Mungkin ini jalan takdir atau rencana terselubung ku, ternyata tak perlu jauh aku mencari mu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MAMI ADRIELLA20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal ketemu Dia
Panggilan telepon dari Josua, sepertinya dia sudah merindu, ia tidak melupakan ku malah aku yang lupa memberi kabar padanya."Orang Jakarta lagi apa?" Aku memutar kamera, dia langsung paham dan tidak menggangu. "Awet Mi," goda Ijonk saat dibelakang ku, ia mengenali Josua lewat status yang ku bagikan.Beginilah diriku terlalu friendly
tiada batasan dalam berteman dan aku nyaman selagi mereka tidak melakukan
atau mengucapkan sesuatu yang merendahkan ku sebagai seorang
wanita.
"Nanti aku telepon lagi ya," kami mengakhiri perbincangan itu, pasti Josua ingin pamit bekerja padaku. Ia dia seorang pengemudi alat berat pabrik, aku tidak tau dia bagian apa di perusahaan minyak Riau hanya yang ku tau dia sering membawa alat berat itu menuju Minyak mentah dikirim, kenapa malam? Dia dapat giliran malam tidak selalu malam.
Dari mengantarkan ku pulang, dia juga memilih menaiki pesawat untuk pulang ke pekan Baru. Mempersingkat perjalanan katanya walaupun harus naik mobil 3 Jam lagi ke dalam perkampungan nya.
Dari arah lawan tatapan menetap menarik tatapan ku untuk segera menantang' ia serius namun membisu, dari kebisuan itu aku menangkap rasa dendam melihat Ijonk tapi
tatapan itu bukan ke Ijonk melainkan kepada ku. "Mi nanti pulangnya sama Abang ini aja ya, Abang ini orang Batak juga kenalan lah kalian. " Aku tersenyum menyambut laki-laki itu, dari cara berpakaian dan cara ia menyambut salaman ku seperti nya ia seorang pekerja.
"Dean Manullang" Sapaan singkat dari nya. "Miwa Saragih." Kami saling bertukar senyum dan pertandingan dimulai, sebenarnya aku tidak mengetahui betul bagaimana cara permainan ini di menangkan, yang ku tau mereka saling menendang dan mencetak gol lewat gawang lawan.
Lista tidak membawa ku bersama dengan ia ketika langkah nya keluar dari lapangan sepak bola, ia membeli banyak sekali minum seraya membawa dua orang teman tambahan, mungkin pacar pemain lainnya. Salah seorang menyalami ku dengan ramah
namun ke ramah tamahan itu hilang
ketika bang Dean datang padaku ia
memberikan isyarat untuk sebotol
minuman di sebelah ku.
Permainan usai tak banyak bicara' bang Dean segera pamit, dan katanya Lista tadi mereka akan singgah ke tempat makan dulu kemungkinan pulang menjelang subuh
oleh sebab itu mereka minta tolong pada bang Dean untuk mengantarkan ku pulang.
Kami jalan bersama, parkiran motor menjadi tujuan utama kami. Langkah kecil ini tidak mungkin menyeimbangi, aku tertinggal tak lama ia datang dengan motor nin Kawasaki Ninja ZX-25R ABS SE lime green cocok dengan nya. Ia tampak seperti laki-laki cuek
dan anti banget sama cewek buktinya itu membuka handle motor saja sangat sulit bagi
nya.
Inisiatif sendiri kalau cinta sama ni cowok, dinginnya itu Lo mirip Bapak-bapak banget.
Ia sangat handal dalam berkendara, tidak ada rem mendadak tidak ada hampir nabrak atau gimana, aku sedikit tertarik dengan sifatnya. Perjalanan sudah lumayan jauh namun se ucap kata pun tidak ada dia ucapkan padaku.
"Kapan datang dek?" Ha enggak salah? Oke tetap mempertahankan prinsip harus laki-laki dulu yang ajak bicara baru kamu. "Baru kemarin sih bang." Dia seolah berucap apa gitu cuman aku enggak jelas dengar nya.
"Kan aku tadi nanya ke dirimu kamu sudah makan, kok jawabannya lain." Entah kenapa aku merasa nyaman dengan dia, ada apa ini batinku.
"Kamu lahiran Tahun berapa?" sepenting itu kah tau usia ku, aku menarik senyum atas pertanyaan itu."2000 " Ia mengangguk lalu memutar spion motor mengarah ke belakang atau ke arahku." Ini tempat Abang kerja," katanya menunjukkan pengadilan negeri, wow kemungkinan kah dia jaksa, aku pun tidak begitu ingin tau."Kamu kuliah atau kerja?" Ia semakin ingin tahu tentang ku. "kuliah sambil kerja, kerjanya di Bank ***."
Laju motor kian berkurang sepertinya kami mau sampai "Bank swasta ya," kami turun menuju tempat makan khas Batak atau sering
disebut Lapo, Lapo yang ku maksud bukan lah tempat perkumpulan bapak-bapak melainkan remaja-remaja Batak yang rindu suasana sumatera. "Mau makan apa?" Ia sudah membawa makanan miliknya, enggak atc of service banget. "Dimana?" Aku wanita Semanja ini di paksa mandiri olehnya, beda banget sama Josua. Eh ia aku rindu Josua.
"Pesan apa?" Ia sudah melahap setengah makanannya, aku mengambil makanan dan dua botol minuman, membuka kan tutup botol untuk nya. Ia terdiam sejenak mungkin ia tidak pernah merasakan ini. "Abang kelahiran tahun?"
"1990,Geng millenial." Pantesan om-om disebelah ku ini. Aku mengambil kan beberapa lauk, dari tatapan itu dia seperti
memperhatikan sesuatu dari ku, "Terkadang namanya ada orang disebelah kita, wajib Lo di perhatikan. Bukan tanda suka, atau cari perhatian," entah kenapa ucapan itu keluar dari bibirku padahal hal yang wajar-wajar aja kalau bang Dean mau bersikap seperti apa aja toh aku juga bukan siapa-siapa, tapi kembali lagi ke ucapan ku tadi perlu nya ada rasa mengharap terhadap orang disekitar kita.
Dia terlebih dahulu selesai, kemudian kasir itu menghampiri ku untuk memulangkan sejumlah uang sesuai dengan biaya ku keluarkan untuk makan tadi, aku tersenyum kecil. Mungkin harga dirinya tersenggol.
Kami melanjutkan pulang, sehubung hujan kami menghentikan perjalanan sejenak, jam sudah menunjukkan pukul 23:00 jam rawan tepat, malah dingin banget. Aku memakai kaos lengan pendek dan celana bahan jeans wajar merasa kedinginan. Bang Dean layaknya seorang pria memberikan jaket miliknya untuk ku pakai, aku suka wangi parfumnya. Sedikit kuat namun tidak menyengat, "Pakai aja besok atau kapan-kapan lah pulang kan ke Lista aja." Aku mengangguk, jaket winter army tanpa topi khas jaket pejabat sih ini.
"Mau neduh atau hujan-hujanan? " Tawar nya karena hari mulai malam. Aku terdiam,kalau neduh gak mungkin sih sudah jam berapa ini, kalau hujan-hujanan juga gak masuk di akal. "masih jauh lagi bang?" Ia menunjukkan waktu tempuh sekitar 30± menitan lagi hujan tak kunjung reda sementara aku sudah mengantuk rasanya. "Ke kost ku aja ya? 10 menitan lagi dari sini, kalau dipaksa hujan-hujanan juga masih aman." Astaghfirullah apakah child grooming akan terjadi padaku, ehhh enggak-enggak aku seorang gadis dewasa yang sudah bisa bedakan rasa. "Enggak lah bang," tolak ku.
Di Jakarta ini apa yang gak bisa terjadi, pandai-pandai lah dalam memilih teman
apalagi ini pertama kali kami bertemu.
Kami menunggu sampai hujan reda, ia menghormati keputusan ku dan segera mengantarkan ku pulang di Jam 2 malam, ternyata Lista belum kembali, karena kunci kontrakan hanya ada 2 satu dipegang tetangga kamar nya satu dipegang oleh ku,
ia tidak banyak basa-basi langsung pergi sesampainya aku di tujuan. Aku hargai itu, ternyata disini gaya hidup Texas ya, buktinya tetangga kamar itu juga belum kembali,motor nya tak ada disini. Merebahkan badan dan langsung tertidur, herannya entah kenapa aku berharap Abang-abang itu tadi menanyakan aku lebih lanjut tidak hanya sekedar pengenalan diri singkat.
Pagi tiba, enggak enak juga kalau lama-lama tinggal dengan teman seperti ini, padahal aku bukannya orang yang kekurangan uang banget, untuk kehidupan aku masih layak lah.
"Pagi hasian," suara Josua dengan pesan suara, aku menghubungi nya untuk sekedar cerita. "Capekk," rengek ku padanya. Ia juga baru bangun, mungkin Minggu ini jadwal Josua sibuk dinas malam makanya untuk menghubungi ku pun tidak bisa ia lakukan.
"Cinta, nanti Mamak ke Tanggerang katanya. Meninggal tulang(Paman) ku yang paling kecil itu. Datang kau ya hasian(sayang) biar kau ada kesempatan mu kenal keluarga ku." Bujuk Josua padaku.
"Ih jauh Lo itu," kata ku manja. "Enggak lah nang, kalau pun takut tersesat kan gak mungkin selagi alamat nya betul gak mungkin kesasar tukang ojek itu." Aku diam, aku tidak begitu menyukai ibu Josua, itu yang buat aku belum merasakan cinta 100% ke Josua. Dia selalu memikirkan keluarga nya tanpa memikirkan adanya aku. Semua hal harus aku dulu yang mulai, kan bisa juga dia melakukan itu ke keluarga nya.
"Kenapa jadi melamun," katanya menganggu angan-angan ku, "Enggak bisalah aku hasian, kalau pun datang bou itu nanti singgah kesini atau enggak jumpa ditengah aja." ucap ku
kalau begitu Josua pasti paham atas pesan tersirat ku. "Nang bujuk lah hati mu supaya menerima apa adanya, aku disini apalah cuman bisa bicara Lo... Kan selama ini kau -nya teman tukar pikiran ku, enggak mungkin kan aku capek juga memikirkan mu." Senyum pagi sudah hilang dari rona wajah, aneh aja memang kalau membahas keluarga ini terlalu sensitif hatiku.
semangat, yah..
jan lupa mampir juga..
kita saling dukung, yah..
💪💪💪
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰