NovelToon NovelToon
Bayangan Di Ujung Takdir

Bayangan Di Ujung Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: dyrrohanifah

Di bawah kaki Pegunungan Abu, terdapat sebuah desa kecil bernama Desa Qinghe. Desa itu miskin, terpencil, dan nyaris dilupakan dunia. Bagi para kultivator sejati, tempat itu tidak lebih dari titik tak berarti di peta Kekaisaran Tianluo.

Di sanalah Qing Lin tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dyrrohanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 16 - hukuman tanpa nama

Keesokan paginya, udara di Sekte Batu Awan terasa lebih berat.

Bukan karena cuaca, melainkan karena suasana.

Qing Lin menyadarinya sejak ia melangkah keluar asrama. Beberapa murid luar yang biasanya tidak peduli kini menghindari tatapannya. Yang lain melirik cepat, lalu berpura-pura sibuk.

Kabar beredar.

Tidak jelas bagaimana, tapi selalu begitu di sekte.

Ia tidak peduli.

Di lapangan tugas, Liang He berdiri dengan dua murid senior lain. Wajahnya tenang, namun tatapannya lebih dingin dari biasanya.

“Qing Lin,” panggilnya.

Qing Lin melangkah maju.

“Kau melukai sesama murid kemarin.”

Qing Lin mengangguk. “Mereka memeras.”

Liang He tersenyum tipis. “Tidak ada saksi.”

Sunyi.

“Namun sekte tidak suka keributan,” lanjutnya. “Jadi tidak ada hukuman resmi.”

Beberapa murid menghela napas lega—bukan untuk Qing Lin, tapi karena mereka tahu kalimat selanjutnya.

“Sebagai gantinya,” kata Liang He, “kau akan menjalankan tugas tambahan.”

Ia menyerahkan papan kayu.

Zona: Lereng Retak Utara

Tugas: Mengumpulkan Lumut Batu Hitam

Waktu: Hingga matahari terbenam

Pendamping: Tidak ada

Beberapa murid menelan ludah.

Lereng Retak Utara adalah wilayah setengah liar. Tidak sepenuhnya terlarang, namun sering muncul binatang iblis tingkat rendah. Murid luar jarang dikirim ke sana—kecuali sebagai peringatan.

Qing Lin menerima papan itu.

“Dimengerti.”

Liang He menatapnya lama. “Jika kau gagal, poin kerjamu dipotong penuh.”

Qing Lin berbalik.

Ia tidak marah.

Ia hanya mencatat.

Lereng Retak Utara dipenuhi batu tajam dan celah sempit. Lumut Batu Hitam tumbuh di tempat lembap dan gelap—biasanya di balik batu besar atau di dalam retakan.

Qing Lin bekerja dengan hati-hati.

Ia tidak terburu-buru.

Ia belajar dari kemarin.

Setiap kali ia memusatkan napas, qi tipis mengalir, memperkuat jari dan punggung seperlunya.

Saat matahari naik tinggi, ia mendengar suara gesekan.

Dari balik batu besar, muncul dua sosok kecil berbulu hitam.

Tikus Batu Iblis.

Gigi mereka tajam, mata merah, tubuh seukuran anak anjing. Tidak terlalu kuat—namun menyerang berkelompok.

Qing Lin berdiri.

Ia tidak mengangkat pedang.

Ia menunggu.

Tikus pertama menerjang.

Qing Lin menghindar setengah langkah, lalu menghantam tengkuknya dengan siku.

Krak.

Yang kedua melompat dari samping.

Pedang terhunus setengah—lalu berhenti.

Qing Lin menahan.

Ia menendang.

Binatang itu terpental, menghantam batu.

Sunyi kembali.

Dua tubuh tergeletak.

Napas Qing Lin sedikit lebih cepat.

Sutra Darah Sunyi bergerak.

Kabut merah sangat tipis keluar dari bangkai tikus, lalu menyatu ke tubuhnya.

Qing Lin menutup mata.

Ia mengatur aliran itu.

Tidak membiarkannya menyebar liar.

Qi di tubuhnya menjadi lebih stabil, bukan sekadar lebih kuat.

“Begini caranya…” gumamnya.

Sore hari, keranjangnya hampir penuh.

Namun sebelum ia pergi, tanah bergetar.

Dari celah batu besar, muncul bayangan lebih besar.

Seekor Serigala Retak.

Lebih kecil dari yang di hutan dulu, tapi lebih gesit. Luka lama terlihat di punggungnya—bekas pertempuran wilayah.

Qing Lin menarik napas panjang.

Ia tahu.

Jika ia lari, ia akan dikejar.

Ia berdiri tegak.

Pedang terhunus penuh.

Serigala itu melompat.

Qing Lin melangkah masuk, bukan mundur.

Pedangnya menyilang.

Tidak menebas.

Menusuk.

Tepat di bawah rahang.

Darah muncrat.

Tubuh binatang itu menegang, lalu jatuh.

Qing Lin mundur satu langkah.

Tangannya gemetar lebih kuat dari sebelumnya.

Sutra Darah Sunyi menyerap lebih banyak dari sebelumnya.

Qi melonjak—lalu ia tekan dengan keras.

Ia duduk bersila di tempat.

Menahan.

Mengendapkan.

Matahari hampir tenggelam saat ia kembali ke sekte.

Liang He memeriksa keranjangnya.

Ia terdiam.

“Lengkap,” katanya.

Qing Lin menerima poinnya.

Namun ia tahu—

Hukuman ini bukan yang terakhir.

Dan di dalam tubuhnya, Sutra Darah Sunyi telah belajar satu hal baru:

kekuatan tidak harus meledak—cukup dikendalikan.

1
asri_hamdani
jauh sekali lompat ceritanya 🙏
Rohanifah: biar cepet end ga sih,
total 1 replies
asri_hamdani
Hmmm🤔 awal yang menarik
asri_hamdani
Awal mula yang menarik 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!