika dibandingkan dengan sekte-sekte besar lainnya di Kekaisaran Qin, Sekte Dua Pedang Petir hanya bisa dianggap sebagai kekuatan kecil yang tidak terlalu diperhitungkan.
Semua perubahan ini bermula sembilan tahun lalu. Pada waktu itu, putranya, Wang Tian, yang kini menjabat sebagai Tetua Agung, membawa seorang anak laki-laki untuk menjadi murid pertamanya.
Wang Zhou masih mengingat dengan jelas bagaimana penampilan anak tersebut ketika pertama kali datang ke sekte. Siapa sangka, anak yang tampak biasa itu ternyata merupakan monster yang sulit dijelaskan dengan akal sehat. Perkembangannya begitu cepat hingga terkadang Wang Zhou sendiri merasa seolah-olah sedang menyaksikan sesuatu yang mustahil.
Dalam waktu yang relatif singkat, anak itu telah melampaui banyak pendekar yang menghabiskan puluhan tahun untuk berlatih. Kekuatan yang dimilikinya sekarang bahkan telah menempatkannya di antara Lima Raja Dunia. Itu adalah julukan untuk lima orang pendekar yang berada di puncak dunia persilatan.
Tidak ada seorang pun yang benar-benar mengetahui bagaimana Boqin Changing bisa mencapai tingkat kekuatan seperti itu pada usia semuda sekarang. Terkadang, Wang Zhou bahkan merasa bahwa pemuda itu sebenarnya adalah seorang pendekar tua yang berhasil menemukan cara untuk meremajakan tubuhnya.
Namun, pemikiran tersebut selalu ia singkirkan sendiri. Wang Zhou tahu betul bahwa Boqin Changing bukanlah pendekar tua yang menyamar sebagai pemuda.
Ia merupakan saksi hidup yang melihat bocah itu tumbuh sejak masih kecil. Ia mengetahui bagaimana rupa Boqin Changing pada awal kedatangannya di sekte, ketika pemuda tersebut bahkan belum memiliki reputasi seperti sekarang. Ia bahkan masih mengingat wajah polos bocah itu ketika pertama kali mereka bertemu.
Wang Zhou menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis.
"Bocah itu benar-benar tidak masuk akal..."
Ia kemudian mendongak, memandang langit yang mulai berubah jingga.
"Sepertinya Sekte Dua Pedang Petir memang diberkahi oleh langit. Kalau tidak, bagaimana mungkin aku bisa mendapatkan murid seperti itu?"
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Wang Zhou kembali mengangkat cangkir tehnya. Namun, baru saja ia menyesap sedikit teh, wajahnya tiba-tiba berubah.
"Tunggu sebentar..."
Ia menurunkan cangkirnya dan mengerutkan kening.
"Kalau sejak awal aku tahu sekte ini akan berkembang sebesar sekarang, bukankah seharusnya aku memilih nama yang lebih bagus?"
Semakin dipikirkan, semakin Wang Zhou merasa tidak puas. Ia mengangkat tangan untuk mengusap dagunya, kemudian bergumam dengan wajah serius.
"Sekte Dua Pedang Petir..."
Ia mengulang nama sektenya sendiri beberapa kali.
"Kenapa terdengar begitu menggelikan sekarang?"