"Kau hanyalah pemeran pengganti dalam hidupku, Shena. Jangan bermimpi lebih!"
Shena berhenti bermimpi dan memilih pergi. Tapi justru saat itulah, Devan baru menyadari bahwa rumahnya terasa mati tanpa suara Shena. Sang CEO arogan itu kini rela membuang harga dirinya hanya untuk memohon satu kesempatan kedua.
Bagaimana jadinya jika sang pembenci justru berubah menjadi pemuja yang paling gila? Masih adakah tempat untuk Devan di hati Shena yang sudah beku di Hati nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 Kebenaran yang Berkarat
Keheningan di ruang makan itu begitu mencekam hingga suara detak jam dinding terdengar seperti hantaman palu. Shena menatap Devan, menanti jawaban yang bisa menyelamatkan hatinya yang baru saja mencoba untuk sembuh. Namun, keterdiaman Devan justru menjadi jawaban yang paling menyakitkan.
"Mas... jawab aku," bisik Shena, suaranya parau. "Apakah aku hanya sebidang tanah bagimu?"
Devan melangkah maju, tangannya hendak meraih jemari Shena, namun wanita itu mundur selangkah. "Shena, dengarkan aku. Aku bersumpah, aku baru tahu detail tentang wasiat tanah itu dari Papa beberapa menit yang lalu! Aku mencarimu ke gang itu murni karena aku kehilanganmu, karena aku menyadari betapa pengecutnya aku selama ini!"
"Bohong!" Sarah menyela dengan tawa sumbang. Ia berjalan mengitari meja makan, menikmati kehancuran yang ia ciptakan.
"Keluarga Adiguna adalah pebisnis ulung, Shena. Mana mungkin mereka melakukan merger atau pernikahan tanpa pemeriksaan aset yang mendalam? Papa Surya, katakan pada menantu kesayanganmu ini... bukankah pabrik pusat kalian terancam digusur jika pemilik sah tanah itu tidak muncul?"
Surya Adiguna menghela napas berat. Ia menatap Shena dengan mata yang kini tidak lagi menunjukkan otoritas, melainkan keletihan. "Shena, benar bahwa tanah itu adalah alasan awal Bramantyo menawarkan pernikahan ini. Dan benar bahwa perusahaan kami membutuhkannya. Tapi Devan benar-benar tidak tahu soal rencana licik ayahmu untuk melenyapkanmu. Kami pikir ini hanya pernikahan bisnis biasa."
"Pernikahan bisnis biasa?" Shena tertawa getir, air mata kini membasahi pipinya. "Kalian bicara seolah hidupku adalah komoditas. Kalian tahu aku pemilik sah tanah itu, tapi kalian membiarkan aku tinggal di kamar pelayan? Kalian membiarkan Devan menghinaku setiap hari sementara kalian menggunakan tanahku untuk mengeruk keuntungan?"
Widya Adiguna mencoba mendekat. "Shena, Nak... Ibu benar-benar sayang padamu—"
"Berhenti, Bu," potong Shena tegas. Ia menghapus air matanya dengan kasar.
Tatapannya kini beralih pada Sarah. "Dan kau, Kakakku yang hebat... Kau memberitahuku ini bukan karena kau peduli padaku. Kau memberitahuku karena kau marah karena Devan tidak lagi mengejarmu, bukan? Kau ingin aku pergi agar kau bisa masuk kembali dan menguasai semuanya."
Wajah Sarah sedikit berubah, namun ia tetap memasang masker keangkuhannya.
"Setidaknya aku jujur, tidak seperti mereka yang membungkus keserakahan dengan pelukan hangat."
Shena berbalik menatap Devan. Di mata pria itu, ia melihat penyesalan yang mendalam, namun kepercayaan Shena sudah retak terlalu parah.
"Aku pulang ke rumah ini karena aku pikir aku akan menemukan perlindungan," ujar Shena pelan namun tajam. "Ternyata aku hanya berpindah dari satu papan catur ke papan catur yang lain. Mas Devan, kau bilang kau ingin memunguti kepingan kacanya meskipun tanganmu berdarah?"
Devan mengangguk cepat. "Ya, Shena. Apapun."
"Kalau begitu, buktikan," tantang Shena.
"Besok, buatkan dokumen hukum yang mengembalikan seluruh hak atas tanah itu kepadaku dan Ibu Ratna. Dan aku ingin kau memutus semua hubungan bisnis dengan Ayah Bram. Aku ingin dia tidak punya kekuatan lagi atas hidup kami. Jika kau melakukannya, aku akan tinggal di sini. Jika tidak... silakan ambil tanah itu, tapi kau tidak akan pernah melihatku lagi."
Devan tertegun. Keputusan itu berarti ia harus berperang secara terbuka dengan Bramantyo, yang mungkin akan membongkar rahasia kotor perusahaan Adiguna ke publik.
"Kenapa, Mas? Terlalu mahal harganya?"
tanya Shena sinis.
Surya Adiguna hendak memprotes, namun Devan mengangkat tangannya. Ia menatap Shena dengan sorot mata yang kini penuh determinasi.
"Baik," jawab Devan tegas. "Besok pagi, tim hukum akan menyiapkannya. Tanah itu milikmu, Shena. Dan soal Bramantyo... aku sendiri yang akan memastikan dia hancur jika dia berani menyentuhmu atau Ibu Ratna lagi. Aku tidak peduli jika perusahaan ini goyah. Aku lebih takut kehilanganmu daripada kehilangan pabrik itu."
Sarah mendecih, merasa rencananya untuk membuat Shena pergi seketika gagal. Ia tidak menyangka Devan akan serela itu melepaskan aset terbesar perusahaan demi wanita yang dulu ia sebut "istri pengganti".
"Kita lihat saja seberapa kuat cinta di atas kontrak hukum itu bertahan," ujar Sarah sambil melenggang pergi meninggalkan rumah, menyisakan ketegangan yang masih berdenyut.
Malam itu, Shena tidak kembali ke kamar pelayan. Widya mengantarnya ke kamar utama yang mewah—kamar Devan. Namun, saat Devan hendak masuk, Shena menahan pintu.
"Aku akan tidur di sini," ucap Shena datar.
"Tapi kau... tidurlah di sofa. Aku belum memaafkanmu, Mas. Aku hanya memberimu kesempatan untuk membuktikan bahwa kau bukan monster yang sama dengan ayahku."
Pintu tertutup di depan wajah Devan. Devan bersandar pada daun pintu, menghela napas panjang. Ia lelah, hancur, namun ada sedikit rasa lega. Setidaknya Shena ada di balik pintu itu, bukan di gang sempit yang becek.
Di dalam kamar, Shena duduk di tepi ranjang yang empuk. Ia menyentuh dadanya yang terasa sesak. Ia tahu, mulai besok, ia bukan lagi Shena yang lemah. Ia memiliki kekuatan, ia memiliki harta, dan ia memiliki Devan di bawah kendalinya. Namun, yang ia inginkan sebenarnya hanyalah satu hal yang paling sulit didapatkan di rumah ini: cinta yang jujur tanpa embel-embel wasiat atau hutang.
...****************...